Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 32

Memuat...

"Kenapa engkau menggunakan julukan itu?" "Pedangku adalah Hong Hoang Pokiam, Sedangkan suling yang tadi di tangan Siang Koan Goat Nio adalah Suling Emas." Lie Ai Ling memberitahukan.

"Oooh!" Tan Giok Lan manggut-manggut.

"Aaaah...!" Mendadak Tan Tayjin menghela nafas panjang.

"Kelihatannya Dinasti Beng sudah sulit dipertahankan lagi." "Kenapa?" tanya Lie Ai Ling.

"Karena kaisar cuma tahu bersenang-senang, yang berkuasa di istana adalah Lu Thay Kam dan beberapa menteri jahat.

Karena itu, timbullah pemberontakan disana sini, bahkan aku pun dengar, Lu Thay Kam mengutus seorang kepercayaannya ke Manchuria." "Memangnya kenapa?" Lie Ai Ling tidak mengerti.

"Lu Thay Kam dan beberapa menteri telah bersepakat untuk bersekongkol dengan bangsa Boan (Manchuria)." Tan Tayjin memberitahukan.

"Paman!" Lie Ai Ling menggeleng-gelengkan kepala.

"Kami sama sekali tidak mengerti akan urusan kerajaan." "Paman," ujar Siang Koan Goat Nio mendadak dengan wajah serius.

"Kalau begitu, lebih baik Paman mengundurkan din saja dari jabatan.

Kalau tidak, nyawa Paman pasti terancam setiap saat." "Sebetulnya aku telah memikirkan itu, tapi..." Tan Tayjin menggeleng-gelengkan kepala.

"Kenapa?" tanya Siang Koan Goat Nio.

"Kalau aku mengundurkan diri, tentu akan muncul pembesar lain, yang korupsi di kota ini, yang sudah barang tentu membuat rakyat menjadi menderita." "Paman!" Siang Koan Goat Nio menatapnya kagum.

"Paman sungguh jujur, adil dan bijaksana!

Apabila para pembesar di seluruh negeri ini seperti Paman, tentu tidak akan terjadi pemberontakan." "Yaah!" Tan Tayjin menghela nafas panjang.

"Itu bagaimana mungkin" Kini Dinasti Beng telah bobrok, berada di ambang keruntuhan." "Paman memikirkan penduduk kota ini, tapi sama sekali tidak memikirkan keluarga," ujar Lie Ai Ling mendadak.

"Pada hal keluarga Paman terancam bahaya." "Memang tidak salah." Tan Tayjin manggut-manggut.

"Setelah kejadian tadi itu, pertanda sudah waktunya aku pensiun." "Ayah!" Wajah Tan Giok Lan langsung berseri.

"Itu sungguh menggembirakan!" "Baiklah," ujar Lie Ai Ling.

"Kami mau mohon pamit, terima kasih atas kebaikan Paman!" "Kok begitu cepat kalian mau pergi?" Tan Tayjin memandang mereka.

"Lebih baik tinggal di sini beberapa hari." "Maaf Paman!" ucap Lie Ai Ling.

"Aku harus segera berangkat ke markas pusat Kay Pang." "Adik Ai Ling, aku mohon kalian sudi tinggal di sini beberapa hari.

Setelab itu, barulah kalian melanjutkan perjalanan." ujar Tan Giok Lan bermohon "Goat Nio..." Lie Ai Ling menatap Siang Koan Goat Nio minta pendapatnya "Bagaimana?" "Baiklah, kita tinggal di sini beberapa hari," sahut Siang Koan Goat Nio "Tidak baik kita menolak maksud baik Paman dan kakak Giok Lan" "Terima kasih, terima kasih!" ucap Tan Giok Lan dengan wajah berseri.

Akhirnya Siang Koan Goat Nio dan" Lie Ai Ling tinggal beberapa hari di rumah Tan Tayjin, setelah itu barulah berangkat ke markas pusat Kay Pang -oo0dw0oo- Bagian ke Tiga Belas Pemandangan yang menyentuh hati Pada pagi hari yang cerah, terdengar suara kicau burung di halaman istana bagian barat, tempat tinggal Lu Thay Kam.

Berselang sesaat, tampak Lie Man Chiu berjalan ke halaman itu lalu duduk dibawah sebuah pohon.

Sudah tujuh tah?n lebih ia mengabdi pada Lu Thay Kam.

Hidupnya serba senang dan mewah, setiap hari pasti dikerumuni para dayang yang cantik-cantik.

Ada satu hal yang patut dipuji, yaitu selama tujuh tahun ini, ia sama sekali tidak pernah tidur bersama para dayang tersebut.

Selain sebagal wakil ketua Hiat Ih Hwe, Lu Thay Kam pun mengangkatnya sebagai kepala pengawal istana bagian barat ini.

Dalam tujuh tahun ini, Lu Thay Kam memang sangat mempercayainya.

Selama ini, pernahkah ia teringat pada anak isterinya" Tentu tidak, karena ia masih berambisi menjadi jenderal.

Di saat ia sedang duduk di bawah pohon.

tiba-tiba melayang turun sesuatu dan atas pohon.

yang ternyata seekor anak burung.

Anak burung itu mencicit-cicit, dan tak lama kemudian induknya melayang turun.

Induk burung itu berusaha membawa anaknya, tapi tidak berhasil.

Maka ia mencicit-cicit, kelihatan gugup, panik dan cemas.

Sementara Lie Man Chiu terus memperhatikan induk burung itu, tiba-tiba induk burung itu memandangnya sambil mencicit-cicit dengan mata basah, sepertinya minta pertolongan kepada Lie Man Chiu.

Lie Man Chiu diam saja, tapi induk burung itu terus mencicit sambil memandangnya, dan air matanya pun meleleh.

Hati Lie Man Chiu tergerak menyaksikannya.

Ia bangkit berdiri lalu mendekati anak burung itu.

Induknya sama sekali tidak kabur, melainkan terus mencicit dengan air mata meleleh.

"Engkau minta pertolongan kepadaku untuk membawa anakmu ke sarang di atas pohon" tanya Lie Man Chiu sambil tersenyum.

Tentunya Induk burung itu tidak bisa menjawab, cuma bisa mencicit.

"Baiklah." Lie Man Chiu manggut-manggUt.

"Aku akan menolong anakmu." Lie Man Chiu mengangkat anak burung itu, lalu melesat ke atas sekaligus menaruh anak burung it?

ke dalam sarangnya.

Induk burung itu juga terbang ke atas, dan ketika melihat anaknya sudah ditaruh ke dalam sarang, Ia mencicit seakan mengucapkan terima kasih kepada Lie Man Chiu.

Lie Man Chit melayang turun, lalu duduk kembali di bawah pohon itu.

Apa yang disaksikannya itu membuat pikirannya terus melayang-layang, b?rung cuma merupakan hewan, namun begitu berperasaan dan penuh kasih sayang terhadap anaknya.

Berpikir sampai di situ, mendadak di pelupuk mata Lie Man Chiu muncul wajah putrinya, yang kemudian berubah menjadi wajah Tio Hong Hoa, isternya "Haaah" Lie Man Chiu tersentak kemudian bergurnam.

"Anakku...

isteriku..." Di saat itulah ?a teringat kepada anak isterinya.

Pada waktu bersamaan terdengar suara langkah yang amat ringan.

Ia segera menoleh, dilihatnya seorang gadis ca?tik dan lemah lembut berusia enam belasan.

Siapa gadis itu" Tidak lain adalah Lu Hui San, putri angkat Lu Thay Kam.

"Paman Chiu!" panggil gadis itu sambil tersenyum.

"Kenapa Paman Chiu melamun di situ?" "Aku sedang menikmati pagi yang indah ini," sahut Lie Man Chiu lalu bertanya.

"Masih pagi kok sudah bangun" "Sekarang sudah tidak pagi lagi, kan?" sahut Lu Hui San lalu duduk di sisinya.

"Paman Chiu.

sudah berapa tahun Paman berada di sini?" "Tujuh tahun lebih." "Dalam tujuh tahun ini, apakah Paman tercekam oleh suatu perasaan" tanya Lui Hui San mendadak.

"Perasaan apa?" tanya Lie Man Chiu dengan rasa heran.

"Tahukah Paman aku sudah berusia berapa sekarang?" Lu Hui San menatapnya dalam-dalam.

"Kalau tidak salah sudah enam belas." "Berarti putri Paman pun sudah berusia enam belas," ujar Lu Hui San.

"Paman tidak pernah memikirkannya." "Aku," Wajah Lie Man chiu agak memucat.

"Paman sama sekali tidak memikirkan anak isteri?" Lu Hui San mengerutkan kening.

"Selama tujuh tahun ini, aku memang tidak pernah memikirkan mereka.

Namun..." Lanjut Lie Man Chiu sambil memandang ke atas pohon.

"Tadi ada seekor anak burung jatuh, induknya tidak bisa membawanya kembali ke sarang, Sehingga terus menerus mencicit dan memandangku dengan mata basah.

"Oh?" Lu Hui San tertegun "Di mana anak burung itu sekarang?" "Telah kukembalikan ke dalam sarangnya." Lie Man Chiu memberitahukan.

"Kalau begitu...." Lu Hui San menatapnya dalam-dalam "Paman Chiu masih mempunyai rasa kasihan.

Tapi kenapa bisa melupakan anak isteri?" "Setelah aku menyaksikan kejadian itu, tiba-tiba wajah anak isteriku muncul di pelupuk mataku, sehingga membuat hatiku tersentak.

"Karena itu, Paman Chiu teringat kepada anak isteri, kan?" "Betul." Lie Man Chiu manggut-manggUt sambil menghela nafas panjang.

"Kejadian itu membuat hatiku tergerak, sebab kejadian itu sungguh menyentuh hatiku." "Paman Chiu!" Lu Hui San menarik nafas.

"Burung merupakan hewan, namun mempunyai perasaan dan kasih sayang Sedangkan Paman Chiu adalah manusia, tapi malah bisa melupakan anak isteri Omong kasar dikit, Paman Chiu masih tidak dapat menyamai hewan." "Benar." Lie Man Chiu mengangguk mengakuinya.

"Aku memang lebih kejam dari binatang?" "Paman Chiu!" Lu Hui San tersenyum.

"Sesunggubnya Paman Chiu bukan orang jahat, yang tak berperasaan maupun kasih sayang, hanya saja...

semua Itu tertutup oleh ambisi Paman." "Tidak salah." Lie Man chiu menghela nafas panjang.

"Aku memang terlampau berambisi, dan itu dikarenakan..." "Dikarenakan apa?" "Rasa dengki." "Oh?" "Yaaah!" Lie Man Chiu menghela nafas panjang lagi.

"Kini ?ku merasa malu sekali kepada anak isteriku, dan mereka pasti tak akan sudi memaafkanku." "Itu tidak perlu dicemaskan, ujar Lu Hui San sungguh~sungguh.

"Aku yakin mereka pasti bersedia memaafkan Paman." "kenapa engkau begitu yakin?" "Karena biar bagaimana pun, mereka tetap sebagai anak isteri Paman.

Kalau Paman sudah sadar akan kesalahan itu dan mau mohon maaf, mereka pun pasti akan memaafkan Paman.

Percayalah!" Lie Man Chiu manggut-manggut dan wajahnya tampak agak cerah.

"Ada benarnya juga apa yang kau katakan." "Ha ha!" Terdengar suara tawa dan kemudian muncul Lu Thay Kam.

"San San, ternyata engkau berada disini!

Ayah kira engkau pergi secara diam-diam." "Ayah!" Lu Hui San tersenyUm.

"Bagaimana mungkin aku akan pergi secara diam~diam" Kalau mau pergi berjalan-jalan, aku pasti memberitahukan kepada Ayah." "Ha ha-ha!" Lu Thay Kam tertawa gembira.

"EngkaU memang anak baik, ayah sungguh senang sekali!" "Ayah," tanya Lu Hui San mendadak.

"Bolehkah aku pergi merantau" "Apa"!" Lu Thay Kam tertegun.

"Engkau ingin pergi merantaU?" "Ya." Lu Hui San mengangguk sekaligUs memberitahukan.

"Ayah, aku merasa jemu terkurung di dalam istana." "Ha ha-ha!" Lu Thay Kam tertawa gelak.

"Siapa bilang engkau terkurung di dalam istana?" "BuktinYa aku tidak boleh pergi ke mana-mana.

Nah, bukankah diriku bagaikan seekor burung di dalam sangkar emas?" sebut Lu Hui San cemberut.

"San San!" Lu Thay Kam menatapnya dalam-dalam.

"Jadi engkau sudah mengambil keputUSan untuk pergi merantau?" "Ya, Ayah." Lu Hui San mengangguk dan menambahkan.

"Aku harus mencari pengalaman di luar.

Kalau tidak, aku cuma merupakan gadis pingitan." "Begini saja," ujar Lu ThayKam serius.

Post a Comment