Halo!

Pedang Wucisian Chapter 41

Memuat...

Sedangkan laki-laki setengah umur adalah seorang jago silat dari tiga aliran zaman.

namanya Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu.

Su-to Yan tidak kenal kepada dua orang itu, dia memberi hormat dan berkata: "Maaf, boanpwee meminta jalan." Jago tiga jaman Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu memandang dan menatap pemuda itu, disertai juga dengan pertanyaan: "Kau yang bernama Su-to Yan" Bagaimana perlakuan kedua muridku " Adakah mereka membikin banyak kerewelan?" Su-to Yan terkejut, Dia memperhatikan kedua orang ini, ternyata Hwesio Tukang Pacul Bwee Goat dan Tosu Tukang sado Giok Hie adalah murid orang ini.

Dia telah menyaksikan ilmu kepandaian Bwee Goat dan Giok Hie, cukup tinggi, memiliki beberapa macam ilmu silat dari jaman purbakala, mungkinkah laki-laki setengah umur ini mempunyai kepandaian itu " Perasaan gentar menjalani Su-to Yan, jelaslah sudah bahwa Giok Hie dan Bwee Goat mendapat tugas dari orang ini.

Memikirkan kejadian-kejadian itu, sehingga Su-to Yan lupa menjawab pertanyaan orang.

"Aku bernama Pek-ie Kauw-cu Bong-Bong-Cu." berkata lelaki setengah umur itu.

"Tentu-nya kau pernah dengar?" Dan dia bangun berdiri.

Su-to Yan semakin kaget, Ternyata orang yang pernah menghilang dari kalangan rimba persilatan pada satu abad yang lalu muncul kembali " Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu adalah tokoh silat kenamaan, umurnya sudah genap se-abad, mengapa lebih muda dari muridmuridnya" Ternyata Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu pernah memakan sekepal buah Noho merah, buah ini sangat mujarab, dapat menyembuhkan aneka macam luka dan derita, juga memelihara kulit-kulitnya.

Orang yang tidak tahu seluk-beluk ini akan mengatakan sebagai Pek-ie Kauw-cu Bong BOng Cu yang palsu.

Kepada jago yang masih hidup sampai tiga jaman ini.

Su-to Yan wajib memberi hormat, dia mengulang kata salamnya: "Maafkan boanwee yang tidak kenal kepada cianpwee, dengan ini Su-to Yan menerima salah." "Ha, ha...."Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu tertawa.

"Kudengar kau memiliki beberapa macam ilmu silat dari jaman Purbakala, Dia juga memiliki kitab catatan ilmu pedang Maya Nada, Betulkah hal yang aku katakan itu?" "Hal itu betul." berkata Su-to Yan tanpa menyangkal.

Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu tertawa lagi.

"Kau memang seorang pemuda jujur." Dia memberikan pujiannya, "Tidak seharusnya aku mengganggu perjalananmu Tapi aku tertarik kepada ilmu kepandaianmu.

Disini aku hendak menguji, betulkah ilmu-ilmu pelajaran ilmu silat dari jaman purbakala" Betulkah ilmu kepandaian yang asli" Ketahuilah, bahwa sepuluh ilmu silat dari jaman purbakala tersebar dari tangan Thian Kho Cu, tidak mudah untuk meyakinkannya.

Aku hanya mendapat beberapa bagian, dan alangkah indahnya, bila dapat memiliki semua pelajaran-pelajaran itu, Dan tentang ilmu pedang Maya Nada, ilmu itu dapat membahayakan jiwamu sendiri.

Akupun hendak meminjamnya.

Maukah kau memberikan kitab itu ?" "Sangat menyesal." berkata Su-to Yan lantang, "Boanpwee belum dapat mengabulkan permintaan itu." "Jawaban yang sudah kuduga." berkata Pek ie Kauw-cu Bong Bong Cu, "Dan kata-kataku yang berikutnya adalah menyediakan dua jalan..

Mau tidak mau, kau harus memilih salah satu dari jalan ini." "Dipersilahkan cianpwee menyebut jalan-jalan itu?" berkata Su-to Yan hormat.

"Jalan pertama, yaitu menerima kau menjadi muridku.

Dengan jaminan bahwa ilmu pedang Maya Nada dan pelajaran dari jaman purbakala tetap berada padamu." Berkata sijago Tiga Jaman Pek-ie Kauw-Cu- Bong Bong Cu.

"Dan jalan yang kedua?" bertanya Su-to Yan cepat.

sikapnya tenang.

"Jalan yang kedua lebih mudah lagi." berkata Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu.

"Dengan ilmu kepandaian yang kumiliki, tentu tidak sulit untuk mengambil ilmu kepandaianmu tentu saja berikut ilmu pedang Maya Nada." "Boanpwee menolak kedua jalan yang cianpwe ajukan itu." berkata Su-to Yan gagah.

"Tentu saja kau menolak." berkata Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu.

"Karena kau belum belajar kenal dengan siapa dan bagaimana adanya Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu.

Tapi bagi mereka yang sudah hidup diatas 70 tahunan, tidak satupun yang berani menolak permintaanku.

Aku akan melumpuhkan semua ilmu kepandaianmu Bila tidak mendapat persetujuanmu Bagaimana ?" "Tidak seorangpun yang akan setuju membiarkan kepandaiannya dipunahkan orang." berkata Su-to Yan.

ilmu "Kulihat kau begitu tenang." Berkata Pek-Ie Kouw-Ce Bong Bong Ce "Karena kau menganggap tidak mempunyai tandingan" Ha-ha, ha...

biar murid pertamaku yang berhadapan denganmu." Pek Ie Kauw-Cu Bong Bong cu menoleh ke arah sastrawan yang sudah ubanan itu.

dan berkata padanya.

"Kau boleh menerima pelajaran Saudara Su-to Yan." "Tecu menerima perintah!" berkata sipelajar Tua Kang yat ChiuJit.

Pek-Ie Kauw Cu Bang Bong Cu memandang Su-to Yan lagi, dia berkata: "Inilah muridku yang pertama, namanya-Kong-yat Chiu Jit.

Dengan gelar julukan si pelajar Tua.

Diantara ketiga muridku, hanya dia seorang yang mewarisi ilmu kepandaian terbaik." Su-to Yan kaget, Dia pernah menyaksikan ilmu kepandaian Hwesio Tukang pacul Bwee Goat, juga menggebraki si Tosu Tukang Sado Giok Hie, kedua-duanya memiliki ilmu pelajaran dari jaman purbakala, cukup hebat dan luar biasa.

Dikatakan lagi bahwa Kong-yat Chiu-jit memiliki ilmu kepandaian yang berada diatas adik-adik seperguruannya, Bukan-lah lebih hebat lagi" Si Pelajar Tua Kong-yat Chiu-jit menghampiri Su-to Yan.

Berdiri didepan anak muda itu, lalu mengeluarkan senjatanya.

Serta, itulah sebilah pedang, dengan sikapnya yang angkuh, dia melempar kerangka senjata.

Dengan pedang di tangan, dia terlihat galak memang cukup keren, sayang dia terlalu tua, betapa kerenpun seorang yang sudah tua keangkerannya tersisihkan sebagian.

Demikian juga keadaan Kong-yat Chiu-jit, umurnya sepertiga dari Sang guru, tapi keadaan yang seperti itu, bagi mereka yang tak tahu, tentu menganggap kakek atau orang tuanya Pek-ie Kauw-Cu Bong Bong Cu.

"Dipersilahkan saudara Su-to Yan bersiap sedia." Su-to Yan memperhatikan jago tua ini dan berpaling kearah Pekie Kauw-cu Bong Bong Cu, seolah-olah sedang membandingkan kedua murid dan guru itu.

Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu berkata, "Kau harus berhati-hati kepada ilmu pedang nya.

Muridku ini mempunyai kecepatan yang luar biasa." Su-to Yan mengeluarkan pedang, memandang Kong-yat Chiu-jit tanpa mata berkedip.

"Silahkan." Dia menerima tantangan.

Si Pelajar Tua Kong-yat Chiu-jit meluruskan pedang, langsung disodorkan kedepan, gerakannya perlahan sekali, Dengan tujuan ulu hati Suto Yan, ujung pedang itu maju bergerak jalan.

Tentu saja, Su-to Yan belum dapat memahami maksud tujuan gerakan lawan yang begitu lambat, dia manyontek pedang itu, dan membalas dengan satu serangan yang mengincar pergelangan Pedang Kong-yat Chiu-jit tersentak keatas, gerakannya masih begitu lambat, sangat ayal-ayalan, tanpa menghiraukan ancaman yang mengarah pergelangan tangannya, dia menurunkan pedang, menusuk kearah pundak.

Su-to Yan terkejut, apa-apaan nih" Dia hendak diajak mengadu jiwa" Betul-betul luar biasa!

Dia dapat memapas pergelangan tangan lawan, tapi karena itu, juga dia menderita luka.

Untuk menghindari diri dari tusukan pedang itu, dia menarik pulang senjatanya.

Kong-yat Chiu-jit mengambil alih pimpinan penyerangan dia berhasil memaksa lawan menarik diri, dan karena itu, dia meneruskan tusukannya.

Pedang Su-to Yan terangkat menangkis tusukan itu.

Kong-yat Chiu-jit menjatuhkan pedang, begitu aneh sekali, cepat sekali, dia menyusul larinya pedang itu, maka dengan cara seperti ini arah pedang berganti, dari bawah menusuk keatas, mengancam ketiak Su-to Yan.

Hampir Su-to Yan berteriak, belum pernah dia menemukan ilmu silat yang seaneh apa yang Kong-yat Chiu-jit perlihatkan Kedua tangannya repot, lenyaplah semua kesempatannya untuk menyingkirkan serangan aneh itu.

Su-to Yan tidak kehilangan akal, sepasang kaki bergerak, menendang sampai beberapa kali, Dan dengan kekuatan tendangan itu, dia menjauhkan serangan.

Bagaikan seekor bayangan, pedang Kong-yat Chiu-jit menyusul datang.

Terlalu cepat untuk ditangkis, lagi-lagi Su-to Yan yang dipaksa melarikan diri.

Nah, disinilah letak kecepatan ilmu pedang Kong-yat Chiu-jit, terus menerus dia membayangi gerakan sipemuda.

Kemanapun Suto Yan menggeser badan, selalu diikuti oleh serangan-serangan, tidak lepas dari beberapa dim sejarak dari kulit dagingnya.

Su-to Yan sudah dapat menduga bahwa ilmu kepandaian Kongyat Chiu-jit berada di atas Bwee Goat dan Giok Hie.

Karena itu dia melayani dengan hati-hati, tokh masih repot.

Didalam keadaan terpaksa, Su-to Yan menggunakan gagang pedang menotok ujung serangan Kong-yat Chiu-jit.

Kong-yat Chiu-jit mengembangkan variasi permainan pedangnya, sret, dia berhasil menyobek baju sipemuda.

Disaat yang sama, Su-to Yan sudah lari kebelakang, Potongan bajunya terbang terbawa angin lalu.

Kong-yat Chiu-jit belum puas dengan kesudahan seperti itu, maksudnya melukai daging atau kulit Su-to Yan.

Lawan itu gesit sekali, ia hanya berhasil menyobek sedikit kain bajunya.

Tentu saja belum dianggap selesai, meneruskan serangan tadi, ujung pedang diluruskan lagi.

Su-to Yan belum berhasil menemukan cara yang baik untuk menghadapi ilmu permainan pedang Kong-yat Chiu-jit, lagi-lagi dia terpaksa mengundurkan diri.

Bergeser jauh kebelakang.

Pertempuran ini berjalan tidak seimbang terus menerus Kong-yat Chiu-jit memaksa Su-to Yan terdesak, sehingga sampai ke tebing gunung.

Mundur empat langkah lagi, Su-to Yan tentu akan terjun ke dalam jurang dalam.

Inilah yang menjadi tujuan si pelajar Tua Kong-yat Chiu-jit.

Su-to Yan juga maklum akan keadaan dirinya, jarak mereka terlalu dekat dia kehilangan daya gerak, hanya menggunakan gagang pedang melayani tusukan-tusukan Kong yat Chiu-jit, tentu saja sangat berbahaya.

Sekali lagi si Pelajar Tua menyerang dengan tajam, Su-to Yan mengegos kekanan, tidak berhasil, darah merah muncrat dari Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu sangat puas, disaat ini dia berkata girang: "Kong-yat Chiu-jit, jangan terlalu kejam." Si Pelajar Tua Kong-yat Chiu-jit menjawab peringatan gurunya: "Suhu, legakan hatimu, Tidak akan kubunuh mati orang ini." "Su-to Yan," Pek-ie Kauw-cu Bong Bong cu meneriaki pemuda itu "Menyerahlah." Mata Su-to Yan berkilat-kilat, dia sedang mencari daya upaya untuk mengelakkan diri dari kekalahan itu.

Disaat ini, pedang Kongyat Chiu-jit berkelebat lagi, menyontek kearah mukanya.

Su-to Yan bingung untuk mengelakkan serangan ini.

Menangkis, tidak mungkin.

Lompat kebelakang, dia akan jatuh kedasar jurang.

Pada saat kritis itulah, tiba-tiba terdengar suara alunan tabuh khim yang mengalun diudara.

Hati Su-to Yan tergerak, dengan gagang pedang, ia membentur datangnya senjata lawan, dan sepasang kakinya tidak tinggal diam, yang akan terangkat sedikit, disusul oleh gerakan kaki kiri, menendang lagi.

Dari atas dan bawah dia menutup serangan Kongyat Chiu-jit.

Post a Comment