Halo!

Pendekar Bunga Chapter 50

Memuat...

Muka mereka menakutkan sekali, menyerupai muka hantu penasaran.

Mereka tidak lain dari Hck Pek Siang-sat! Dan Eng Song telah cepat-cepat berlutut memberi hormat kepada kedua gurunya.

Begitu juga halnya dengan Cu Sing Hong, telah memeluk kedua kakinya, dia telah memberi hormat dengan berlutut pula.

Tentu saja Eng Song dan Cu Sing Hong jadi sama-sama terkejut dan terheran-heran.

Karena mereka telah sama-sama mengakui Hek Pek Siang-sat sebagai guru mereka.

Saat itu Hek Pek Siang-sat telah berkata sambil tertawa.

"Kalian sesungguhnya merupakan suci dan sute!" kata si Pek, si putih, sambil tertawa.

"Mengapa justeru kalian berdua telah saling tempur seperti ingin mengadu jiwa? Apakah memperebutkan harta warisan?" Di tegur begitu kembali Eng Song dan Cu Sing Hong jadi kaget setengah mati.

Mereka telah disebut sebagai suci (kakak seperguruan perempuan), dan Eng Song sebagai sute (adik seperguruan).

Tentu saja kenyataan ini membingungkan mereka berdua.

Dengan sorot mata tertanya-tanya mereka telah memandang kepada Hek Pek Siang-sat.

Sedangkan si Hek, si hitam, telah berkata dengan sabar : "Songjie, sebelum aku menerima engkau menjadi murid kami, aku telah menerima Cu Sing Hong mendjadi muridku...! Hemmmm, aku juga telah menurunkan seluruh ilmu silatku dan beberapa pelajaran yang sangat berarti sekali, merupakan pelajaran yang sangat antik didalam rimba persilatan, yaitu cara mempergunakan inti es! Kalian berbeda usia sebanyak sepuluh tahun....

karena memang kami mengambil kalian juga setelah berselang sepuluh tahun! Mendengar keterangan gurunya, Eng Song jadi kaget.

Cepat-cepat dia telah berlutut memberi hormat kepada Cu Sing Hong.

"Suci....

maafkanlah kelancanganku yang selalu bersikap kurang ajar padamu.....

harap kau mau mengampuni adik seperguruanmu yang kurang ajar ini....!" Cu Sing Hong yang telah mengetahui bahwa Eng Song sesungguhnya adalah sutenya, maka dia telah tertawa lebar.

"Kita baru mengetahuinya sekarang ini bahwa di antara kita berdua sesungguhnya merupakan orang sendiri dari satu pintu perguruan! Untung saja di antara kita berdua belum ada yang cidera....!" Dan setelah berkata begitu, Cu Sing Hong telah membangunkan Eng Song dari berlututnya.

Mereka dengan gembira telah bercakap-cakap bersama guru mereka, yaitu Hek Pek Siang sat.

182 Kolektor E-Book Sedangkan Hek Pek Siang-sat telah menjelaskan bahwa mereka sesungguhnya telah lama hidup mengasingkan diri dan tidak pernah mencampuri urusan di dalam rimba persilatan! Tetapi setelah berselang puluhan tahun, akhirnya timbul juga perasaan ingin tahunya dan juga ingin berkelana.

Secara kebetulan sekali di saat mereka tiba ditempat ini, justeru mereka telah melihat Eng Song dan Cu Sing Hong tengah bertempur dengan sikap mengadu jiwa.

Mereka jadi terkejut dan cepat-cepat datang untuk memisahkan kedua orang ini yang tengah bertempur hebat, karena mereka segera mengenalinya bahwa orang yang tengah bertempur itu tidak lain dari kedua orang murid mereka.

Setelah bercakap-cakap, akhirnya Eng Song melanjutkan perjalanannya, sedangkan Cu Sing Hong telah ikut kedua gurunya karena kata kedua gurunya ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengannya........

? ? ooo O ooo ? ? ????????? 14 ????????? KAMPUNG Tiang-ko-cung merupakan sebuah perkampungan yang cukup luas dan juga padat penduduknya.

Tetapi dimalam itu, tampak keadaan perkampungan Tiang-ko-cung agak sepi, karena jarang sekali orang yang berlalu lalang, walaupun belum begitu terlalu larut malam benar.

Eng Song tampak tiba dikampung tersebut.

Segera juga pemuda ini telah mencari rumah penginapan untuk bermalam.

Dan sebelumnya Eng Song telah bersantap diruangan makan rumah makan itu.

Semuanya berjalan lancar dan tidak ada sesuatu yang mencurigakan.

Namun menjelang tengah malam, Eng Song jadi terbangun dari tidurnya dengan terkejut.

Karena dia mendengar suara jeritan yang melengking tinggi sekali.

Dengan sendirinya, dia telah melompat turun dari pembaringannya.

Dan suara jeritan itu tetap saja terdengar mengerikan bukan main.

Tubuh Eng Song yang mendengarnya sampai menggidik, sebab suara jeritan itu merupakan suara jeritan kematian dari seseorang.

Dengan cepat Eng Song telah merapihkan bajunya, dia telah keluar dari kamarnya itu melalui jendela.

Tubuhnya melesat keluar bagaikan terbang.

Dengan ringan Eng Song telah melompat keatas genting.

JILID 11 GERAKANNYA itu bukan main cepatnya, dan disaat itulah suara jeritan yang mengandung kengerian tersebut lenyap sama aekali.

Sekitar tempat itu jadi sunyi kembali.

183 Kolektor E-Book Eng Song mementang sepasang matanya.

Di saat itulah matanya yang jeli dapat melihat sesosok bayangan tengah berlari-lari diatas genteng dengan gerakan yang cepat bukan main.

Eng Song cepat-cepat menjejekkan kakinya.

Tubuhnya bagaikan terbang telah mencelat mengejar orang itu.

Gerakannya bukan main cepatnya.

Di dalam waktu yang singkat sekali mereka telah berlari-lari di atas genteng saling kejar.

Orang yang memakai baju hitam singsat itu, telah mengetahui bahwa dirinya tengah di kejar.

Maka dari itu, dia segera juga mengetahuinya bahwa dia harus mempecepat larinya.

Dengan tidak membuang waktu, dia telah mencelat-celat dari genteng yang satu ke genteng yang satu.

Namun ketika dia tengah melompat ke genteng yang satunya dari salah seorang rumah penduduk, di saat itulah tahu-tahu dihadapannya telah muncul sesosok bayangan putih.

Tentu saja dia jadi merandek.

"Ihhh?!" berseru orang berpakaian hitam tersebut.

Dipentang matanya, sehingga dia melihatnya yang menghadangnya itu seorang pemuda yang tampan dan memakai baju yang putih mulus.

"Siapa kau? bentak orang berpakaian hitam dengan muka yang bengis.

Memang wajahnya telah bengis bukan main dengan berewok yang kasar.

Pemuda tampan itu telah tersenyum sabar dan tenang bukan main.

Dia telah berkata : "Aku she Ma dan bernama Eng Song.

Di malam buta ini engkau telah menjadi seorang pembunuh! Apa kesalahan penduduk yang engkau bunuh itu?!" Muka lelaki berewok itu telah berobah seketika itu juga, tampaknya dia terkejut.

Namun dengan cepat ketenangannya telah pulih kembali, diapun telah berkata dengan suara yang dingin : "Hemmmm...

setiap penduduk harus menyediakan aku empat ratus tail perak sebulannya sebagai pajak mereka tinggal dikampung ini! Tetapi ternyata masih ada yang suka membandel juga.

Dan salah seorang yang membandel itu adalah orang yang baru saja kubunuh tadi....! Tidak ada yang hidup jika berani menentang perkataan Sam-tauw Kiehiap (Pendekar Tiga Kepala....)!" Mendengar perkataan orang itu, Eng Song tersenyum tidak senang.

Orang seperti ini merupakan penindas yang paling jahat.

Maka Eng Song berpikir, manusia seperti ini tidak boleh diberi ampun.

"Baiklah! Aku jadi ingin melihat barapa tinggi kepandaian dari Sam-tauw Kiahiep!" kata Eng Song.

Tentu saja Sam-tauw Kiehiap jadi murka bukan kepalang mandengar perkataan Eng Song.

Dengan mengeluarkan suara erangan, tahu-tahu dia telah melompat melancarkan serangan.

Pukulan yang dilancarkannya itu merupakan serangan yang mengandung serangan tenaga Gwakang yang bukan main kuatnya.

Namun Eng Song tetap tenang-tenang saja.

184 Kolektor E-Book Diawasinya tangan orang yang tengah meluncur kearahnya.

Dan waktu dia melihat tangan itu telah dekat, dengan cepat dia telah menggerakkan tangannya.

"Tappp...!" dia sudah menangkap pergelangan tangan orang tersebut.

Maka dari itu, disebabkan cekalan tangan Eng Song, tangan orang itu tidak bisa maju dan tidak bisa ditarik pulang.

Eng Song telah mencekalnya keras bukan main.

Dibarengi dengan suara bentakannya, orang yang bergelar Sam-tauw Kiehiap itu telah menarik pulang tangannya, tetapi entah mengapa, tenaganya jadi tidak ada artinya, tangannya itu tidak bisa ditarik pulang.

Dia telah mengerang dan menarik pulang pula tangannya.

Namua selalu gagal.

Dengan sendirinya, mau tidak mau di dalam hal ini telah membuat orang yang bergelar Sam-tauw Kiehiap jadi penasaran sekali.

Apalapi dia melihatnya betapa Eng Song berdiri dengan bibir tersenyum seperti mengejek.

Dengan mengeluarkan suara raungan yang keras dan bengis sekali, dia telah melancarkan serangan pula dengan tangan kirinya.

Gerakan yang dilakukannya itu bukan main cepatnya.

Maka disaat itulah, Eng Song telag bertindak.

Dia telah menggerakkan tangannya dibarengi dengan suara bentakannya : "Rubuhlah engkau!!" Begitu tangannya digerakkan dengan cara menghentak, maka tubuh orang yang bergelar Sam-tauw Kiehiap telah terpental melayang ditengah udara.

Dengan diiringi suara jeritannya, dia telah ambruk diatas tanah dengan keras.

Sam-tauw Kiehiap mengerang kesakitan, namun dia telah bangkit untuk melancarkan serangan pula kepada Eng Song.

Namun pemuda she Ma ini dengan ringan telah melayang turun dari atas genteng.

Tanpa memberi kesempatan pada Sam-tauw Kiehiap, dia telah menggerakkan kedua tangann.

"Bukkk! Bukkkk!" baberapa kali pukulan terdengar keras, diiringi oleh suara jeritan Sam tauw Kiehiap.

Segera juga terlihat, betapa tubuh Sam-tauw Kiehiap telah terpental keras bukan main.

Maka, disaat itu pula tampak tubuh Sam-tauw Kiehiap mengejang kaku, gemetaran diatas tanah.

Tampaknya dia menderita rasa sakit yang bukan main.

Ternyata pukulan yang dilancarkan oleh Eng Song adalah pada jalan-jalan darah Su-tiang hiat dan Ma-siang-blat.

Kedua jalan darah itu telah ditotoknya sehingga pecah, dan telah menyebabkan Sam-tauw Kiehiap untak selamanya menjadi manusia bercacad.

Inilah yang sangat mengejutkan sekali, namun kenyataan seperti ini, mau tidak mau memang membuat Sam-tauw Kiehiap jadi ketakutan.

185 Kolektor E-Book Apa lagi dia merasakan betapa tubuhnya lemas tidak bertenaga sama sekali.

Dengan mengeluarkan suara raungan yang keras, dia telah berusaha untuk berdiri.

Namun gagal, sehingga pecahlah nyalinya dan lenyaplah keberaniannya.

Dia telah berlutut.

"Ampunilah aku Tayhiap (Pendekar besar)...!" katanya cepat.

"Hemmmm, seharusnya manusia seperti engkau harus dibinasakan, karena hanya dapat membikin susah orang belaka! Namun karena aku masih mengingat kau hanya melakukan semuanya ini hanya demi harta belaka, maka jiwamu masih kuampuni!" Tetapi, disamping aku telah mencabut kepandaianmu, sehingga engkau menjadi manusia yang bercacad dan seumur hidup tidak bisa bersilat lagi, maka engkau juga harus berjanji untuk menjadi manusia baik baik!" "Aku berjanji Tayhiap...

aku akan hidup secara baik!!" "Hemmm, syukurlah kalau kau memang masih mau merobah tabiatmu yang buruk itu!!" "Siapakah gelaran Tayhiap untuk kenang-kenanganku?" tanya Sam-tauw Kiehiap.

Post a Comment