"Aku tidak memiliki gelaran...!" Dan membarengi dangan habisnya perkataannya itu, Eng Song telah menjejakkan kakinya, tubuhnya dengan cepat bukan main telah mencelat ditengah udara, kemudian dalam sekejap telah lenyap dari pandangan mata Sam-tauw Kiehiap.
Sam-tauw Kiehiap memandang dengan perasaan kagum bukan main.
Dia heran sekali, pemuda yang berusia muda dan tampan bukau main, ternyata memiliki kepandaian yang bukan main tingginya.
Dengan sendirinya, mau tidak mau didalam hal ini membuat Sam-tauw Kiehiap merasa kagum sekali.
Eng Song sendiri telah kembali kerumah penginapannya, lalu tidur dengan nyenyak.
Dengan perbuatannya itu, tanpa disadari oleh Eng Song, dia telah menyelamatkan kampung tersebut dari gangguan Sam-tauw Kiehiap.
Keesokan paginya, Eng Song telah melakukan perjalanan lagi.
Dan selama itu, banyak peristiwa yang tidak adil telah diselesaikannya.
Dan setiap ada orang yang lemah dan tertindas, selalu ditolong oleh Eng Song.
Sehingga dengan cepat orang mengenal pemuda yang gagah ini.
Karena Eng Soag belum memiliki gelaran, dengan sendirinya orang-orang yang pernah ditolongnya itu, dan melihat Eng Song sering mempergunakan gerakan dengan mementang kedua tangannya, lalu dari kedua telapak tangannya itu keluar gelembung-gelembung tenaga dalam, dengan sendirinya dia diberi gelaran sebagai PENDEKAR BUNGA, karena gelembung gelembung dari tenaga dalamnya itu bagaikan bunga-bunga yang tengah berguguran...! Cepat sekali gelaran Pendekar Bunga itu dikenal orang, karena Eng Song banyak sekali melakukan perbuatan mulia dan membantu si lemah.
Dan juga hal itu disebabkan kepandaiannya yang bukan main, dengan sendirinya menyebabkan penjahat-penjahat selalu dirubuhkannya dengan mudah.
Dan Eng Song membenci kejahatan seperti membenci musuh buyutan.
186 Kolektor E-Book Dengan sendirinya, jika penjahat mendengar namanya, tentu akan menggigil ketakutan.
Selama itu, entah sudah berapa puluh urusan penasaran yang diselesaikan oleh Eng Song.
Dan selama itu pula Eng Song telah berkelana didalam rimba persilatan......! ? ? ooo O ooo ? ? ????????? 15 ????????? PAGI ITU Eng Song tengah melangkah perlahan-lahan menyusuri jalan kecil yang terdapat dipegunungan Wu-cie-san.
Keindahan alam dipegunungan tersebut benar-benar menarik hati disamping udaranya yang sejuk sekali.
Eng Song melihat betapa batang-batang pohon yangliu yang memang banyak bertumbuhan lebat disekitar pegunungan ini, bergerak-gerak dipermainkan oleh hembusan angin.
Tampaknya indah sekali.
Dan kenyataan ini telah membuat Eng Song jadi memandang dengan hati yang tenang dan pikiran yang jernih.
Tetapi, mendadak sekali Eng Song melihat sesuatu dihadapannya sehingga dia merandek melangkah.
Diperhatikannya benda yang menggeletak ditengah jalan dan diam tidak bergerak.
Hati Eng Song jadi tercekat.
"Mayat!" berseru Eng Song.
Ya, memang sosok tubuh itu tidak lain dari mayat dari seorang yang telah mati dengan cara yang mengerikan bukan main.
Kematian orang itu dengan menderita luka pada kedua tusukan pedang didadanya, dengan leher yang setengah putus seperti juga leher itu akan copot dan batok kepalanya tergontai-gontai.
Tentu saja Eng Song sangat gusar melihat cara pembunuhan yang kejam seperti ini.
Dia memeriksa keadaan mayat itu, lalu setelah itu Eng Song menggali tanah untuk menguburnya.
Selesai mengubur mayat itu Eng Song melanjutkan perjalanannya.
Namun, berjalan belum begitu jauh, dihadapannya menggeletak lagi sesosok mayat! Tentu saja Eng Song menjadi kaget dan terlebih kaget lagi waktu melihat mayat yang ada sekarang ini mati seperti mayat yang telah dikuburnya.
Dengan gusar Eng Song telah mangawasi sekitar tempat itu.
Dan tubuh Eng Song agak gemetar mengandung kemarahan yang sangat.
Di saat-saat seperti itu, mau tidak mau memang Eng Song merupakan seorang pendekar yang selalu berdiri dalam garis-garis keadilan.
187 Kolektor E-Book Maka melihat kejadian ini dia telah mengambil keputusan untuk menyelidiki pembunuhan ini.
Lebih-lebih ketika dia melihat langkah-langkah kaki bertapak diatas tanah, karena bekas tapak kaki itu merupakan tapak kaki berdarah.
Dengan cepat dia telah mencelat kedepan.
Berlari belum begitu jauh, dia telah melihat pula dua sosok mayat menggeletak ditengah jalan.
Dan ketika Eng Song terus maju kedepan, dia telah menjumpai empat mayat lainnya.
Tentu saja hal ini telah membuat Eng Song jadi kaget bukan main.
"Inilah pembunuhan besar-besaran!!" katanya didalam hati.
Dan dia telah maju terus.
Ketika itu dia tiba didekat lereng gunung, disaat disebuah tikungan, telah melompat sesosok bayangan dengan gerakan yang gesit sekali.
"Berhenti!" bentak sosok bayangan itu.
Eng Song menghentikan larinya, dia telah memperhatikan orang yang menghadangnya.
Seorang lelaki bertubuh tinggi besar, dengan badan yang tegap dan wajah yang bengis.
Ditangannya mencekal sebatang pedang.
"Siapa engkau? Mengapa berkeliaran disini?" tegurnya dengan suara yang bengis.
"Aku she Ma bernama Eng Song.
Secara kebetulan saja lewat ditempat ini....!!" "Hemmm....
tentunya kau ingin menyelidiki segala apa yang telah terjadi itu, bukan?" tegur orang yang bersenjata pedang itu dengan suara yang dingin.
"Cepat kau menggelinding enyah dari tempat ini sebelum kau menemui kematian seperti orang-orang itu, karena kau masih terlalu muda!" Eng Song bersikap tenang sekali, dia telah tersenyum manis.
"Mengapa orang-orang itu telah menemui kematiannya dengan cara yang begitu mengenaskan sekali?" "Hemmm, itu urusanku!" "Engkau yang telah membunuhnya?!" "Bukan!" "Lalu siApa pembunuhnya?" "Guruku!" menyahuti orang itu dengan suara mengandung rasa bangga.
"Hmmm....
dimana gurumu?" "Sedang pergi! Maka dari itu, kuanjurkan agar kau cepat-cepat meninggalkan tempat ini! Karena jika guruku telah kembali tentu engkau akan dibunuhnya seperti orang-orang itu." Eng Song merasa berterima kasih juga.
Dia melihat lelaki bertubuh kasar ini bukan sebangsa manusia yang bengis, karena dia masih bisa merasa kasihan pada Eng Song dan menganjurkan untuk cepat-cepat berlalu.
Maka dari itu, Eng Song telah memutuskan untuk tidak membinasakan lelaki ini.
188 Kolektor E-Book "Mengapa gurumu membunuh-bunuhi orang-orang itu?" tanya Eng Song lagi.
"Mereka telah diwajibkan untuk datang menghadap pada guruku dengan membawa seorang gadis peranti menjadi selir dari guruku! Namun, kenyataannya mereka tidak mau, maka dengan sendirinya mereka telah dibinasakan!" "Hemmmm, kalau begitu gurumu terlalu gila paras cantik!" kata Eng Song.
"Karena guruku tengah melatih ilmu yang luar biasa, yang membutuhkan darah perawan....!" Mendengar perkataan lelaki ini, tubuh Eng Song jadi menggidik.
Dia merasa ngeri sendirinya.
Dengan cepat dia telah memandang sekeliling tempat itu.
Namun disaat itulah Eng Song yang memiliki pendengaran yang sangat tajam, dapat merasakan betapa datangnya serangan angin halus dari belakangnya.
Tentu saja pemuda ini jadi gusar dan kaget, dengan cepat dia telah menggerakkan tangan kanannya menyampok dengan kuat.
"Bukkk!!" terdengar suara benturan yang keras sekali.
Namun kesudahannya Eng Song terkejut, karena tubuhnya terpental keras, dan punggungnya menghantam batu gunung, untung saja tubuhnya tidak sampai terjungkel masuk dalam jurang.
Dengan gusar Eng Song telah berdiri.
Ternyata ditempat itu telah tambah seorang yang memelihara jenggot dan kumis sangat tebal dengan wajah yang kurus kering.
Usia orang itu mungkin telah mencapai enam puluh tahun.
Sedangkan lelaki yang tadi telah bercerita mengenai gurunya, telah melangkah maju, memberi hormat kepada lelaki tua itu.
"Suhu....!" panggilnya.
"Hemmm......!" orang tua itu hanya mendengus belaka.
Dan mata lelaki tua itu lelah memandang tajam sekali pada Eng Song.
"Pemuda yang sombong, engkau tentunya yang bergelar sebagai Pendekar Bunga, bukan?" Ditegur begitu oleh orang tua tersebut, Eng Song telah mengangguk.
"Tepat! Memang tidak salah!" katanya.
"Bagus! Hari ini aku bisa bertemu dengan kau! Aku ingin memperlihatkan kepadamu kepandaian yang sesungguhnya tinggi!" Dan membarengi dengan habisnya perkatannya itu, dengan cepat orang ini telah menggerakkan sepasang tangannya, dia telah melancarkan serangan yang bukan main cepatnya.
Dan yang mengejutkan Eng Song, adalah kekuatan tenaga dalam yang bukan main, yang menerjang kearah Eng Song dengan pukulan yang dahsyat sekali.
Tetapi Eng Song juga bukannya berkepandaian lemah.
Dia telah mengeluarkan suara seruan keras, dan kemudian telah menangkisnya.
"Bukkk!!" 189 Kolektor E-Book Dua kekuatan yang bukan main kerasnya telah saling bentur.
Karena kali ini Eng Song menangkis dengan mempergunakan kekuatan yang terhitung dan juga memang dia telah berlaku waspada, maka tubuhnya tidak sampai terpental.
Namun biarpun begitu, Eng Song cukup terkejut sekali, karena dia merasakan betapa tubuhnya gemetaran ketika menerima serangan lelaki tua ini.
Dia merasakan bahwa tenaga serangan lelaki tua tersebut sangat tangguh sekali.
Dengan sendirinya, Eng Song juga telah mengambil keputusan untuk dapat menghadapi dengan berhati-hati, karena jika dia berlaku lengah, niscaya dia akan menghadapi bahaya yang tidak kecil.
Cepat sekali, orang tua yang sangat kejam wajahnya itu telah melancarkan serangan serangannya lagi.
Dia rupanya sangat penasaran sekali melihat serangan-serangannya itu gagal.
Namun saat ini, karena Eng Song telah mengetahui bahwa orang tua ini adalah manusia jahat, maka Eng Song telah mementang kedua tangannya.
Dan disertai oleh suara bentakannya yang nyaring, dia telah mementang kedua tangannya.
Dan suatu kejadian yang hebat bukan main, telah terjadi disaat itu.
Karena tubuh lelaki tua itu telah terpental keras sekali, membentur dinding gunung.
Dan celakanya, tubuh lelaki tua ini melesak menembus kedalam batu.
Dan waktu tubuhnya rubuh binasa ditanah, tubuhnya tercetak diatas batu itu.
Dengan sendirinya, hal ini membuktikan betapa hebatnya kekuatan tenaga dalam yang dimiliki oleh Eng Song.
Eng Song masih berdiri tegak ditempatnya.
Sedangkan murid si lelaki tua itu yang melihat ini jadi memandang bengong.
Dia seperti juga merasakan tenaganya dan semangatnya terbang meninggalkan raganya.
Dan juga, disamping itu memang dia merasakan bahwa ia telah lemas tidak bertenaga sama sekali.
Dengan cepat dia telah berlutut mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ampunn....
ampun Kiehiap (pendekar)....