Halo!

Pedang Wucisian Chapter 45

Memuat...

"Aaaa.,." Su-to Yan berteriak kaget, inilah tanda khas dari Pendekar Rajawali Mas Kie Eng.

Dia telah memasuki daerah terlarang jago dari jaman purbakala itu.

Su-to Yan bingung, pendekar Rajawali Mas Kie Eng adalah orang pertama dari empat jago tua dari jaman purbakala, umurnya sudah seratus delapan tahun, kecerdikannya tidak ada yang dapat Untuk ilmu kepandaian, dia hanya kalah oleh Pek ie Kauwcu Bong Bong Cu, Si Tabuh Maut Wie Biauw dan Akhli waris dari Gua Kematian Pek Hong Hie tiga orang.

Mengetahui dirinya berada dibawah kekuasaan seorang jago tua dari jaman purbakala, Su-to Yan menyerahkan diri.

Dia mengeluarkan helahan napas panjang.

Disaat inilah tiba-tiba terdengar suara yang serak bertanya: "Su-to Yan kah yang datang?" Sipemuda terkejut, untuk tidak mengganggu usahanya, dia berkata hormat.

"Betul, Boanpwee Su-to Yan." "Sudah kuduga." Berkata suara yang serak itu, "Datanglah kedekatku." "Boanpwee tak dapat menemukan jalan." Berkata Su-to Yan.

"Kau melihat tanda pedang kecil?" Bertanya orang ini, wajahnya belum terlihat.

"Ada." Berkata Su-to Yan.

"Nah, majulah kearahnya, Melewati pohon bambu yang ada tanda pedang kecil, kau ke kiri 15 langkah, Maka kau dapat melihat wajahku." Mengikuti petunjuk orang itu, Su-to Yan menggeser langkah kakinya, Tiba-tiba pemandangan dihadapannya bersinar terang, Dia membelakangi rumpun pohon bambu, disana duduk seorang tua berambut panjang.

Duduk disebuah batu besar, kedua matanya lurus memandang kedepan, hanya berupa layar putih, tidak terlihat hitamnya, orang tua ini sudah buta.

"Su-to Yan, mataku tidak dapat melihat, jangan kau menjadi kaget." Su-to Yan memperhatikan orang tua berambut panjang, begitu panjang sehingga menutupi seluruh tubuhnya.

"Kau adalah orang pertama yang memasuki barisan tin pohon bambu kuningku ini." Berkata lagi orang tua itu.

Su-to Yan membungkukkan setengah badan, dia bertanya: "Cianpwee tentunya Pendekar Rajawali Mas Kie Eng." "Aku memang Kie Eng." Berkata orang tua itu, terlihat senyumnya yang serius sekali, "Sudah ku perhitungkan, kau bakal datang ketempatku, sengaja kubangun barisan tin bambu kuning, khusus menunggu kedatanganmu dan betul-betul kau datang." Su-to Yan lebih terkejut, ternyata kedatangannya diperhitungkan oleh orang tua berambut panjang.

sudah "Aku adalah kawan baik kakekmu," Berkata orang tua berambut panjang Kie Eng.

"Aaaa...!" Cepat-cepat Su-to Yan memberi hormat dalam.

"Ha, ha . . . ." Si pendekar Rajawali Mas Kie Eng tertawa, "Jangan banyak peradatan bangun !" Dia tidak dapat melihat, tapi telinganya cukup tajam, pendengarannya luar biasa sekali, segala gerak-gerik Su-to Yan tidak lepas dari penilaiannya.

Betul-betul Su-to Yan takluk.

Membelalakkan mata putihnya, Kie Eng menatap kearah sipemuda, dan dia mengajukan pertanyaan "Kudengar, ayahmu telah menyerahkan kau kepada Ciok Pek Jiak, apakah benar berita itu?" Su-to Yan sangat girang, inilah untuk pertama kalinya ada orang yang menyebut tentang diri sang ayah, cepat-cepat dia berkata: "Betul, Boanpwee mendapat didikan langsung dari Suhu." "Sudah kuduga . . . .

Sudah kuduga." berkata Kie Eng.

"Tentang ayah boanpwe," berkata Su-to Yan.

"Dimanakah cianpwe bertemu dengan beliau" Dapatkah memberi sedikit keterangan." Kie Eng mengoyang-goyangkan kepalanya maka rambutnya yang panjang itu terurai kekanan dan kekiri.

"Ayah dan kakek tuamu sudah mati semua." Su-to Yan tertegun.

"Dan ibu boanpwee?" Dia bertanya tentang ibunya.

"Juga turut mengorbankan dirinya." berkata Kie Eng.

Su-to Yan berdiri seperti patung, matanya lurus memandang depan.

Terkenang kepada orang tuanya, teringat bagaimana sang ayah dan ibu membawa dia ke tempat kakek tuanya, kemudian menyerahkannya kepada Ciok Pek Jiak, hanya itu yang masih dapat diingat, kemudian, lenyaplah ayah bunda itu.

Sang kakek tuapun tidak terkecuali.

Lenyap tanpa bekas, Tidak seorangpun yang tahu, kemana perginya ketiga orang itu.

Disini, dia mendapat keterangan dari jejak orang tua dan kakeknya.

Dan berita yang didapat adalah berita kesedihan, ketiga orang itu sudah berada dialam baka.

Orang tua berambut panjang Kie Eng turut mengheningkan cipta, beberapa saat kemudian, dia berkata lagi: "Kudengar gurumu telah mencucikan diri, tentunya belum menceritakan duduk perkara keluargamu, bukan ?" "Suhu tidak mau membuka rahasia." berkata Su-to Yan.

"Nah, kulihat sudah waktunya kau mengetahui kejadian ini." Orang tua meluruskan pandangan mata putihnya, seolah-olah hendak menembus jaman yang lalu.

Dia mengenang kejadian lama.

Su-to Yan menunggu cerita si Pendekar Rajawali Mas Kie Eng, Membiarkan orang tua itu melamun lama, dia menantikan dengan Dengan suara tandas, mengajukan pertanyaan: sepatah demi sepatah, Kie Eng "Kau telah mendapatkan kitab Maya Nada ?" "Sudah." "Tahukah bahwa kitab itu hanya berupa kitab samaran, kitab kosong yang hendak memalsukan catatan ilmu pedang Maya Nada?" Su-to Yan terkejut Lagi-lagi orang tua ini dapat memperhitungkan adanya kitab kosong itu.

"Baru saja boanpwe ketahui." Dia berkata.

Kie Eng menghela napas.

"ilmu pedang Maya Nada adalah ilmu pedang kelas satu, belum ada yang dapat menandingi ilmu pedang ini, didalam kecepatan dan juga didalam soal perubahan-perubahannya.

Tanah bisa merekah, sungaipun dapat pecah, mana kala dia bergemuruh gunungpun dapat dihancurkan.

Selama ratusan tahun terakhir, turun menurun tersebar didalam rimba persilatan.

Karena adanya keampuhan ilmu pedang itu, banyak yang memperebutkannya, terutama para jagojago kepalang tanggung, agar menjadikan dirinya sebagai manusia Super Tanpa Tandingan, dengan segala jerih payah, mereka mengorbankan tetesan darah yang berharga, tidak sedikit jiwa yang dikorbankan untuknya." Pendekar Rajawali Kie Eng kenal banyak tentang ilmu pedang Maya Nada, Su-to Yan mendengar keterangan itu dengan hati patuh.

Kie Eng menghela napas lagi, dia meneruskan ceritanya: "Murid bontot Thian Kho Cu yang bernama Kong-su Put-hay mengantongi ilmu pedang Maya- Nada masuk kedaerah Tionggoan, dia pribadi mati bersama-sama dengan sembilan saudara-saudara seperguruannya, maka ilmu pedang Maya Nada turut lenyap sementara, Kong-sun Put-hay mati disuatu tempat yang tidak Su-to Yan berguru kepada Ciok Pek Jiak dan jago ini sudah bosan kepada keramaian dunia, dia menyucikan diri, menutup semua sumber berita yang mempunyai hubungan dengan ilmu pedang Maya Nada yang membawa malapetaka itu.

Dengan maksud agar Su-to Yan tidak melibatkan diri dalam persengketaan berdarah.

Apa mau, takdir sulit dielakkan, Su-to Yan tidak berhasil lari dari kenyataan ilmu Pedang Maya Nada itu selalu membayangi dirinya, sehingga terjadi tragedi-tragedi yang sudah kita tuturkan diatas.

Orang tua itu berambut panjang Kie Eng melanjutkan ceritanya: "Kakek tuamu Su-to Pek Eng berhasil menemukan ilmu pedang Maya Nada, kitab itu didapat dari seorang asing yang berpakaian belang2, kemudian terjadi persengketaan.

Kakek tuamu menyerahkan kitab Maya Nada kepada keluarga dilembah Hui-in digunung Bu-san.

Demikian urusan ilmu pedang Maya Nada dapat diredakan." Su-to Yan mengangguk-anggukkan kepalanya, dia mendapat gambaran jelas dari asal mula ilmu pedang Maya Nada.

Orang tua berambut panjang Kie Eng mengatup-ngatupkan sepasang matanya yang buta, dan dia meneruskan cerita yang terputus tadi: "Orang asing berpakaian belang adalah jago istana Khong-kiokkiong yang melarikan dirinya dari tekanan dan kejaran bangsanya, Hal ini diketahui juga, setelah terjadi pengambilan ahli kitab Maya Nada oleh keluaga Ie.

Jago-jago istana Khong-kiok-kiong membikin penyelidikan mereka mengintimidasi kakek dan kedua orang tuamu, pertempuran-pertempuran tidak dapat dielakkan, untuk memberi pertanggung jawabannya, kakek tuamu pergi ke istana Khong kiokkiong.

Disusul oleh kepergian kedua orang tuamu, akhirnya mereka mati didalam istana belang itu." Su-to Yan mendongakkan kepala, dia mendamba-dambakan kehadiran sepasang orang tua-nya, kini harapan itu lenyap sama sekali, buyar terbawa angin lalu, dan kakek tuamu pun sudah tiada, mereka itu mati dibawah tangan Istana Khong-kiok-kiong.

Airmata membasahi pipi sipemuda.

Pendekar Rajawali Mas Kie Eng menarik napas, dia berkata lagi: "Dikala kakek tuamu membikin perjalanan ke istana Khong-kiokkiong, dia pernah meminta diri dariku, Dan manakala kedua orang tuamu menyusul, juga bertemu denganku, generasi ketiga dari keluarga Su-to, kau juga menjumpaiku janganlah kau menyusul jejak keluargamu itu." Su-to Yan mengadukan kepala, kakek tua nya Kiay-hay Kiamkhek Su-to Pek eng begitu lihay, tokh tidak dapat mengalahkan jago istana Khong-kiok-kiong, maka Kie Eng memberi bujukan halus, agar dia tidak menuju ke-istana belang itu.

Dengan suara yang serak, Kie Eng meneruskan keterangannya.

"Kukira, ilmu pedang Maya Nada sudah jatuh kedalam tangan istana Khong kiok-kiong, maka kakek tuamu tidak dapat mengalahkan mereka.

Bila betul ada kejadian yang seperti ini, urusan lebih tidak mudah diselesaikan." "Boanpwee kira belum tentu." Su-to Yan mengemukakan pendapatnya, "Sehingga saat ini.

belum pernah terdengar cerita tentang orang-orang dari istana Khong-kiok-kiong." "Mendapat serangan kakek dan kedua orang tuamu, tentu istana belang menderita banyak kerugian, besar kemungkinan para jago kelas satunya telah binasa, maka istirahat untuk sementara, menunggu sampai kekuatan mereka pulih kembali.

Segera mengadakan gerakan serentak perhatikan betul-betul tentang kejadian ini." "Begitu lihaykah jago-jago dari istana Khong-kiok-kiong?" Su-to Yan mengajukan pertanyaan.

"Bayangkan sendiri, bila mereka tidak mempunyai kekuatan yang cukup hebat.

Mungkinkah kakek dan kedua orang tuamu dapat dikalahkan." "Kau juga tidak dapat menandingi mereka?" Su-to Yan menatap orang tua berambut panjang itu.

"Ha, ha..." pendekar Rajawali Mas tertawa, "Aku sudah tua, tiada guna." "Suatu hari, boanpwee akan menjajal kepandaian istana Khongkiok-kiong." berkata Su-to Yan gagah.

Post a Comment