"Hemmm....
rupanya memang kau ini seorang yang terlalu senang mengulur-ulur waktu!!" memaki Eng Song yang menjadi mendongkol sekali.
"Sebenarnya....
sebenarnya....!" kata Bwee Siang Kwan dengan suara yang terbata-bata.
"Aku....
aku bermaksud tidak akan membinasakan engkau....
karena apa yang kulakukan itu hanya sekedar untuk menerima upah belaka.....
aku hanya menjalankan perintah!" "Perintah yang bagaimana bentuknya?" "Aku harus membinasakan seluruh orang-orang yang berlalu lalang digunung Po-ling-san ini!" kata orang she Bwee itu kemudian dengan suara yang agak tergetar.
"Hemmm....
mengapa begitu?" "Ini hanya perintah belaka..." "Siapa yang telah mengeluarkan perintah seperti itu! Katakan namanya!" "Dia she Ciang dan bernama Ku Su!" menjelaskan Bwee Siang Kwan dengan suara yang tersendat.
"Hemmm, mengapa dia memerintahkan kau untuk membinasakan seluruh orang-orang yang memakai jalan ini!?" "Karena Ciang Ku Su tidak meninginkan ada orang lewat dijalan ini!" "Sebabnya?" "Aku tidak tahu!" "Pasti ada sebabnya! Cepat katakan sebelum aku naik darah...!" Muka Bwee Siang Kwan jadi berobah pucat seketika itu juga, namun akhirnya dia telah menyahuti : "Karena......
karena Ciang Ku Su memiliki daerah tambang emas disekitar pegunungan Po-ling-san....
dan tambang emas itu merupakan tambang emas yang sangat besar, maka dari itu, Ciang Ku Su tidak mau ada orang yang melalui di daerah ini...
semua orang yang lewat ditempat ini harus menemui kematiannya!" "Hemmmm...
kedengarannya lucu! Apakah orang she Ciang itu takut kalau-kalau nanti ada orang yang ingin memperebutkan daerah ini?" Bwee Siang Kwan telah menggelengkan kepalanya.
152 Kolektor E-Book "Entahlah, aku hanya orang upahannya belaka dan hanya menjalankan perintah! Masih banyak pula pos-pos yang akan kau lalui jika mengambil jalan dipegunungan Po-ling-san ini.....
dan kalau memang kau mengambil kearah selatan, dibagian perkampungan yang ada dikaki pegunungan kau akan selamat.
Hanya bagian itu satu-satunya yang telah dibuka untuk membiarkan orang lewat....
tanpa ada penjaga yang khusus memandangi jalan itu, guna mengintai dan membinasakan orang-orang yang lewat dijalan itu!" Setelah menceritakan segalanya itu, orang she Bwee tersebut menghela napas.
Tampaknya dia menceritakan segalanya itu dengan sikap yang takut-takut.
Jika sampai Ciang Ku Su mengetahui dia telah mengkhianatinya dengan menceritakan segala urusan penting dari Ciang Ku Su, niscaya dia akan menerima hukuman mati...! "Hemmm...
tegasnya kau ingin mengatakan bahwa dirimu hanya diperalat belaka, bukan!" tanya Eng Song kemudian dengan suara yang dingin.
Orang she Bwee telah mengangguk dengan wajah yang agak pucat dia mengiyakan.
Kemudian malah telah manyahuti : "Benar....
memang apa yang kau katakan itu tepat! Cuma saja, tegasnya aku hanyalah orang yang menerima gaji belaka, dengan sendirinya, aku harus mematuhi perintah dari majikanku....!" Mendengar perkataan orang she Bwee tersebut, tentu saja Eng Song jadi mendongkol bukan main.
Dia telah tertawa dingin.
"Hemmm....
kalan begitu jika kau dimintanya mati sekarang juga, kau bersedia, bukan!" tanya Eng Song kemudian dengan suara yang tawar.
"Heh?" orang she Bwree itu jadi kaget sendirinya mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Eng Song, mukanya juga jadi berobah pucat seketika itu juga.
"Bukankah tadi engkau mengatakan bahwa dirimu hanyalah orang bayaran belaka, hanya menerima gaji belaka dan majikanmu orang ahe Ciang itu, bukan? Nah....
disebabkan itulah, kalau sekarang kau harus mati demi majikanmu, bukankah kau rela? Bukankah dari arti perkataanmu tadi kau seperti mau mengartikan pekerjaan apa saja akan kau lakukan asal majikanmu mau membayarnya, bukan?" Muka Bwee Siang Kwan berobah tambah pucat saja, dia tidak menyangka bahwa Eng Song akan mengajukan pertanyaan seperti itu.
Dengan sendirinya, karena disanggahi begitu oleh Eng Song, orang she Bwee ini jadi kaget dan memandang bengong saja pada Eng Song.
Eng Song telah tertawa dingin lagi, kemudian dengan cepat telah meneruskan perkataannya.
"Hemmm...
memang engkau ini hanyalah seorang manusia rendah! Baiklah! Sekarang kau ceritakan letak tempat persembunyian dari orang she Ciang itu!!" Bwee Siang Kwan telah menceritakan kepada Eng Song segalanya mengenai tempat tinggal dari orang she Ciang itu, majikannya.
Dan Eng Song telah mengingatnya baik-baik.
Namun Eng Song juga mengerti, jika dia membebaskan orang she Bwee ini begitu saja dalam keadaan utuh, niscaya orang semacam Bwee Siang Kwan akan melakukan kejahatan pula?! Eng Song juga teringat akan kata-kata Konghucu yang berbunyi : "Warna hitam walaupun dilabur dengan warna putih, tetap dasarnya akan hitam juga, dan hanya tersembunyi dibalik warna putih!" dan kata-kata itu seperti juga ingin mengatakan bahwa orang yang semulanya bertabiat jahat, tetap saja jahat, walaupun dia berusaha menutupi kebusukan hatinya dengan 153 Kolektor E-Book sikap yang lemah lembut dan senyum simpul...
atau perbuatan baik, karena memang dasar hatinya yang telah ?hitam?...!" Berpikir begitu, tanpa banyak pikir lagi, Eng Song telah menggerakkan kaki kanannya, dia telah menyepak keras sekali jalan darah Liang siu-hiatnya orang she Bwee tersebut.
Seketika itu juga Bwee Siang Kwan telah mengeluarkan suara jerit kesakitan, mukanya pucat bukan main.
Dia telah jatuh pingsan.
Dan tidak lama lagi nanti, dia akan siuman sendirinya, namun dengan tubuh bercacat, yaitu dengan tubuh yang mati sebelah dan musnah seluruh kepandaian silat yang pernah dipelajarinya itu, hanya akan merupakan kenangan belaka! Setelah menotok jalan darah orang she Bwee dengan ujung sepatunya, segera Eng Song meninggalkan begitu saja.
Dia menaiki punggung kudanya dengan gerakan yang sangat lincah, dan melaratkannya, untuk mencari rumah orang yang bernama Ciang Ku Su itu, yang tadi telah diberitahukan oleh Bwee Siang Kwan.....
? ? ooo O ooo ? ? ????????? 12 ????????? SEBUAH BANGUNAN gedung yang sangat megah dan besar sekali terdapat dilereng gunung Po-ling-san merupakan suatu hal yang cukup ganjil dan aneh sekali, karena biasanya bangunan di lereng-lereng gunung yang sunyi hanyalah terbuat dari bahan-bahan yang sederhana.
Namun gedung yang ada dilereng gunung Po-ling-san mungkin memiliki gaya bangunan yang jauh lebih indah dari rumah-rumah di kota-kota besar? Maka dari itu, betapa janggalnya keadaan seperti itu.
Apa lagi memang letak dari gedung mewah itu terpencil sendiri, tidak berdekatan dengan rumah penduduk, menambah keanehan keadaan gedung tersebut.
Eng Song telah melaratkan kuda tunggangannya itu dan telah sampai dimuka gedung yang aneh ini.
Dia telah mencari gedungnya Ciang Ku Su menuruti petunjuk yang tadi diberikan oleh Bwee Siang Kwan.
Ternyata akhirnya dia berhasil juga menemui gedung ini.
Diperhatikannya baik-baik keadaan gedung itu.
Sebuah gedung yang sangat angker sekali dan megah, lagi pula memang sangat mentereng dengan dua buah singa-singa batu berwarna hijau batu pualam, berjongkok disisi kiri kanan dari pintu yaug berwarna hitam itu.
Dengan sendirinya mau tidak mau memang hal seperti ini menambah keangkeran gedung itu.
Juga memang disaat Itu, Eng Song telak melihatnya bahwa gedung ini memiliki tingkat dua...
disamping juga ada dinding temboknya yang mengelilingi dan mengurung bangunan itu, adalah tembok yang sangat tingsi sekali, kurang lebih setinggi delapan tombak.
Itulah sebuah dinding tembok yang jarang sekali terdapat pada gedung-gedung lainnya.
Maka tidak mengherankan jika pada saat itu Eng Song jadi berdiri agak lama diatas punggung kudanya itu, memandangi bangunan gedung itu.
Tetapi disaat itulah, tiba-tiba sekali dari arah belakang Eng Song mendesir angin serangan yang lembut sekali.
154 Kolektor E-Book Eng Song tahu bahwa angin yang menyambar kearah tengkuknya bukanlah angin yang sewajarnya.
Dia telah mengibaskan lengan bajunya yang berwarna putih itu.
Seketika itu pula terdengar suara gemerincing dari jatuhnya beberapa batang jarum.
Rupanya yang tadi menyambar kearah tengkuk Eng Song adalah jarum-jarum Bwee hoa ciam ini.
Tentu saja Eng Song jadi mendongkol sekali dibokong demikian.
Dia telah menoleh membalikkan kudanya dan menghadap kearah samping gedung itu, dari arah mana tadi jarum jarum itu datang menyambar.
Dilihatnya tidak ada seorang manusiapun disekitar tempat tersebut.
Eng Song tambah penasaran saja, dia memajukan kudanya untuk menghampiri tempat itu, dilihatnya serimbunan pohon-pohon bunga dan beberapa pohon bambu tumbuh ditempat tersebut.
Di saat itulah, baru kuda Eng Song beberapa langkah kedepan untuk menghampiri tempat tersebut, di saat itu pula telah mendesir angin serangan yang lembut pula, dan suara desiran angin serangan itu sama lembutnya dengan angin yang bersilir biasa.
Namun Eng Song telah terlatih oleh Hek Pek Siang-sat, tentu saja dia memiliki pendengaran yang sangat tajam dan dapat membedakan mana angin yang sesungguhnya dan mana angin yang tidak sewajarnya.
Dengan mendegus dingin Eng Song telah mengibaskan lengan jubahnya.
Dia telah mengibas jatuh belasan batang jarum Bwee hoa-ciam.
Dan ketika jarum-jarum itu berjatuhan diatas tanah, maka Eng Song telah melihatnya, betapa jarum-jarum itu memang berwarna kehijau-hijauan, maka jelas jarum itu memang mengandung racun yang hebat.
Darah Eng Song jadi meluap, dia semakin diliputi kemarahan yang sangat.
Biar bagaimana, dia mana mau melihat musuhnya berulang kali membokong dirinya? Dengan cepat dia telah melompat turun dari kudanya.
Namun baru saja kedua kakinya itu menginjak tanah, di saat itu pula dari balik rerumputan yang tumbuh lebat ditempat tersebut, telah mencelat sesosok bayangan.
Gesit sekali sosok bayangan itu bergerak, dan ditangannya telah tercekal sebatang pedang, yang berkelebat menikam dada Eng Song.