Halo!

Pendekar Bunga Chapter 27

Memuat...

Biar bagaimana memang ia harus dapat mempergunakan seluruh kepandaian yang ada padanya, agar dapat melancarkan serangan serangan yang luar biaaa kuatnya.

Di antara semua itu, dengan cepat Ang Sam Kay telah merobah cara bertempurnya.

Dia telah memperhebat tenaga serangannya dan juga disamping itu ia telah mengempos semangat murninya, melancarkan serangan dengan penuh perhitungan.

Sam Sat yang merasakan hebatnya tenaga serangan dari Ang Sam Kay, telah terdorong mundur dan melompat kebelakang untuk menghindarkan diri dari serangkum angin serangan yang sangat berbahaya itu.

Namun apa daya, disaat itu Ang Sam Kay rupanya sudah berkeputusan untuk dapat merubuhkan ketiga lawannya yang bertangan telengas dan juga kejam sekali.

Dengan sendirinya Ang Sam Kay bertindak tidak tanggung-tanggung.

Dengan mengeluarkan suara pekik yang menyerupai raungan yang keras, sepasang tangan Ang Sam Kay telah dikebutkan, dan dengan mempergunakan gerakan ?Naga Melangkah Tujuh Bulan?, cepat bukan main, serangkum angin yang dahsyat sekali telah menerjang.

Terjangan tenaga dalam yang bukan main hebatnya itu telah membuat ketiga Sam Sat terhuyung mundur lagi, hal ini seumur hidupnya belum pernah dialami oleh Sam Sat.

Maka mereka jadi terkejut dan terheran-heran sekali.

"Siapa kau sesungguhnya pengemis tua yang busuk?" tegur salah seorang yang diantara Sam Sat dengan suara yang bengis bukan main.

"Kalian terlalu bengis dan jahat sekali, maka dari itu tidak perlu kalian mengetahui siapa aku, karena kalian memang harus mampus!!" kata Ang Sam Kay dalam keadaan mendongkol dan telah menggerakkan kedua tangannya, dia telah melancarkan serangan pula.

Gerakan yang dilakukan oleh Ang Sam Kay ternyata memang hebat sekali, karena dia telah mempergunakan gerakan-gerakan ilmu simpanannya.

Dengan sendirinya, tubuh ketiga orang Sam Sat itu terhuyung kembali.

Walaupun ketiga orang Sam Sat telah berusaha untuk membendung tenaga serangan itu, namun kenyataannya mereka tidak berhasil.

Malah mereka telah terdesak seperti juga akan rubuh terguling.

Hal ini tentu saja membuat mereka jadi ciut.

Mereka segera menyadarinya bahwa si pengemis tua Ang Sam Kay ini adalah seorang pengemis yang tangguh dan memiliki kepandaian yang bukan main hebatnya.

"Hemmmm, hari ini kami tidak memiliki waktu yang cukup untuk melayanimu! Tinggalkan nama dan gelaranmu, suatu hari nanti kami akan mencarimu!" bentak salah seorang Sam Sat dengan suara yang tetap bengis.

Ang Sam Kay tertawa dingin, dia telah mendengus mengejek.

"Hemmmm....

kalau memang nanti kalian ingin mencariku, itupun boleh!!" dia menyahuti dingin.

"Aku biasa dipanggil Ang Sam Kay!!" "Hemmm, baiklah! Ang Sam Kay, tunggulah kedatangan kami nanti, karena batok kepala kau juga harus sama seperti apa yang dialami Liok Sian Wie San, harus putus dari batang lehermu!" "Mengapa tidak sekarang saja?" tegur Ang Sam Kay dengan suara yang mengejek.

Betapa murkanya Sam Sat, tetapi disebabkan mereka menyadari melayani pengemis tua ini juga tidak ada gunanya, karena Ang Sam Kay terlalu tangguh, maka mereka telah mengawasi mendelik dengan memperdengarkan suara tertawa mendengus mengejek, kemudian mereka telah 97 Kolektor E-Book menjejakkan kakinya, tubuhnya telah mencelat dengan gerakan yang cepat sekali, mereka telah menghilang dengan cepat.

Ang Sam Kay telah mendengus mengejek, lalu mengajak Eng Song untuk meninggalkan tempat tersebut.

Eng Song kagum sekali melihat kepandaian pengemis tua Ang Sam Kay ini, karena dia telah menyaksikan, Sam Sat yang memiliki kepandaian yang begitu tinggi, ternyata tidak berdaya menghadapi Ang Sam Kay.

Kedua orang inipun telah melakukan perjalanan mereka lagi......

? ? ooo O ooo ? ? ????????? 8 ????????? SUARA gentang dan genta dipukul ramai sekali, diantara suara musik-musik terompet atau lainnya memenuhi perkampungan Wunan-sie-cung.

Karena pada saat itu kebetulan sekali jatuh pada hari pesta Goan-siauw, semacam pesta Cap-gomeh.

Orang-orang yang berkeliaran dijalan-jalan raya juga sangat banyak sekali, karena mereka memang ikut merayakan pesta Goan-siauw itu.

Semuanya berpakaian mentereng dan rapi, memakai baju baru.

Di antara keramaian yang ada, dan juga di antara orang-orang penduduk kampung yang berpakaian bagus-bagus itu, tampak berjalan seorang pengemis tua dan seoraug pengemis cilik dengan sikap yang masa bodoh pada keramaian yang ada.

Mereka telah menuju kesebuah kuil yang berada didekat mulut kampung.

Pengemis tua itu telah mengetuk pintu kuil.

Dan ketika pintu kuil di buka, tampak keluar seorang Totong (hweshio kecil).

"Ada urusan apa kalian datang ke mari?" tanya Totong itu tidak senang, karena tadinya dia menduga yang datang adalah orang yang ingin bersembahyang, tidak tahunya hanyalah pengemis belaka.

Dengan sendirinya dia jadi kecewa dan tidak seorang melihat kedatangan kedua pengernis ini.

Tetapi pengemis yang tua itu telah tersenyum.

"Kami ingin menumpang, Siauw Suhu!" katanya dengan tidak ragu-ragu.

"Ya, kami ingin menumpang, Suhu!" kata pengemis cilik itu juga.

Muka si Totong telah berobah, dia benar-benar merasa tidak senang dan mendongkol.

"Menumpang? Kalian kira ini rumah nenek moyangmu sehingga begitu mudah mengatakan ingin menumpang?" tegurnya gusar.

JILID 6 "IHHHHH........

bukankah setiap kuil harus menjalankan amal kebaikan dan selalu menulungi orang yang sedang kesusahan?" tanya pengemis tua itu.

Tetapi Totong itu malah jadi tambah gusar, dia mendengus dengan suara mengejek.

98 Kolektor E-Book "Hemmmmm, kalian mencari tempat lain saja.........

karena kami tidak menerima pengemis untuk menumpang di tempat kami! Lagi pula kalian hanyalah merupakan manusia-manusia pemalas yang tidak patut ditulung! Kalian masih memiliki tenaga, tetapi kalian telah menjalankan pekerjaan mengemis!! Pergilah!!" Tetapi berbarengan dengan perkataan : "Pergilah.....!" dari si Totong, tahu-tahu terdengar suara "Ploookkkkk! Plookkkk!" beberapa kali, disusul pula oleh suara jeritan kesakitan dari Totong kecil itu.

Rupanya mulutnya telah kena ditempeleng oleh pengemis tua itu.

"Siauw Suhu, mulutmu terlalu jahat!!" kata pengemis tua itu mendongkol.

Sedangkan si Totong dengan kesakitan telah undur kebelakang beberapa tindak.

Mukanya pucat.

Matanya juga telah terpentang lebar-lebar.

"Kau......

kau berani menghina orang dan menganiaya diriku disiang hari bolong seperti ini? Apakah kalian ingin merampok disiang hari?!" Makian Totong itu rupanya bukan membawa keuntungan buat Totong itu, karena pengemis tua itu dengan cepat sekali telah menggerakkan kedua tangannya, segera terdengar suara ?plooook, plooookkkk!? berulang kali, dan dengan mudah sekali, pengemis tua itu telah menjambak baju didekat dada Totong itu, maka diangkatnya tubuh si Totong, lalu dibantingnya diatas tanah dengan keras.

Tubuh Totong itu telah terbanting bergulingan diatas tanah, dia juga telah mengeluarkan suara jerit kesakitan yang bukan main.

Disamping itu, diantara peristiwa tersebut, pengemis kecil itu telah duduk dilatar dimuka kuil.

Tampaknya acuh tak acah.

Si Totong telah melompat berdiri sambil memaki-maki kalang kabutan.

Dia merasa murka bukan main telah diperlakukan begitu kasar oleh pengemis tua tersebut.

"Jembel busuk!! Jembel busuk!!" teriak si Totong dengan murka.

"Rupanya kau mencari penyakit berani mengacau dikuil kami, heh?" Tetapi belum lagi suara si Totong habis diucapkannya, disaat itulah telah terlihat tangan dari pengemis tua itu telah bergerak lagi.

Gerakannya begitu cepat, dia telah menghajar muka si Totong, ?bukkkk....!? Dan segera juga ?crrrrroooooottt!? darah merah mengucur keluar dari hidung si Totong kecil itu.

Totong itu juga telah mengeluarkan suara jerit kesakitan, dia ketakutan sekali dan merasa ngeri melihat darah yang mengucur keluar dari hidungnya.

Tubuhnya menggigil, karena disaat itulah nyalinya baru pecah.....! Dengan cepat pengemis tua itu telah berkata dengan suara yang tawar : "Jika memang kau keberatan untuk menerima kami menumpang dikuil kalian, dilain saat janganlah bicara dengan sikap yang begitu kasar.

Sebetulnya jika aku menginginkan jiwamu, bisa saja aku mengambilnya, namun kali ini masih mau aku mengampuni jiwamu.....! Dan pengemis tua itu telah mengawasi mendelik Totong kecil yang telah ketakutan.

Namun disaat itulah, dari dalam kuil telah melangkah keluar seorang hweshio yang berusia lanjut.

"Ada apa ribut-ribut?!" tanya hweshio tua yang kurang lebih berusia diantara enam puluh tahun itu dengan suara yang sabar.

Dia memelihara jenggot yang panjang dan telah memutih.

"Mengapa kau menjerit-jerit ribut begitu?" 99 Kolektor E-Book Mendengar suara si hweshio tua, keberanian si Totong jadi terbangun.

"Suhu (guru), ada dua orang pengemis jahat yang telah memaksa ingin menumpang dan juga ingin merampok barang kali! Totong itu telah melapor.

Sepasang alis si hweshio tua yang telah lanjut usianya itu berkerut.

Pengemis tua yang tadi tela menghajar Totong itu juga mendengar perkataan si Totong.

Tahu-tahu dia mengeluarkan seruan marah dan telah melompat mengayunkan tangannya sambil membentak : "Ohhh, pendeta cilik bermulut jahat!! Kau telah memberikan laporan yang tidak-tidak!!" bentaknya disertai oleh ayunan tangannya karena dia ingin menghajar mulut Totong itu lagi.

Si Totong menjerit ketakutan.

Karena tadi dia telah merasakan betapa sakitnya dihajar oleh pengemis tua itu.

Maka dari itu, dia juga telah melompat mundur.

Di saat itulah, hweshio tua yang baru keluar telah mengibaskan lengan jubahnya.

"Berrrr!" serangkum angin yang kuat sekali telah menerjang menangkis serangan tangan pengemis tua itu.

Seketika itu juga si pengemis tua tersebut merasakan betapa tenaga serangannya jadi macet ditengah udara terbendung oleh kekuatan tenaga yang bukan main kuatnya.

Tentu saja pengemis tua itu jadi terkejut, karena dia dapat merasakannya bahwa bendungan tenaga dari kibasan lengan jubah pendeta tua itu terlalu kuat.

Dengan sendirinya pula, hal itu telah memperlihatkan bahwa tenaga lwekang yang dimiliki oleh pendeta tua itu bukan main tingginya.

Cepat sekali dia telah menarik pulang tangannya dan berdiri menghadapi pendeta tua itu, yang saat itu si pendeta tua tengah berdiri dengan sikap yang tenang sekali.

Post a Comment