Seketika itu juga tubuh Ang Sam Kay terhuyung-huyung mundur dan rubuh terguling ditanah.
Dari mulutnya juga dia telah memuntahkan darah segar sekali.
Dan dia telah mengeluarkan suara bentakan yang keras sekali akan membalas menyerang.
Namun begitu Ang Sam Kay, berusaha untuk berdiri dan mengerahkan tenaga dalamnya, seketika itu juga dia jadi memuntahkan darah lagi.
Sebab dengan mengerahkan tenaga dalamnya, berarti pembuluh-pembuluh darahnya telah mengejang dan dia jadi menyebabkan darah bergolak hebat sekali.
Maka dari itu, Ang San Kay jadi memuntahkan darah segar kembali.
Cepat bukan main orang bertopeng itu telah melompat maju, dia berdiri tidak jauh dari Ang Sam Kay, katanya dengan dingin.
"Seperti kau lihat, jika aku mau mencabut jiwamu, sebetulnya dapat kulakukan dengan mudah!" katanya dengan suara yang dingin.
"Tetapi aku masih mau mengampuni jiwa anjingmu ini! Jika lain kali kau berani mencampuri urusanku, hemm hemmm, aku tidak akan tawar menawar lagi, yang terpenting batok kepalamu itu hancur dulu!!" Dan setelah berkata begitu, orang bertopeng ini telah menjejakkan kakinya, dengan cepat tubuhnya telah mencelat.
Gerakan yang dilakukannya itu sangat cepat sekali dan tubuhnya melambung bagaikan seekor burung garuda dan telah menghilang dalam kegelapan malam.
Sedangkan Ang Sam Kay merasakan dadanya sakit bukan kepalang.
Dengan perlahan-lahan akhirnya dia berhasil untuk berdiri, hanya dadanya itu sakit bukan buatan.
Dia kembali memuntahkan darah segar.
Tangan kanannya menekan dadanya keras-keras untuk mengurangi rasa sakit.
Di saat itulah Ang Sam Kay telah menunduk untuk melihat dadanya yang terpukul itu.
Kembali hati Ang Sam Kay tercekat.
Karena pada dadanya yang terpukul itu, bajunya telah tercopotkan dengan bentuk bekas telapak tangan, dan dada Ang Sam Kay juga hangus.
Dengan sendirinya, mau tidak man didalam hal ini telah membuat Ang Sam Kay jadi mengucurkan keringat dingin, sebab dia melihatnya, bahwa dia telah terluka hebat dan dengan tertinggalkan tanda bekas telapak tangan dari penyerang itu, menunjukkan bahwa pukulan itu sangat beracun sekali.
Tetapi mengapa orang itu tidak membunuhnya? Bukankah kedelapan hweshio dikuil itu telah dibunuhnya? Dengan sendirinya hal itu merupakan tanda tanya dihati Ang Sam Kay.
Mau tidak mau, didalam hal ini Ang Sam Kay harus berpikir keras.
Dia ingin menduga duga entah siapa orang yang memakai topeng itu.
Dan dilihat dari cara dia bersilat, atau menggerakkan kedua tangannya untuk melancarkan serangannya itu, merupakan ilmu silat dari Bu Tong Pay.
122 Kolektor E-Book Tetapi tidak mungkin ada orang Bu Tong Pay yang mau melakukan perbuatan yang begitu keji.
Maka dari itu, dugaan bahwa pembunuh itu yang berdarah dingin, adalah orang Bu Tong Pay, telah terhapus.
Dia menduga, setidak-tidaknya orang itu memiliki kepandaian dan ilmu silat yang mirip-mirip dengan ilmu silat milik pintu perguruan Bu Tong Pay.
Namun, siapa dia sesungguhnya? Lalu apa maksudnya dengan melakukan pembunuhan terhadap delapan hweshio itu dengan cara yang begitu kejam? Lagi pula, dia tentunya merupakan seorang tokoh rimba persilatan dari golongan tua.
Karena kalau dari golongan muda, pasti tidak akan memiliki kepandaian yang begitu hebat, hanya setiap gebrakan dapat membinasakan korbannya.
Ang Sam Kay sendiri yang memiliki kepandaian yang begitu tinggi, telah dapat dilukainya.
Lalu siapa orang itu sesungguhnya? Pertanyaan seperti ini tetap saja menjadi tanda tanya dihati Ang Sam Kay.
Dengan tubuh yang terhuyung-huyung, Ang Sam Kay telah kembali kekuil dimana Eng Song tentunya tengah menantikannya.
Tubuh Ang Sam Kay terhuyung-huyung waktu dia tengah melangkah untuk menuju kekuil itu.
Tampaknya dia memang terluka sangat parah sekali.
Di antara semua itu, terlihat juga napasnya telah memburu keras bukan rnain.
Ketika sampai dimuka kuil, dia sudah tidak tahan, sebetulnya akan rubuh disitu.
Namun Ang Sam Kay telah menggigit, bibirnya dan berusaha sekuat tenaganya, untuk dapat memasuki kuil tersebut.
Tetapi Ang Sam Kay hanya dapat mencapai ruangan belakaug kuil itu.
Tubuhnya telah terkulai rubuh diatas lantai, dan ia berteriak : "Song-jie...!!" dengan suara yang agak parau.
Eng Song tengah menantikan kembalinya Ang Sam Kay jadi terkejut mendengar dia dipanggil oleh Ang Sam Kay.
Cepat-cepat si bocah telah berlari keluar, dan dilihatnya keadaan Ang Sam Kay yang terluka parah.
"Paman pengemis..........
apa yang telah terjadi?" tanya Eng Song gugup dan berkuatir.
"Bawa dulu aku kekamar.......
bawa dulu aku kekamar........!" kata Ang Sam Kay dengan napas yang memburu keras dan juga wajahnya pucat pias.
Eng Song telah mengerahkan seluruh tenaga yang ada padanya, dia telah mengangkat tubuh si pengemis tua tersebut, yang dipayangnya.
Cepat sekali dia telah merebahkan Ang Sam Kay dipembaringannya.
Betapa terkejutnya Eng Song waktu melihat bekas telapak tangan yang berwarna hitam didada Ang Sam Kay.
Sedangkan Ang Sam Kay sudah tidak sadarkan diri, ia telah rubuh pingsan.
Eng Song jadi bingung, tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya.
123 Kolektor E-Book Hanya duduk ditepi pembaringan dan mengawasi serta menunggui sampai pengemis itu tersadar nantinya.
Lama juga Ang Sam Kay rebah pingsan begitu, sampai akhirnya dia membuka kedua matanya perlahan-lahan.
Ketika melihat Eng Song duduk disampingnya, tengah menungguinya, pengemis tua itu telah menghela napas.
"Aku telah dilukai oleh seseorang.........!!" katanya dengan suara yang lemah.
"Hanya didalam satu gebrakan saja dia berhasil melukai dadaku dengan pukulan telapak tangannya.
Sebelumnya orang itu telah melakukan pembunuhan terhadap delapan hweshio penghuni kuil ini...!" Eng Song jadi terkejut bukan main mendengar cerita Ang Sam Kay.
Dan diperhatikannya bekas telapak tangan yang berwarna hitam kehijauan didada si pengemis tua itu.
"Paman pengemis....
ada keanehan ditelapak tangan yang bertanda pada dadamu!" kata Eng Song tiba-tiba sambil mengawasi bekas telapak tangan itu.
"Ada apanya yang aneh?" tanya Ang Sam Kay dengan suara yang lemah.
"Orang itu memiliki jari tangan hanya empat! Jari kelingkingnya tidak ada!" kata Eng Song.
"Ohhhhkkkk?!" Ang Sam Kay juga terkejut dan ingin mengetahuinya, dia menundukkan kepalanya.
Dan dilihatnya, benar saja, bekas telapak tangan itu hanya memiliki tanda empat batang jari tangan belaka, dan kelingkingnya tidak ada.
Seperti kutung.
"Kalau begitu, orang yang telah melukai diriku ini memiliki tangan kiri yang jari kelingkingnya telah tidak ada!" kata Ang Sam Kay.
"Ya....
jadi nanti kita agak mudah untuk melakukan penyelidikan perihal dirinya!!" kata Eng Song.
Ang Sam Kay menghela napas, dan napasnya itu telah memburu lagi.
"Kukira....
kukira aku telah terluka berat sekali, agak parah! Kesempatanku untuk dapat hidup terus sangat tipis sekali....
hanya aku minta agar kelak jika aku tidak memiliki umur panjang, agar engkau yang pergi mencari orang itu untuk melakukan pembalasan sakit hatiku ini! Engkau harus rajin mempelajari ilmu silat Eng Song, untuk melakukan perbuatan-perbuatan bejik dan mulia! Banyak tugas buatmu!! Karena dunia Kang-ouw tengah terancam oleh kekalutan dan kekacauan!!" Eng Song mengangguk sambil menitikkan air mata.
Dia merasa kasihan bukan main pada keadaan pengemis tua yang baik hati ini.
"Jangan berkata begitu, paman pengemis....
engkau pasti masih memiliki kesempatan untuk hidup panjang umur! Lukamu ini pasti akan sembuh....!" Mendengar perkataan Eng Song seperti itu, Ang Sam Kay menghela napas.
"Hemmm....
sulit dibilang juga!" katanya kemudian.
"Tetapi aku merasakan bahwa lukaku ini....
lukaku ini sangat berat.....!" Berkata sampai disitu, napasnya telah memburu keras lagi.
124 Kolektor E-Book "Sudahlah paman pengemis, engkau beristirahat saja dulu, jangan terlalu banyak berkata kata!!" kata Eng Song kemudian.
"Mudah-mudahan saja, luka ini cepat sembuh." Tetapi Ang Sam Kay merasakan betapa lukanya itu sangat parah sekali.
Biar bagaimana dia tidak dapat untuk berkata-kata terlalu banyak.
Entah bagaimana napasnya jadi begitu pendek dan juga begitu tersendat.
Di antara napasnya yang memburu keras seperti ini, terlihat jelas sekali, bahwa Ang Sam Kay memang terluka parah bukan main.
Eng Song juga dihati kecilnya sangat kuatir sekali.
Karena dia menyadarinya bahwa luka yang diderita oleh paman pengemisnya yang baik hati ini memang terlalu parah.
Dia hanya diam-diam mengucurkan air mata.
Ang Sam Kay merasakan tetesan air yang hangat dilengannya.
Dia membuka kelopak matanya, dan dilihatnya Eng Song menangis dengan kedukaan yang sangat.
Bibir pengemis tua itu tersenyum berduka, terharu sekali tampaknya.
"Jangan menangis Eng Song.......
jangan menangis? Kalau toh aku tidak dapat hidup lebih panjang lagi, maka engkau baik-baiklah membawa diri......
dan kudoakan semoga kelak engkau menjadi seorang pendekar yang memiliki kepandaian yang tinggi dan berhati mulia! Cuma sayangnya, aku tidak mempunyai kesempatan lagi uutuk mendidikmu! Hai......
hai...!!" dan sambil berkata begitu, pengemis tua tersebut telah menarik napas berulang kali.
Dengan sendirinya, Eng Song jadi tambah berduka saja.
Dia menangis sesenggukan.
Memang dia melihatnya bahwa keadaan paman pengemis itu sangat parah sekali.
Tetapi, disamping semua itu, memang Eng Song jadi berpikir, mengapa selalu pula, jika ada seorang yang berbaik hati padanya, selalu orang itu menemui kecelakaan menemui kematian? Mengapa harus begitu? Apakah dirinya yang selalu membawa sial yang selalu mendatangkan malapetaka? Berpikir begitu Eng Song jadi tambah berduka dia telah menangis sesenggukan.
Dan di antara suara tangis sesenggukannya itu, terlihat jelas bahwa bocah ini memang sangat berduka bukan main.
Sedangkan si pengemis tua Ang Sam Kay telah bernapas memburu keras, tampaknya dia tengah berusaha untuk melawan segala gangguan dan terjangan rasa sakit pada lukanya.