Nanti malam setelah ayah pulang, kita bicarakan lagi." "Ayah, sekarang saja menbicarakannya." desak Lu Hui San.
"Nanti malam saja.
Jangan membantah, sebab ayah harus memikirkan tentang keinginanmu itu, Malam nanti kita membicarakan nya, sekaligus ayah akan memberikan keputusan," tegas Lu Thay Kam.
"Ya, Ayah." Lu Hui San mengangguk.
"Engkau memang anak yang baik, ayah merasa puas dan bangga," ujar Lu Thay Kam sambil tertawa gembira, kemudian memandang Lie Man Chiu seraya berpesan, "Nanti malam kita akan pergi sebentar." "Ya, Lu Kong Kong." sahut Lie Man chiu sambil memberi hormat.
"Kalian bercakap-cakaplah!" Lu Thay Kam memandang mereka.
"Aku akan pergi menghadap kaisar.
San San, nanti malam setelah ayah pulang, kita akan membicarakan tenta?g niatmu itu." "Ya, Ayah." Lu Hui San mengaugguk.
Lu Thay Kam melangkah pergi.
Lu Hui San memandang punggungnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Ayahku sudah berusia lanjut, tapi masih belum mau pensiun untuk hidup tenang.
Sebaliknya malah terus bergelut dengan politik kerajaan..." Lu Hui San menghela nafas panjang.
"San San!" Lie Man Chiu tersenyUm.
"Ayahmu sebagai kepala Thay Kam di istana, sudah barang tentu tidak terlepas dan kancah politik." "Aaaah~" Lu Hui San menghela nafas lagi."Untuk apa itu" Bukankah lebih baik hidup tenang dan damai saja?" "Pikiran orang berbeda," ucapan tersebut juStru membuat Lie Man Chiu tersentak sendiri,karena ambisi maka ia meninggatkan anak isteri.
"Paman Chiu?" Lu Hui San memandangnya seraya bertanya, "Apakah kini Paman sudah berniat pulang untuk menemUi anak isteri?" "Itu...." "Masih tetap akan mengabdi kepada ayahku?" "San San!" Lie Man Chiu memandangnya dan bertanya dengan suara rendah.
"Bagaimana San San?" "Menurutku Paman harus segera pulang menengok anak isteni.
Selama tujuh tahun ini, aku yakin mereka pasti menderita sekali.
Mungkin juga isteri Paman sudah tiada...." "Kenapa engkau mengatakan begitu?" Wajah Lie Man Chiu tampak memelas.
"SuatU penderitaan dan tekanan batin, akan menyebabkan kematian," sahut Lu Hui San.
"Namun juga tergantUng dari ketabahan dan pikiran." "Benar," Lie Man Chiu manggut-mangggut dan melanjutkan.
"Mudah-mudahan isteriku tidak akan terjadi apaapa, begitu pula putriku itu!" "Paman Chiu," ujar Lu Hui San.
"Biar bagaimana pun, paman harus segera pulang menengok anak isteri, jangan membuat dosa yang akan menimbulkan karma buruk!" "San San!" Lie Man Chiu menatapnya dengan penuh rasa heran.
"Engkau paham akan dosa dan karma?" "Paham." Lu Hui San mengangguk.
"Karena aku sering membaca buku, maka aku tahu tentang dosa dan karma.
Aaaah, ayahku...
tidak akan terlepas dan karma buruk!" "Haah...?" Wajah Lie Man Chiu memucat, dan seketika ?a teringat pula akan semua wejangan-wejangan Tayli Lo Ceng, gurunya.
"Aku...
aku memang telah berdosa, karena meninggalkan anak isteri." "Kalau Paman sudah tahu dosa, haruslah segera bertobat," ujar Lu Hui San dan menambahkan.
"Siapa yang mau bertobat, tentu dapat meringankan dosanya pula." "San San!" Mendadak Lie Man Chiu memegang bahunya.
"Terima kasih atas semua petunjukmu!" "Paman Chiu..." Lu Hui San tersenyum.
"Oh ya!
Paman sering pergi bersama ayahku, sebetulnya pergi mengurusi apa?" "Tentunya urusan kerajaan," sahut Lie Man Chiu singkat, sebab LU Thay Kam telah berpesan padanya, tidak boleh memberitahukan kepada Lu Hui San mengenai kegiatan mereka.
"Oooh!" Lu Hui San manggut-manggut.
"Paman Chiu, apakah ayahku akan memperbolehkan aku pergi merantau?" "Kelihatannya ayahmu memperbolehkan." "Oh?" Wajah Lu Hui San tampak berseri.
"Syukurlah kalau begitu!" -oo0dw0oo- Di dalam markas Hiat Ih Hwe, tampak Lu Thay Kam dan Lie Man Chiu duduk di ruang depan.
Mereka berdua mengenakan jubah merah, namun tidak memakai topeng lagi.
Sebab para anggota telah bersumpah, tidak akan membocorkan identitas ketua maupun wakil ketua mereka.
"Lapor kepada ketua dan wakil ketua!" ujar salah seorang anggota sambil memberi hormat.
"Belum lama ini dalam rimba persilatan telah muncul Giok Siauw Sin Hiap.
Ketika kami ingin turun tangan membunuh para anggota Tiong Ngie Pay, dia muncul menolong mereka." "Kenapa kalian tidak membunuh Giok Siauw Sin Hiap itu?" tanya Lu Thay Kam dengan wajah gusar.
"Kepandaiannya sangat tinggi, kami tidak sanggup melawannya." jawab orang itu dengan kepala tertunduk.
"Hm!" dengus Lu Thay Kam.
"Engkau boleh mundur ke tempat berdirimu!
"Terima kasih, ketua!
ucap orang itu dan segera mundur ke tempat ia berdiri tadi.
"Masih ada lagi yang mau melapor?" tanya Lu Thay Kam.
"Ada, Ketua," sahut seseorang sambil maju sekaligus memberi hormat.
"Beberapa hari lalu, kami pergi hendak membunuh Tan Thian Song, pembesar di kota Keng Ciu.
Namun ada dua gadis disana, salah satu gadis itu melawan kami." "Kalian berhasil membunuh gadis itu?" "Kami tidak berhasil membunuhnya, sebab dia berkepandaian tinggi dan memiliki sebilah pedang pusaka." "Oh" Lalu bagaimana kalian?" "Kami terpaksa kabur." "Siapa kedua gadis itu?" "Gadis yang melawan kami adalah Hong Hoang Lihiap, sedangkan yang satu lagi adalah Kim Siauw Siancu." Betapa terkejutnya Lie Man Chiu ketika mendengar ucapan itu.
Hong Hoang Lihiap" Hong Hoang Pokiam (Pedang Pusaka Burung Phonix) itu adalah kepunyaan Tio Hong Hoa, isterinya.
Apakah gadis yang mengaku Hong Hoang Lihiap itu Lie Ai Ling, putrinya" Pikir Lie Man Chiu dengan wajah berubah tak menentu.
"Hmm!" dengus Lu Thay Kam dingin sambil mengibaskan tangannya.
Orang itu segera kembali ke tempatnya, sedangkan Lu Thay Kam berseru.
"Gak Cong Heng!" "Ya, ketua." Gak Cong Heng langsung menghadap.
Orang tersebut adalah kepala para anggota Hiat Ih Hwe.
"Ada perintah apa untukku?" "Engkau harus mengatur beberapa orang untuk membunuh Tan Thiam Song, Hong Hoang Lihiap, Kim Siauw Siancu dan Giok Siauw Sin Hiap." "Ya." Gak Cong Heng memberi hormat.
"Kuterima perintah Ketua dan pasti kulaksanakan dengan baik." "Bagus!" Lu Thay Kam manggut-manggUt, kemudian memandang Lie Man Chiu seraya berkata, "Aku mau kembali ke istana, engkau tetap di sini mengatur semua itu." "Ya Lu Kong Kong," sahut Lie Man Chiu sambil memberi hormat.
Lu Thay Kam melesat pergi.
Kemudian Lie Man Chiu berunding dengan Gok Cong Heng....
-oo0dw0oo- Malam belum begitu larut, Lu Hui San duduk di halaman istana menunggu Lu Thay Kam pulang.
Mendadak berkelebat sosok bayangan ke badapannya, dan terdengar pula suara teguran.
"San San!
Kenapa engkau belum tidur" Sosok bayangan itu ternyata Lu Thay Kam.
"Aku menunggu Ayah pulang," sahut Lu Hui San sambil tersenyum.
"Bukankah tadi pagi Ayah telah berjanji" "Ha ha-ha!" Lu Thay Kam tertawa gelak.
"Ayah ingat itu, mari ikut ayah ke kamar!" Lu Hui San mengikuti Lu Thay Kam kekamar, lalu duduk berhadapan dikamar Lu Thay Kam yang serba mewah.
"San San!" Lu Thay Kam menatapnya tajam seraya bertanya.
"Betulkah engkau telah mengambil keputusan pasti untuk pergi merantau." "Betul," Ayah.
"Engkau harus tahu, bahwa didalam rimba persilatan penuh bahaya, bahkan juga banyak penjahat." "Aku bisa menjaga diri, Ayah." "Ayah tahu, kepandaianmu sudah tinggi.
Namun..." Lu Thay Kam menghela nafas panjang.
"Banyak orang licik dalam rimba persilatan, ayah khawatir engkau akan terjebak oieh kelicikan mereka." "Ayah!" Lu Hui San tersenyum.
"Aku bukan anak kecil lagi, sebab usiaku sudah enam belas.
Tentunya dapat membedakan orang jahat dan orang baik.
Ayah tidak usah mengkhawatirkan itu." "San San Lu Thay Kam menatapnya dengan penuh kasih sayang.
"Mungkin ?ngkau tahu, aku bukan ayah kandungmu." "Aku tahu, Ayah." Lu Hui San mengangguk dan melanjutkan.
"Tapi ak?
telah menganggap Ayah sebagai ayah kandung." "Bagus!
Ha-ha-ha!" Lu Thay Kam tertawa gembira.
"Tidak sia-sia ayah membesarkanmu, lagi pula ayah pun telah menganggapmu sebagal anak kandung." "Terima kasih, Ayah!" Lu Hui San tersenyum dan bertanya.
"Ayah, bolehkah ku tahu margaku?" "Margamu Sie!" Lu Thay Kam memberitahukan.
"Siapa kedua orang tua kandungku?" tanya Lu Hui San lagi.
"San San!" Lu Thay Kam menggelengkan kepala.
"Ayah sama sekali tidak tahu tentang itu.
Kalau ayah tahu, pasti memberitahukan" "Ayah!" Lu Hui San memandangnya sambil tersenyum.
"Ayah tidak akan melarangku pergi merantau, kan?" "Engkau sudah besar, maka ayah tidak bisa mengekang kebebasanmu," sahut Lu Thay Kam sungguh-sungguh.
"Tapi engkah harus berhati-hati di perantauan, jangan gampang terpincuk oleh ketampanan ." "Ya, Ayah!" Wajah Lu Hui San agak kemerah-merahan.
"Oh ya!
Ayah akan menghadiahkan kepadamu sebilah pedang pusaka." Lu Thay Kam memberitahukan.
"Juga akan memberimu uang perak dan emas sebagai bekalmu." "Terima kasih, Ayah," ucap Lu Hui San girang.
"Oh ya, pedang pusaka apa itu, Ayah!" "Itu adalah pedang pusaka dalam istana, yaitu Han Kong Pokiam." Lu Thay Kam memberitahukan.
"Maka engkau harus menjaganya baik-baik, jangan sampai hilang." "Han Kong Pokiam (Pedang Pusaka Cahaya dingin)?" "Tidak salah." Lu Thay Kam manggut-manggut.
"Pedang pusaka itu sangat ampuh, dapat memotong besi dan lain sebagainya, bahkan juga memancarkan cahaya dingin." "Terima kasih, Ayah!" Lu Hui San girang bukan main.
"Oh ya!" Lu Thay Kam teringat sesuatu, kemudian memberikannya sebuah medali emas yang berukiran sepasang naga.
"San San, ini adalah tanda pengenalku.
Apabila engkau membutuhkan bantuan atau uang, temui saja pembesar setempat dan perlihatkan medali ini, pembesar yang mana pun pasti akan membantumu." "Oh?" Wajah Lu Hui San berseri, ia menyimpan medali itu ke dalam bajunya.
"Terima kasih, Ayah!" "San San," tanya Lu Thay Kam.
"Kapan engkau berangkat?" "Besok pagi," jawab Lu Hui San.
"Baiklah," Lu Thay Kam manggut-manggut dan herpesan.
"Engkau harus berhati-hati dalam perantauanmu, jangan menimbulkan masalah!" "Ya, Ayah." Lu Hui San mengangguk.
"Dan..." Lu Thay Kam berpesan lagi.
"Terhadap siapa pun, engkau tidak boleh membocorkan identitasmu!" "Kenapa?" "Sebab ayah banyak musuh diluar." Lu Thay Kam memberitahukan.
"Apabila engkau membocorkan identitasmu, berarti dirimu dalam bahaya.
Engkau harus ingat itu!" "Ya, Ayah!" Lu Hui San mengangguk dan bertanya.
"Kenapa ayah banyak musuh di luar?" "San San!" Lu Thay Kam tersenyum.
"Ayah sebagai kepala Thay Kam di istana, maka sudah pasti harus menjaga kaisar.
Siapa yang berani memberontak, pasti ayah bunuh.
Karena itu, ayah banyak musuh." "Ayah sudah tua...." Lu Hui San menggeleng-gelengkan kepala.
"Kenapa tidak mau hidup tenang dan damai?" "Ha ha-ha!" Lu Thay Kam tertawa.
"Engkau tidak akan mengerti, maka tidak usah banyak bertanya dan menasihati ayah." "Tapi..." Lu Hui San menghela nafas.