Halo!

Pendekar Bunga Chapter 41

Memuat...

"Jika memang aku ini perampok kau mau apa, jika bukan, juga engkau mau apa! Yang terpenting kalau memang engkau ingin selamat dan hidup terus, maka baik-baiklah kau serahkan barangmu itu! Tetapi jika tidak, hemmm, hemmm, memang aku harus membinasakan dirimu! Tidak ada seorang korban dari Houw Sian Po Ling yang dapat hidup terus jika membandel atas perintah-perintahku!!" Dan setelah berkata begitn, Bwee Siang Kwan telah tertawa gelak-gelak.

Tampaknya dia sangat bengis sekali dan meremehkan Eng Song.

Saat itu Eng Song telah tertawa dingin.

Tahu-tahu kedua telapak tangannya yang telah menjepit golok milik dari orang she Bwee itu telah digerakkan.

Batang golok itu telah terlepas dan meluncur dengan gerakan yang terlalu cepat sekali, dan mata golok telah menancap dalam sekali dibatang pohon.

Gerakan yang dilakukan Eng Song luar biasa cepatnya.

Bukan hanya mata golok itu saja yang menancap pada batang pohon, melainkan telah menancap dalam-dalam sampai kebatang golok.

Tentu saja hal seperti ini telah membuat orang she Bwee itu terkejut bukan main.

Dia sampai mengeluarkan suara seruan yang nyaring dan sepasang matanya terpentang lebar-lebar karena terkejut.

Dia tidak menyangka bahwa Eng Song yang masih berusia muda begitu, telah dapat memiliki kepandaian dan tenaga yang demikian hebat.

Tetapi belum lagi she Bwee itu menyadari apa yang tengah terjadi, disaat itulah Eng Song menjejakkan kedua kakinya.

Gerakan Eng Song luar biasa cepatnya, tubuhnya telah mencelat begitu cepat.

Didalam waktu yang sekejap mata saja, telah menyebabkan orang she Bwee terpekik kaget, karena pada baju bagian dadanya telah terkena dicengkeram oleh Eng Song.

148 Kolektor E-Book Baru saja Bwee Siang Kwan ingin memberikan perlawanan, disaat itulah, tampak Eng Song telah menggerakkan tangan kanannya.

Dia telah melancarkan totokan yang telak sekali menghantam jalan darah Sui-liong-hiat dari orang she Bwee tersebut.

Kontan tubuh dari Bwee Siang Kwan telah terkulai lemas tidak bertenaga.

Waktu Eng Song melepaskan cekalannya, maka tubuh orang she Bwee itu telah terkulai rubuh diatas tanah, dan tidak dapat berkutik disebabkan totokan itu.

Dengan sendirinya, mau tidak mau memang di dalam hal ini telah membuat Eng Song dengan mudah menaruhkan telapak sepatunya didada orang itu.

"Cepat engkau katakan yang sejujurnya, apa maksudmu ingin membokongku?" JILID 9 DI TEGUR BEGITU, orang she Bwee itu telah memperlihatkan wajah yang tetap bengis.

"Cepat kau buka totokanmu sebelum aku bergusar!" bentaknya.

"Bergusar?" tanya Eng Song dengan suara yang mengandung ejekan.

"Ya!" "Kenapa begitu?" Sebelum aku bergusar lebih baik kau cepat-cepat mambuka totokanmu, mungkin juga aku masih bisa mengampumi jiwamu! Tetapi kalau memang kau membandel, hemmmm, hemmmm, jangan menyesal nantinya!!" Setelah berkata begitu, Bwee Siang Kwan telah memandang dengan sorot mata yang sangat tajam sekali dan juga telah mangeluarkan suara dengusan yang dingin.

Di antara semua itu, memang Eng Song sesungguhnya ingin mempermainkan dulu orang she Bwee itu, itulah sebabnya dia tidak bersikap serius.

Dengan cepat sekali dia telah berkata dengan suara yang tawar : "Hemmm, kalau memang kau dalam keadaan tertotok seperti ini, apa yang dapat engkau lakukan? Kalau memang engkau telah bergusar dan dalam keadaan tetap tertotok ini, tentu saja engkau tidak bisa melakukan sesuatu apapun juga! Maka dari itu, engkau tidak perlu bicara tarkebur, karena dengan hanya sekali menggerakkan sepasang kaki atau tanganku, jiwamu akan kukirim keneraka!" Mendengar perkataan Eng Song, orang she Bwee ini tetap saja memperlihatkan sikap mengandung kemarahan yang sangat.

Dia tampak mendesis dengan penuh kegusaran, seakan juga ingin menerjang kearah Eng Song.

Tentu saja sikap orang she Bwee itu membuat Eng Song jadi naik darah.

Tahu-tahu kaki kanannya itu telah bergerak, dia telah menyepak tubuh orang she Bwee itu, yang seketika juga jadi terpental keras sekali.

Lalu kecemplung kedalam air kolam yang sejuk.

Tentu saja orang yang bernama Bwee Siang Kwan itu kaget setengah mati.

Dia mengeluarkan suara seruan yang keras dan telah cepat-cepat meronta untuk melepaskan diri dari pengaruhnya ilmu totokan Eng Song.

149 Kolektor E-Book Namun Bwee Siang Kwan mana sanggup untuk membuka totokan pada dirinya.

Karena dia memiliki kepandaian yang tidak begitu tinggi dengan sendirinya dia jadi gelapan waktu air kolam itu telah menutupi hidungnya dan mulutnya.

Dia tergagap dan mengeluarkan suara jerit ketakutan.

Eng Song yang melihat hal ini telah mengeluarkan suara tertawa mengejek.

Kemudian terlihat betapa Eng Song telah mengulurkan tangannya, dia menyambar pergelangan tangan dari orang she Bwee tersebut.

Sekali gentak, tubuh Bwee Siang Kwan telah dapat ditarik dan melembungkannya ketengah udara.

Tubuh dari Bwee Siang Kwan telah ambruk diatas tanah dengan keras sekali, sehingga dia menderita kesakitan yang sangat.

Untung saja dia terbanting tidak dengan batok kepala terlebih dahulu.

Setidak-tidaknya jiwanya terancam bahaya yang tidak kecil kalau saja batok kepalamu itu tidak patah dan hancur....!" Namun kalau dibandingkan dengan kecebur didalam kolam dalam keadaan tertotok itu, sehingga Bwee Siang Kwan tidak dapat menggerakkan sepasang tangan dan kakinya.

Saat itu, Eng Song telah menghampiri korban totokannya.

Dia telah mengeluarkan suara ejekan padanya.

"Hemmm....

sekarang jika kau membandel, aku masih memiliki banyak sekali siksaan buat orang-orang bandel seperti kau! Berterus-teranglah!!" Tetapi Bwee Siang Kwan tetap rebah di tanag dengan sepasang mata yang mengawas mendelik lebar-lebar kepada Eng Song.

Sorot matanya menakutkan sekali, seperti juga makhluk peminum darah.

"Hemmm, engkau memang terlalu bandel!!" kata Eng Song mendongkol.

Dan dengan penuh kemendongkolan, dia telah menggerakkan kaki kanannya itu.

"Bukkk!" perut orang dari she Bwee itu telah diinjaknya keras-keras.

Orang she Bwee itu mengeluarkan suara jerit kesakitan, dia merintih, karena merasakan dadanya seperti juga akan hancur kena jejak dari kaki Eng Song....! Tentu saja Bwee Siang Kwan menderita kesakitan yang bukan main, dia teraduh-aduh.

Tetapi Eng Song berulang kali telah menginjak perut orang she Bwee.

Malahan telah menggunakan telapak dari sepatunya untuk menindih paha dari orang she Bwee itu.

Karuan saja disebabkan pahanya diinjak begitu keras oleh Eng Song, seperti juga akan mematahkan tulang pahanya, membuat Bwee Siang Kwan menjerit-jerit seperti juga babi yang akan dipotong.

Dia telah mengeluarkan suara seruan yang keras bukan main dan telah jatuh pingsan.

Eng Song telah berhenti menginjak paha orang she Bwee tersebut.

Diawasinya orang she Bwee itu.

Dia melihat betapa Bwee Siang Kwan memang benar-benar jatuh pingsan.

Maka Eng Song telah menendang salah satu jalan darah ditubuh orang she Bwee tersebut.

150 Kolektor E-Book Apa yang dilakukannya itu cepat sekali, dan kekuatan tenaga dalam yang telah tersalur kedalam kakinya.

Seketika itu juga Bwee Siang Kwan telah tersadar dari pingsannya.

Dia telah merintih dengan suara yang menyayatkan hati, karena perasaan sakit pada perut dan juga pahanya begitu menyengat dan membuat dia menderita kasakitan yang tidak ringan....! "Hemmm, sekarang engkau mau mengatakan atau tidak perihal maksud yang sebenarnya! Menyamar sebagai seorang perampok, tidak akan membawa hasil yang baik buatmu! Cepat engkau mengakui apa maksudmu sesungguhnya.

Ingin membokongku! Jika engkau tidak mau mengatakannya, biarlah aku akan menghajar hancur batok kepalamu, biar engkau tidak menjadi manusia lagi!" Mendengar ancaman dari Eng Song, maka Bwee Siang Kwan jadi begitu terkejut.

Dia juga merasa ngeri dan bengis sekali, karena orang she Bwee ini segera menyadarinya bahwa Eng Song ternyata seorang yang memiliki kepandaian sangat tinggi sekali.

Saat itu, tampak jelas sekali wajah dari Bwee Siang Kwan pucat pias.

Dia benar-benar sangat menderita perasaan sakit yang bukan main.

Dan juga rupanya dilihatinya telah diliputi oleh perasaan ngeri dan takut.

Maka dari itu, akhirnya dia tampak bimbang bukan main, sorot matanya sudah tidak sebengis dan segalak seperti semula tadi.

"Cepat kau katakan!" bentak Eng Song yang telah melihat keraguan orang yang menguasai diri dari Bwee Siang Kwan.

Bwee Siang Kwan telah berdiam diri.

"Hemmm...

memang kalau kau tetap berkepala batu, biarlah aku akan mempergunakan kekerasan!!" kata Eng Song mendongkol.

"Biarlah kepalamu itu akan kuinjak sampai hancur!" Mendengar ancaman Eng Song, tentu saja dia jadi terkejut sekali, karena dilihatnya Eng Song telah menghampirinya.

Dan juga dilihatnya kaki kanan dari Eng Song telah diangkatnya, akan diinjakkan pada kepalanya.

Bwee Siang Kwan memang menyadarinya bahwa dia dengan Eng Song tidak tersangkut hubungan apapun juga, dengan sendirinya bisa saja Eng Song membuktikan ancamannya itu tanpa ragu-ragu.

Karena biarpun Bwee Siang Kwan menemui ajalnya, tokh Eng Song memang tidak merasa rugi sesuatu apapun juga.

Dengan sendirinya, mau tidak mau didalam hal ini telah membuat Bwee Siang Kwan tampak ragu-ragu bukan main.

"Kau mau mengatakannya atau tidak?" bentak Eng Song waktu telapak sepatunya itu telah melekat dikening dari orang she Bwee tersebut.

Bwee Siang Kwan telah berdiam diri saja.

"Hemmm........

baiklah!" kata Eng Song.

"Kau terlalu bandel dan juga terlalu berkepala batu!" Dan setelah berkata begitu, dengan cepat Eng Song mengerahkan tenaganya pada telapak kakinya itu, dia menginjak agak keras.

151 Kolektor E-Book Tentu saja Bwee Siang Kwan menderita kesakitan yang bukan main.

Dengan cepat sekali, dia telah menjerit : "Tunggu dulu....! Tunggu dulu!!" "Kau mau mengakui apa sesungguhnya maksudmu?" bentak Eng Song.

"Mau! Aku akan menceritakan segalanya!!" kata Bwee Siang Kwan dengan suara yang setengah berteriak, karena dia takut justeru Eng Song keterlepasan menginjak batok kepalanya, tentu batok kepalanya itu akan hancur berantakan.

Maka dari itu, mau tidak mau dia harus cepat-cepat untuk membuka mulut.

Eng Song telah mengangkat telapak sepatunya itu dari kening orang she Bwea tersebut.

"Cepat engkau katakan, apa maksudmu yang sesungguhnya?!" bentak Eng Song.

Bwee Siang Kwan telah menghela napas, untuk sejenak dia tidak berkata-kat2 dulu.

Keringat telah nampak menitik keluar dari seluruh keningnya.

Post a Comment