Halo!

Pedang Wucisian Chapter 43

Memuat...

Su-to Yan memperhatikan gerak-gerik burung merah itu, Untuk menemukan kitab catatan ilmu silatnya, dia harus menangkap burung ini sehingga dapat menemukan jejak kitab ilmu Pedang Maya Nada.

Perlahan-lahan, Su-to Yan mendekati.

Burung merah masih bermain diatas bara api, sehingga api itu mengecil.

Sebentar lagi, api pembakaran menjadi padam, Su-to Yan mengambil keputusan, cepat2 menyedot pernapasan dalam-dalam, dia harus segera bergerak, bila tidak, manakala menunggu sampai burung aneh itu puas mandi api dan terbang pergi, kemana lagi harus melakukan pengejaran.

Su-to Yan meluncar cepat, tujuannya adalah burung kecil yang berwarna merah.

Sang burung menoleh, begitu tenang, seolah-olah sudah biasa berhadapan dengan manusia, dia tidak segera terbang pergi, dan menunggu serangan Su-to Yan.

Sepasang sayapnya masih bergibrik-gibrik diatas lidah api.

Su-to Yan merentangkan kelima jarinya, dengan harapan satu kali sergapan dia dapat menangkap burung aneh itu.

Menunggu sampai jarak dekat, secara tiba-tiba saja, burung aneh berwarna merah mengibaskan sayap, mementalkan percikan api ke arah Su-to Yan.

Si pemuda mengepulkan alisnya, dia marah atas kelicikan sang burung, tangannya dibalikkan, menghindari percikan api merah, berganti arah, dia menyergap kembali.

Sang burung bercicit-cicit, tidak henti-hentinya melempari Su-to Yan dengan percikan api.

Kemarahan Su-to Yan semakin menjadi-jadi, dia begitu sengit sekali, tenaga dalamnya disalurkan kearah telapak tangan "Hut.." memukul burung merah itu.

Maksudnya memukul jatuh burung merah yang gesit, kemudian, dia tidak takut kehilangan kitab ilmu silat.

Cara Su-to Yan adalah cara yang paling tepat, tidak mungkin burung merah itu dapat mengelakkan diri.

Tiba-tiba, punggung Su-to Yan menerima serangan.

Telapak tangan si pemuda ditarik pulang dan memukul serangan gelap itu.

Berganti posisi, dia menyingkir kesamping, segera membalikkan badan, hendak dilihat, siapa gerangan yang menyerang secara gelap itu" Seorang gadis berpakaian putih memandang Su-to Yan dengan mata bersinar, inilah Pek Leng Soat.

"Hei, mengapa kau memukul si Merah?" Sigadis menegur lebih dahulu.

Su to Yan berkerut alis.

"Burung aneh ini yang kau artikan dengan Si Merah?" Dia tidak mengerti.

"Siapa lagi?" Pek Leng Soat adalah seorang gadis yang manja.

Kejadian ini membingungkan Su-to Yan, jelaslah sudah bahwa orang yang mencuri kitab catatan ilmu pedangnya adalah sigadis berbaju putih.

"Tidak kusangka." Dia berkata.

"Jangan kau mengganggunya lagi.!" berkata Pek Leng Soat, dia sangat sayang kepada si Merah.

"Aku tidak ada maksud untuk mengganggu si Merah." Berkata Su-to Yan, "Kembalikanlah kitab catatan ilmu pedangku." "Kitab itu berada ditangan ayahku." Pek Leng Soat memberikan keterangan.

Suto Yan mengerutkan alis lagi, Dia berkata: "Dapatkah kau menolong memintanya kembali ?" "Adat ayahku tidak bisa diselami." Berkata Pek Leng Soat.

"Aku tidak berani." "Tolong kau ajak aku menemuinya." Su-to Yan meminta.

"Lebih baik jangan, Dia akan marah kepadamu." Pek Leng Soat mengirim satu senyuman.

"Kitab itu bukan milikku." Berkata lagi Su-to Yan.

"Kitab catatan ilmu pedang Maya Nada adalah kitab Ie Han Eng, aku harus mengembalikan kepadanya, Kuharap kau dapat mengembalikannya." Pek Leng Soat tidak memberi jawaban, dia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

"Biar bagaimana aku harus menjumpai ayah mu." Berkata Su-to Yan marah.

Pek Leng Soat meremehkan permintaan itu, masih saja sigadis menggoyang kepala.

Disaat ini, satu bayangan melesat datang, menyambung katakata Su-to Yan: "Kau hendak bertemu denganku ?" Disana bertambah seorang tua berbaju kuning, inipun termasuk salah satu dari empat jago silat golongan tua dari jaman purbakala, dia menduduki urutan kedua, namanya Pek Tong Hie, orang yang menjadi ahli waris dari Gua kematian.

Su-to Yan berbalik cepat.

"Ayah." berteriak si gadis kolokan, dia menubruk orang tua berbaju kuning itu dan tenggelam didalam pelukannya.

Orang toa berbaju kuning Pak Tong Hie mengelus-elus rambut sang putri, kemudian dia mendorong tubuhnya, memandang Su-to Yan dan berkata: "Si Telor Busukkah yang memberi tahu kepadamu, bahwa aku berada ditempat ini?" Su-to Yan tidak dapat menjawab pertanyaan itu, dia tidak tahu, siapa yang diartikan dengan sebutan "Telor Busuk" itu.

Mungkinkah orang tua yang membawa tabuh khim" "Aku tidak tahu nama julukannya." bertanya si pemuda.

"Huh," Pek Tong Hie mengeluarkan suara dari hidung, "Dengan kedudukanmu tentu tidak mengetahui namanya." "Entah bagaimana sebutan cianpwee yang mulia?" bertanya Suto Yan.

"Hendak mengetahui namaku?" Orang tua berbaju kuning itu tertawa." "Maksud boanpwee..." "Maksudmu?" "Meminta kembali Catatan ilmu pedang Maya Nada." "Bagus.

Akupun hendak membikin perhitungan kepadamu." "Perhitungan?" Suto Yan tidak mengerti..

"Ng, dengan maksud tujuan apa kau membuat kitab Maya Nada yang palsu?" Su-to Yan lebih tidak mengerti lagi, apa yang dimaksudkan dengan kitab Maya Nada yang palsu?" Disaat itu, orang tua berbaju kuning sudah mengeluarkan kitab, dilempar kearah Su-to Yan.

"Nah, ambillah kitab pusaka palsumu." Dia berkata marah.

Su-to Yan menyanggah datangnya kitab itu, inilah kitab yang menjadi rebutan banyak orang, dia menyimpannya kedalam saku baju, memberi hormat dan hendak berjalan pergi.

"Boanpwee meminta diri." Dia berkata.

"Tunggu dulu!" bentak orang tua berbaju kuning itu.

"Ada apa?" Su-to Yan batal berangkat.

"Dimana kau sembunyikan catatan ilmu pedang Maya Nada?" Orang tua Berbaju kuning menatapnya dengan wajah merah.

"Catatan ilmu pedang Maya Nada?" Su-to Yan bingung sekali.

"Betul." Orang tua baju kuning Pek Tong Hie menganggukkan kepalanya "Dimana kau simpan ?" Su-to Yan memegang saku bajunya.

"Bukan itu yang kumaksudkan." Berkata Pek Tong Hie lagi.

Su-to Yan mengeluarkan kitab ilmu pedang Maya Nada.

Pada kulit muka kitab tersebut ada tertulis: ilmu pedang Maya Nada.

"Bukalah lembaran isinya." Pek Tong Hie memberi perintah.

Su-to Yan menerima catatan ilmu pedang Maya Nada dari tangan Ie Han Eng, setelah itu, dia belum pernah memeriksa.

Mendapat perintah tadi, dia memeriksa lembaran-lembaran kitab.

"Aaaa..." Su-to Yan berteriak, kitab yang berada ditangannya adalah lembaran-lembaran yang putih, tidak ada isi sama sekali.

Su-to Yan memeriksa dengan teliti, tidak ada bekas-bekas sobekan atau sesuatu yang mencurigakan, inilah kitab yang didapat dari tangan Ie Han Eng, yang menjadi rebutan banyak orang, "Mengapa tanpa kata-kata atau keterangan keterangan lainnya ?" "Dimana kau sembunyikan kitab yang asli?" Pek Tong Hie membentak lagi.

Mungkinkah dipalsu orang " Su-to Yan bingung.

Dia mematung ditempat.

Pada tangannya masih terpegang kitab ilmu pedang Maya Nada yang tiada isi itu.

Tiba-tiba, dari jauh terdengar satu suara tertawa besar: "Ha, ha, ha...

Pek Tong Hie, sudah lama kita tidak bertemu." Disana melayang masuk satu orang, dia adalah lelaki setengah umur, jago keempat dari tokoh-tokoh silat jaman purbakala, Pek-ie Kauw cu Bong Bong Cu.

Ahli waris Gua Kematian Pek Tong Hie menghadapi Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu.

Baru sekarang Su-to Yan tahu, bahwa orang tua berbaju kuning itupun sudah berumur diatas satu abad.

Pek Tong Hie berhadapan dengan jago sederajat, dia membuka suara: "Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu, kemana larinya ketiga murid pusakamu itu ?" "Mereka segera datang." jawab Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu, "Ha, ha, ha...." Pek Tong Hie tertawa, "Apa maksudmu ?" "Apa lagi, bila bukan karena catatan ilmu pedang Maya Nada" Aku hanya memiliki sebagian dari sepuluh ilmu silat jaman purbakala yang ditinggalkan Thian Kho Cu, maukah kau membantu urusan untuk mengumpulkan semua ilmu-ilmu itu ?" Pek Tong Hie tertawa tawar.

"Belum pernah aku ketarik dengan usul yang kau kemukakan." Dia menolak ajakan itu.

"Puluhan tahun kita tidak berjumpa." Berkata Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu.

"Sikapmu masih seperti sediakala.

Kau belum mau membuang rasa sentimen itu ?" "Kau hendak memperebutkan sejilid kitab kosong?" Pek Tong Hie memberi peringatan.

"Aku tidak percaya." menggoyangkan kepala.

Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu "Terserah." Berkata Pek Tong Hie, "Aku tidak memaksa kau percaya.

Kau kira dapat mengalahkan aku dengan ilmu Kut-hie Sinkang yang kau pelajari ?" "Ha ha . . . .

ilmu Thiat-tan Kie-kang memang lihay, tapi aku tidak takut kepadamu." Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu memandang rendah.

"Bagus, sudah lama aku hendak menjajal ilmu kepandaian Kuihie Sin kang." Berkata Pek Tong Hie, dia tidak mau kalah.

Kedua jago purbakala itu berhadap-hadapan.

Mereka segera akan mengadu ilmu itu.

Su-to Yan berdiri disamping, adanya kesempatan itu tidak mudah didapat, dia segera dapat menyaksikan bagaimana dua jago dan jaman purbakala mengeluarkan ilmu simpanan masing-masing.

Ahli Waris Gua Kematian Pek Tong Hie memasang kuda-kuda, dia mengerah tenaga dalamnya.

Tubuh kakek ini segera berselubung kabut putih yang tipis.

Sikap Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu juga menjadi tegang, dia siap mengalahkan tandingan itu.

Pek Tong Hie bergerak lebih dahulu, tubuhnya melompat tinggi, kemudian menyerang kearah lawan.

Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu menggoyangkan tangan, perlahan sekali, didorong ke-depan.

Su-to Yan segera mengenali cara-cara si pelajar Tua Kong-yat Chiu-jit menghadapi dirinya, hampir-hampir dia dikalahkan oleh murid Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu itu.

Pek Tong Hie mengenal baik kepada ciri-ciri khas lawannya, dia tidak berani melibatkan diri kedalam pertempuran berjarak dekat, tubuhnya bergeser ke samping, jauh sekali.

Pek-ie Kauw cu Bong Bong Cu menyeret serangannya kearah posisi baru lawan itu.

Kabut putih yang menyelubungi tubuh Pek Tong Hie semakin tebal, dia membikin penjagaan yang kuat.

Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu menyerang sampai beberapa kali semakin lama semakin cepat, akhirnya tubuh itu berubah menjadi seekor bianglala biru, berputar disekitar tubuh Pek Tong Hie.

Akhli Waris Gua Kematian Pek Tong Hie membikin perlawanan yang semakin hebat.

Dua ekor bianglala jelmaan mereka bergerak begitu cepat, hampir tidak dapat dilihat dengan mata.

Suatu saat Pek ie Kauwcu Bong Bong Cu mengipaskan tangan, sepuluh jalur serangan jari berdesir keras.

Setelah itu, tubuhnya mundur kebelakang, Bayangannyapun terpeta kembali.

Dia tertawa puas.

Pek Tong Hie juga mundur ke belakang, memperpanjang jarak perpisahan mereka.

Kabut putih itu menipis lagi, dan akhirnya lenyap sama sekali.

Wajahnya menunjukkan rasa kemarahan yang tidak terhingga.

Post a Comment