"Siok Loan!" Tan Li Cu memegang bahunya.
"Jangan sedih, kalian pasti berjumpa lagi kelak!" "Guru...." Ma Siok Loan langsung mendekap di dada Tan Li Cu, dan tangisnya pun semakin menjadi.
Tan Li Cu membelainya, dan menghiburnya pula.
-oo0dw0oo- Tio Bun Yang melanjutkan perjalanannya menuju markas pusat Kay Pang.
Dalam perjalanan ia selalu menolong orang, sehingga dirinya menjadi terkenal dan dijuluki Giok Siauw Sin Hiap (Pendekar Sakti Suling Pualam).
Ketika hari mulai senja Tio Bun Yang memasuki sebuah rimba.
Tiba-tiba keningnya berkerut, ternyata ia mendengar suara bentrokan senjata tajam.
Segeralah ia melesat ke tempat itu, kemudian dilihatnya belasan orang sedang bertarung mati-matian melawan beberapa orang berpakaian merah.
"Ha ha ha!" Salah seorang berpakaian merah tertawa gelak.
"Kalian anggota-anggota Tiong Ngie Pay, lebih baik menyerah saja!" "Hm!" sahut salah seorang dan pihak Tiong Ngie Pay.
"Lebih baik kami mati dan pada menyerah!
Tio Bun Yang mengerutkan kening karena melihat beberapa mayat menggeletak di tempat itu.
Sementara pertarungan semakin sengit.
Belasan anggota Tiong Ngie Pay tampak tak sanggup melawan lagi, bahkan diantaranya sudah ada yang terluka lagi.
"Ha ha ha!" Salah seorang berpakaian merah tertawa gelak.
"Hari ini kalian harus mampus!" "Berhenti!" Terdengar suara bentakan keras.
Betapa terkejutnya orang-orang berpakaian merah itu, dan langsung berhenti menyerang.
Disaat itulah melayang turun sosok bayangan, yang tidak lain Tio Bun Yang bersama monyet hulu putih.
"Hei!' bentak salah seorang berpakaian merah, "Siapa engkau" Sungguh berani engkau mencampuri urusan kami!" "Aku mendengar suara bentrokan senjata tajam, maka aku kemari," sahut Tio Bun Yang sambil tersenyum.
"Sesungguhnya aku tidak benmaksud mencampuni urusan kalian." "Hmm!" dengus orang berpakaian merah itu.
"Siapa berani melawan Hiat Ih Hwe harus mampus!" "Saudara," ujar salah seorang anggota Tiong Ngie Pay.
"cepatlah engkau pergi!
Kalau tidak, mereka pasti membunuhmu." "Terima kasih atas perhatian Anda!" ucap Tio Bun Yang dan menambahkan sambil tersenyum.
"Mereka tidak mampu membunuhku, percayalah!" "Saudara...." Anggota-anggota Tiong Ngie Pay menggeleng-gelengkan kepala.
"Hei!" bentak orang berpakaian merah.
"Engkau bilang kami tidak mampu membunuhmu?" "Benar!" Tio Bun Yang mengangguk.
"Sudahlah!
Lebih balk kalian cepat enyah dan sini!" "Hm!" dengus orang berpakaian merah.
"Engkau memang ingin cari mampus disini!
Baik!
Kami terpaksa membunuhmu!" "Kauw-heng, naiklah ke pohon dulu!" ujar Tio Bun Yang kepada monyet bulu putih sambil mengeluarkan suling pualamnya.
Monyet bulu putih itu bercuit, lalu meloncat ke dahan pohon dan duduk di situ sambil menggoyang-goyangkan kakinya.
"Mari kita serang dia!" seru orang berpakaian merah.
Seketika juga beberapa bilah pedang mengarah ke Tio Bun Yang, sehingga membuat para anggota Tiong Ngie Pay terkejut bukan main.
"Hati-hati Saudara!" seru mereka serentak dengan cemas.
"Jangan khawatir saudara-saudara!" sahut Tio Bun Yang sambil berkelit, sekaligus menggerakkan suling pualamnya.
"Aaakh!
Aaaakh!
Aaaakh...
!" Terdengar suara jeritan.
Tampak lima orang berpakalan merah telah terkapar dengan mulut mengeluarkan darah.
Betapa terkejutnya para anggota Tiong Ngie Pay, dan mereka memandang Tio Bun Yang dengan mata terbelalak.
Ternyata tadi Tio Bun Yang berkelit menggunakan Kiu Kiong San Tian Pou, sekaligus menggerakkan suling pualamnya dengan jurus San Pang Te Liak (Gunung Runtuh Bumi Retak), itu adalah ilmu Giok Siauw Bit Ciat Kang Khi (Ilmu Suling Kumala Pemusnah Kepandaian).
"Engkau...
engkau...." Kelima orang berpakaian merah menunjuk Tio Bun Yang dengan wajah pucat pias.
Salah seorang anggota Tiong Ngie Pay mendekati mereka, maksudnya ingin membunuh orang-orang Hiat Ih Hwe itu.
"Jangan bunuh mereka!" cegah Tio Bun Yang.
"Kenapa?" tanya anggota Tiong Ngie Pay itu dengan rasa heran.
"Mereka...
mereka sering membunuh orang." "Tapi kini mereka sudah tidak bisa membunuh orang lagi." Tio Bun Yang memberitahukan sambil tersenyum.
"Karena aku telab memusnahkan kepandaian mereka." "Oooh!" Anggota Tiong Ngie Pay itu memandang Tio Bun Yang dengan kagum, kemudian mereka semua memberi hormat.
"Atas nama Tiong Ngie Pay, kami mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada Saudara, karena Saudara telah menyelamatkan nyawa kami." "Kalian tidak usah mengucapkan terima kasih." Tio Bun Yang tersenyum ramah, lalu melesat pergi.
"Kauw-heng, cepat ikut aku!" "Saudara...." Para anggota Tiong Ngie Pay terperangah dengan mulut ternganga lebar, sebab dalam sekejap mata Tio Bun Yang telah hilang dari pandangan mereka.
"Sayang sekali kita tidak tahu namanya!" "Kalau tidak salah...," ujar salah seorang anggota Tiong Ngie Pay.
"Dia adalah Giok Siauw Sin Hiap yang baru muncul di rimba persilatan." "Benar.
Dia pasti Giok Siauw Sin Hiap.
Ayoh, kita harus segera kembali ke markas!" -ooo0dw0ooo- Beberapa hari kemudian, Tio Bun Yang sudah sampai di markas pusat Kay Pang.
Betapa gembiranya Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong, mereka menatapnya dengan mata tak berkedip.
"Kakek, Kakek Gouw!" panggil Tio Bun Yang sambil bersujud.
"Bun Yang cucuku...." Lim Peng Hang tertawa gembira.
"Engkau sudah sedemikian besar, bahkan sangat tampan pula." Tio Bun Yang hanya tersenyum.
Sedangkan monyet bulu putih bercuit-cuit tampak gembira sekali.
"Bun Yang...." Gouw Han Tiong masih terus menatapnya.
"Engkau memang tampan sekali, kemungkinan kepandaianmu pun sudah tinggi." "Biasa-biasa saja, Kakek Gouw," ujar Tio Bun Yang merendah.
"Ha-ha-ha!" Gouw Han Tiong tertawa gelak.
"Engkau bersifat seperti Cie Hiong, selalu merendah diri." "Bun Yang, duduklah!" ucap Lim Peng Hang.
"Terima kasih, Kakek!" Tio Bun Yang duduk dan bertanya, "Bagaimana keadaan Kakek dan Kakek Gouw selama ini?" "Kakek baik-baik saja," sahut Lim Peng Hang sambil tersenyum.
"Yaaah!" Sebaliknya Gouw Han Tiong malah menghela nafas panjang.
"Aku malah telah kehilangan ayah." "Apa"!" Tio Bun Yang terperanjat.
"Kakek tua Tui Hun Lojin telah meninggal?" "Kalau meninggal itu masih wajar, tapi...." Gouw Han Tiong menggeleng~gelengkan kepala.
"Kakek tua kenapa?" Tio Bun Yang mengerutkan kening.
"Apakah...." "Dua tahun lalu...." Gouw Han Tiong memberitahukan.
"Ayahku dan Lam Kiong hujin dibunuh orang." "Oh?" Tio Bun Yang tersentak.
"Siapa yang membunuh kakek tua dan Lam Kiong hujin?" "Hingga saat ini kami tidak mengetahuinya." Gouw Han Tiong menghela nafas panjang.
"Tiada jejak pembunuh itu." "Padahal kakek tua dan Lam Kiong hujin berkepandaian tinggi, tapi kenapa mati terbunuh?" "Itu membuktikan kepandaian pembunuh itu sangat tinggi." Lim Peng Hang memberitahukan.
"Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin mati dengan sekujur badan hangus!" "Sekujur badan hangus?" Tio Bun Yang kaget.
"Apakah kakek tua dan Lam Kiong hujin dibakar?" "Bukan." Lim Peng Hang menggelengkan kepala.
"Melainkan terkena semacam pukulan yang mengandung api." "Oh?" Tio Bun Yang terkejut.
"Siapa yang memiliki ilmu pukulan seperti itu?" Menurut Kou Hun Bijin, ilmu pukulan itu berasal dan Persia," ujar Lim Peng Hang.
"Namun selama dua ratus tahun in, tiada seorang pun yang berhasil mempelajarinya." "Oh?" Tio Bun Yang terbelalak.
"Oh ya, Kakek bertemu Kou Hun Bijin di mana?" "Di Pulau Hong Hoang To," jawab Lim P?ng Hang.
"Kim Siauw Suseng juga berada di sana." "Jadi,...
Kakek sudah ke Pulau Hong Hoang To?" "Dua tahun lalu, kakek pergi ke sana untuk memberitahukan tentang kematian Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin." "Kakek tidak ke Tayli?" "Aku sudah ke Tayli dua tahun lalu." Gouw Han Tiong memberitahukan.
"Pihak Tayli sudah tahu tentang itu, dan aku juga yang memberitahukan." "Yaaah...!" Tio Bun Yang menghela nafas panjang.
"Bun Yang!" Gouw Han Tiong memberitahukan.
"Lam Kiong Bie Liong dan Toan Wie Kie sudah mempunyai anak bernama Lam Kiong Soat Lan dan Toan Beng Kiat, mereka berdua seusia denganmu!" "Oh?" Tio Bun Yang tersenyum.
"Kalau ada kesempatan aku ingin ke Tayli menemui mereka." "Mereka berada di Gunung Thay San belajar ilmu silat kepada Tayli Lo Ceng, dan mereka menjadi murid padri tua itu." "Syukurlah!" ucap Tio Bun Yang berseri.
"Ayahku pernah bilang, bahwa kepandaian Tayli Lo Ceng tinggi sekali.
Mereka berdua menjadi murid padri tua itu, tentunya akan memiliki kepandaian tinggi pula" "Bun Yang," ujar Lim Peng Hang sambil mengge1eng~gelengkan kepala.
"Rimba persilatan tampak akan dilanda badai, sedangkan kerajaan dalam keadaan kacau balau.
Banyak jenderal dan menteri setia mati dibunuh orangorang Hiat Ih Hwe." "Hiat Ih Hwe?" Tio Bun Yang mengerutkan kening.
"Bun Yang...." Lim Peng Hang menatapnya heran.
"Dalam perjalanan ke mari, apakah engkau bertemu orang-orang Hiat Ih Hwe?" "Ya" Tio Bun Yang mengangguk dan menutur tentang kejadian itu.
"Aku memusnahkan kepandaian orang-orang Hiat Ih Hwe itu." "Oh?" Lim Peng Hang tersenyum.
"Bagus engkau menyelamatkan nyawa para anggota Tiong Ngie Pay." "Kenapa?" tanya Tio Bun Yang.
"Kalau dugaan kakek tidak meleset, ketua Tiong Ngie Pay itu adalah Yo Suan Hiang." "Apa"!" Tio Bun Yang tertegun.
"Ketua Tiong Ngie Pay adalah Bibi Suan Hiang?" "Itu cuma dugaan kakek saja.
Sebab selama ini kakek tidak pernah bertemu ketua Tiong Ngie Pay itu." "Menurutku...," ujar Gouw Han Tiong.
"Kemungkinan besar memang Yo Suan Hiang." "Kalau benar Bibi Suan Hiang, sungguh menggembirakan." Wajah Tio Bun Yang berseri-seri.
"Aku rindu sekali kepadanya." "Oh ya!" Mendadak wajah Lim Peng Hang juga berseri.
"Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin juga sudah mempunyal seorang putri, usianya enam belas dan cantik sekali." "Oh?" Tio Bun Yang terbelalak.
"Kim Siauw Suseng berusia hampir seratus, sedangkan Kou Hun Bijin berusia seratus lebih.
Kok mereka masih bisa mempunyai anak?" "Bun Yang!" Lim Peng Hang tertawa.
"Itu dikarenakan mereka awet muda, maka bisa mempunyai anak." "Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut.
"Kakek, siapa nama gadis itu?" "Siang Koan Goat Nio," sahut Lim Peng Hang.