Halo!

Pendekar Bunga Chapter 25

Memuat...

kau akan kulindungi, agar tidak diganggu oleh orang orang jahat...........!" Mendengar perkataan si pengemis Ang Sam Kay, Eng Song jadi girang bukan main.

Cepat ia telah merangkapkan sepasang tangannya, menjurah pada si pengemis.

"Terima kasih atas maksud baik dari paman....." katanya kemudian dengan terharu.

Ang Sam Kay tersenyum, ia telah cepat-cepat meminta si bocah agar tidak banyak peradatan.

Maka kedua orang itu telah berangkat meninggalkan tempat tersebut......

? ? ooo O ooo ? ? ????????? 7 ????????? HAWA udara diluar perkampungan Wie-san-cung, terasa nyaman dan sejuk sekali.

90 Kolektor E-Book Walaupun disaat itu tengah hari dan seharusnya matahari bersinar terik, nyatanya hawa udara disekitar diluar perkampungan Wie-san-cung tersebut sangat cerah dan sejuk, karena matahari tidak lagi bersinar dengan sinarnya yang terlalu terik.

Di dalam cuaca yang demikian baik, tampak dua orang tengah melakukan perjalanan.

Yang seorangnya itu berpakaian seperti pengemis dan telah berusia lanjut, sedangkan yang seorangnya lagi merupakan seorang bocah yang baru berusia belasan tahun.

Wajah bocah itu cakap sekali, walaupun agak dekil dengan pakaian yang kotor.

Sambil berlari-lari kecil bocah itu telah memetiki bunga-bunga yang turnbuh di pohon pohon bunga yang banyak bertumbuhan disekitar tepi jalan tersebut.

Sedangkan pengemis tua itu sambil berjalan telah bersiul-siul kecil.

Wajahnya juga cerah sekali, tampaknya memang pengemis tua itu dan juga si bocah melakukan perjalanan dalam keadaan gembira.

Namun, disaat mereka berjalan tidak lama lagi, dari arah jurusan kampung Wie-san-cung tampak berdiri beberapa ekor kuda dengan cepat sekali.

Semua penunggang kuda itu terdiri dari lelaki yang bertubuh tinggi besar dan wajah mereka juga tampak bengis-bengis bukan main.

Di samping itu juga tampaknya mereka tengah memburu waktu, terlihat dari cara mereka telah melaratkan kuda tunggangan mereka dengan cepat dan tampaknya begitu tergesa-gesa sekali.

"Minggir! Minggir! Buka jalan!!" teriak penunggang-penunggang kuda itu dengan suara yang lantang dan nyaring bukan main, di samping bengis.

Si bocah dan pengemis tua itu bermaksud untuk menepi guna membuka jalan kepada penunggang-penunggang kuda itu.

Tetapi gerakan si bocah kurang cepat, terlambat sedikit, sehingga kuda yang berlari paling muka telah sampai, penunggangnya jadi sengit menduga bahwa si bocah ingin menghadang jalannya.

"Tarrrr.....!" keras bukan main cambuk ditangannya telah bergerak.

Punggung si bocah telah kena dihajar oleh cambuk itu keras sekali, sehingga si bocah selain menderita kesakitan dan kaget, juga telah terguling diatas tanah...........

menderita kesakitan bukan main.

Si pengemis yang menjadi kawan perjalanan si bocah waktu melihat apa yang dialami oleh bocah tersebut, tentu saja jadi terkejut bukan main.

Kegusaran si pengemis disebabkan ia telah melihat betapa penunggang kuda itu terlalu telengas dan juga galak sekali.

Dengan cepat dan mengeluarkan seruan perlahan, pengemis tua tersebut telah menggerakkan tangan kanannya menghantam kearah punggung si penunggang kuda.

Ternyata pengemis tersebut telah melancarkan serangan jarak jauh.

Dengan mengeluarkan suara bentakan yang keras sekali : "Rubuhlah!" dari telapak tangannya itu telah meluncur angin serangan yang kuat bukan main, dan meluncur cepat sekali kearah punggung kuda itu.

Sedangkan penunggang kuda yang tadi telah menghajar punggung si bocah dengan cambuknya, merasakan samberan angin serangan yang kuat bukan main, serangkum angin serangan yag menuju kepunggungnya.

91 Kolektor E-Book Dengan mengeluarkan suara seruan tertahan karena terkejut, ia telah memutar tubuhnya sambil mengibaskan tangan kanannya, maksudnya akan menangkis angin yang tengah menyambar kearah dirinya.

Tetapi apa lacur, justeru ia menangkis, seketika juga ia merasakan tekanan tenaga yang bukan main kerasnya.

Dan tubuhnya telah terjungkel dari punggung kuda tunggangannya itu, jatuh bergulingan diatas tanah.

Kuda tunggangannya itu telah meringkik dengan sepasang kaki depannya diangkat tinggi tinggi, lalu berhenti.

Seperti juga binatang tunggangan tersebut mengerti bahwa majikannya telah terguling rubuh dari punggungnya.

Kawan-kawan si penunggang kuda yang memang berlari disebelah belakangnya, jadi terkejut melihat apa yang dialami kawan mereka yang seorang itu.

Dengan mengeluarkan suara yang keras, mereka telah menahan larinya kuda masing masing.

Dengan gerakan yang ringan, mereka telah berlompatan turun dari kuda masing-masing.

Lalu mereka telah memandang kearah si pengemis tua dengan sorot mata yang bengis dan wajah memancarkan kemurkaan.

"Siapa kau pengemis buruk?" bentak mereka hampir berbareng.

"Mengapa kau demikian usil telah berani begitu kurang ajar mengganggu kawan kami?" Suara orang itu bengis dan bukan main galaknya, mereka memperlihatkan sikap seperti ingin menghajar pengemis tua tersebut.

Tetapi pengemis tua tersebut bersikap tenang sekali.

Dia malah tertawa dingin, katanya dengan suara yang tawar.

"Hemmm, seharusnya bukan kalian yang bertanya kepadaku, tetapi justeru akulah yang harus bertanya kepada kalian, mengapa kawanmu itu begitu usil, tidak hujan tidak angin telah menghajar kawan kecilku itu dengan cambuknya, sehingga kawan itu terjungkel? Aku Ang Sam Kay paling tidak senang melihat orang berlaku sewenang-wenang! Jika memang kalian tidak bersikap usil, tentu akupun tidak akan mau tahu apa yang ingin kalian kerjakan!" Maka penunggang-penunggang kuda itu telah berobah hebat, mereka berjumlah enam orang dan telah mengeluarkan suara erangan yang sangat bengis, karena rupanya tengah diliputi kemarahan yang bukan main.

Tampaknya perkataan pengemis tua itu telah membuatnya jadi begitu gusar.

"Hemmm, pengemis busuk yang tidak tahu mampus! Kau berani mencari urusan dengan Liok Sian Wie San (Enam Dewa dari Wie-san-cung)?" bentak salah seorang diantara mereka dengan suara yang seram sekali.

Bengis bukan main.

"Berarti kau mencari mampus untuk dirimu sendiri dan juga si setan kecil itu...!" Dan membarengi dengan suara bentakannya itu, dengan cepat sekali orang tersebut, telah menggerakkan tangan kanannya dia telah melancarkan serangan dengan pukulan yang mengandung tenaga serangan yang kuat sekali mengincar dada dari pengemis tua tersebut, yang tidak lain dari Ang Sam Kay.

Melihat orang telah melancarkan serangan seperti itu, Ang Sam Kay mendengus mengeluarkan suara tertawa dingin.

Dia mana jeri berurusan dengan serangan seperti itu?! Dengan mengeluarkan suara tertawa dingin, dia telah menggerakan tangan kanannya, cepat bukan main ia telah melancarkan tangkisan yang kuat sekali.

Gerakan yang dilakukan oleh Ang Sam Kay mengandung kekuatan tenaga dalam yang bukan main, sehingga telah membuat tubuh orang yang menyerang dirinya itu terhuyung-huyung akan rubuh terguling diatas tanah.

92 Kolektor E-Book Tentu saja hal ini selain membuat terkejut penyerangnya, juga telah membuat terperanjat kawan-kawannya.

Mereka tidak menyangka bahwa pengemis tua yang tampaknya sudah lanjut benar usianya dan kurus kerempeng seperti berpenyakitan, ternyata memiliki kekuatan tenaga yang bukan main hebatnya.

Dengan sendirinya mereka tidak berani memandang rendah lagi pada pengemis tua tersebut.

Disamping itu, kenyataan seperti ini juga telah membuat keenam orang Liok Sian Wie San itu tambah penasaran sekali.

Terlebih lagi memang kawan mereka yang seorang itu, yang tadi telah kena dirubuhkan oleh serangan pengemis tersebut.

Tentu saja dia murka bukan main, sampai tububnya menggigil.

Dengan mengeluarkan suara bentakan yang sangat keras dan bengis sekali, tampak ia telah menjejakkan kakinya.

Tubuhnya bagaikan terbang telah melayang akan menerjang dan malancarkan serangan pada Ang Sam Kay.

Melihat cara menyerang orang tersebut, Ang Sam Kay mendengus dingin, lalu dengan cepat sekali dia telah menggerakkan kedua tangannya menangkis.

Gerakan yang dipergunakannya adalah Kim Liong Sam Cut (Naga Emas tiga kali keluar), kedua tangannya itu memiliki tenaga serangan yang keluar secara bergelombang sebanyak tiga kali.

Gerakan yang dilakukan oleh orang ini mengandung tenaga serangan yang bukan main kuatnya.

Di samping itu, ia juga memang mengincer bagian-bagian yang mematikan ditubuh Ang Sam Kay.

Tentu saja lawan dari Ang Sam Kay terkejut, dikala tenaga mereka tengah bentrok begitu, tiba-tiba telah menerjang pula pada dirinya serangkum angin serangan yang lainnya dan belum lagi ia mengetahui apa yang terjadi, telah menyambar lagi serangkum serangan yang kuat dan dahsyat bukan kepalang, sehingga tanpa ampun lagi tubuh orang itu telah terpental, ambruk diatas tanah, lalu menggeliat kesakitan, memuntahkan darah segar.

Rupanya ia telah terluka berat sekali.

Kelima orang Liok Sian Wie San yang menyaksikan saudara mereka yang seorang itu telah kena dirubuhkan begitu rupa dan malah telah kena dilukai hebat demikian, tentu saja jadi murka.

Mereka bermaksud akan menerjang berbareng untuk melakukan pengeroyokan.

Tetapi belum lagi kelima orang Liok Sian Wie San sempat untuk melancarkan serangan kepada Ang Sam Kay, tiba-tiba dikejauhan telah terdengar suara tertawa yang begitu menyeramkan, karena suara tertawa yang terdengar cukup jauh itu merupakan suara tertawa bercampur tangis.

Kontan muka kelima orang Liok Sian Wie San berobah pucat pias, tampaknya mereka ketakutan bukan main.

"Akhhh, mengapa kita harus melayani pengemis busuk ini! Bukankah kita tadi tengah mengejar waktu uutuk menjauhkan diri dari ancaman ketiga momok itu?!" kata salah seorang diantara mereka.

Dan kelima orang ini bersiap-siap untuk mengangkat saudara mereka yang seorang itu, yang tengah berada dalam keadaan terluka parah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment