Halo!

Pedang Wucisian Chapter 39

Memuat...

Su-to Yan mengendurkan langkah kecepatannya, dia menantikan gadis baja putih itu, tentunya orang yang hendak meminta kitab ilmu Pedang Maya Nada.

Gadis berbaju putih menatap Su-to Yan beberapa saat, dia berkata: "Ternyata kau yang bernama Su-to Yan,.bukan?" "Aku Su-to Yan." berkata sipemuda.

"Ada urusan apakah nona mencari seorang yang tidak terkenal ?" "Ha.

ha, ha..

Su-to Yan, Su-to Yan, kau tidak terkenal" Siapa yang terkenal" Bila bukan si pedang Bara yang gagah perkasa, haha." Gadis tersebut tertawa terpingkal-pingkal.

"Nona ada urusan dengan diriku?" bertanya Su-to Yan.

"Tentu, Bila tidak ada urusan, tentu tidak mencari dirimu, bukan?" Berkata gadis itu.

Su-to Yan menunggu keterangan tentang maksud kedatangan gadis tersebut, dia memperhatikan gadis tersebut, sangat putih, berbaju putih juga berkulit putih, sangat menarik, rambutnya hitam panjang, terurai kebelakang, agak mirip dengan tipe Jie Ceng Peng, tapi lebih menarik, seolah-olah seorang dara yang baru menginjak dewasa.

Diantara ketiga gadis yang baik dengan Su to Yan, Ie Han Eng mempunyai perangai yang halus, tipe wanita ideal untuk menjadi seorang istri yang lunut, dan jinak, Jie Ceng Peng mempunyai sifatsifat yang gagah perkasa, cukup agung untuk menjadi seorang pemimpin, tapi gadis yang seperti ini bukan calon bagus untuk dijadikan seorang istri, dia akan nangkring di atas kepala sang suami, membentak bentak dan hendak berkuasa seorang diri.

Cin Bwee nakal berandalan, sifatnya suka cemburu, Gadis yang seperti inipun tidak mudah untuk didamping seumur hidup.

Gadis berbaju putih menyampurkan dua macam tipe Cin Bwee dan Jie Ceng Peng.

"Hei." Tiba-tiba gadis itu membentak.

"Mengapa kau diam bungkam ?" Su-to Yan disadarkan dari lamunannya.

"Kau belum mengutarakan maksud kedatanganmu, bukan?" Dia balik bertanya akan maksud kunjungan orang.

"Aku tahu namamu Su-to Yan." berkata sigadis baju putih, "Mengapa kau tidak menanyakan namaku ?" Seorang gadis yang masih bersifat kanak-kanak.

Dengan sungguh-sungguh, Su-to Yan bertanya: "Boleh aku mengetahui nama dan julukan nona yang mulia?" bertanya Su-to Yan dengan nada yang penuh rasa hormat.

"Hi, hi, hi,.," Gadis itu tertawa cekikikan "Aku bukan yang mulia, Aku seorang gadis biasa, Namaku Pek Leng Soat.

Pek Leng Soat, berarti Keluarga Pek Yang Suka Kepada Salju, Mengertikah kau akan makna arti kata-kata tadi" Su-to Yan tersenyum-senyum, "Suatu nama yang bagus." Dia memberikan pujiannya, "Sangat cocok dengan arti yang terkandung didalam nama itu.

Begitu cocok dengan wajah dan potongan seorang gadis cantik yang sepertimu." "Tentu saja." berkata gadis yang bernama Pek Leng Soat itu, "Kau memang sedang berhadapan dengan aku." "Eh, bagaimana maksud "Kedatanganku?" Bertanya Pek Leng Soat menunjuk hidungnya yang kecil dan mungil.

Hal ini sangat menarik sekali.

"Kedatanganku ada hubungannya dengan kau!" Gadis itu hampir menyentuh hidung si pemuda.

Dia menudingkan telunjuk jarinya lurus kedepan.

"Aku?" Su-to Yan mundur dua langkah.

"Kau belum tahu, bahwa kedudukan dirimu berada didalam posisi yang sangat berbahaya?" berkata lagi Pek Leng Soat.

"Atas perhatian nona, dengan ini, aku Su-to Yan mengucap banyak terima kasih." Si-pemuda memberi hormat.

"Huuh..." Pek Leng Soat mengeluarkan suara dari hidung, "Catatan ilmu pedang Maya Nada itulah yang menjadi bibit bencana, Telah di rencanakan masak-masak.

Bila kau bersedia menyerahkan kitab catatan ilmu silat itu, jiwanya bebas dari segala macam gangguan dan ancaman." Lagi-lagi soal ilmu pedang Maya Nada.

Su-to Yan tertawa tawar, dia berkata: "Dimisalkan catatan ilmu pedang Maya Nada tidak diserahkan, mungkinkah nona akan memberikan tekanan yang berat?" "Tentu saja." Pek Leng Soat memberi senyuman manis.

"Nona begitu baik kepadaku?" bertanya Su-to Yan.

"Apakah yang menjadikan tujuan utama dari maksud nona itu ?" "ilmu Pedang Maya Nada." berkata Pek Leng Soat, "Aku menolak." Su-to Yan segera berkata.

"Kau jangan tidak tahu diri!" Pek Leng Soat membentak "Maksudku baik.

tahu" Aku datang dengan tujuan membebaskan kau dari aneka macam gangguan yang datangnya dari luar, Mengapa kau begitu bandel" Di manakah catatan ilmu pedang itu ?" Su-to Yan memperhatikan keadaan gadis berbaju putih, begitu agung, begitu manis dan ramah, mengapa mempunyai hati yang sama dengan manusia tamak lainnya" inilah yang membuat dia tidak mengerti sama sekali.

"Siapakah yang memberi mengajukan pertanyaan.

perintah kepada nona?" Dia "Kau tidak mau mengeluarkan kitab pelajaran ilmu silat itu?" Pek Leng Soat membentak.

"Dengan amat menyesal, harus kuberitahu kepadamu." Berkata Su-to Yan.

"Bahwa kitab ilmu pedang Maya Nada bukan milikku, Karena itu belum dapat kuserahkan kepadamu." "Kau tidak takut kurebut dengan cara kekerasan ?" Pek Leng Soat naik darah.

Su-to Yan tidak melayani terus, dia membalikkan tubuh, mengangkat kaki dan berkata: "Maaf, aku masih ada urusan, Selamat tinggal." Pek Leng Soat mengikuti gerakan pemuda itu, dia menyusul, tangannya bergoyang-goyang, memukul sehingga delapan kali.

"Su-to Yan." Dia berteriak keras.

"Kau mau melarikan diri" Tidak mudah, kawan." Su-to Yan dipaksa melayani datangnya senangan itu, mengegos kekanan dan kekiri, dia membiarkan serangan tadi lolos dari kedua sisinya.

Ujung kaki menutul tanah, siuttt....melejit lagi, sangat tinggi dari sana, dia meneruskan usahanya hendak menjauhi si gadis berbaju putih.

Pek Leng Soat terbang menyusul.

Hal ini sudah berada didalam perhitungan Su-to Yan.

Gadis itu berani menghadang dirinya, tentu mempunyai ilmu kepandaian tinggi, dengan ilmu Cek-khie Leng-in.

Su-to Yan berjumpalitan jauh, melepaskan dirinya dari kekuatan Pek Leng Soat, kemudian, Su-to Yan meneruskan peluncurannya.

Bagaikan awan yang terapung terbang, dia melayang pergi.

Itulah ilmu kepandaian Cek-khie Leng-in yang luar biasa !

Didalam sekejap mata, tubuh Su-to Yan telah melayang tiga puluh tombak tingginya, atau kepandaian sendiri ini tak mungkin dapat dipadu oleh Pek Leng Soat.

Sigadis memandang lenyapnya bayangan pemuda itu, hatinya mendongkol tapi tidak berdaya, dia membanting-banting kaki.

Su-to Yan berhasil meloloskan diri dari pengejaran Pek Leng Soat, melewati dua puncak gunung lagi, dia akan segera tiba di lembah Hui-in.

Tempat bersemayamnya si Bidadari dari gunung Busan.

Dari arah depan sipemuda, melayang datang satu bayangan, cepat sekali, inilah Cia Ciu Nio, jago wanita dari Kun lun-pay, orang yang menjadi guru Cin Bwee.

Cia Ciu Nio menghampiri Su-to Yan dan menegur sipemuda: "Dimana Cin Bwee?" Hubungan Su-to Yan dan Cin Bwee begitu intim sekali, adanya sipemuda ditempat ini seorang diri menandakan bahwa si gadis menemukan suatu kesukaran yang berada diluar dugaan, karena itu Cia Ciu Nio wajib memberi teguran.

Su-to Yan menjawab pertanyaan itu: "Dia jatuh kedalam tangan Jie Ceng Peng." "Huh," Cia Ciu Nio kaget, tentu saja dia gemes, "Mengapa kau tidak berusaha untuk menolong" Apa maksudmu datang ketempat ini seorang diri?" "Sedang melakukan perjalanan kearah lembah Hui-in," Su-to Yan memberi jawabannya dengan hormat.

"Mengapa seorang diri?" Tegur lagi Cia Ciu Nio.

"Boanpwee harus membikin penyelesaian dengan Ie Han Eng.

Dengan menyerahkan catatan ilmu pedang Maya Nada.

Dan urusan dapat diselesaikan maka boanpwee segera akan menemui Jie Ceng Peng, meminta Cin Bwee dari tangannya." Cia Ciu Nio tertawa tawar, katanya: "Hendak mengembalikan kitab " Betul-betulkah kau hendak mengembalikan kitab" Bila kau ada niat untuk menolak perjodohan itu, mengapa menerima pertunangan?" Su-to Yan menundukkan kepalanya, Apa yang dapat dikatakan" Pertunangan dengan Ie Han Eng ditetapkan oleh kakeknya, hal itu berada diluar dugaan sama sekali.

Dia tidak tahu-menahu tentang hal itu.

"Sebelumnya, akupun tidak mengetahui sama sekali." Dia mengadakan pembelaan.

"Dan bagaimana kau hendak menyelesaikan urusan kalian ini?" "Ie Han Eng sudah memberi keputusan tentang ini." berkata Suto Yan.

"Bagaimana putusannya?" Cia Ciu Nio mendesak terus.

"Dia memulangkan pedang In-liong." jawab Su-to Yan sedih.

Cia Ciu Nio berpikir lama, setelah itu dia berkata lagi: "Ilmu pedang Maya Nada benda yang membawa malapetaka, Aku tidak mengharapkan Cin Bwee terlibat oleh persengketaanpersengketaan yang ditimbulkan karenanya, Mengerti akan maksud tujuanku?" Su-to Yan menganggukkan kepalanya, memaklumi bahwa Cia Ciu Nio mengadakan teguran atas terlibatnya Cin Bwee pada urusan kitab pusaka.

"Nah kau boleh pergi." Berkata Cia Ciu Nio.

"Urusan Cin Bwee boleh kau serahkan kepadaku, Biar aku yang membikin penyelesaian dengan Jie Ceng Peng." Sekali lagi Su-to Yan menganggukkan kepala.

Cia Ciu Nio memperhatikan pemuda itu, kesannya tidak begitu buruk, yang disayangkan adalah tersangkutnya Cin Bwee yang menyintai Su-to Yan sedikit banyak, murid itu kerembet juga, inilah yang dipusingkan olehnya.

"Kuanjurkan agar kau tidak usah pergi kelembah Hui-in lagi." Dia berkata.

"Dan ilmu Pedang Maya Nada?" Su-to Yan salah paham.

Tidak mengembalikan kitab catatan silat itu berarti menerima perjodohan yang telah ditetapkan oleh kedua orang tua Ie Han Eng dan orang tuanya.

Cia Ciu Nio memberi keterangan.

"Catatan ilmu pedang adalah bibit penyakit.

Buang saja kepada orang yang memintanya.

Ketahuilah, karena adanya kitab itu, perjalanan yang menuju lembah Hui-in sudah ditutup beberapa lapis, mereka terdiri dari jago-jago ternama.

Tidak mudah kau mengalahkan mereka semua." Su-to Yan tertawa tawar, dia mengemukakan pendapatnya: "Catatan ilmu Pedang Maya Nada kudapat dari tangan Ie Han Eng.

Dan sudah selayaknya, bila aku mengembalikan kedalam tangan gadis itu lagi.

Penjegalan-penjegalan para manusia tamak yang menghendaki ilmu pedang ini tidak kutakuti.

Betapa bahayapun akan kuterjang mereka." Cia Ciu Nio menarik napas.

"Kau terlalu kukuh." Dia berkata.

"Baiklah, Aku pergi lebih dahulu." Meninggalkan Su-to Yan, jago wanita itu pergi kearah markas Thian-lam Lo-sat.

disana dia harus menolong Cin Bwee.

Su to Yan tidak menahan, memandang bayangan punggung belakang orang, dia menghembuskan keluhan napas.

Apa yang dikatakan oleh Cian Ciu Nio bukan berupa gertakan sambal.

Di hadapannya sudah menunggu banyak jago-jago dari berbagai golongan, maksud tujuan mereka tentu mengingini kitab ilmu Pedang Maya Nada.

Sebagai seorang kesatria, dia wajib menerjang rintangan itu, satu persatu harus dijatuhkan lebih dulu.

Su-to Yan meneruskan perjalanan.

Tidak ada sesuatu pekerjaan yang tidak mengandung unsur kebahayaan.

Termasuk juga perjalanan Su-to Yan kearah lembah Hui-in.

Post a Comment