Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 34

Memuat...

"Suatu perbuatan jahat, pasti akan menimbulkan karma buruk.

Aku khawatir...." "Jangan khawatir!" Lu Th?y Kam tersenyum.

"Ayah tidak gampang dibunuh orang, engkau boleh tenang tentang itu." Lu Hui San diam, Lu Thay Kam menatapnya sambil tersenyum lembut dan berkata.

"San San, sudah larut malam, engkau boleh pergi tidur.

Sebab besok pagi engkau akan pergi merantau." "Ya, Ayah!" Lu Hui San meninggalkan kamar ayahnya menuju kamarnya.

Kemudian ia tersenyum gembira, karena besok pagi akan pergi merantau.

Sementara Lu Thay Kam menuju ruang khusus.

Ia duduk di Situ menunggu Lie Man Chiu pulang.

Berselang beberapa saat kemudian, tampak Lie Man Chiu melangkah ke ruang itu.

"Lu Kong Kong!" panggil Lie Man Chiu sambil memberi hormat.

"Duduklah!" sahut Lu Thay Kam.

"Terimakasih, Lu Kong Kong!" ucap Lie Man Chiu lalu duduk di sisinya.

"Bagaimana engkau mengatur itu?" tanya Lu Thay Kam sambil menatapnya.

"Apakah semua itu sudah kau atur bersama Gak Cong Heng?" "Sudah, Lu Kong Kong," jawab Lie Man Chiu memberitahukan."Beberapa orang akan berangkat ke kota Keng Ciu untuk membunuh Tan Thiam Song, belasan orang akan pergi membunuh Hong Hoang lihiap, Kim Siauw Siancu dan Giok Siauw Sin Hiap yang berani menentang perkumpulan kita." "Bagus, bagus!

Ha ha-ha!" Lu Thay Kam tertawa gelak.

"Oh ya, besok pagi San San akan pergi merantau." "Lu Kong Kong mengijinkannya?" "Dia sudah besar, memang tidak baik terus diam di istana.

Dan pada dia pergi secara diam-diam, bukankah lebih baik aku mengijinkannya?" "Betul Lu Kong Kong." "Man Chiu!" "Ya, Lu Kong Kong.

"Besok setelah San San pergi, engkau harus ke markas untuk membenitahukan Gak Cong Heng, bahwa putriku pergi merantau.

Maka para anggota dilarang mengganggu gadis yang membawa Han Kong Pokiam." "Ya, Lu Kong Kong." Lie Man Chiu mengangguk.

"Oh ya, bukankah Han Kong Pokiam itu pedang pusaka istana?" "Betul." Lu Thay Kam manggut-manggut dan memberitahukan.

"Kaisar telah memberikan pedang pusaka itu kepadaku, jadi kuhadiahkan pada San San." "Lu Kong Kong!" Lie Man Chiu tersenyum.

"Sungguh beruntung San San memperoleh h?diah pedang pusaka itu!" "Dia putriku, maka aku harus menaruh perhatian khusus kepadanya," ujar Lu Thay Kam sambil tertawa dan menambahkan.

"Entah siapa yang beruntung menjadi jodohnya!

Ha-ha-ha...!" -oo0dw0oo- Bagian ke Empat belas Pendekar Pembasmi Penjahat Sudah tujuh tahun Kam Hay Thian berada didalam goa bekas markas Bu Tek Pay.

Selama itu ia terus mempelajari Hian Bun Kui Goan Kang Khi, sekaligus melatihnya.

Akhirnya ?a berhasil menguasai ilmu lweekang tersebut, sehingga bertambah tinggi pula lweekangnya.

Setelah itu, mulailah ia mempelajari kitab peninggalan Pak Kek Siang Ong, yakni Pak Kek Sin Kang, Ciang Hoat dan Kiam Hoat.

Karena ia telah memiliki Hian Bun Kui Goan Kang Khi, maka tidak begitu sutit baginya mempelajari ilmu-ilmu peninggalan Pak Kek Siang Ong.

Kini Kam Hay Thian telah berusia delapan belas.

Ia gagah dan tampan serta telah menguasai Pak Kek Sin Kang, Pak Kek Ciang Hoat dan Pak Kek Kiam Hoat.

Bahkan ia pun telah menemukan sebilah pedang di tempat itu.

Walau ia telah menguaSai Pak Kek Sin Kang, ?amun masih belum begitu hebat.

Ia dapat mengeluarkan hawa dingin, tetapi belum dapat membekukan apa pun.

"Hmm!" dengus Kam Hay Thian.

"Kini aku telah berkepandaian tinggi, maka harus membalas dendam dan membasimi penjahat di rimba persilatan!

Aku harus menjadi Chu Ok Hiap (Pendekar Pembasmi Penjahat) dalam rimba persilatan!" Kam Hay Thian tampak seakan bersumpah, kemudian matanya memandang jari tangannya, yang memakai sebuah cincin Giok pemberian Lie Beng Cu.

Ia tersenyUm-SenyUm lalu meninggalkan tempat itu dengan membawa sebilah pedang.

Ia tidak mau membawa dua kitab peninggalan Pak Kek Sian Ong dan Kitab Hiang Bun Kui Goan Kang Khi, yang ditemukannya di tempat tersebut.

Namun setelah dikuasai isinya, kedua kitab itu dibakarnya agar tidak menimbulkan bencana.

Karena ia ingat bahwa ayahnya terbunuh gara-gara sebuah kitab Seng Hwe Cin Keng.

Setelah meninggalkan tempat tersebut, Kam Hay Thian langsung pulang ke rumahnya karena sangat rindu kepada ibunya.

Beberapa hari kemudian, sampailah ?a di rumahnya dan langsung melesat ke dalam.

Lie Siu Sien, ibunya sedang duduk di ruang depan sambil menyulam, kelihatan agak tua dan ramhutnya mulai memutih, padahal usianya baru empat puluhan.

"Haaah...?" Betapa terkejutnya Lie Siu Sien ketika melihat sosok bayangan berkelebat ke dalam.

"Si...

siapa?" Sosok bayangan itu ternyata Kam Hay Thian, yang langsung bersujud di hadapan Lie Siu Sien.

"Ibu, aku Hay Thian," ujarnya terisak-isak.

"Apa?" Lie Siu Sien terbelalak.

"Engkau...

engkau Hay Thian, anakku?" "Betul, Ibu!" Kam Hay Thian mendongakkan kepalanya, tampak air matanya meleleh.

Lie Siu Sien terus memperhatikan wajah Kam Hay Thian, kemudian memeluknya erat-crat dengan air mata berderaiderai.

"Hay Thian anakku...." Lie Siu Sien menangis tersedu-sedu saking gembiranya.

"Engkau sudah pulang, engkau sudah besar!" "Ibu...." Kam Hay Thian bangkit berdiri, dan juga memeluk Lie Siu Sien erat-erat dengan terus mengucurkan air mata.

"Nak!" Lie Siu Sieri menatapnya, kemudian berseri seraya berkata.

"Tujuh tahun engkau meninggalkan ibu, kini usiamu sudah delapan belas tahun.

Engkau sudah besar dan tampan, ibu gembira sekali" "Ibu!" Kam Hay Thian tersenyum.

"Nak, mari kita duduk!" Lie Siu Sien lalu duduk berhadapan dengan puteranya.

"Nak, apakah engkau telah berhasil belajar ilmu sitat tinggi?" tanyanya.

"Aku telah berhasil, Ibu." "Oh?" Lie Siu Sien menatapnya dalam-dalam.

"Syukurlah kalau begitu!

Nak, ceritakanlah pengalamanmu!" "Setelah meninggalkan rumah, aku menuju kota Leng An.

Aku belajar ilmu silat kepada guru silat Lie.

Putrinya bernama Lie Beng Cu, yang baik sekali terhadapku." Kam Hay Thian memberitahukan sekaligus memperlihatkan cincin giok yang dipakainya, "Cincin giok ini hadiah dari Lie Beng Cu." "Oh?" Lie Siu Sien tersenyum.

"Jadi engkau berguru kepada guru silat itu?" "Ya." Kam Hay Thian mengangguk dan melanjutkan.

"Setetah itu, aku berangkat ke markas pusat Kay Pang.

Namun tanpa sengaja aku memasuki sebuah goa, dan di dalam goa itu aku menemukan dua buah kitab pusaka...." "Oooh!" Lie Siu Sien manggut-manggut gembira.

"Jadi engkau telah berhasil menguasai semua ilmu yang ada di dalam kedua kitab itu?" "Ya" "Di mana kedua kitab pusaka itu sekarang?" "Telah kubakar, agar tidak menimbulkan bencana." "Bagus!" Lie Siu Sien mengangguk.

"Kalau engkau membawa kedua kitab itu, ibu pun akan menyuruhmu membakarnya.

"Ibu, kini aku telah memiliki kepandaian tinggi," ujar Kam Hay Thian.

"Maka aku harus pergi mencari pembunuh ayah!" "Ngmm!" Lie Siu Sien manggut-manggut.

"Kapan engkau akan pergi mencari pembunuh itu?" "Besok pagi." "Kok begitu cepat?" "Ibu!" Kam Hay Thian tersenyum.

"Aku cepat pergi cepat pulang, dan setelah itu, aku tidak akan meninggalkan ibu lagi." "Baiklah." Lie Siu Sien mengangguk lalu berpesan.

"Namun engkau harus berhati-hati, sebab pembunuh ayahmu itu berkepandaian sangat tinggi." "Aku pasti berhati-hati, Ibu." "Oh ya!

Engkau harus mencari Tio Cie Hiong, dan mohonlah petunjuk kepadanya!" pesan Lie Siu Sien lagi.

"Ya, Ibu." "Kalau sudah berhasil membunuh pembunuh ayahmu, engkau harus segera pulang, jangan terus berkecimpung dalam rimba persilatan!

Oh ya.

apabila engkau bertemu gadis yang cantik, harus bawa dia kemari." "Ibu...." Kam Hay Thian tersenyum.

"Pikiranku hanya ingin membalas dendam, bagaimana mungkin memikirkan itu?" "Nak!" Lie Siu Sien menatapnya dalam-dalam.

"Usiamu sudah delapan belas, tentunya akan bertemu anak gadis.

Kalau kalian sudah saling mencinta, jangan lupa bawa dia pulang!" "Ya, Ibu." Kam Hay Thian mengangguk dengan wajah agak kemerah-merahan.

"Nak...." Lie Siu Sien menarik nafas dalam-dalam.

"Kini legalah hati ibu, karena engkau telah memiliki kepandaian tinggi." -oo0dw0oo- Keesokan harinya, berangkatlah Kam Hay Thian pergi mencari pembunuh ayahnya.

Dua hari kemudian, ia memasuki sebuah rimba.

Mendadak keningnya berkerut, ternyata ia mendengar suara jeritan minta tolong.

Segeralah Kam Hay Thian melesat ke arah suara jeritan itu.

Ia melihat beberapa lelaki sedang berusaha memperkosa seorang wanita muda.

Menyaksikan kejadian itu, mendidihlah darahnya.

"Hentikan!" bentaknya dengan suara mengguntur.

Mendengar bentakan itu, mereka sangat terkejut dan langsung menoleh.

Tetapi ketika mendapatkan kenyataan bahwa yang membentak itu seorang pemuda, mereka tertawa gelak.

"Ha ha ha!

Anak muda, lebih baik engkau pergi!

Jangan menganggu kesenangan kami!" "Hmm!" dengus Kam Hay Thian dingin.

"Siapa kalian?" "Mereka penjahat," sahut wanita muda itu, yang pakaiannya sudah tidak karuan tersobek sana sini.

"Mereka menculikku." "Diam!" bentak salah seorang penjahat itu.

"Bagus, bagus!" Kam Hay Thian tertawa dingin.

"Ternyata kalian semua penjahat, kebetulan aku adalah Chu Ok Hiap (Pendekar Pembasmi Penjahat)!" "Apa?" para penjahat itu tertegun.

"Chu Ok Hiap" Kami tidak pernah mendengar nama itu!" "Kini kalian telah mendengar, maka ajal kalian pun telah tiba!" sahut Kam Hay Thian sambil menghunus pedangnya.

"Kalian bersiaplah untuk mampus!" "Mari kita serang dia!" seru salah seorang dari mereka, dan seketika juga para penjahat itu menyerang Kam Hay Thian dengan pedang dan golok.

"Ha ha-ha!" Kam Hay Thian tertawa dingin.

"Kalian semua harus mampus!" Mendadak ia menggerakkan pedangnya untuk menangkis, dan balas menyerang menggunakan Pak Kek Kiam Hoat.

Seketika hawa pun berubah dingin, kemudian terdengar suara jeritan yang menyayat hati.

"Aaaakh!

Aaaakh!

Aaaaakh...!" para penjahat itu telah roboh mandi darah, dan nyawa mereka pun melayang seketika.

Dada mereka berlubang tertembus pedang Kam Hay Thian.

Ternyata Kam Hay Thian mengeluarkan jurus Keng Thian Tung Te (Mengejutkan Langit Menggetarkan Bumi), yaitu salah satu jurus ilmu pedang Pak Kek Kiam Hoat.

Wanita muda itu terbelalak menyaksikannya, dan mulutnya ternganga lebar saking kagetnya.

Post a Comment