Dan membarengi dengan lenyapnya tenaga serangan tersebut.
Eng Song telah membarengi dengan menghantamkan kembali pukulan gelembung Bunganya itu.
Gerakan yang dilakukan oleh Eng Song bukan main dahsyatnya.
JILID 10 HAL ITU disebabkan Eng Song telah berpikir, dia tidak boleh terlalu berayal lagi menghadapi lawannya ini.
Dan dia memang tidak boleh terlalu lama memberikan kesempatan pada Ciang Ku Su hidup terus, berarti hanya akan merongrongnya belaka.
166 Kolektor E-Book Itulah sebabnya kali ini Eng Song telah melancarkan serangan yang menentukan.
Selain tenaga serangannya itu telah semakin keras dan kuat, juga telah mengincar bagian yang sangat berbahaya sekali ditubuh Ciang Ku Su.
Ciang Ku Su yang melihat serangannya itu dapat dielakkan oleh lawannya, jadi murka.
Dia tidak memperdulikan ancaman tenaga serangan Eng Song, melainkan telah melancarkan pukulan berikutnya pula dengan nekad.
"Braakkkkkk! Bukkkkk!" terdengar dua kali suara benturan yang keras.
Dan tampak tubuh Ciang Ku Su terpental keras.
Dan tampak tubuh Ciang Ku Su telah terpental keras, begulingan ditanah setelah terbanting dengan keras.
Begitu juga Eng Song, pemuda berbaju putih ini telah terlempar dan rubuh diatas tanah.
Namun dengan cepat Eng Song bangkit kembali, cuma kepalanya dirasakan agak pening akibat gempuran tenaga dalam Ciang Ku Su.
Sedangkan Ciang Ku Su sendiri merasakan dunia seperti berputar dan langit seperti runtuh menimpah kepalanya.
Dia mengeluh.
Namun sungguh luar biasa Ciang Ku Su ternyata seorang yang kedot sekali.
Dia dapat berdiri kembali, walaupun tidak segesit Eng Song.
Diam-diam Eng Song jadi merasa kagum juga melihat kekedotan lawannya itu.
Ciang Ku Su telah diserangnya berulang kali dengan hantaman yang keras dan mematikan.
Namun selama itu Ciang Ku Su masih juga dapat untuk berdiri pula dengan memberikan perlawanan yang gigih pada Eng Song.
Itulah suatu daya tahan yang sangat mengagumkan sekali.
Namun Eng Song teringat juga bahwa lawannya ini adalah manusia yang telah membunuh Ang Sam Kay, dan merupakan musuhnya.
Mau tidak mau, biar bagaimana Ciang Ku Su harus dibinasakan.
Maka dari itu, dengan mengeluarkan suara bentakan yang keras bukan main, tampak Eng Song telah melompat pula dengan gerakan tubuh yang ringan, badannya telah melambung ditengah-tengah udara, disamping itu kedua tangannya telah digerakkan dengan cepat sekali, dia telah menghantam.
Gerakan yang dilakukan oleh Eng Song telah mengejutkan Ciang Ku Su.
Dia merasakan semangatnya terbang meninggalkan raganya.
Nyalinya telah pecah disaat itu juga.
Biar bagaimana Ciang Ku Su seorang manusia juga, walaupun dia merupakan seorang jago yang memiliki kepandaian yang luar biasa.
Maka dari itu, tidak mengherankan jika disaat menghadapi bahaya kematian seperti itu, dia jadi menggidik ngeri juga.
Dan segera pula dia jadi terpikir untuk melarikan diri saja.
Cepat bukan main, dia telah mengeluarkan suara teriakan yang keras sekali.
Tahu-tahu tangannya itu telah digerakkan untuk menangkis.
167 Kolektor E-Book Namun kali ini Ciang Ku Su menangkis dengan mempergunakan siasat.
Waktu dia menangkis, seakan juga dia telah mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya.
Dan setelah itu, disaat tenaga mereka akan bentrok.
Ciang Ku Su telah menarik pulang tenaga dalamnya dan telah meminjam tekanan tenaga dalam dari Eng Song, sehingga tubuhnya telah mencelat sejauh belasan tombak! Karena Ciang Ku Su juga telah membarengi dengan jejakkan kakinya, membuat tubuhnya dapat melambung begitu jauh.
Setelah kedua kakinya menginjak tanah, dia memutar tubuhnya untuk kabur.
Eng Song terkejut melihat tubuh Ciang Ku Su yang terpental sampai belasan tombak dia memandang kesima.
Tetapi akhirnya pemuda ini tersadar apa yang telah terjadi, maka dengan penuh kegusaran Eng Song telah membentak dengan suara yang nyaring sekali : "Hendak kabur kemana kau?" teriaknya dengan suara yang bengis.
Dan suara bentakannya itu bukan main bengisnya, tubuhnya juga dengan cepat telah mencelat dan mengejar lawannya itu.
Ciang Ku Su mengempos seluruh sisa tenaganya, dia telah berusaha untuk melarikan diri.
Namun biar bagaimana dia juga agak kuatir kalau-kalau dirinya dapat dikejar oleh lawannya.
Dia memiliki pikiran dan kekuatiran seperti itu, karena Ciang Ku Su melihatnya Eng Song mengejarnya dengan gerakan yang ringan dan cepat sekali.
Ciang Ku Su jadi mengeluh sendirinya.
Tetapi dia juga terus pula mengerahkan seluruh sisa tenaganya, berusaha melarikan diri menjauh dari lawannya itu.
Apa yang dilakukannya itu untuk melepaskan diri dari kejaran yang dilakukan oleh Eng Song.
? ? ooo O ooo ? ? ????????? 13 ????????? ENG SONG gusar sekali melihat kelicikan lawannya itu, karena tadi dia telah mengerahkan tenaga dan meminjam tenaga serangan Eng Song untuk melepaskan diri.
Dengan cara begitu Ciang Ku Su telah memperlihatkan kelicikannya dan untuk menyelamatkan jiwanya.
Tetapi Eng Song mana mau melepaskan lawannya begitu saja?! Dengan cepat dia telah mengempos seluruh kekuatan yang ada padanya, dia telah mengejarnya seperti juga tubuhnya itu terbang.
Sepasang kakinya bagaikan tidak menginjak tanah, dan didalam waktu yang sangat singkat sekali dia telah dapat memperpendek jarak mereka, hanya terpisah beberapa tombak lagi saja.
Di saat itulah Eng Song telah memperhitungkannya masak-masak.
Dengan mengeluarkan suara seruan yang keras, dia telah mengayunkan sepasang Saat itu Ciang Ku Su tengah berlari-lari dengan perasaan takut mulai menguasai jiwanya.
Tiba-tiba dia merasakan punggungnya seperti juga dihantam keras sekali oleh sesuatu, dia mengeluarkan seruan kaget dan telah terguling rubuh ditanah.
Pandangan matanya juga seketika itu pula telah gelap, dan dia telah gemetaran diatas tanah.
Hal itu disebabkan yang dihantam oleh kekuatan tenaga lwekang Eng Song adalah jalan darah Pian-sian-hiatnya Ciang Ku Su.
Dengan sendirinya, dia jadi begitu menderita kesakitan.
Dengan cepat Eng Song telah tiba didekatnya.
"Hemmmm.......
biar bagaimana hari ini engkau tidak mungkin lolos dari kematian!!" kata Eng Song dengan suara yang dingin.
Dan sambil berkata begitu, Eng Song telah mengayunkan tangan kanannya, tenaga dalamnya telah disalurkan pada telapak tangannya itu.
Karena dia bermaksud akan menghajar hancur batok kepala lawannya.
Tentu saja hal ini telah membuat Ciang Ku Su ketakutan bukan main.
Dia merasakan menyambarnya angin serangan yang kuat.
"Tahan!" teriaknya gugup.
Eng Song menahan telapak tangannya itu.
"Hemmmmmm, kau takut mampus?" bentak Eng Song dengan suara mengejek.
"Aku ingin mengatakan sesuatu!" kata Ciang Ku Su kemudian.
"Cepat katakan!" "Yang membunuh.........
yang membunuh........" tetapi Ciang Ku Su tidak sempat meneruskan perkataannya itu.
"Engkau ingin mengatakan bahwa kematian Ang Sam Kay bukan disebabkan tanganmu, bukan ?" tegur Eng Song dengan suara yang dingin.
Ciang Ku Su mengangguk cepat.
Wajahnya tampak pucat pias sekali.
"Benar!" "Hemmmmm, apakah kau anggap aku ini anak bayi yang bisa didustai oleh kau?" tanya Eng Song dengan suara yang mengejek.
Namun belum lagi Eng Song sempat untuk meneruskan perkataannya itu, tampak pemuda ini jadi mengeluarkan seruan tertahan, karena dengan tiba-tiba sekali Ciang Ku Su yang dalam keadaan terdesak dan terjepit seperti itu telah menjadi nekad dan menghantamkan telapak tangannya kearah perut Eng Song.
Hal itulah yang telah membuat Eng Song mengeluarkan suara teriakan kaget.
Namun pemuda ini memiliki mata yang jeli, dia dapat melihat gerakan lawannya, maka dia berhasil untuk mengelakkan serangan tersebut dengan mengempiskan perutnya dan melompat mundur kesamping.
Gerakannya itu menyebabkan serangan Ciang Ku Su jatuh ditempat kosong.
Dan tanpa membuang-buang waktu lagi Eng Song telah mengayunkan tangan kanannya.
Dihajarnya telak sekali batok kepala Ciang Ku Su keras bukan main.
169 Kolektor E-Book "Plakkkkkk!" pecahlah batok kepala dari orang she Ciang tersebut.
Segera pula darah bercampur poloh telah mengalir keluar.
Di antara semua itu, tanpa dapat megeluarkan suara jeritan lagi, tampak tubuh Ciang Ku Su telah terguling diatas lantai.
Dia menggeletak tanpa bernyawa lagi......! Melihat Ciang Ku Su berhasil dirubuhkannya, Eng Song berdiri sejenak sambil menghela napas.
Dia merasa puas dan berduka.
Karena dia merasa telah dapat menunaikan sumpahnya, dapat membalas sakit hati Ang Sam Kay.
Tetapi berduka, karena Eng Song merasakan bahwa didalam rimba persilatan selalu terjadi kekerasan.
Siapa yang kuat pasti akan menang.
Hal inilah yang tidak menggembirakan hati Eng Song, mau tidak mau hal seperti ini telah membuat Eng Song jadi berduka sekali.
Dengan cepat sekali, dia telah menyusutkan telapak tangannya yang berlumuran darah lawannya itu pada bahu mayat Ciang Ku Su.
Setelah itu Eng Song menghela napas, dia menengadah kelangit.
"Paman pengemis Ang Sam Kay dan delapan pendeta yang telah terbunuh ditangan Ciang Ku Su ini, semoga arwah kalian menjadi tenang dengan terbayarnya sakit hati kalian dengan kematian orang she Ciang ini......! Dan berulang kali Eng Song telah menghela napas panjang.
Di putar tubuhnya melangkah kecil-kecil dengan sikap lesu akan meninggalkan tempat itu.
Tetapi baru melangkah beberapa tindak, disaat itulah dia mendengar suara orang berkata dengan suara mengandung ejekan : "Hemmmmmm, kepandaian yang kau miliki itu bukanlah suatu kepandaian yang berarti dan tidak bisa dibuat bangga!!" suara itu nyaring sekali.
Baru saja Eng Song ingin membalikkan tubuhnya untuk melihat orang yang mengeluarkan kata-kata itu, tiba-tiba dia merasakan mendesirnya angin dingin dibelakang punggungnya.
Eng Song mendengus penuh kegusaran, karena segera juga dia menyadari bahwa dirinya tengah diserang dengan cara membokong oleh seseorang.
Tanpa menoleh, Eng Song telah mengulurkan tangan kanannya kebelakang.
Dia menyentilnya.....
Trikkkkksss!" Dan seketika itu juga Eng Song merasakan sekujur tubuhnya seperti dikurung oleh hawa dingin yang bukan main, seperti menyusut kedalam tubuhnya.
Tentu saja hati Eng Song jadi tercekat kaget, cepat-cepat pemuda ini telah mengempos tenaga dalamnya, dia menyalurkan kesekujur tubuhnya.
Dan hawa dingin itu dapat diusirnya.