Malah dia jadi mendongkol sekali.
"Hemmmmm, aku mau lihat, sampai berapa tinggi kepandaian kepala gundul ini...?!" berpikir Ang Sam Kay dengan hati yang mendongkol.
Maka dari itu, dia telah melancarkan serangan yang kuat sekali untuk memunahkan serangan Wie Ceng Siansu.
Gerakan yang dilakukan oleh Ang Sam Kay merupakan gerakan yang mengandung tenaga maut.
Di samping itu, juga memang merupakan gerakan yang sangat mematikan.
Hal ini mau tidak mau memaksa Wie Ceng Siansu terhuyung mundur kebelakang dan kemudian melompat lagi beberapa tombak ke belakang.
Wajahnya tampak agak pucat.
"Hemmmm....!" mendengus Wie Ceng Siansu dengan suara yang penuh kemurkaan.
"Ternyata kau memiliki kepandaian yang tinggi, sehingga kau memang sengaja ingin mengacaukan kuil kami!!" Lalu dengan penasaran, Wie Ceng Siansu telah mengempos tenaganya.
Dia telah mengeluarkan ilmu simpanannya yaitu ?Sam Lui? (tiga petir), yang merupakan ilmu yang terlalu hebat dan tidak akan dipergunakannya jika tidak sedang dalam keadaan terpaksa benar.
Tubuh pendeta tua itu telah bergetar keras sekali, juga mukanya telah berobah merah padam.
Dia telah mengempos seluruh kekuatannya, sampai kedua kakinya yang berdiri tegap itu telah meleesak kedalam tanah dan tergetar.
Hal ini memperlihatkan bahwa ilmu yang dipergunakan oleh Wie Ceng Siansu merupakan ilmu yang bukan main dahsyatnya.
Dengan sendirinya, mau tidak mau di dalam hal merupakan hal yang terlalu hebat untuk melakukan pertempuran dengan lawan yang memiliki kepandaian biasa saja.
Karena Sam Lui merupakan pukulan yang dapat mematikan lawannya sekali saja terkena pada korbannya.
Hati Ang Sam Kay tercekat juga.
Dia memandang dengan perasaan tergoncang juga.
Karena Ang Sam Kay melihat betapa Wie Ceng Siansu tengah mengerahkan tenaga yang bukan main dahsyatnya dan tengah mempergunakan tenaga untuk menyerang yang terlalu ampuh.
Eng Song yang melihat keadaan Wie Ceng Siansu juga jadi berdebar hatinya.
Bocah ini menyadarinya bahwa Ang Sam Kay menghadapi lawan yang berat.
Maka dari itu, mau tidak mau Eng Song ikut berkuatir akan diri Ang Sam Kay.
Si Totong kecil memandang dengan perasaan puas.
Karena dia melihat gurunya telah mempergunakan ilmu yang hebat dan tampak Ang Sam Kay terkejut.
104 Kolektor E-Book Maka dia yakin gurunya pasti akan dapat memenangkan pertempuran ini.
"Hemmm...
kau terlalu hebat!" berseru Wie Ceng Siansu dengan suara yang mendesis.
"Dan memaksa Lolap untuk mempergunakan ilmu yang hebat pula!!" Ang Sam Kay telah tertawa dingin.
"Tidak usah malu-malu, keluarkanlah seluruh ilmumu!" ejeknya.
Dengan mengeluarkan suara erangan, tampak Wie Ceng Siansu telah melancarkan serangan yang kuat sekali.
Gerakan ang dilakukan oleh Wie Ceog Siansu ternyata agak lambat.
Namun kesudahannya luar biasa sekali.
Bagaikan halilintar, tenaga dalam yang terluncur keluar itu menerjang kearah Ang Sam Kay.
Tentu saja Ang Sam Kay tidak mau menyambutinya dengan kekerasan.
Dia telah melompat kesamping mengelakkan diri.
Tenaga serangan dari Wie Ceng Siansu yang tidak berhasil mengenai sasarannya itu jadi menghantam sebatang pohon yang tumbuh didepan kuil tersebut.
"Derr...!" Bagaikan petir, tenaga itu telah menghajar batang pohon dan seketika itu juga batang pobon ini telah hangus, bagaikan disambar petir...! Ang Sam Kay yang menyaksikan hal ini, tercekat hatinya, karena biar bagaimana memang kenyataan seperti ini mau tidak mau telah membuatnya menggidik.
Si pengemis tua ini membayangkan, bagaimana keadaan dirinya jika tadi serangan yaag dilancarkan oleh Wie Ceng Siansu itu berhasil mengenai sasarannya? Tentu saja Ang Sam Kay cepat-cepat memperhatikan baik-baik segala gerakan dari Wie Ceng Siansu.
Sedikit saja dia salah perhitungan, niscaya dirinya yang akan celaka.
Sedangkan saat itu Wie Ceng Siansu yang melihat serangan pertama dengan gerakan Sam Luinya itu telah gagal, dia mengeluarkan suara erangan.
Tahu-tahu kedua tangannya telah digerakkan dari kedua telapak tangannya itu, telah tersalur keluar serangkum angin serangan yang bukan main kuatnya.
Ang Sam Kay memperhatikannya baik-baik.
Belum lagi angin serangan Sam Lui yang dilancarkan oleh Wie Ceng Siansu itu tiba maka Ang Sam Kay telah merasakan betapa serangan ini menimbulkan hawa panas yang seakan ingin membakar.
Tentu saja dia terkejut.
Dia menyedotnya dalam.
Lalu menjejakan kedua kakinya, cepat luar biasa tubuhnya telah mencelat ketengah udara.
Gerakan yang dilakukan oleh Ang Sam Kay merupakan gerakan yang gesit sekali, maka kembali angin serangan yang dilancarkan oleh Wie Ceng Siansu mengenai tempat kosong.
Dengan sendirinya, serangan itu menghantam tanah dan debu bertebaran.
Ang Sam Kay sendiri telah berpikir, bahwa ia tidak boleh berlaku ayal dan juga tidak boleh membiarkan Wie Ceng Siansu selalu melancarkan serangan-serangannya itu.
105 Kolektor E-Book Mau tidak mau dia harus mendahului melancarkan serangannya, agar Wie Ceng Siansu tidak memiliki kesempatan lagi untuk melancarkan serangan.
Maka, waktu tubuhnya tengah meluncur turun kebawah, disaat itulah Ang Sam Kay tidak mau membuang-buang kesempatan yang ada, dia telah mengeluarkan suara teriakan yang nyaring sambil melancarkan pukulan dengan pinggir telapak tangannya kearah batok kepala dari Wie Ceng Siansu yang gundul itu.
Wie Ceng Siansu tengah kecewa dan murka melihat betapa serangannya kembali mengenai tempat kosong.
Di saat itulah dia melihat Ang Sam Kay melancarkan serangannya akan menggeplak hancur batok kepalanya.
Maka dia jadi tambah murka.
Dengan mengeluarkan suara raungan dan erangan yang keras sekali, Wie Ceng Siansu telah menangkisnya.
"Bukkkkkkkk.......!" terjadilah bentrokan kedua tangan itu.
Tubuh Ang Sam Kay yang memang tengah terapung ditengah udara jadi terpental.
Keras bukan main tubuh Ang Sam Kay telah melayang-layang ditengah udara, kemudian setelah berjumpalitan beberapa kali berputar ditengah udara, tubuh Ang Sam Kay telah turun ditanah dalam keadaan selamat.
Saat itu, Wie Ceng Siansu tengah terkejut pula, karena dia merasakan waktu tadi tangannya saling bentrok dengan tangan Ang Sam Kay, dia merasakan tindihan tenaga yang bukan main kuatnya.
Tubuhnya sampai tergetar dan tergoncang keras sekali terhuyung mundur kebelakang.
Diantara berkesiuran angin serangan Ang Sam Kay yang tadi, Wie Ceng Siansu merasakan darahnya seperti meluap, membuat seluruh pembuluh darah dikeningnya jadi mengeras.
Tentu saja kejadian seperti ini mengejutkan sekali pendeta tersebut.
Biar bagaimana dia jadi terheran-heran, entah ilmu apa yang tadi dipergunakan oleh Ang Sam Kay untuk melancarkan serangan kepadanya.
Baru saja Wie Ceng Siansu ingin mengempol dan melancarkan serangan lagi dengan kekuatan tenaga yang bukan main kuatnya, disaat itulah dengan kecepatan luar biasa Ang Sam Kay telah melancarkan serangan pula dengan tubuh yang telah mencelat cepat sekali.
Wie Ceng Siansu bersiap-siap untuk menyambuti serangan Ang Sam Kay dengan tangkisan yang dahsyat.
Namun belum lagi serangan Ang Sam Kay tiba pada sasarannya, disaat itu terdengar suara seruan yang halus : "Untuk apa mengadu jiwa?!" Dan dengan terdengarnya suara itu, tampak menyusul beberapa titik-titik putih yang menerjang kearah Ang Sam Kay.
Dengan terkejut Ang Sam Kay menarik pulang tenaga serangannya.
Karena Ang Sam Kay merasakan waktu tubuhnya itu kena dihantam oleh butir-butir itu, maka dia merasakan serangan hawa dingin yang luar biasa kuatnya, sehingga tubuhnya menggigil keras sekali.
Tetapi benturan bintik-bintik putih itu tidak membahayakan jiwanya.
Dengan perasaan heran yang bukan main Ang Sam Kay telah meluncur turun, berdiri ditanah sambil matanya mencilak mengawasi sekitar tempat itu.
Begitu pula Wie Ceng Siansu.
Dia telah mendengar bentakan suara halus itu, juga dia telah melihatnya betapa bintik-bintik putih yang telah menghajar telak sekali tubuh Ang Sam Kay, 106 Kolektor E-Book dengan sendirinya Wie Ceng Siansu jadi terheran-heran, karena dia tidak mengetahuinya, entah siapa yang malancarkan serangan itu kepada Ang Sam Kay.
Namun mereka tidak usah berpikir terlalu lama, sebab disaat itulah telah terlihat, betapa dari balik sebatang pohon disebelah kanan pintu kuil, tampak melangkah keluar sesosok tubuh berpakaian putih.
Waktu semua orang telah menoleh, mereka melihat jelas, sosok tubuh itu tidak lain dari seorang wanita yang berusia masih muda.
Seorang gadis yang cantik manis dan berpakaian serba putih, dengan topi yang bewarna putih pula, terbuat dari bulu.
Ang Sam Kay mengerutkan sepasang alisnya waktu melihat gadis ini.
Dia tidak mengenali, entah siapa gadis putih ini.
Apakah kawannya Wie Ceng Siansu.
Sedangkan Wie Ceng Siansu sendiri juga terheran-heran melihat munculnya gadis itu.
Dia sama sekali tidak mengenal siapa gadis berpakaian serba putih ini.
Si gadis yang berpakaian serba putih telah tersenyum dengan sikap yang manis sekali.
"Selamat bertemu! Selamat bertemu!" katanya dengan suara yang ramah.
"Mengapa kalian bertempur begitu hebat seperti juga kalian tidak menghargai jiwa masing-masing? Mengapa harus bertempur mati-matian mempertahankan jiwa begitu?" Halus sekali suara gadis itu.
Ang Sam Kay telah mendengus, dia melirik kearah pedang yang tergantung di pinggang gadis itu.
Dan pedang panjang di pinggang si gadis juga berwarna putih.
"Siapa kau? Mengapa kau menyerang aku secara menggelap begitu?" tegur Ang Sam Kay dengan suara yang tawar.
Si gadis telah tersenyum manis.
"Maafkan paman pengemis!" katanya dengan suara yang tetap halus.
"Tadi Siauwlie bukan melancarkan serangan menggelap! Siauwlie juga yakin, jika Siauwlie melancarkan serangan dengan cara terbuka, paman pengemis tidak mungkin dapat mengelakannya, umpamanya seperti ini...!" dan setelah berkata begitu, gadis yang berwajah cantik dan berpakaian serba putih itu telah menggerakkan tangannya, jari tangannya menjentikkan sesuatu.
Tampak beberapa titik-titik putih telah melesat cepat sekali kearah Ang Sam Kay.
Tentu saja Ang Sam Kay mendongkol bukan main, sambil mendengus dia mencelat kesamping untuk mengelakkan diri.