Halo!

Pendekar Bunga Chapter 24

Memuat...

bagaimana kita bisa keluar dari lembah ini?!" kata Eng Song.

"Aku sudah berbulan-bulan lamanya mencari-cari jalan untuk keluar dari lembah ini, namun kenyataannya tidak pernah berhasil, sebab lembah ini merupakan lembah yang tertutup dan tidak memiliki sebuah jalan kecil untuk keluar dari lembah ini.........!" Mendengar perkataan Eng Song, si pengemis telah tersenyum sabar.

"Jangan takut, aku Ang Sam Kay akan membawa kau keluar dari lembah ini!!" kata pengemis tua itu.

Mendengar perkataan si pengemis tua tersebut, Eng Song jadi girang bukan main.

"Be.........

benarkah itu, Lopeh?" tanyanya dengan suara tergetar.

Pengemis tua Ang Sam Kay, telah menganggukkan kepalanya perlahan-lahan.

"Ya! Mari kita berangkat!" kata Ang Sam Kay.

Dengan girang Eng Song telah mengangguk.

Dan belum lagi Eng Song menyahuti tahu-tahu Ang Sam Kay telah mengulurkan tangannya, tahu-tahu pinggang Eng Song telah dikempitnya.

Kemudian Ang Sam Kay telah menjejakkan sepasang kakinya, dengan ringan tubuhnya itu telah mencelat tinggi ketengah udara.

Walaupun ditangannya dia mengempit tubuh Eng Song, namun gerakannya tidak terganggu.

Waktu tubuhnya akan meluncur turun, si pengemis tua Ang Sam Kay ini telah menggerakkan tangan kanannya, dari telapak tangan kanannya itu telah meluncur keluar serangkum angin serangan yang kuat sekali.

Angin pukulan itu telah menghantam dinding lembah tersebut.

Terdengar suara benturan yang keras, dan dengan meminjam tenaga benturan itu, tubuh si pengemis Ang Sam Kay telah mencelat keatas lagi, walaupun dia masih tetap mengempit Eng Song.

87 Kolektor E-Book Dengan cara demikian, beberapa puluh kali dia memukul dinding lembah itu, akhirnya tibalah si pengemis di permukaan bibir lembah.

Eng Song diturunkannya, sehingga si bocah ketika melihat dirinya telah berada diatas bibir lembah itu, tentu saja jadi girang.

Dan Eng Song juga sangat kagum sekali atas kepandaian yang dimiliki oleh pengemis tua itu.

Dengan hanya mengandalkan ginkangnya, pengemis tua tersebut bukan hanya dapat melompat naik berseorang diri, melainkan telah membawa serta Eng Song.

Setelah Eng Song diturunkan dari kempitan tangannya, pengemis tua tersebut, Ang Sam Kay, telah duduk bersemedhi untuk mengatur jalan pernapasannya.

Hal ini disebabkan tadi apa yang dilakukan oleh pengemis tua itu sangat melelahkannya.

Maka dari itu, mau tidak mau dia memang harus meluruskan kembali jalan pernapasannya.

Eng Song melihat apa yang dilakukan oleh pengemis itu, maka Eng Song tidak berani mengganggunya.

Dia hanya duduk diam di batu gunung yang kebetulan menonjol keluar dan juga dia duduk ditempatnya itu Eng Song hanya mengawasi apa yang tengah dilakukan oleh pengemis itu.

Mau tidak mau Eng Song sangat berterima kasih sekali pada Ang Sam Kay.

Karena pengemis tua ini telah menyelamatkan jiwanya dari kematian terkurung di dalam lembah yang sangat rapat dan merupakan lembah yang tertutup.

Saat itu, Ang Sam Kay telah selesai bersemedhi memulihkan tenaga dalamnya, dia telah melompat berdiri.

"Mari kita tengok kuil Gobie-pay yang kau ceritakan tadi telah dibakar oleh manusia manusia pengecut yang beraninya hanya main keroyok itu..........!" Eng Song mengangguk.

Dan menurut Ang Sam Kay, untuk menghemat waktu, dia telah mengempit si bocah, diajaknya berlari-lari dengan gerakan yang cepat bukan main, sebab si pengemis tua Ang Sam Kay telah mempergunakan Ginkangnya yang sempurna.

Eng Song merasakan hanya angin dingin yang telah menerpah-nerpah wajah dan tubuhnya, karena sampokan angin itu menerjang dikarenakan larinya Ang Sam Kay terlampau cepat, seperti terbang belaka.

Eng Song memejamkan matanya, dia tidak berani melihat betapa pohon-pohon yang dilalui mereka itu seperti saling kejar dan berterbangan.

Di dalam waktu yang singkat Ang Sam Kay telah mencapai tempat yang ditujunya.

"Kita telah sampai!!" kata Ang Sam Kay dengan suara yang nyaring dan dia menurunkan Eng Song dari kempitan tangannya.

Eng Song telah turun berdiri ditanah, tetapi disaat itulah si bocah melihat betapa kuil Gobie-pay yang tadinya begitu gagah dan megah, ternyata telah musnah dimakan api dan yang terlihat hanyalah sisa puing-puingnya belaka..........

Pemandangan yang ada pada saat itu telah membuat hati Eng Song jadi berduka bukan main, karena si bocah segera teringat kembali, betapa Bin An Sienie menemui kematian dengan cara yang begitu mengenaskan dan mengerikan sekali.

Sedangkan Thio Sun Kie juga telah terbinasa dianiaya oleh lawan-lawannya dengan kejam.

Sakit hati seperti ini sangat besar sekali.

Maka dari itu Eng Song telah bersumpah, disamping dia akan mencari dan nanti membalas sakit hati kematian ayahnya, juga dia akan menuntut balas atas kematian Bin An Sienie dan juga Thio Sun Kie.

Orang-orang yang 88 Kolektor E-Book tersangkut didalam pembunuhan terhadap Bin An Sienie dan juga Thio Sun Kie akan segera diselidikinya.

Saat itu, muka Ang Sam Kay telah berobah merah padam, tampaknya dia murka bukan kepalang.

Juga matanya memancarkan sorot yang sangat tajam bukan main, dia memandang sekeliling dengan perasaan kaget bercampur murka.

Kaget karena melihat kuil Gobie-pay yang tadinya begitu mewah dan besar, ternyata sekarang telah menjadi puing-puing belaka, disamping Ciangbunjin dari Gobie-pay yang telah terbinasa juga.

Sedangkan perasaan murka yang berkecamuk didalam hati si pengemis tua tersebut disebabkan dia penasaran sekali orang-orang yang menyerbu kuil Gobie-pay telah melakukan perbuatan yang sangat pengecut sekali, telah main keroyok dan tidak mengenal malu.

Dengan sendirinya, maka Ang Sam Kay telah memandang perbuatan itu adalah suatu perbuatan yang rendah dan juga sangat hina dina.

Setelah memandang bengong sejenak kearah puing-puing dari kuil Gobie-pay, Ang Sam Kay telah menghela napas panjang-panjang.

Dengan wajah murung, dia telah bertanya pada Eng Song : "Apakah kau mengetahui nama dari orang-orang yang telah melakukan penyerbuan kekuil ini?" "Menurut keterangan yang diberikan oleh Thio Peh-peh, orang yang memimpin jago-jago untuk menyerbu dan mengacaukan Gobie-pay ini bernama Ong Peng Hin......!" "Ong Peng Hin?" tanya Ang Sam Kay terheran-heran dan mementang matanya lebar-lebar.

Eng Song telah mengangguk.

"Ya....! Ada sesuatu yang tidak beres, Lopeh?" tanya Eng Song.

Ang Sam Kay telah menggelengkan kepalanya perlahan-lahan, lalu katanya : "Aku baru pertama kali ini mendengar nama Ong Peng Hin ini....

cuma saja anehnya, justeru dia yang telah memimpin jago-jago dari berbagai golongan untuk melakukan penyerbuan kekuil Gobie-pay?!" Dan benar-benar Ang Sam Kay jadi terheran-heran karenanya.

Tetapi sedikitpun, maupun Ang Sam Kay atau memang Eng Song tidak mengetahuinya, bahwa sesungguhnya Ong Peng Hin sendiri telah dapat dibinasakan oleh Thio Sun Kie didalam pertempuran itu.

Waktu itu, Ang Sam Kay telah menghela napas.

"Sungguh suatu kehancuran yang sangat menyedihkan sekali!!" mengumam pengemis tua ini.

"Sesungguhnya Gobie-pay merupakan partai dan pintu perguruan yang cukup besar, sejajar dengan pintu perguruan Siauw Lim Sie! Tetapi dengan dihancurkannya demikian rupa, aku yakin didalam rimba persilatan akan timbul bermacam-macam pergolakan yang mengerikan!!" Di saat itulah, Eng Song tiba-tiba teringat akan sesuatu, maka tanyanya : "Dan kalau memang boleh aku bertanya Lopeh, sesungguhnya Pedang Bunga itu sebangsa pedang apa itu?" Mendengar disebutnya perihal Pedang Bunga itu, tentu saja si pengemis tua Ang Sam Kay jadi kaget bukan main, mukanya juga telah berobah hebat.

"Kau.......

kau tahu dari mana perihal Pedang Bunga itu?" tegur Ang Sam Kay sambil menatap Eng Song tajam-tajam, seperti ingin menyelidikinya.

Tetapi Eng Song segera menceritakannya, bahwa dia memang telah direncanakan oleh Thio Sun Kie dan Bin An Sienie untuk membawa Pedang Bunga itu kepada seseorang.

"Thio Peh-peh yang telah banyak bercerita mengenai Pedang Bunga itu.........!!" menjelaskan Eng Song pada akhir ceritanya.

Ang Sam Kay telah menghela napas.

89 Kolektor E-Book "Sungguh diluar dugaan, kalau demikian urusannya, tentu pengeroyokan dan juga pembakaran kuil Gobie-pay tentunya disebabkan urusan pedang itu!" Mendengar perkataan Ang Sam Kay, Eng Song telah mengangguk cepat.

"Benar Lopeh, karena memang Bin An Sienie telah mengatakan bahwa dengan adanya Pedang Bunga ditangan, berarti pemiliknya akan mengalami kesulitan yang tidak kecil.

Maka dari itu memang kenyataannya sekarang Bin An Sienie mengalami urusan yang demikian mengenaskan sekali, setelah dia berhasil memiliki Pedang Bunga itu, atas titipan dari Siauw Sin Cing Lopeh....!" Mendengar perkataan Eng Song yang terakhir, orang tua yang berpakaian seperti pengemis itu telah menghela napas lagi berulang kali.

Tampaknya dia jadi begitu masgul sekali, dicampur oleh perasaan duka yang tiada taranya.

"Baiklah!" Mari kita berlalu!!" kata Ang Sam Kay.

"Kau ingin menuju kemana? Aku bersedia mengantarkan kau!" Eng Song menghela napas panjang waktu ditanya begitu oleh pengemis tersebut.

Ia sendiri tidak mengetahui harus kemana dirinya ini pergi, karena memang ia telah menjadi anak yatim piatu, tanpa sanak famili dan juga memang sudah tidak memiliki sahabat atau juga kenalan.

Dengan sendirinya, mau tidak mau Eng Song hanya dapat menggelengkan kepalanya saja.

Ang Sam Kay ketika melihat si bocah menggelengkan kepalanya, seperti mengerti perasaan si bocah, maka tanyanya : "Apakah kau tidak memiliki sanak famili?" tanyanya lagi dengan suara yang lembut.

Eng Song mengangguk.

"Ya.....!" sahutnya dengan suara yang perlahan dan tampaknya berduka sekali.

Si pengemis tua itu telah menghela napas waktu mendengar penyahutan Eng Song.

"Baiklah.......

kalau begitu kau turut denganku saja!" kata pengemis tua tersebut.

"Kemana aku pergi, maka kau kesana pula pergi....

Post a Comment