Halo!

Pendekar Bunga Chapter 53 (Tamat)

Memuat...

Dia telah bangkit dengan gerakan yang gesit sekali.

Cuma saja, seketika itu juga dia menyadarinya bahwa pemuda yang dihadapinya ini bukan seorang pemuda sembarangan dan memang memiliki kepandaian yang cukup tinggi.

Maka dari itu, dengan cepat si hwesnio telah melompat untuk menerjang.

Gerakannya begitu cepat, dia bermaksud akan mencengkeram Eng Song.

Tetapi Eng Song mana jeri menghadapi pendeta seperti ini? Dengan mengeluarkan suara tertawa dingin, dia menantikan tibanya serangan.

Di saat itulah, ketika kedua tangan si hweshio hampir dapat mencengkeramnya, dengan mengeluarkan suara seruan yang keras bukan main, Eng Song telah menyampoknya, dia telah mengibas dengan kekuatan yang bukan main.

Tubuh si hweshio jadi tergoncang keras dan terhuyung mundur.

Di saat itu, dengan kuat sekali Eng Song mengulurkan tangannya.

"Plakkkkk!" dia dapat menghajar telak dada si hweshio, sehingga tubuh si hweshio jadi terpental di saat itu pula seperti daun kering belaka.

Lalu ambruk ditanah dengan disertai suara jeritaanya! Dengan muka yang berlumuran darah, tampak pendeta ini telah merangkak bangun.

Dia murka bukan main, sampai tubuhnya gemetaran keras sekali.

Dan dia telah mengeluarkan suara bentakan yang keras bukan main sambil menerjang karena saking penasaran sekali.

Gerakan yang dilakukannya itu memiliki hawa maut yang mengerikan.

Dan juga hweshio itu telah melancarkan serangan dengan jurus ?It Liong Po Thian?, gerakan mana merupakan gerakan yang cukup berbahaya.

Apa lagi memang hweshio yang tengah murka itu, telah menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya pada kedua telepak tangannya.

Maka dari itu, dengan sendirinya telapak tangannya itu mengandung hawa maut.

Tetapi Eng Song tetap berdiri tenang ditempatnya, sedikitpun juga tidak bergeming.

Diawasinya telapak tangan hweshio itu yang tengah meluncur datang.

Dengan gerakan yang sangat cepat dia telah menangkap tangan itu.

"Rubuhlah kau!" bentaknya dengan suara yang nyaring.

Dan tubuh si hweshio bergoyang.

Namun kali ini hweshio itu tidak rubuh terguling, karena dia telah mengeluarkan tenaga dalamnya, sehingga tubuhnya tidak sampai terjungkel.

Cepat bukan main dia juga telah menggerakkan kedua tangannya itu untuk ditarik pulang.

Namun cekalan Eng Song ternyata kuat sekali, sehingga dia tidak bisa menarik pulang kedua tangannya itu, yang tetap tercekal.

Begitulah, Eng Song bermaksud untuk mencekal terus dan merubuhkan hweshio itu, sedangkan si hweshio bermaksud untuk menarik pulang kedua tangannya.

195 Kolektor E-Book Masing-masing telah mengeluarkan tenaga mereka.

Si hweshio terkejut bukan main waktu merasakan cekalan telapak tangan Eng Song mengeluarkan hawa yang panas bukan main.

Dan juga, disamping semua itu dia merasakan bahwa dari kedua telapak tangan Eng Song telah mengeluarkan uap bagaikan ada baranya.

Dengan mati-matian hweshio itu telah menarik pulang tangannya.

Di saat itulah Eng Song telah melepaskan cekalannya, sehingga tubuh si hweshio kehilangan keseimbangan tubuhnya dan telah terjungkel rubuh.

Cepat bukan main, si hweshio bergulingan diatas tanah.

Waktu dia telah dapat berdiri kembali, dia tidak lantas melancarkan serangannya.

Ditatapnya Eng Song dengan sorot mata yang bengis bukan main.

"Hemmmmm.....

rupanya engkau memang seorang pemuda yang memiliki kepandaian lumayan!" katanya dengan suara mendesis.

"Siapa kau sesungguhnya dan siapa gurumu?" "Ada urusan apa kau menanyakan guruku?" bentak Eng Song dengan suara yang tawar.

"Hemmmm, hari ini jika aku tidak ingat bahwa kau hanya ingin meminta uang dengan cara memaksa begitu, tentu aku telah mengambil jiwamu!" "Jangan terkebur anak muda! Tiang Liang Siansu tidak pernah takut pada siapapun juga!" kata si hweshio dengan suara yang dingin.

Dan membarengi dengan suara bentakannya itu, tahu-tahu si hweshio telah menghunus pedangnya yang sejak tadi tergantung dipinggangnya, tersembunyi dibalik jubahnya.

Sreeenggg........! Pedang itu berkilauan tertimpah cahaya matahari.

Di saat itulah, dengan cepat dan gerakan yang bagaikan kilat pedangnya telah menikam.

"Binasalah kau!" bentaknya.

Tetapi Eng Song mendengus tertawa dingin, dia telah menggerakkan tangannya.

"Tappppp........" pedang si hweshio dapat dijepitnya dengas jari tangannya.

Dengan cepat sekali pedang itu tidak dapat bergerak.

Namun hweshio ini juga tidak memiliki ilmu yang lemah, dengan cepat dia memutar membalikkan pedangnya.

Mau tidak mau Eng Song harus melepaskan jepitannya itu, karena kalau tidak mata pedang akan mengutungkan jari tangannya itu.

Di saat pedangnya terlepas dari jepitan jari tangan Eng Song, di saat itulah si pendeta telah meneruskan tikamannya tanpa menarik pulang pedangnya lagi.

Gerakannya yang dilakukannya merupakan gerakan yang luar biasa kuatnya.

Dan pedang itu meluncur kearah perut Eng Song.

Tetapi Eng Song telah menggeser kaki kanannya, dengan gerakan ?Pat Kwa Sam Liong? dia berhasil mengelakkan tikaman tersebut.

Dengan gerakan yang tidak kalah cepatnya Eng Song mengulurkan tangan kanannya.

Maksudnya akan menotok biji mata dari si pendeta itu, dia bermaksud akan mencongkel mata si hweshio.

196 Kolektor E-Book Tentu saja si hweshio yang bergelar Tiang Liang Siansu terkejut bukan main.

Dia mengeluarkan suara seruan yang keras dan telah melompat mundur.

Gerakannya begitu cepat sekali, dan tubuhnya juga telah melompat sejauh beberapa tombak.

Di antara kesempatan yang ada ini, Eng Song tidak mau membuang-buang waktu.

Disertai siulannya yang panjang, tahu-tahu tubuh Eng Song telah meloncat ketengah udara.

Dan kedua tangannya dipentangnya, dia telah mengeluarkan ilmu pukulan Bunganya, sehingga ketika itu tampak gelembung-gelembung tenaga dalamnya telah berhamburan menghantam kearah si hweshio.

Hal ini bukan main mengejutkan hati si pendeta, sehingga Tiang Liang Siansu mengeluarkan suara pekikan nyaring dan cepat-cepat telah melompat mundur.

Gerakan yang dilakukannya itu juga memiliki kesehatan yang bukan main, karena pendeta ini yakin, jika memang terlambat mengelakkannya, niscaya dia akan kena dicelakai oleh Eng Song.

Tetapi Eng Song yang telah melihat sejak tadi bahwa pendeta ini ternyata memiliki tangan yang telengas, telah menjadi gusar.

Maka dia tidak mau kasih hati.

Di saat tubuhnya telah meluncur turun, kakinya menotok tanah, dan tubuhnya telah mencelat ketengah udara melancarkan serangan lagi.

Gcrakan yang dilakukan oleh Eng Song bukan main cepatnya.

Dengan sendirinya, mau tidak mau hal itu telah membuat Tiang Liang Siansu jadi begitu ketakutan, dia telah menjatuhkan dirinya bergulingan diatas tanah.

Gerakan yang dilakukannya ini memiliki kegesitan bukan main.

Tetapi gerakan Eng Song lebih cepat lagi, karena pemuda ini waktu meluncur turun, kedua tangannya telah digerakkan menghantam dengan pukulan jarak jauh.

Hawa pukular itu mengandung kekuatan yang dahsyat, sehingga debu dan batu-batu kerikil berterbangan.

Si hweshio yang telah terdesak begitu, tentu saja jadi kalap dan nekad.

Dengan cepat dia telah menangkisnya, dia mempergunakan kekerasan pula.

Gerakan yang dilakukannya itu merupakan gerakan yang bukan main kuatnya.

Dan juga, tenaga Eng Song telah saling bentur dengan tenaga Tiang Liang Siansu.

"Bukkkkkk!!" Sekitar tempat itu seperti telah tergetar oleh benturan yang terjadi ini.

Dan suatu kejadian yang mengerikan telah tampak, tubuh si hweshio telah melesak kedalam tanah sebatas setengah tombak! Ini membuktikan bahwa tenaga serangan Eng Song bukan main kuatnya.

Tubuh si hweshio kaku diam mengejang tidak bernapas lagi.

Dia telah terbinasakan dengan cara yang mengerikan itu.

Semua orang yang menyaksikan pertempuran ini dengan hati yang tegang, kali ini dapat menghela napas panjang.

Hati mereka jadi lega.

197 Kolektor E-Book ? ? ooo O ooo ? ? ????????? 17 ????????? DENGAN kematian hweshio yang jahat itu, berarti urusan telah menjadi beres.

Dan kematian si pelayan yang bertubuh tinggi besar yang tadi telah dihajar oleh si hweshio berarti telah terbayarkan.

Si kasir rumah makan, cepat-cepat telah datang menjurah memberi hormat.

Dia mengucapkan rasa terima kasih syukur berulang kali atas bantuan dan pertolongan yang diberikan oleh Eng Song.

Tetapi Eng Song tidak mau menerima penghormatan itu, dia telah menyingkir.

"Jangan banyak peradatan! Jangan banyak peradatan! Semua itu memang sudah kewajiban kita semua untuk memberantas manusia-manusia jahat seperti dia!" "Siapakah gelaran Tayhiap yang harum?" tanya si kasir.

"Aku tidak memiliki gelaran, dan orang-orang biasa menggelari aku dengan sebutan Pendekar Bunga....!" dan setelah berkata begitu, Eng Song menjejakkan kakinya, tubuhnya mencelat untuk meninggalkan tempat tersebut disertai perkataannya.

"Selamat tinggal...!!!" Tubuh Eng Song dengan cepat telah lenyap dari pandangan mata semua orang yang berada disitu.

Mereka sangat kagum sekali atas kehebatan Pendekar Bunga itu.

Setidak-tidaknya mereka tadi telah menyaksikan betapa ilmu yang dipergunakan oleh si Pendekar Bunga merupakan ilmu yang langka didalam rimba persilatan......

Mulai saat itulah, nama Eng Song semakin membubung naik dan dikenal didalam rimba persilatan sebagai Pendekar Bunga.

Dan selalu pula disanjung oleh orang-orang yang mendengarnya.

Semua pihak, mau pihak lawan atau kawan, selalu menaruh rasa hormat pada si Pendekar Bunga, karena biar bagaimana memang kenyataannya si Pendekar Bunga memiliki kepandaian yang tinggi dan juga hati yang luhur selalu membela pihak lemah dan dalam keadaan tertindas.......

TAMAT

Post a Comment