Dan ketika dia tersadar dari terkejutnya dan mengetahui bahwa hantu putih itu berada ditengah udara, dia jadi mengeluarkan seruan murka.
Namun kenyataannya hantu putih itu telah melancarkan serangan yang bukan main hebatnya.
Serangan yang dipergunakan oleh hantu hitam ini juga mengandung kekuatan.
Kembali kedua tenaga yang bukan main kerasnya itu telah saling jumpa di tengah udara.
Dan saking hebatnya benturan kedua tenaga yang bukan main itu telah menyebabkan ubin dari lantai ruangan kuil tersebut telah sempal.
140 Kolektor E-Book Tentu saja pecahan batu lantai yang kecil-kecil itu telah berpentalan kesana kemari.
Celakanya salah satu dari pentalan pecahan lantai itu telah mengenai Eng Song, sehingga bocah ini merasa kesakitan yang bukan main.
Dengan mengeluarkan suara seruan yang kesakitan, Eng Song cepat-cepat mengusap keningnya yang terkena samberan batu kecil itu.
Dilihatnya darah merah yang membasahi telapak tangannya.
Dia jadi terkejut lagi.
Tentu saja melihat darah merah itu, hatinya bertambah keder saja.
Biar bagaimana Eng Song adalah seorang manusia belaka.
Dan usianya juga masih terlalu muda.
Maka dari itu, mau tidak mau didalam hal ini memang harus lebih berhati-hati jika tidak mau bercelaka ditangan kedua hantu itu.
Saat itu, hantu hitam telah terjatuh duduk.
Rupanya tenaga tindihan dari hantu putih itu luar biasa kuatnya.
Dan tenaga serangan hantu putih itu memang memiliki kekuatan yang bukan main dan dahsyat sekali.
Mau tidak mau memang didalam hal ini harus diakui oleh hantu hitam bahwa hantu putih memang memiliki kelebihan kepandaianbya jika dibandingkan dengan kepandaian yang dimilikinya.
Di saat itu, rupanya hantu putih itu telah merasa menang diatas angin.
Waktu melihat lawannya telah jatuh terduduk, dengan cepat sekali dia telah mengeluarkan suara seruan yang keras bukan main.
Dia telah melancarkan serangan lagi dengan kecepatan yang bukan main.
Di samping itu memang hantu berpakaian serba putih ini memang ingin mendesak lawannya dengan kekuatan yang ada padanya dan memanfaatkan kesempatan yang dimilikinya.
Biar bagaimana hantu hitam itu sedang dalam keadaan di bawah angin.
Dan jika dalam keadaan seperti itu didesak dengan cepat sekali, tentu si hantu hitam akan kewalahan dan tidak berdaya sama sekali.
Saat itu hantu hitam yang sangat penasaran sekali telah mengeluarkan suara bentakan keras.
"Kau curang.....!" Lalu membarengi dengan suara bentakannya itu, dia telah mengerahkan sebagian dari tenaga dalamnya dan nekad sekali dia menyeruduk akan menghajar perut dari hantu berpakaian putih itu.
Gerakan yang dilakukan oleh hantu berpakaian hitam itu sangat luar biasa sekali dan dilakukannya juga dengan begitu tiba-tiba.
Dengan sendirinya si hantu berpakaian serba putih tersebut jadi terkejut sekali.
Dia telah mengeluarkan suara yang menyayatkan hati.
Karena serangan dari hantu hitam itu sama sekali tidak sempat untuk ditangkisnya, dia telah kena diserang telak sekali oleh lawannya.
Tubuh hantu putih itu telah terguling-guling diatas tanah.
Dan hantu hitam juga telah menerjang lagi dengan kenekadan yang ada padanya.
141 Kolektor E-Book Serangan yang kali ini dilancarkannya pula juga mengandung kekuatan yang bukan main hebatnya.
Serangan itu mengandung tenaga yang sangat mematikan sekali.
Di samping itu memang harus diakui bahwa hantu berpakaian hitam itu di samping memang bernafsu untuk merebut kemenangan, tampaknya dia juga bermaksud akan membinasakan lawannya.
Karena setiap serangan yang dilancarkan olehnya itu selalu mengandung tenaga yang mematikan....! Untuk mengadu jiwa seperti itu tentu saja hantu berpakaian serba putih harus berpikir dua kali.
Dia tidak mau kalau harus mati bersama-sama didalam pertempuran mereka.
Dari itu, sambil mengempos tenaga yang ada padanya, dia mencari posisi.
Gerakannya cepat sekali, dia telah menangkisnya dengan gerakan yang luar biasa gesitnya.
Dan di antara berkelebatnya sepasang tangan hantu putih itu, dia telah dapat memunahkan tenaga serangan dari hantu hitam.
Dengan cepat dia juga telah melancarkan serangan yang luar biasa sekali kearah si hantu hitam.
Gerakannya yang kali ini bukan main-main dan bukan hanya sekedar menggertak belaka.
"Rubuhlah kau!" bentak si hantu putih dengan suara yang keras.
Hantu hitam itu benar-benar terah terguling dilantai sambil mengeluarkan suara jeritan yang menyayatkan, tampaknya dia telah digempur hebat sekali dan telah menderita luka didalam.
Hantu berpakaian serba putih telah berdiri tegak mengawasi hantu hitam yang tengah merangkak untuk dapat berdiri lagi.
Tubuh hantu hitam tampak sempoyongan seperti akan rubuh.
Hal seperti itu telah membuktikan bahwa serangan yang dipergunakan oleh hantu putih itu memang sangat luar biasa sakali dan menakjubkan.
Maka dari itu, dengan cepat sekali, diantara keheningan itu, si hantu telah berkata dengan suara yang tawar : "Hemmm...
bagaimana penawaranku mengenai bocah itu?! Kalau memang kau mau memberikan secara baik-baik, tentu jiwamu akan kuampuni.
Tetapi jika kau berkeras, biarlah aku membinasakan kau dulu, baru aku mengambil bocah itu! Bagiku kedua-duanya jalan yang sama dan tidak membawa kerugian apa-apa!!" Muka hantu hitam saat itu telah berobah pucat pias, walaupun wajahnya itu masih tampak mengerikan bukan main, dia telah mengeluarkan suara teriakan yang keras bukan main, maksudnya ingin melancarkan serangan pula kepada lawannya.
Namun hantu putih itu telah mengangkat tangannya sambil bentaknya : "Tahan....
kau pikirlah dua kali dulu sebelum melancarkan serangan, karena hanya akan membahayakan dirimu sendiri..." Hantu hitam rupanya mendengar juga bentakan dari hantu putih.
Dia memang telah berpikir, jika dia berlaku nekad memang sudah tidak ada gunanya.
142 Kolektor E-Book Maka dari itu, dengan sendirinya, di samping segalanya itu, dia telah membendung tenaga dalamnya dan telah menahan tenaga yang hampir dipergunakannya itu.
Dengan cepat dia menatap kearah si hantu putih.
"Apa maksudmu sesungguhnya?" tegur si hantu hitam dengan suara yang bengis.
"Hemmm, aku bermaksud untuk mengambil bocah itu!" katanya.
"Tidak bisa!" "Mengapa tidak bisa?!" "Itu hak aku, aku yang akan mengambilnya!" "Tetapi aku hanya minta ijinmu untuk mendidik bocah tersebut menjadi muridku! Jika kau mau, kau juga boleh menjadi guru si bocah......! Bukankan ada baiknya jika kita menurunkan dan mewariskan seluruh kepandaian kita kepada bocah itu, dengan digabungnya dua kekuatan kepandaian kita pada bocah itu, kelak si bocah akan menjadi manusia yang paling tangguh dipemukaan bumi ini!" Mendengar uraian dari si putih, si hitam jadi berdiri bimbang.
Tampaknya dia sangat ragu-ragu sekali.
Dipandangnya hantu putih itu agak lama, sampai akhirnya dia mengangguk.
"Baiklah....
jika memang kau bermaksud akan mengambil bocah itu menjadi muridmu, akupun tidak berkeberatan sama sekali! Kita akan menurunkan kepandaian kita bersama-sama dan si bocah akan menjadi murid kita berdua, bukan?" Si hantu putih itu telah mengangguk.
"Benar! Tepat sekali!" "Bagus! Sekarang kita harus bertanya pada bocah itu apakah dia bersedia menjadi murid kita! Kita melakukan hal ini, karena sejak tadi si bocah seperti mau melarikan diri belaka dari kita....!" Saat itu Eng Song telah mendengar percakapan kedua hantu itu.
Dia juga mendengar perihal dirinya ingin diangkat menjadi murid dari kedua hantu itu.
Si bocah jadi berpikir di dalam hatinya, entah bagaimana rasanya menjadi seorang murid dari kedua hantu tersebut? Tentu saja dia masih merasa ngeri.
Walaupun Eng Song mendengar maksud dari kedua hantu itu yang tidak bermaksud jahat padanya, tetapi setidak-tidaknya tetap saja Eng Song merasa ngeri.
Maka dari itu, Eng Song tetap tidak bergerak dari tempatnya.
Ketika kedua hantu itu menghampiri kearahnya, Eng Song juga masih duduk di tempatnya.
Waktu kedua hantu ini mengawasi padanya, Eng Song malah merasakan hatinya seperti mau copot saking merasa ngeri.
Dia mengeluh.
Entah kedua hantu ini ingin memperlakukan dirinya bagaimana.
"Hei bocah, siapa namamu?" tegur si hantu putih.
143 Kolektor E-Book Eng Song menyebutkan namanya.
Suara Eng Song terdengar agak gemetar, sehingga kedua hantu itu saling pandang dan telah tersenyum.
Tampaknya mereka menganggap sikap Eng Song cukup lucu.
"Hemmm, suaramu tergetar, rupanya kau merasa ngeri dan jeri pada kami, bukan?" tegur si hantu putih sambil tersenyum.
Mungkin juga si hantu putih itu bermaksud untuk bersenyum ramah, namun di mata Eng Song senyum dari hantu berpakaian putih itu sangat menyeramkan sekali, mulutnya yang lebar seperti juga menyeringai.
Tentu saja Eng Song jadi tambah menggidik ngeri, dia cepat-cepat telah menundukkan kepalanya tidak mau melihat bibir hantu putih yang tengah menyeringai seperti itu.
"Hemmmm bocah.....
kami Hek Pek Siang-sat (Dua Momok Putih dan Hitam) ingin mengangkat kau sebagai murid kami, apakah kau bersedia mengangkat kami menjadi gurumu?" Ditanya begitu, Eng Song telah mengangkat kembali kepalanya.
Dia mengawasi kedua hantu itu dengan sorot mata yang ragu-ragu.
Disamping itu, memang kenyataannya Eng Song juga tengah diliputi perasaan takut.
Setelah mengawasi cukup lama akhirnya Eng Song berkata juga : "Kalian.....
kalian sesungguhnya hantu atau manusia biasa?!" Ditanya oleh Eng Song seperti itu, kedua hantu itu tampak melengak.
Mereka berdua kemudian saling tatap sejenak, sampai akhirnya keduanya telah tertawa geli.
"Lucu! Lucu!" mereka tertawa tidak hentinya.
Tentunya hal ini membuat Eng Song jadi tersinggung dan juga merasa takut.