Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 35

Memuat...

"Kakak!" ujar Kam Hay Thian sambil menyarungkan kembali pedangnya.

"Kini sudah aman, kakak boleh pulang.

"Terima kasih, siauw hiap!" ucap wanita muda itu dan memberitahukan.

"Aku tinggal di desa yang tak jauh dan sini, bagaimana kalau siauw hiap ikut aku ke sana?" Kam Hay Thian berpikir sejenak, setelah itu barulah ia mengangguk seraya berkata.

"Baiklah," Kam Hay Thian melepaskan baju luar salah seorang penjahat yang sudah jadi mayat, lalu diberikan kepada wanita muda itu.

"Pakailah baju luar ini untuk menutupi tubuhmu!" "Terima kasih!" ucap wanita muda berusia dua puluhan itu dengan wajah agak kemerah-merahan.

Setelah memakai baju luar, Ia segera meninggalkan rimba itu, dan Kam Hay Thian berjalan disampingnya.

"Siau-hiap, bolehkah aku tahu namamu!" "Namaku Kam Hay Thian.

Nama kakak?" "Tan In Ngo." "Kakak In Ngo, apakah masih jauh desa tempat tinggalmu?" "Tidak begitu jauh, sepetanak nasi lagi kita akan sampai di sana." "Itu cukup jauh, lagi pula hari pun sudah mulai gelap," ujar Kam Hay Thian dan menambahkan.

"Kakak In Ngo, aku akan menggendongmu di punggung agar kita cepat sampai di desa itu!" "Tapi...." Tan In Ngo merasa tidak enak, walaupun usianya lebih besar, namun ia tetap seorang wanita yang mempunyai rasa malu.

"Kakak In Ngo, jangan merasa malu, anggaplah aku adikmu!" ujar Kam Hay Thian sungguh-sungguh.

"Baiklah." Tan In Ngo segera merangkul leher Kam Hay Thian.

"Rangkul erat-erat Kakak In Ngo!" pesan Kam Hay Thian.

"Sebab aku akan menggunakan ginkang." "Ya," Tan In Ngo mengangguk.

"Jangan takut, sebab aku akan berlari cepat seka1i.

"Lebih baik pejamkan matamu!" ujar Kam Hay Thian.

"Ya," Tan In Ngo pun memberitahukan.

"Lurus saja ke depan, jangan membelok!" "Rangkul leherku erat-erat, jangan kendur!" pesan Kam Hay Thian lagi.

"Dan jangan lupa pejamkan matamu!" Begitu Tan In Ngo menyahut "Ya", Kam Hay Thian mengerahkan ginkangnya, sehingga badannya melesat cepat ke depan.

Bukan main terkejutnya wanita muda itu, sebab ia merasa dibawa terbang dan telinganya pun jadi bising, karena mendengar suara desiran angin.

Berselang beberapa saat kemudian, barulah Kam Hay Thian menghentikan langkahnya, namun Tan In Ngo masih tidak berani membuka matanya, karena takut Kam Hay Thian akan berlari cepat lagi.

"Kakak In Ngo, kita sudah sampai di desa." Kam Hay Thian memberitahukan.

Tan In Ngo segera membuka matanya.

Dilihatnya belasan orang sedang memandang Kam Hay Thian dengan mata terbelalak.

"Ayah!

Ibu..." Tan In Ngo berlari menghampiri kedua orang tuanya.

"In Ngo!

In Ngo...." Ibunya memeluknya erat-erat.

"Engkau tidak apa-apa?" "Ibu...," Air mata Tan In Ngo meleleh.

"Aku tidak apa-apa, karena siauw hiap itu keburu muncul menolongku," ujarnya.

"Terima kaSih, Siauw hiap!" ucap kedua orang tua Tan In Ngo.

"Paman dan Bibi, jangan memanggilku siauW hiap, namaku Kam Hay Thian," sahutnya sambil tersenyum.

"Panggil saja namaku!" "Hay Thian...." Kedua orang tua Tan In Ngo memandangnya dengan kagum dan bersyukUr dalam hati.

Sementara para penduduk desa itu mulai bermunCUlan mengerumuni Kam Hay Thian, Kemudian muncul pula kepala desa.

"Cungcu (Kepala Desa)!" Tan In Ngo segera memberitahukan.

"Adik Hay Thian yang menolongku.

"Oh?" Cungcu itu memandang Kam Hay Thian sambil manggut-manggut.

"Terima kaSih, Hay Thian!" "Cungcu tidak usah mengucapkan terima kasih, sebab membasmi para penjahat memang tugasku," ujar Kam Hay Thian.

"Cungcu!" Tan In Ngo memberitabukan lagi.

"Dia adalah Chu Ok Hiap." "pendekar Pembasmi Penjahat?" CungCU itu terbelalak karena melihat Kam Hay Thian masih muda.

"Engkau berhasil membunuh penjahat-Penjahat itu?" "Cungcu...." Tan In Ngo menutur tentang kejadian yang menimpanya.

Penuturan itu sudah barang tentu membuat Cungcu, kedua orang tuanya dan para penduduk desa itu memandang Kam Hay Thian dengan penuh rasa kagum.

"Sungguh tak disangka!" ujar Cungcu sambil tersenyum.

"Usiamu masih semuda itu, tapi kepandaian sangat tinggi!" Kam Hay Thian hanya tersenyum.

Cungcu itu menatap Tan In Ngo.

"Engkau tidak apa-apa kan?" tanyanya dengan suara rendah.

"Para penjahat itu berusaha memperkosaku, tapi untung Adik Hay Thian keburu muncul menolongku.

Kalau tidak, mereka pasti berhasil memperkosaku." "Syukurlah engk~u selamat!" Cungcu itu manggutmanggut, namun kemudian menghela nafas panjang.

"Mereka cuma anak buah, masih ada kepalanya," katanya.

"Oh?" Kam Hay Thian mengerutkan kening.

"Jadi para penjahat itu mempunyai pemimpin?" "Betul," Cungcu itu mengangguk.

"Mereka sering kemari menculik kaum wanita, mungkin pemimpin itu akan muncul." "Kalau begitu...." ujar Kam Hay Thian setelah berpikir sejenak.

"Aku akan menunggu kemunculan pemimpin mereka." "Terima kasih, terima kasih!" ucap Cungcu itu dengan wajah berseri, sebab memang ini yang diharapkannya.

"Kalau begini.." Tan In Ngo memandang Kam Hay Thian.

"Bagaimana kalau engkau menginap dirumah kami?" "Baiklah," Kam Hay Thian mengangguk dan menambahkan.

"Sebelum membasmi habis para penjahat itu, aku tidak akan meninggalkan desa ini.

"Terima kasih, terima kasih!" ucap Cungcu itu dengan wajah berseri, lalu meninggalkan tempat itu.

"Adik Hay Thian, mari ikut kami ke rumah!" ajak Tan In Ngo.

Kam Hay Thian mengangguk, lalu mengikuti mereka menuju sebuah rumah yang sangat sederhana.

Kedua orang tua Tan In Ngo langsung memotong ayam untuk menjamu, dan tak lama kemudian muncul para pembantu Cungcu mengantarkan arak wangi.

Yang paling gembira adalah Tan In Ngo, karena dengan adanya Kam Hay Thian di rumahnya, sudah barang tentu mereka sekeluarga jadi terpandang.

Seusai bersantap, kedua orang tua Tan In Ngo masuk ke dalam untuk tidur, sedangkan Tan In Ngo masih tetap menemani Kam Hay Thian.

"Kakak In Ngo, sudah larut malam, tapi kenapa engkau belum tidur?" tanya Kam Hay Thian sambil memandangny?.

"Aku ingin mengobrol denganmu.

Boleh kan?" Tan In Ngo tersenyum.

"Tentu boleh," Kam Hay Thian manggut-manggut dan tersenyum.

"Baik, mari kita mengobrol sebentar!" "Adik Hay Thian, engkau masih mempunyai orang tua?" "Cuma mempunyal ibu, sebab ayahku telah meninggal dibunuh penjahat," Kam Hay Thian memberitahtikan.

"Karena itu, aku sangat membenci para penjahat." "Oooh!" Tan In Ngo manggut-manggUt.

"Pantas engkau tidak memberi ampun kepada para penjahat itu." "Kalau aku mengampuni mereka, sama juga menyuruh mereka melakukan kejahatan lagi" "Adik Hay Thian!" Tiba-tiba Tan In Ngo mengerutkan kening.

"Kepandaian pemimpin para penjahat itu sangat tinggi, engkau harus hati-hati menghadapinya," ujarnya.

"Ya." Kam Hay Thian mengangguk dan menambahkan.

"Pokoknya aku harus membunuh pemimpin penjahat itu, agar tidak mengganggu orang lagi." "Adik Hay Thian!" Tan In Ngo tertawa kecil.

"Karena engkau telah menolongku secara tidak langsung telah mengangkat nama keluarga kami." "Oh, ya?" Kam Hay Thian tersenyum.

"Biasanya para penduduk di sini tidak begitu mengacuhkan kami, apalagi Cungcu," ujar Tan In Ngo.

"Namun kini sikap mereka telah berubah sama sekali, lebih baik aku memanggilmu adik." "Oh?" Kam Hay Thian menatapnya.

"Kenapa para penduduk desa ini tidak begitu mengacuhkan kalian?" "Karena...." Tan In Ngo menghela nafas.

"Kami merupakan keluarga yang paling miskin di desa ini!" "Oooh!" Kam Hay Thian manggut-manggut.

"Kalau begitu, aku akan secara langsung mengangkat derajat keluargamu.

"Adik Hay Thian...." Tan In Ngo terbelalak.

"Tenang!" Kam Hay Thian tersenyum.

"Pokoknya aku mempunyai cara untuk mengangkat derajat keluargamu." "Adik Hay Thian, terim kasih!" Betapa terharunya Tan In Ngo.

Kam Hay Thian telah menyelamatkan dirinya, bahkan kini ingin mengangkat derajat keluarganya, sudah barang tentu membuat wanita muda itu terharu sekali.

"Kakak In Ngo, engkau harus tidur, sudah lewat tengah malam," ujar Kam Hay Thian.

"Bagaimana engkau?" "Aku cukup duduk beristirahat di sini saja." "Baiklah, aku mau tidur." Tan In Ngo melangkah ke dalam, sedangkan Kam Hay Thian menggeleng-gelengkan kepa1a, lalu memejamkan matanya untuk tidur sejenak, heninglah suasana di rumah itu.

Ketika menjelang pagi, terdengarlah suara derap kaki kuda memasuki desa itu.

Tan In Ngo dan kedu?

orang tuanya segera bangun, lalu kedepan menemul Kam Hay Thian dengan wajah pucat pias.

"Adik Hay Than, pemimpin penjahat itu telah datang." "Tenang saja!" sahut Kam Hay Thian dan men?mbahkan.

"Aku akan pergi menyambut mereka." "Hati-hati Adik Hay Thian!" pesan Tan In Ngo.

Kam Hay Thian mengangguk, lalu membuka pintu dan langsung melesat pergi.

Sementara itu sudah tidak terdengar suara derap kaki kuda lagi, ternyata kuda-kuda telah berhenti.

Tampak beberapa orang meloncat turun dari punggung kuda, yang rata-rata bertampang seram, apalagi pemimpin penjahat itu, brewok dan sebelah matanya ditutup dengan kain hitam.

"Hari ini kita harus menghabiskan para penduduk desa ini, karena beberapa anak buahku telah mati di sini!" seru pemimpin penjahat itu.

"Ya, Tay Ong (Raja Besar)," sahut belasan anak buahnya dengan serentak.

Pada saat bersamaan, melayang turun seseorang sambil tertawa dingin, yang tidak lain Kam Hay Thian.

"Siapa engkau?" pemimpin penjahat itu terkejut.

"Aku Chu Ok Hiap!" sahut Kam Hay Thian.

"Beberapa anak buahmu telah mati di tanganku!" "Jadi engkau yang membunuh mereka?" pemimpin penjahat itu terbelalak, karena Kam Hay Thian masih begitu muda, namun mampu membunuh beberapa anak buahnya, yang berkepandaian cukup tinggi.

"Betul!" sahut Kam Hay Thian sambil tersenyum dingin.

"Pagi ini kalian semua pun harus mampus!" "Ha ha-ha!" Pemimpin penjahat itu tertawa terbahakbahak.

"Anak muda, engkau yang akan mampus!

Ayoh, cepat serang dia!" Pemimpin penjahat itu memberi perintah kepada para anak buahnya, dan seketika itu juga para anak buahnya menyerang Kam Hay Thian dengan serentak.

Kam Hay Thian tertawa dingin sambil menghunus pedangnya, kemudian menangkis dan balas menyerang menggunakan Pak Kek Kiam Hoat, mengeluarkan jurus Keng Thian Tun Te (Mengejutkan Langit Menggetarkan Bumi).

Tampak pedangnya berkelebatan dan mengeluarkan hawa yang sangat dingin.

"Aaakh!

Aaaakh!

Aaaakh...!" Terdengar suara jeritan.

Ternyata bebera~pa penjahat itu telah roboh berlumuran darah, dan nafas mereka pun putus seketika.

Kam Hay Thian tidak diam sampai di situ, tetapi menyerang lagi sisa-sisa penjahat itu dengan jurus Thian Gwa Kiam In (Bayangan Pedang Diluar Langit).

Terdengar lagi suara jeritan, sisa-sisa penjahat itu pun roboh mandi darah.

Post a Comment