Tubuh Eng Song sampai terjerambab kedepan, dan mukanya mencium tanah.
Kontan darah mengucur deras dari hidungnya yang terantuk membentur tanah.
83 Kolektor E-Book Kepalanya jadi pusing dan hidungnya pedas bukan main.
"Kau..............
kau............." suara Eng Song begitu gugup sekali, dia gusar berbareng ketakutan.
Biar bagaimana setan mana bisa dilayani?! "Mengapa kau-kauan begitu?" bentak si Setan Penasaran dengan suara yang bengis.
"Mengapa kau menyiksa diriku? Apa salahku?" tanya Eng Song, tetap hatinya keder kalau dibayangkan olehnya bahwa yang diajaknya bicara itu tidak lain dari setan penasaran.
"Hemmmm............
bukankah engkau sendiri tadi telah memperhatikan sikap yang tidak bersahabat? Maka dari itu, buat apa aku memperlakukan kau manis-manis dan bersahabat! Paling tidak aku menginginkan kau mati agar bisa bersama-sama dengan aku menjadi setan penasaran! Setidak-tidaknya menemani aku agar tidak kesepian.....! Kau mau, bukan?" Eng Song seketika itu juga merasakan kepalanya jadi membesar dan juga hatinya tergoncang keras sekali.
Dirinya mau diajak untuk menjadi setan penasaran? Celaka benar! Bukankah hal itu sangat mengerikan sekali, dia jadi mengeluh sendirinya, karena biar bagaimana dia mana bisa melawan setan penasaran seperti itu?! Di kala Eng Song berdiam diri begitu, di saat itu pula telah menyambar sebutir batu dengan gerakan yang cepat.
Dan Eng Song tidak bisa menangkisnya, karena telak sekali batu itu telah menghajar batok kepalanya, sampai mengeluarkan suara ?Pletak!? dan Eng Song merasa kesakitan bukan main, dia sampai mengeluh dan saking takutnya si bocah hampir menitikkan butir air mata, sebab Eng Song tidak mengetahui bagaimana harus menghadapi setan penasaran yang demikian ugal-ugalan?! "Baiklah!" kata Eng Song kemudian terpaksa.
"Kalau begitu aku mau bersahabat dengan kau!" "Hemmmmm, sudah terlambat! Sekarang ini sudah apa gunanya? Sudah terlambat! Sudah terlambat! Kau mau bersahabat dengahku juga dalam keadaan terpaksa, saking ketakutan dan kewalahan, maka kau baru mau bersahabat denganku! Apa gunanya semua itu!?" "Tetapi aku sungguh-sungguh akan bersahabat dengan kau!" kata Eng Song, dengan suara yang nyaring, saking kewalahan.
"Benarkah itu?" terdengar si Tuan Setan telah bertanya dengan suara mengandung kegembiraan yang sangat.
Eng Song merasakan dirinya tergetar dan juga hatinya berdenyut semakin keras saja, dia malah telah mengangguk, walaupun dirasakan bulu-bulu disekujur tubuhnya telah meremang berdiri.
"Benar! Aku ingin bersahabat dengan kau." Bukankah dengan bersahabat dengan kau maka aku tidak perlu menderita diganggu oleh kau lagi?" "Hemmmmm, kalau begitu kau mau bersahabat denganku dengan hati yang palsu!!" bentak si tuan Setan dengan gusar dan segera juga muka Eng Song jadi sakit karena telah terdengar suara ketepak-ketepok yang nyaring, mukanya telah kena ditempiling oleh si tuan Setan yang tidak terlihat ujutnya itu.
Tubuh Eng Song telah terpental lagi, dia menderita kesakitan yang sangat.
Tetapi Eng Song benar-benar tidak berdaya menghadapi setan penasaran seperti ini.
Dia telah merangkak bangun dan dalam keadaan terdesak seperti ini telah membuat si bocah jadi nekad, dia telah mengeluarkan suara bentakan : "Baiklah! Kalau memang kau mau membunuhku, bunuhlah! Aku tidak takut menghadapi kematian!!" 84 Kolektor E-Book "Ohhhh...............
benarkah itu?" terdengar si tuan Setan penasaran telah bertanya dengan suara mengejek.
"Itu memang lebih bagus, karena dengan kau mampus, berarti kau akan menjadi setan penasaran, berarti juga aku akan mempunyai seorang sahabat!!" Mendengar perkataan si setan penasaran itu, hati Eng Song jadi tergetar keras, dia jadi menggidik ngeri bukan main, karena biar bagaimana mana ada sih manusia yang tidak takut mati untuk dijadikan setan penasaran.
Di kala Eng Song sedang berdiri terpaku seperti itu, karena disebabkan terlalu kaget, maka si Hantu penasaran itu telah tertawa gelak-gelak.
"Dan sekarang kau bersiap-siaplah untuk menjadi setan penasaran!!" kata si setan penasaran itu dengan suara yang nyaring.
Eng Song berdiam diri saja, dia tidak menyahuti, karena dia anggap tidak ada gunanya dia melayani setan penasaran tersebut.
Si tuan Setan rupanya juga jadi penasaran melihat Eng Song berdiam saja.
"Kau tidak takut mampus?" bentak si Tuan Setan mendongkol rupanya, sebab suaranya begitu keras.
"Hemmmm, buat apa takut? Apa lagi memang aku mati bisa menjadi setan penasaran, tentu aku bisa untuk melihat kau dan aku tentunya dapat mengejarmu, untuk mencekik mampus dua kali buat kau!!" "Ihhhhhhh................" terdengar suara seruan yang nyaring dari si Tuan Setan itu.
Tetapi kemudian terdengar suara gelak-gelak tawanya.
Dia telah menghela napas, dan kemudian katanya : "Bocah, ternyata kau memang cukup tabah! Baiklah! Baiklah! Aku akan keluar memperlihatkan diri padamu!!" Mendengar perkataan si tuan Setan itu, maka Eng Song tergoncang kembali hatinya.
Biar bagaimana dia sanggup untuk berhadapan dengan setan penasaran?.
Si bocah jadi tegang sendirinya, dia telah membuka matanya lebar-lebar mengawasi sekelilingnya.
Bola matanya jadi terpentang lebar-lebar dan jelalatan memandang sekitar lembah itu, karena si bocah merasa ngeri kalau-kalau nanti setan penasaran itu muncul dibelakangnya.
Dan sedang Eng Song merasa takut dan gugup seperti itu, tahu-tahu bahunya ada yang colek.
Kontan Eng Song merasakan kepalanya jadi membesar dan sekujur tubuhnya telah menggigil dengan bulu-bulu yang meremang berdiri ditengkuknya.
Darah Eng Song telah mendesir semakin cepat.
"Kau.........
kau jangan main-main....! kata Eng Song dengan perasaan ngeri.
"Siapa yang main-main dengan kau?" membalik si Setan penasaran itu.
"Apakah kau anggap aku ini sebagai kekasihmu sehingga mau bergurau dengan kau?" Ditanggapi begitu oleh si setan penasaran.
Eng Song jadi tambah gugup.
Biar bagaimana dia memang tengah diliputi oleh perasaan seram dan gugup.
Tetapi dikala Eng Song sedang panik begitu, dia mendengar si setan penasaran itu telah tertawa gelak-gelak.
Menyusul mana telah muncul seseorang dari balik batu gunung.
Orang yang baru muncul itu melangkah dengan tindakan kaki perlahan-lahan.
85 Kolektor E-Book Tampaknya dia melangkah tenang sekali dan Eng Song mementang matanya lebar-lebar karena dia ingin melihatnya apa sesungguhnya yang dinamakan setan penasaran itu.
Dengan hati yang tergoncang keras, Eng Song mementang matanya lebar-lebar untuk mengawasi sosok tubuh yang baru muncul itu.
Dan Eng Song melihatnya sosok tubuh itu seorang manusia biasa.
Seorang lelaki tua yang memelihara jenggot yang telah memutih.
Hanya pakaiannya yang tambal sulam, memperlihatkan cara berpakaiannya itu dia adalah seorang pengemis tua belaka.
Tetapi Eng Song yang sejak tadi diliputi oleh perasaan ngeri dan seram, waktu melihat pengemis tua ini, si bocah jadi berpikir, apakah tidak boleh jadi setan penasaran itu tengah menyamar untuk menjadi pengemis seperti itu? Bukankah setan penasaran memang paling pandai menyamar? Dengan sendirinya, hati Eng Song masih tergoncang keras saja.
Dia beberapa kali melirik kearah kaki pengemis itu.
Sering Eng Song mendengar jika setan maka kakinya tidak menginjak bumi.
Tetapi orang tua yang baru keluar ini menginjak bumi dengan mempergunakan kedua kakinya.
Dengan adanya hal ini, berarti orang ini memang sesungguhnya seorang manusia.
Hati Eng Song jadi agak tenang.
Apa lagi orang tua itu telah berkata : "Anak.............
maafkan atas gurauanku tadi!!" Eng Song menarik napas dalam-dalam.
"Siapakah lopeh (paman)?" tanya Eng Song ingin mengetahuinya.
"Dan.........
dan apakah memang sesungguhnya Lopeh seorang manusia?" Orang tua itu tertawa.
"Di dunia mana ada setan?" balik tanya si orang tua dengan suara yang sabar.
"Tadi aku hanya ingin bergurau dengan kau saja! Hal ini disebabkan aku melihat kau berada ditempat sesunyi seperti ini hanya berseorang diri! Apa lagi mengingat kau hanyalah seorang bocah kecil belaka! Entah apa yang sedang kau lakukan ditempat yang sesunyi ini, anak" Mengetahui bahwa orang tua dihadapannya ini memang manusia sesungguhnya, hati Eng Song jadi girang bukan main, walaupun tadi dia telah dipermainkan oleh orang tua ini tetapi Eng Song tidak jadi kecil hati.
Malah Eng Song sangat bergirang hati dapat bertemu dengan seorang manusia dilembah seperti ini, setelah sekian lama terkurung disitu saja.
"Siapakah Lopeh?" tanya Eng Song.
"Aku seorang pengelana yang tidak tetap tempat tinggalku!!" kata orang tua itu dengan suara yang sabar.
"Dan kebetulan lewat ditempat ini, aku sempat melihatmu, maka aku jadi heran bukan main..........
mengapa anak sekecil engkau bisa berada ditempat seperti ini..........!!" Melihat kakek tua itu seperti menghindarkan diri dari pertanyaan Eng Song, dan tidak mau menyebutkan namanya, Eng Song mengerti orang tua itu tentunya keberatan untuk memperkenalkan dirinya.
Dia tidak mendesak lebih jauh.
Dan Eng Song telah menceritakan pengalaman yang telah dialaminya.
"Apa?" teriak orang tua itu dengan suara yang menunjukkan dia terkejut bukan main.
Gobie-pay telah diserbu orang-orang buas seperti itu?!" Eng Song mengangguk dan meneruskan ceritanya menuturkan apa yang diketahuinya.
Juga Eng Song telah menceritakan, betapa selain Ciangbunjin dari Gobie-pay, yaitu Bin An Sienie, yang telah terbunuh bersama seluruh murid-muridnya, juga Thio Sun Kie dijumpai Eng Song telah menggeletak menjadi mayat.
Muka pengemis tua dihadapan Eng Song jadi berobah agak hebat, dan tubuhnya juga telah menggigil, rupanya berita yang didengarnya telah mengejutkan hatinya.
86 Kolektor E-Book "Thio............
Thio Sun Kie telah terbunuh juga?" terdengar pengemis itu telah bertanya dengan suara yang tergetar menahan pergolakan dihatinya.
Eng Song telah mengangguk dengan wajah yang berduka sekali, karena jika dia teringat akan peristiwa yang telah terjadi itu, hatinya sedih bukan buatan.
"Ya............!" jawab Eng Song dengan suara yang parau menahan kedukaan hatinya.
"Hemmmmm............
manusia-manusia hina dina itu ternyata telah membuat kerusuhan yang demikian hebat?!!" mengumam si pengemis tua itu dengan suara tergetar.
"Aku tidak menyangka bahwa akan muncul badai yang demikian hebat didalam rimba persilatan! Dengan dibakarnya kuil Gobie-pay berarti akan timbulnya urusan yang hebat sekali! Karena murid-murid Gobie Pay tersebar luas didalam rimba persilatan!! Tentunya kematian dari Bin An Sienie akan membangkitkan kemarahan dari murid-murid Gobie Pay!! Dan lagi pula, seorang pendekar besar dan bijaksana Thio Sun Kie telah ikut menjadi korban, inilah hebat! Terlalu berani orang-orang yang menyerbu kuil Gobie Pay itu!!" Dan setelah berkata begitu, si pengemis tua ini telah menarik napas berulang kali.
"Maukah mengantarkan aku untuk melihat-lihat keadaan kuil Gobie Pay?" tanya si pengemis itu.
Eng Song jadi memandang bengong sejenak pada si pengemis itu.
"Kenapa?" tanya pengemis tua waktu melihat Eng Song tidak menyahuti, hanya memandang kearahnya dengan tatapan mata mendelong begitu.
"Ba..........