Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 30

Memuat...

engkau harus mencari ayahmu," sahut Tio Cie Hiong.

"Betul.

Tapi...." Lie Ai Ling menghela nafas.

"Belum tentu kakek mengijinkan.

"Ai Ling!" Tio Cie Hiong tersenyum.

"Tadi aku sudah membicarakannya dengan kakekmu." "Oh?" Wajah Lie Ai Ling berseri.

"Kakekku setuju aku pergi mencari ayah?" "Setuju." Tio Cie hong mengangguk.

"Horeee!" Lie Ai Ling berjingkrak-jingkrak saking girangnya.

"Besok aku akan pergi mencari ayah!" "Bagus, bagus!" Kou Hun Bijin tertawa.

"Jadi Goat Nio mempunyai teman dalam pengembaraan." "Syukurlah!" ucap Kim Siauw Suseng dengan wajah berseri.

"Mereka berdua akan saling melindungi." "Ai Ling!" Siang Koan Goat Nio menggenggam tangannya.

"Aku pasti membantumu mencari ayahmu." "Terima kasih, Goat Nio!" ucap Lie Ai Ling.

Aku pun pasti membantumu dalam hal...." "Dalam hal apa?" tanya Siang Koan Goat Nio heran.

"Mencari Kakak Bun Yang," sahut Lie Ai Ling sambil tertawa kecil.

"Bukankah engkau ingin sekali bertemu Kakak Bun Yang?" "Ai Ling...." Wajah Siang Koan Goat Nio memerah.

"Engkau...." "Ha ha-ha!

Hi hi-hi!" Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin tertawa.

Sedangkan Tio Cie Hiong tersenyum-senyum.

"Kalian berdua harus ingat, jangan sembarangan mengeluarkan ilmu pedang Cit Loan Kiam Hoat!" pesan Tio Cie Hiong.

"Kami pasti ingat, Paman." Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling mengangguk pasti.

"Kamipun tidak akan sembarangan membunuh orang, cukup memusnahkan kepandaian mereka saja." "Bagus!" Tio Cie Hiong manggut-rnanggut dan melanjutkan, "Akupun akan membekali kalian obat pemunah racun." "Terima kasih, Paman!" ucap kedua gadis itu.

"Terima kasih...." -oo0dw0oo- Kota Keng Ciu merupakan kota yang cukup besar, makmur dan ramai dikunjungi para pedagang dan daerah lain.

Pada suatu hari, kota tersebut menjadi lebih ramai dari pada biasanya, bahkan wajah para penduduk kota itu pun tampak berseri-seri, Seakan menghadapi hari besar atau hari raya.

Kenapa begitu" Ternyata para penduduk kota itu turut merayakan hari ulang tahun Tan Tayjin (Pembesar Tan), gubernur kota tersebut.

Beliau setia pada kerajaan, adil dan bijaksana terhadap para penduduk kota Keng Ciu itu, dan tidak pernah melakukan tindak korupsi.

Oleh karena itu, para penduduk kota tersebut sangat menghormatinya.

Entah sudah berapakali Lu Thay Kam mengutus orang kepercayaannya pergi menemui Tan Tayjin untuk menyampaikan perintahnya, bahwa Tan Tayjin harus menaikkan pajak para pedagang dan lain sebagainya di kota itu.

Akan tetapi, Tan Tayjin sama sekali tidak mengacuh perintah itu, sudah barang tentu membuat Lu Thay Kam gusar bukan main.

Karena itu, Tan Tayjin pun menjadi sasaran Hiat Ih Hwe.

Pada hari itu, di kota Keng Ciu tersebut muncul dua gadis remaja yang sangat cantik sekali, yang ternyata Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling.

Kedua gadis itu telah meninggalkan Pulau Hong Hoang To, mulai mengembara dalam rimba persilatan.

Mereka berdua berjalan perlahan, memandang ke kiri dan ke kanan sambil mengagumi keindahan gedung-gedung yang beraneka warna.

Kemunculan kedua gadis itu sangat menanik perhatian penduduk kota itu, karena mereka berdua memiliki kecantikan yang mempesona "Ai Ling," ujar Siang Koan Goat Nio sambil tersenyum.

"Sungguh indah dan ramai kota ini!" "Benar," sahut Lie Ai Ling dan tertawa riang gembira.

"Mudah-mudahan kita akan bertemu Kakak Bun Yang di sini!" "Al Ling...." Siang Koan Goat Nio menggelengkan kepala.

"Dia belum tentu sudah meninggalkan Gunung Thian San." "Menurut paman, Kakak Bun Yang pasti sudah meninggalkan Gunung Thian San," ujar Lie Ai Ling dan menambahkan "Maka kita disuruh ke markas pusat Kay Pang, mungkin kakak Bun Yang berada di sana." "Ai Ling!" Siang Koan Goat Nio tertawa kecil, "Kalau dipikir~pikir memang menggelikan." "Apa yang menggelikan?" "Kita boleh dikatakan buta akan Tionggoan ini, namun kita Justru berani mengembara." "Kalau kita tidak berani mengembara, bagaimana mungkin pengalaman kita akan bertambah" Yang penting kita tidak boleh malu bertanya, sebab kalau kita malu bertanya akan sesat dijalan." "Benar." Siang Koan Goat Nio manggut-manggut.

"Eeeeh" Kenapa penduduk kota ini terus menerus memandang kita" Apakah dandanan kita tidak wajar?" "Bukan." Lie Ai Ling tersenyum.

"Mereka terus menerus memandang kita, karena kita berdua sangat cantik, maka menarik perhatian mereka." "Oooh!" Siang Koan Goat Nio tertawa geli, "Kaum lelaki memang begitu, kalau melihat gadis cantik, mata mereka langsung melotot." "Tapi...," ujar Lie Ai Ling sungguh-sungguh, "Kakak Bun Yang tidak begitu.

Aku tahu jelas itu." "Oh, ya?" Siang Koan Goat Nio tersenyum dengan wajah agak kemerah-merahan.

"Ai Ling, kota ini tampak ramai sekali.

Apakah penduduk ini sedang merayakan sesuatu?" "Mungkin" Lie Ai Ling mengangguk "Kalau ada keramaian, kita pun boleh menonton.

Asyikkan?" "Memang asyik, tapi...

jangan menimbulkan masalah." Siang Koan Goat Nio mengingatkan.

"Goat Nio!" Lie Ai Ling tertawa kecil.

"Memangnya kita adalah gadis yang akan menimbulkan masalah?" "Tentunya bukan.

Namun kita harus tetap menjaga agar tidak emosi," ujar Siang Koan Goat nio sungguh-sungguh.

"Karena pasti akan ada kaum lelaki menggoda kita." "Kita tampar saja," sahut Lie Ai Ling.

"Bereskan?" "Nah!" Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.

"Kalau begitu, pasti akan menimbulkan masalah." "Jadi...

kita harus diam saja kalau dig?da!" "Apabila mereka tidak teriampau kurang ajar, diamkan saja." Mendadak Siang Koan Goat Nio memandang ke depan dengan mata agak terbelalak.

Ternyata ?a melihat begitu banyak orang berkumpul di depan pintu sebuah rumah yang cukup besar.

"Eh" Ada apa di sana?" "Mungkin ada keramaian.

Mari kita kesana melihat-lihat!" ajak Lie Ai Ling.

Siang Koan Goat Nio mengangguk.

Kemudian kedua gadis itu menuju ke sana.

Tampak kaum lelaki berdesak-desakan seakan ingin menyaksikan sesuatu.

"Heran" Ada apa sih" gumam Ai Ling sambil memandang ke halaman rumah itu.

Di dalam halaman itu tampak beberapa pengawal, sepasang suami isteri berusia lima puluhan dan seorang gadis cantik berusia dua puluhan.

"Lebih baik bertanya kepada salah seorang yang berkumpul disini," sahut Siang Koan Goat Nio.

Lie Ai Ling mengangguk, lalu mendekati seorang tua dan bertanya dengan sopan.

"Paman, ada keramaian apa di rumah itu?" "Eeeh?" Orang tua itu terbelalak ketika melihat Lie Ai Ling dan Siang Koan Goat Nio.

"Bukan main, bukan main!" "Apa yang bukan main, Paman?" tanya Lie Ai Ling dengan rasa heran.

"Kalian berdua sungguh cantik!" sahut orang tua itu.

"Bahkan lebih cantik dan Tan siocia (Nona Tan)" "Oh?" Lie Ai Ling tersenyum "Paman, siapa Nona Tan itu?" "Kalian berdua bukan penduduk kota ini?" "Bukan." "Pantas kalian tidak tahu.

Rumah ini adalah tempat tinggal Tan Tayjin.

Beliau mempunyai seorang putri bernama Tan Giok Lan, yang cantik jelita." Orang tua itu memberitahukan.

"Oooh!" Lie Ai Ling manggut-manggut.

"Lalu kenapa begitu banyak orang berkumpul di sini?" "Hari ini Tan Tayjin merayakan ulang tahunnya, jadi orangorang berkumpul di sini...

untuk melihat Nona Tan, yang cantik jelita itu," sahut orang tua itu sambil memandang mereka berdua.

"Namun kalian berdua lebih cantik dari Nona Tan.

"Oh?" Lie Ai Ling tersenyum, kemudian berkata kepada Siang Koan Goat Nio.

"Mari kita mendekati pintu rumah, aku ingin lihat berapa cantik Nona Tan itu!" "Baik" Siang Koan Goat Nio mengangguk.

Mereka berdua menuju pintu rumah itu, namun tidak bisa maju lagi, karena terhalang oleh orang-orang yang berkumpul di situ.

"Permisi!

Permisi...," ucap Lie Ai Ling.

Suaranya begitu merdu, sehingga membuat orang orang itu berpaling Begitu melihat Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling yang cantik bagaikan bidadari, seketika juga mereka terbelak dengan mulut ternganga lebar, bahkan d~antaranya ada pula yang menelan air liur.

"Hi-hi-hi!" Lie Ai Ling tertawa geli menyaksikan sikap mereka itu "Goat Nio, lucu sekali mereka itu!" bisiknya.

Siang Koan Goat Nio tersenyum.

Sementara Tan Giok Lan yang berada di dalam merasa heran, karena semua orangorang itu terus mengarah kepadanya, namun mendadak mereka berpaling ke belakang.

Itu membuatnya terheranheran, sehingga ?a pun memandang kedepan.

Orang-orang yang berkumpul itu tiba-tiba minggir seakan memberi jalan.

Tampak dua gadis cantik manis melangkah maju, lalu berhenti sambil memandang kedalam.

Begitu melihat kedua gadis yang begitu cantik, ?a pun tertarik dan segera berbisik-bisik kepada ayahnya.

"Ayah, di luar ada dua gadis yang agaknya ingin menjadi tamu kita, lebih baik suruh saja mereka masuk!" "Baik." Tan Tayjin mengangguk dan sekaligus berseru kepada pengawalnya.

"Undang kedua nona itu masuk!" "Ya, Tayjin," sahut pengawal itu dan cepat-cepat mendekati Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling.

"Nona-nona, Tayjin mengundang kalian masuk." "Terima kasih!" sahut Lie Ai Ling, lalu menarik Siang Koan Goat Nio ke dalam dengan wajah berseri-seri.

Tan Tayjin dan Tan Giok Lan terus memperhatikan kepada mereka.

Padahal Tan Giok Lan merupakan gadis yang cantik jelita, namun masih kalah cantik bila dibandingkan dengan kedua gadis itu.

"Paman!" Lie Ai Ling memberi hormat.

"Terima kasih atas kebaikanmu!" Tan Tayjin memandang mereka dengan penuh heran, karena seharusnya mereka memanggilnya Tayjin, namun malah memanggilnya paman.

Post a Comment