Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 31

Memuat...

"Ha ha-ha!

Kalian berdua pasti bukan orang sini!

Agaknya kalian berdua gadis-gadis rimba persilatan!" "Kok Paman tahu?" tanya Lie Ai Ling dengan rasa heran.

"Karena aku melihat pedang tergantung dipunggungmu," sahut Tan Tayjin.

"Oh ya, silakan duduk!" "Terima kasih, Paman!" ucap Lie Ai Ling dan Siang Koan Goat Nio, lalu duduk dengan wajah berseri "Kalian datang dan mana~" tanya Tan Tayjin sambil memandang mereka dalam-dalam.

"Kami datang dan Pak Hai (Laut Utara)." Lie Ai Ling memberitahukan sambil memandang Tan Giok Lan, kemudian melanjutkan.

"Kami baru mulai mengembara." "Oooh!" Tan Tayjin manggut-manggut.

"Maaf" ucap Tan Giok Lan "Kalian berdua kakak beradik?" "Bolehkah dikatakan ya, tapi juga boleh dikatakan bukan," jawab Lie Ai Ling sambil tersenyum.

"Maksudmu" tanya Tan Giok Lan, yang kebingungan "Kami bukan kakak beradik, namun hubungan kami bagaikan kakak beradik" Lie Ai Ling memberitahukan.

"Oooh!" Tan Giok Lan manggut-manggut.

"Oh ya, botehkah aku tahu nama kalian berdua?" "Namaku Lie Ai Ling, dan dia bernama Siang Koan Goat Nio," jawab Lie Ai Ling dan bertanya "Namamu?" "Namaku Tan Giok Lan, usiaku dua puluh Berapa usia kalian?" "Kami berdua sama-sama berusia enam belas Karena engkau lebih besar, maka kami harus memanggilmu Kakak Giok Lan" "Terima kasih?" ucap Tan Giok Lan sambil tersenyum dan merasa suka kepada mereka yang begitu polos.

"Oh ya!Kalau tidak salah, Paman merayakan ulang tahun hari ini, bukan?" tanya Lie Ai Ling.

"Betul" Tan Tayjin mengangguk.

"Kalau begitu "Lie Ai Ling tersenyum "Sudah pasti ada makanan.

Paman, kami sudah lapar sekali." "Oh?" Tan Tayjin tertawa, lalu berkata kepada pembantunya, "Sajikan makanan istimewa dan arak wangi untukkedua nona ini!" "Ya, Tuan besar," sabut pembantu itu, yang kemudian berja1an masuk, Tak lama kemudian tampak berapa pembantu berjalan ke luar dengan membawa berbagai macam makanan dan arak wangi.

Setelah menaruh makanan dan arak ke atas meja, para pembantu itu kembali masuk.

Agak terbelalak Lie Ai Ling dan Siang Koan Goat Nio melihat makanan-makanan itu.

"Silakan makan!" ucap Tan Tayjin.

"Jangan malu-malu!" "Terima kasih, Paman!" Lie Ai Ling dan Siang Koan Goat Nio mulai bersantap.

Mungkin saking laparnya, dalam waktu sekejap kosonglah semua piring itu.

Tan Tayjin, Tan hujin (Nyonya tan) dan Tan Giok Lan tersenyum geli, kemudian bertanya.

"Mau nambah?" "Terima kasih!" sahut Lie Ai Ling.

"Kami sudah kenyang." "Aku yakin...." Tan Giok Lan memandang mereka.

"Kalian berdua pasti berkepandaian tinggi.

Maukah kalian memperlihatkan kepandaian kalian untuk kami?" "Maaf!" ujar Lie Ai Ling sungguh-sungguh.

"Kami berdua tidak mau memamerkan kepandaian, harap Kakak Giok jangan kecewa!" "Sayang sekali!" Tan Giok Lan menggeleng-gelengkan kepala.

"Padahal aku suka sekali akan ilmu silat!" "Kalau begitu, kenapa Kakak Giok Lan tidak mau belajar ilmu silat?" tanya Siang Koan Goat Nio.

"Yaah!" Tan Giok Lan menghela nafas panjang.

"Sulit mencari guru yang pandai, lagi pula ayahku melarangku belajar ilmu silat." "Benar" Tan Tayjin manggut-manggut.

"Aku yang melarangnya belajar ilmu silat, karena akan membuat sepasang tangannya menjadi kasar...?" "Tidak mungkin," potong Lie Ai Ling sambil memperlihatkan sepasang tangannya yang putih dan halus.

"Lihatlah Paman!

Tangan kami tidak kasar, bukan?" Tan Tayjin memandang tangan gadis itu, lalu manggutmanggut seraya berkata sungguh-sungguh.

"Tanganmu memang tetap putih halus.

Kalau begitu putriku boleh belajar ilmu silat." "Terima kasih, Ayah!" ucap Tan Giok Lan cepat.

"Memang ada baiknya Giok Lan belajar ilmu silat," ujar Nyonya Tan sambil tersenyum lembut.

"Sebab bisa menjaga diri sekaligus memperkuat daya tahan tubuhnya." "Benar," Tan Tayjin manggut-manggut dan tertawa.

"Tapi...

sulit mencari guru yang pandai lho!" "Bukankah di depan mata kita sudah ada dua orang guru?" ujar Nyonya Tan sambil memandang Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling.

"Ha ha ha!" Tan Tayjin tertawa.

"Benar, benar.

Tapi belum tentu kedua nona itu bersedia mengajar Giok Lan ilmu silat" "Adik Goat Lan dan adak Ai Ling, apakah k?lian bersedia mengajarku ilmu silat?" tanya Tan Giok Lan penuh harap.

"Waduh!" Lie Ai Ling menggeleng-gelengk?n kepala.

"Bukan tidak bersedia, melainkan kami tidak bisa lama-lama di sini, sebab kami harus ke markas pusat Kay Pang." "Sayang sekali!" Tan Giok Lan menghela napas panjang.

Pada saat bersamaan, tiba-tiba meluncur cepat beberapa buah benda kecil ke arah Tan Tayjin, dan hal itu tidak terlepas dari mata Siang KOan Goat Nio dan Lie Ai Ling.

Secepat kilat Lie Ai Ling mencabut pedangnya sekaligus diputarnya untuk menangkis benda-benda itu.

Ting!

Ting!

Ting!

Ting!

Terdengar suara benturan nyaring.

Ternyata benda-benda itu adalah senjata rahasia.

"Goat Nio!" ujar Lie Ai Ling.

"Lindungi mereka, aku mau melihat siapa yang menyerang dengan senjata rahasia itu?" "Baik!" Siang Koan Goat Nio mengangguk sambil mengeluarkan suling emasnya, siap~menghadapi segala kemungkinan Lie Ai Ling melesat ke luar.

Tampak empat orang berpakaian merah berdiri di halaman rumah.

"Siapa kalian?" bentak Lie Ai Ling.

"Kenapa kalian menyerang kami dengan senjata rahasia?" "Kami adalah anggota Hiat Ih Hwe!

Kami kemari untuk membunuh Tan Thiam Song!

Kami tidak bermaksud menyerang nona!" sahut salah seorang berpakaian merah itu Mereka berempat ternyata para anggota perkumpulan Baju Berdarah.

"Hm!" Dengus Lie Ai Ling dingin, "Kalian tidak melihat kami berada di sini sebagai tamu" Sungguh berani kalian ingin membunuh Paman Tan!" "Nona!" Salah seorang berpakaian merah itu mengerutkan kening.

"Lebih baik engkau jangan turut campur, agar tidak celaka!" "Kami sebagai tamu di sini, tentunya harus melindungi Paman Tan sekeluarga!

Cepatlah kalian enyah dan sini, jangan sampai aku marah!" bentak Lie Ai Ling sambil menatap mereka tajam "Kalau begitu, kami terpaksa membunuh Nona du1u!" ujar orang berpakaian merah itu berseru, "Mari kita serang dia!" Seketika tampak empat bilah pedang mengarah ke Lie Ai Ling.

Betapa terkejutny?

Tan Tayjin, Nyonya Tan dan Tan Giok Lan menyaksikan kejadian itu.

Akan tetapi, mendadak Lie Ai Ling tertawa nyaring, sekaligus mengayunkan pedangnya untuk menangkis serangan-serangan itu.

Gadis tersebut menggunakan Hong Hoang Kiam Hoatat (Ilmu pedang Burung Phoenix), mengeluarkan jurus Hong Hoang Khay Peng (Burung Phoenix Mengembangkan Sayap).

"Trang!

Trang!

Trang!

Trang...!" Terdengar suara benturan pedang.

Keempat orang Hiat Ih Hwe terhuyung-huyung beberapa langkah, dan pedang di tangan mereka tinggal gagangnya, ternyata telah kutung.

Perlu diketahui, pedang Lie Ai Ling adalah Hong Hoang Pokiam (Pedang Pusaka Burung Phoenix) pemberian ibunya.

"Haah...?" Keempat orang Hiat Ih Hwe terbelalak saking terperanjat.

Mereka tahu sedang berhadapan dengan gadis yang berkepandaian tinggi.

Salah seorang itu berkata, "Lihiap sungguh lihay, kami berempat bukan lawanmu!

Bolehkah kami tahu siapa Nona?" "Aku adalah....

Hong Hoang Lihiap (Pendekar Wanita Burung Phoenix)" sahut Lie Ai Ling setelah berpikir sejenak Kemudian ia menunjuk Siang Koan Goat Nio dan memberitahukan, "Dia adalah Kiam Siauw Siancu (Bidadan Suling Emas)!" "Terima kasih!" ucap orang Hiat Ih Hwe itu "Kita akan berjumpa lagi di lain kesempatan"' Keempat orang Hiat Ih Hwe itu melesat pergi, sedangkan Lie Ai Ling menyarungkan pedangnya sambil tersenyumsenyum, lalu kembali ketempat duduknya.

"Nona sungguh hebat sekali!" ujar Tan Tayjin kagum "Aku sama sekali tidak menyangka engkau berkepandaian begitu tinggi!" "Terima kasih, Nona!" ucap Nyonya Tan sambil menghela nafas lega.

"Engkau tel?h menyelamatkan suamjku." "Adik Ai Ling" Tan Giok Lan menatapnya dengan mata tak berkedip.

"Engkau sungguh lihay Rasanya aku ingin berguru kepadamu" "Tidak seberapa kepandaianku," sahut Lie Ai Ling merendah dan menambahkan, "Kakak Giok Lan, aku tidak bisa menjadi gurumu!" "Sayang sekali!" Tan Giok Lan menghela nafas panjang, "Kini aku telah mengambil keputusan untuk belajar ilmu silat, agar bisa melindungi ayahku." "Eeeh?" Tan Tayjin terbelalak "Ke mana para pengawalku" Kenapa mereka tidak kelihatan?" "Mereka terkapar pingsan," Siang Koan Goat Nio memberitahukan.

"Celaka!

Itu harus bagaimana?" Guguplah Tan Tayjin.

"Tidak apa-apa" Siang Koan Goat Nio tersenyum.

"Mereka akan siuman dengan sendirinya." "Oooh!" Tan Tayjin menarik nafas lega.

"Paman," tanya Lie Ai Ling.

"Sebetulnya perkumpulan apa Hiat Ih Hwe itu?" "Aaaah...!" Tan Tayjin menghela naf?s panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Perkumpulan itu khususnya membunuh para jenderal dan pembesar yang setia, jujur dan bijaksana." "Oh?" Lie Ai Ling mengerutkan kening.

"Siapa ketua Hiat Ih Hwe?" "Mungkin Lu Thay Kam." Tan Tayjin memberitahukan, "Sebab sudah berkali-kali Lu Thay Kam mengutus orang kepercayaannya ke mari untuk memberi perintah kepadaku." "Perintah apa?" "Menyuruhku menaikkan pajak ini dan itu dikota ini.

Tapi aku tidak mengacuhkan penintah itu." "Jadi Lu Thay Kam mengutus orang.orangny?

kemari untuk membunuh Paman?" "Kira-kira begitulah." "Hmm!" dengus Lie Ai Ling.

"Sungguh jahat Lu Thay Kam itu!

Kalau aku bertemu dia kelak, pasti kupenggal kepalanya!" "Nona...." Tan Tayjin terbelalak.

"Engkau...." "Ai Ling," tegur Siang Koan Goat Nio halus.

"Jangan omong sembarangan, sebab akan menimbulkan masalah!" "Ya." Lie Ai Ling mengangguk.

"Memang banyak orang ingin membunuh Lu Thay Kam, tapi sebaliknya mereka malah terbunuh." Tan Tayjin memberitahukan "Lho" Kenapa?" tanya Lie Ai Ling.

"Kalian harus tahu...." Tan Tayjin menghela nafas "Kepandaian Lu Thay Kam sangat tinggi, maka tiada seorang pun mampu membunuhnya" "Oh?" Lie Ai Ling mengerutkan kening, kelihatannya gadis itu kurang percaya "Suatu hari nanti, aku ingin bertarung dengan dia!" "Ai Ling!" Siang Koan Goat Nio menatapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Kenapa engkau omong sembarangan lagi?" "Lupa." Lie Ai Ling tersenyum.

"Oh ya, tadi mereka menanyakan nama kita...." "Engkau memberitahukannya?" tanya Siang Koan Goat Nio.

"Tentu tidak," sahut Lie Ai Ling sambil tersenyum geli dan melanjutkan, "Tapi kubilang aku adalah Hong Hoang Lihiap, sedangkan engkau adalah Kim Siauw Siancu." "Ai Ling!" Siang Koan Goat Nio tertawa kecil "Engkau mengada-ada saja!" "Tidak salah." Tan Tayjin tertawa.

"Itu memang merupakan julukan yang sangat tepat untuk kalian Hong Hoang Lihiap, Kim Siauw Siancu!

Sungguh tepat dan indah julukan tersebut!

Ha ha-ha...." "Adik!" Tan Giok Lan memandangnya seraya bertanya.

Post a Comment