Kie Eng, menunjukkan wajahnya yang girang, dia berkata: "Aku tahu, kau memiliki aneka macam ilmu kepandaian silat yang hebat, sayang kau masih terlalu muda, belum dapat menyatukan semua ilmu itu.
Berusahalah untuk membikin ilmu gabungan yang sehat, dan itu waktu, kukira tidak ada orang yang dapat mengalahkan mu." Pikiran Su-to Yan terbuka lebar, apa yang dikemukakan oleh orang tua ini adalah tujuan yang menjadikan harapannya, bila saja dia dapat menyatukan semua ilmu kepandaian dan tenaga orang yang berada didalamnya, siapakah yang dapat mengalahkan Su-to Yan" Kie Eng berkata: "Aku tidak melarang kau menggulungkan diri didalam persengketaan ilmu pedang Maya Nada, Aku turut bergembira, bila melihat kau menjadi orang, tapi bukan sekarang, Tekunkan-lah semua ilmu-ilmu itu." Su-to Yan sedang mengurung kembali semua ilmu kepandaian yang ada padanya, dia sedang mencari jalan bagaimana harus menyatukan ilmu-ilmu kepandaian yang acak-acakan itu.
Kata-kata Kie Eng hampir tidak masuk kedalam telinganya.
Sebagai seorang yang berpengalaman menggunakan pendengaran telinganya, Kie Eng dapat mengetahui, bahwa pemuda itu sedang menekunkan ilmu-ilmunya.
Dengan perlahan-lahan, Sijago purbakala berkata: "Alam semesta tercipta olehnya, hanya satu yang berkuasa, lima yang bertaburan diseluruh angkasa, menyelinap diantara yang ada dan yang tiada.
Setiap gerakan berpangkal di pusat, menyusun jalur-jalur naluri terjadilah suatu kebahagian.
Hancurlah semua kekotoran-kekotoran duniawi yang berani menggangu kelancaran kerja insan didunia." Hati Suto Yan tergerak, inilah kunci yang sulit didapat, Sam kie Ju-Su In Hong memberi pelajaran "Hui Eng cap-pat-San dan koatkong-cit-hian.
Ayah angkat itu tidak memberi kunci-kunci pemecahannya, dan dari orang tua berambut panjang Kie Eng, Suto Yan menemukan kunci-kunci temuan baru.
Si pemuda berlompat girang, Dia menari-nari membawakan ilmu silat yang ada.
Pendekar Rajawali Mas Kie Eng menganggukkan kepala dia girang, Membiarkan pemuda itu bersilat beberapa saat, dia berkata: "Aku ada urusan, dan hendak meninggalkan rimba bambu kuning ini, baik-baiklah kau melatih diri.
Bila kau hendak keluar, perhatikan tanda pedang kecil itu, kau harus belok kekiri sebanyak lima belas langkah, Maka barisan bambu kuning tidak banyak mengganggumu." Tubuh melesat, dan lenyap dari pandangan.
Su-to Yan mendapat kemajuan maju selangkah ditempat itu.
Petunjuk Kie Eng masuk tepat kedalam lembahnya.
Didalam lembah Bambu Kuning, Su-to Yan mendapat setengah hari.
Kemudian mengikuti petunjuk Kie Eng, dia melanjutkan perjalanannya.
Hari mulai gelap...
Telinga Su-to Yan yang tajam dapat menangkap datangnya suara pertempuran.
Mengikuti datangnya suara-suara itu, dia meluncurkan kakinya.
Belasan orang berbaju hitam sedang mengurung seorang anak muda yang berambut kusut, anak muda itu membikin perlawanan yang hebat, dia main terkam dan seruduk, main sesak dan menerjang hebat, inilah si Anak Srigala Lee Pin.
Dikala Su-to Yan memasang mata betul-betul, dia mendapat suatu kepastian, bahwa orang berbaju hitam adalah anak buah golongan Thian-lam Lo-sat.
Dibawah kurungannya para jago Thianlam Lo-sat, Lee Pin tidak dapat menembus pertahanan musuh.
Su-to Yan sedang berpikir-pikir, mengapa Lee Pin tidak minta bantuan pasukan srigalanya " Disaat itu, Lee Pin mengamuk semakin hebat, dia mengeluarkan suara jeritan, srek, menerkam salah satu pengurungnya, perut orang itu berhasil disodok pecah berdarah, ususnya berceceran panjang, tubuh orang itu terhuyung sebentar dan jatuh, jiwanya mengucapkan selamat tinggal.
Orang-orang berbaju hitam mengurung semakin rapat, mereka berhati-hati sekali, tidak satupun yang berani lengah, Karena itulah keadaan Lee Pin semakin terjepit.
Su-to Yan menyedot napas, tubuhnya melesat tinggi terjun kedalam kalangan pertempuran itu.
"Saudara Lee Pin, jangan takut." Dia berteriak- "Aku datang membantu." Orang-orang berbaju hitam mengenali si Pedang Baru Suto Yan, serentak mereka membubarkan diri.
Menggunakan kelengahan mereka, Lee Pin membunuh seorang lagi.
Kurungan itu pecah segera, Mengajak Lee Pin, Su-to Yan berkata: "Mari kita meninggalkan tempat ini." Si Anak Srigala Lee Pin setuju saja, dia menganggukkan kepala.
"Mari." Mereka siap meninggalkan tempat itu.
Tiba-tiba . . . Terdengar satu suara, besar berkata: "Ha, ha....
Mau pergi...
Ha.
ha . . . .
sudah terlambat." Su-to Yan memandang kawan itu.
Dan Lee Pin memberi keterangan: "Mereka menabur bisa jahat disekitar tempat ini." Su-to Yan mengerti, mengapa Lee Pin tidak memanggil pasukan srigalanya, dia sayang kepada binatang-binatang itu, karena adanya racun2 jahat disekitar tempat itu, agar para srigala tidak mati konyol, Lee Pin membiarkan dirinya dikurung oleh orang-orang Thian lam-Lo-sat.
"Bagaimana ?" Terdengar lagi suara tadi, "Masih hendak melarikan diri?" Disana sudah bertambah seorang, inilah ketua golongan Thianlam Loo-sat yang bernama Lam Kiong It.
Su-to Yan menghadapi ketua golongan berbaju hitam itu, Dia berkata: "Lam Kiong It, berani kau bertanding satu lawan satu?" "Ha, ha...
Mengapa harus satu lawan satu " Rombongan srigala dari kawanmu itu dapat menakutkan anak buahku," "Kau masih ingat akan kitab Maya Nada, bukan?" Bertanya lagi Su-to Yan.
"Ng, bagaimana?" Lam Kiong It melirikkan mata.
"Kau dapat memenangkan hadiah kitab, bila memenangkan aku," Su-to Yan mengeluarkan tantangan.
dapat "Baik." Lam Kiong It maju seorang diri.
"Bubarkan orang-orangmu itu," Su-to Yan mengajukan syarat.
"Jangan banyak omong !" Bentak Lam Kiong It keras, Tubuhnya mumbul tinggi, dan dia segera menerkam Su-to Yan.
Si pemuda bergeser kesamping.
Lam Kiong It menubruk tempat kosong.
Sret, tangannya menyebarkan sesuatu, itulah lima utas tali berwarna merah, putih, hijau, kuning dan biru.
Dengan tali-tali itulah, dia meneruskan serangannya.
Senjata yang lain daripada yang lain, senjata khas ketua golongan Thian-lam Lo-sat.
Su-to Yan bermain diantara sela-sela lima utas tali lima warna, Lawannya gesit, diapun sangat lincah, terjadi pertarungan cepat.
Lam Kiong It sangat terkejut menyaksikan kemajuan ilmu kepandaian pemuda itu, dia harus memberi penilaian lain, inilah ilmu kepandaian Hui-eng-cap-pat-san dari pulau Tong hay.
Tentu saja Lam Kiong It tidak tahu, bahwa Sam-kie Ju-Su In Hong telah menurunkan ilmu itu kepada anak angkatnya.
Su-to Yan sudah menyatukan ilmu kepandaian praktek yang didapat dari Sam-kie Ju-Su In Hong dan teori sang pendekar Rajawali Mas Kie Eng.
Lee Pin dan anak buah Thian-lam Lo-sat dapat menyaksikan suatu pertandingan itu, sehingga mereka melupakan maksud tujuannya.
Sebagai seorang ketua golongan, Lam Kiong It memang mempunyai ilmu keistimewaannya, dengan menggunakan lima utas tali berwarna-warni, dia hendak mengaburkan sinar pandangan lawannya.
Su-to Yan tidak dapat disengkelit begitu mudah, dia dapat membedakan warna mana yang berbahaya, dan warna mana yang berupa warna ancaman, dengan mudah, dia dapat memilih warna yang agak lemah, dan menerobos kian kemari.
Pertempuran itu berjalan lagi belasan jurus, Lam Kiong It meletakkan lima tali Thian lam Lo-sat pada tangan kanan, dengan menggunakan tangan kiri, dia menyodok ke depan.
Jilid 11 SUTO YAN mempunyai kegesitan yang luar biasa, tanpa menunggu perubahan yang berikutnya, dia sudah berhasil menangkap tangan itu.
Lam Kiong It menyeret lima tali Thian-lam Lo-sat, dia hendak melepaskan diri dari keadaan buruk itu.
Tangan Su-to Yun seperti memegang seekor belut, sangat licin sekali.
Dia terkejut, cepat-cepat melepaskan pegangan itu, tubuhnya melejit kebelakang.
Thian-lam Lo-sat adalah ahli bisa dan racun, sangat berbahaya sekali, bila membiarkan persentuhan kulit terjadi, yang akan dirugikan tentu diri sendiri.
Lam Kiong It juga menarik diri dari pertempuran itu, dia segan kepada ilmu kepandaian pemuda tangguh itu.
Harapannya yang hendak memiliki ilmu pedang Maya Nada kandas begitu saja.
Untuk mengalahkan lawannya, apa boleh buat, dia harus meminta bantuan banyak orang.
Mulutnya dikecilkan, memekik panjang, inilah tanda gerakan serentak.
Su-to Yan dan Lee Pin menggabungkan diri, mereka harus menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi.
Lam Kiong It berdiri diatas sebuah batu besar, dia menunggu reaksi dari instruksi penyerangan.
Lama sekali tidak ada tanda-tanda adanya gerakan pihak Thianlam Lo-sat.
Lam Kiong It mengerutkan keningnya, Su-to Yan dan Lee Pin menunggu dengan perasaan tidak sabar.
Tiba-tiba, terdengar suara orang yang menyebut Budha, Disaat yang bersamaan disana bermunculan para hwesio Siauw-lim-sie.
Datangnya dari seluruh penjuru.
Mengurung beberapa orang yang ada ditempat itu.
Lam Kiong It mengalami kegagalan, barisannya telah dikucarkacirkan oleh hwesio ini.
Tiga puluh hwesio berbaju merah mengurung datang, Su-to Yan terkejut, inilah 36 hu-hoat dari gereja Siauw-lim-sie, tugasnya menjaga keamanan gereja, Untuk urusan bagian luar, biasa nya 18 Lohanpun sudah cukup.
Hari ini terkecuali 36 hwesio berbaju merah keluar gereja serentak, tentu ada sesuatu urusan besar.
Seorang hwesio tua menampilkan diri, inilah ketua partay Siauwlim-pay, In-ie Taysu.
In-ie Taysu menghampiri Lam Kiong It dan berkata kepada ketua golongan Thian Lam Lo-sat itu: "Maafkan kepada kami yang telah merusak barisan Bisa Racunmu." "Bagus," Lam Kiong It berdengus, "Budi Siauw lim-pay tidak akan kulupakan, jangan lupa kejadian dihari ini.
Aku Lam Kiong It bersumpah untuk menuntut balas." Mengajak sisa anak buahnya, ketua golongan Thian-lam Lo-sat itu meninggalkan mereka.
MakSud tujuan Siauw-lim-pay ketempat itu bukan mau membasmi Thian-lam Lo-sat, pokok tujuan adalah ilmu pedang Maya Nada yang berada ditangan Su-to Yan.
Bentrokan dengan Thian lam Lo-sat adalah jalan untuk meratakan ke tempat tujuan, Kini mereka menyingkirkan diri dari persengketaan, In-ie Taysu tidak mencegah.
Bayangan Lam Kiong It beserta anak buahnya sudah lenyap tidak terlihat.
In-ie Taysu menghadapi Su-to Yan dan Lee Pin.
"Sicu yang bernama Su-to Yan?" In-ie Taysu bertanya kepada pemuda kita.
"Betul." Su-to Yan menganggukan kepala, "Dan bagaimana sebutan sicu ini?" In-ie Taysu memandang Lee Pin.