Halo!

Pedang Wucisian Chapter 40

Memuat...

Lebih berbahaya dari segala sesuatu yang berbahaya.

Baru saja masuk di tikungan gunung, ditengah jalan sudah berdiri seorang hwesio.

Bukannya hwesio biasa, inilah hwesio istimewa, pada tangannya terpancung pacul, inilah hwesio Tukang Pacul Bwee Goat, Manakala orang menggunakan pacul yang tajam untuk menggarap tanah, tetapi hwesio ini menggunakannya terbalik.

Dia memegang alat penggarap itu pada bagian yang tajam.

Su-to Yan terkejut, ilmu kepandaian Kui-hie Sin-kang dari hwesio Tukang Pacul Bwee-goat luar biasa, Tidak mudah dihadapi.

Bwee-Goat memperhatikan makin dekatnya sipemuda.

Su-to Yan sudah sesumbar, bahaya apapun yang melintang dihadapannya akan diterjang, nah, kini dia harus menerjang Hwesio Tukang Pacul Bwee Goat, jarak mereka semakin dekat.

Dengan dingin Bwee Goat membuka suaranya: "Dimana kawanmu yang membawa-bawa srigala itu ?" Dia menanyakan Si Anak Srigala Lee Pin.

Adanya pasukan srigala dari pendekar muda itu sangat menyegankan dirinya, Su-to Yan tertawa.

"Aku niat bertemu dengan Ie Han Eng, dia tidak mau turut serta." Demikian pemuda ini memberikan jawaban.

Hwesio Tukang Pacul Bwee Goat tertawa, dia berkata: "Luar biasa..

Aku memuji keberanianmu." "Tanpa bantuan orang, kau kira dapat mengalahkan orang" sampai dimanakah taraf kepandaianmu, sehingga begitu berani" Aku adalah orang yang tiada guna, tapi belum tentu dapat dikalahkan." Su-to Yan mengerutkan kedua alisnya yang kereng, dengan tertawa dia membalas tanggapan-tadi: "Dengan ilmu yang kau miliki, mungkinkah dapat mengganggu perjalananku ?" "Ha...

ha ha ..." Bwee Goat harus memuji kepintaran lawannya, "Jalan ini sudah ku-tutup.

Bila kau dapat mengalahkan aku, baru dapat meneruskan perjalananmu." Su-to Yan mendekati hwesio Tukang Pacul itu: "Kukira, kau juga menghendaki kitab ilmu pedang Maya Nada ?" "Ada dua jawaban, Betul dan bukan," Bwee Goat menutup katakatanya dengan satu serangan buntut pacul.

Sret, sret, sret, tiga jalur angin serangan meluncur kearah Su-to Yan.

Su-to Yan menyedot peredaran jalan napasnya, tubuh itu melejit keatas, berputar sehingga tiga kali, menghindari serangan angin ujung pacul Bwee Goat.

"Ha, ha...

Hanya seperti ini?" Su-to Yan meletakan ujung kaki ditempat lain, Dimana mengeluarkan suara mengejek.

"Crut, crut, crut..." Tiga kali serangan lain yang menyerang Su-to Yan.

Dengan bangga Bwee Goat berkata: "Nah, boleh rasakan serangan berikutnya, inilah ilmu Kit-hian-cie." Dengan tipu Hun-hoa Hut-liu atau Menyingkap Bunga Menyingkirkan Rumput, Su-to-Yan mengenyampingkan serangan lawannya.

"Sampai disini saja ilmu Kit-hian cie?" Su-to Yan memandang "Hm...." Bwee Goat mengeluarkan suara dari hidung, "Bila ilmu Kit-hian-cie hanya seperti ini, tentu dia tidak dipanggil salah satu dari 10 ilmu silat dari jaman purbakala." Lagi-lagi dia memainkan paculnya, begitu aneh, dari sana meluncur desiran angin yang amat kuat, datangnya begitu cepat, amat banyak, seolah-olah jaring yang tidak terlihat, semua serangan terarah kepada Su-to Yan.

Su-to Yan terkejut, tangan kanannya dikebutkan dengan menyedot napas yang sangat dalam, dia mempertahankan diri Jurus Hun-song Cian-lie, Han-in dan Ciok-goat saling menyusul, menyentil balik semua serangan-Serangan si Tukang Pacul.

Tiga jurus yang kita sebut diatas adalah jurus perubahan dari ilmu Pie pa cap sa chiu, ilmu utama dari sepuluh macam tipu silat dari jaman purbakala.

Datangnya serangan begitu hebat, pertahanannya pun tidak lemah, mereka seimbang sama kuat.

Suatu saat, badan kedua orang itu terpisah.

Bwee-goat mundurkan diri.

Su-to Yan melewati kepala hwesio itu itu dan langsung maju kedepan.

Bwee Goat tidak mengejar.

Dengan suara keras dia berkoar: "ilmu kepandaianmu memang sulit mendapat tandingan.

Didepan masih ada beberapa percobaan.

Baik-baiklah kau menghadapinya." Su-to Yan belum mengerti akan maksud tujuan Bwee Goat.

Dia lebih penting mengutamakan perjalanannya dengan langkah yang keras, dia tetap maju kearah lembah Hui-in.

Menikung lagi satu jalan, seseorang tosu melintang ditengah jalan, tosu ini bersenjata pecut panjang, mengenakan pakaian baju biru.

Menunggu sampai Su-to Yan datang dekat, dia membentak: Su-to Yan menghentikan langkahnya.

"Bagaimana sebutan dan gelar totiang yang mulia" Mengapa menghadang di tengah jalan?" Dia bertanya sabar.

"Aku Giok Hie." ToSu itu memperkenalkan diri.

"Sudah lama menunggu kedatanganmu." "Totiang menghendaki ilmu pedang Maya Nada?" Bertanya Su-to Yan blak-blakan.

"Boleh juga." Berkata tosu pembawa pecut itu.

Dia tersenyumsenyum.

"Boleh Totiang menggeser sedikit badan, agar aku dapat melanjutkan perjalanan?" Su-to Yan masih bersikap sabar.

"Boleh saja, bila kau dapat memaksa aku menggeser badan," Berkata si Tosu tukang Sado Giok Hie.

Sepasang alis Su-to Yan terjengkat.

"Nah, sebelumnya aku meminta maaf." Dia berkata.

Tangannya bergerak menyodok kedepan.

Terarah ke pundak tosu itu.

Giok Hie memeramkan kedua matanya, seolah-olah dianggap enteng.

Puk, tangan Su-to Yan berhasil mengenai pundak suto tukang Sado itu.

Tidak berhasil menjatuhkan lawannya, begitu kuat dan kekar, Giok Hie tidak bergeming dari tempat yang semula.

Su-to Yan tertegun, inilah ilmu Bambu Bung Hay-tiok-kang, juga salah satu dari sepuluh macam ilmu silat dari jaman purbakala.

Pikiran dan gerakan Su-to Yan bekerja pada saat dan waktu yang sama, mengikuti dan meneruskan gerakan tadi, dia meneruskan serangannya kearah jalan darah ditangan tosu itu.

Giok Hie mementang sepasang mata, begitu besar, penuh kemarahan, pecut ditangan terayun mengincar batok kepala Su-to Su-to Yan membungkukkan diri, meluncur kedepan, demikianlah masing-masing menerima kegagalan, Kaki Giok Hie bergerak, dari arah yang tidak terduga sama sekali, menyepak bagian bawah Su-to Yan.

Lagi-lagi sipemuda dikejutkan, itulah ilmu Kaki Kepiting Mo-liongtui !

"Aha, tosu ini memiliki dua macam ilmu silat dari jaman purbakala." Satu demi satu, ilmu-ilmu jaman purbakala itu bertampilan kembali.

Pinggang Su-to Yan terancam, hampir dia diremukkan, Beruntung dia cepat, gesit laksana-kucing, mengegos ke samping, uap hijau mengepul sedikit-sedikit, inipun termasuk salah satu dari sepuluh macam ilmu silat dari jaman purbakala, ilmu Kabut Hijau Itbok Cia khie.

Ilmu purbakala kontra ilmu purbakala!

"Awas!" Su-to Yan berteriak, dia memberi peringatan Dia pun memiliki beberapa macam ilmu purbakala, mungkinkah dia kalah dengan musuhnya" Sepuluh jari Su-to Yan direntangkan itulah Tiga Belas jari Sakti Pie-pa-cap-sa-San-chiu, Tujuannya mengincar beberapa jalan darah lawan.

Giok Hie menggentak pecut, datangnya dari bawah keatas, mengancam jari jari Su-to Yan.

Tangan Su-to Yan dibalikkan, menelungkup dan meraup pecut musuh.

Giok Hie menarik diri ke samping sedikit dan dari sana naik kembali, langsung kearah leher Su-to Yan.

"Su-to Yan memutar kepala, bayangan itu terlalu cepat, tahutahu sudah berada dibelakang musuhnya.

Sepasang tangan didorong ke depan.

"Bek bek..." dia berhasil menggeser kedudukan posisi Giok Hie.

Giok Hie bergeser dari membelakangi Su-to Yan, dia sudah membalikkan diri berhadap-hadapan.

Tapi tidak menyerang lagi, dia diam.

Su-to Yan membungkukkan setengah badan, inilah tanda penghormatan kepada orang yang berada didepannya.

Setelah itu, dia melayang pergi, meneruskan perjalanan.

Sesudah tahu, Su-to Yan menoleh kebelakang, si Tosu Tukang sado Giok Hie masih berdiri ditempatnya.

Tidak bereaksi sama sekali.

Dengan hati yang penuh tanda pertanyaan pertanyaan, Su-to Yan meluncur kearah lembah Hui-in.

Dia belum mengerti, mengapa Giok Hie itu memiliki dua macam ilmu kepandaian silat dari jaman purbakala " Kepercayaan kepada ilmu kepandaiannya semakin tebal, dia percaya, bahwa masih banyak gangguan-gangguan yang menunggu didepan, perjalanan lembah Hui-in- sudah begitu dekat.

Dengan ilmu kepandaian yang dimiliki, mungkinkah tidak dapat mengatasi kesulitan-kesulitan lain " Dia berjalan dengan langkah ringan.

Dua tikungan lagi dilewatkan, kini dia melewati jalan lurus, Didepannya ada dua orang yang sedang mengadu catur ditengahtengah jalan, inilah cara-cara si Hwesio tukang Pacul Bwee Goat dan Tosu Tukang Sado Giok Hie, cara mereka untuk menunggu kedatangan Su-to Yan ditengah jalan.

Kecuali meja batu yang terpasang ditengah jalan, dua bangku batu menghias dikanan dan kirinya, pada kedua bangku batu duduk dua orang, yang membelakangi Su-to Yan adalah seorang tua berpakaian sastrawan, dan seorang lagi adalah laki-laki setengah umur.

Kedua orang ini sedang asyik bercatur di tengah jalan.

Jarak ini sudah dekat dengan lembah Hui-in, dikala Su-to Yan enak-enakan meluncur, dua orang yang main catur ditengah jalan itu tiba-tiba mengejutkan dirinya.

Untuk meneruskan usahanya menemui Ie Han Eng di lembah Hui-in.

Su-to Yan berjalan maju.

Laki laki setengah umur dapat melihat kedatangan pemuda itu, dia menahan gerakan lang kah permainan catur, itu hanya isyarat.

Orang tua yang membelakangi Su-to Yan mendongakkan kepala, "Suhu." Dia memanggil "Su-to Yan kah yang datang?" Sastrawan tua itu memanggil laki-laki setengah umur dengan panggilan suhu yang berarti guru, hal ini tentu mengherankan orang yang tahu.

Hanya beberapa jago silat golongan tua yang dapat memahaminya, Ternyata, sastrawan tua adalah murid laki-laki setengah umur itu, namanya Kong-yat Chiu-jit dengan gelar pendekar jago pelajar Tua.

Post a Comment