Halo!

Pedang Wucisian Chapter 38

Memuat...

Su-to Yan dan Lee Pin mengeluarkan senyum mengejek, mereka tidak memperdulikan orang itu, mereka mulai perjalanan lagi.

Tidak lama, hanya tiga tikungan, lagi-lagi dihadang oleh 8 orang baju hitam.

Adanya pengalaman dibagian depan, Su-to Yan maklum, tentunya orang dari Thian-lam Lo-sat lagi.

Timbul rasa muak kepada orang-orang itu, mereka terlalu tamak dan serakah, dengan ilmu kepandaian seperti ketua Thian-lam Losat Lam Kiong It, mengapa masih menghendaki ilmu pedang Maya Nada " Bukan saja Lam Kiong It yang mempunyai sipat serakah, Tokohtokoh lainnyapun demikian seperti Seng-mo Leng Kho Tiok, siapakah yang dapat mengalahkan iblis ini" Mengapa masih tidak puas kepada ilmu kepandaian sendiri" Dengan alasan apa menghendaki ilmu pedang Maya Nada " Delapan orang berbaju hijau yang menghadang didepan kedua orang adalah jago-jago biasa, mana mungkin mereka menandingi Su-to Yan yang gagah perkasa" Apalagi didampingi oleh si Anak Srigala Lee Pin.

Hanya setengah gebrakan, merekapun sudah dikucar-kacirkan.

Demikianlah Su-to Yan menyingkirkan regu-regu delapan orang itu, setiap muncul delapan orang berbaju hitam, mereka tidak banyak bicara, bila bukan jatuh dibawah cengkeraman Lee Pin, tentu terpental oleh kekuatan Su-to Yan.

Dan yang terakhir, dikala mendapat rintangan delapan orang lagi, Seorang tua dengan pakaian warna-warni sudah melesat turun, langsung menghadapi Su-to Yan.

Delapan orang berbaju hitam berdiri di belakang orang tua berpakaian warna-warni itu.

Orang tua itu memandang Su-to Yan seraya membentak.

"Bocah, tentunya belum kenal kepadaku Lam Kiong It, bukan ?" Inilah ketua Thian-lam Lo-sat yang bernama Lam-kiong It, namanya pernah menggemparkan rimba persilatan, Mengingat tidak ada jaringan yang sedang mengganggu perjalanan Su-to Yan, dia menampilkan diri.

Su-to Yan dan Lee Pin telah siap siaga, mereka mempunyai sifat pantang mundur, betapa tinggipun ilmu kepandaian Lam Kiong It, mereka tidak segan-segan untuk menempurnya.

Lam Kiong It membuka mulut: "Siapa diantara kalian yang bernama Su-to Yan ?" "Aku." Su-to Yan memajukan diri, Memperhatikan sipemuda beberapa saat, Lam Kiong It berkata: "Tinggalkan ilmu Pedang Maya Nada, maka kau bebas dari kematian." "Bila tidak?" Su-to Yan masih menantang.

"Kau belum pernah merasakan racun Thian lam Lo-sat" Ha, ha . . . ." Lam Kiong It tertawa, "Bila aku mau, dengan menggerakan racun Cian-tok Tay-tin, mungkinkah kalian dapat meloloskan diri dari racun-racun itu ?" Lee Pin telah kehilangan sabar, dengan satu terkaman liar, dia menerjang ketua Thian-lam Lo-sat.

Lam Kiong It pandai menggunakan racun didalam hal ini bukan berarti tiada berkepandaian silat, tampak dia berlompat gesit, menghindari diri dari terjangan-terjangan sianak srigala.

Hanya bergebrak beberapa jurus Lee Pin sudah tidak berdaya..

Su-to Yan tidak berpeluk tangan, pedang Lay-hong keluar dari kerangkanya, segera dia menerjunkan diri kedalam arena pertempuran.

"Awas pedang!" sebelum menyerang, dia memberi peringatan.

Di saat itu, orang-orang berbaju hitam telah berkumpul.

Menyaksikan ketua mereka dikeroyok oleh dua jago kelas satu tanpa perintah, mereka turut mencampurkan diri, terjadi pertempuran yang sangat kalut.

Lee Pin memekik panjang, itulah tanda untuk memanggil pasukan srigala.

Dengan bantuan binatang-binatang itu, dia mengharapkan kemenangan.

Betul saja.

Pekikan panjang si Anak Srigala mendapat penyambutan cepat, terdengar lolongan-lolongan yang melengking tinggi, saling susul, suara itu sangat gemuruh, mendatangi tempat pertempuran.

Didalam waktu yang amat singkat, ratusan ekor srigala telah berada ditempat itu, terjadi pertempuran diantara manusia dan binatang.

Berkat bantuan srigala itu, Su-to Yan dan Lee Pin menarik diri dari kepungan Lam Kiong It dan anak buahnya.

Thian-lam Lo-sat mengalami kegagalan.

Dari gerakan-gerakan Su-to Yan yang memiliki kekuatan panas dan dingin, Lam Kiong It tidak berani mengadakan pengejaran, kekuatan panas Hauw-thian Mo-kun Thiat Kiam Seng tidak asing baginya, karena orang ini adalah kawan baiknya, kekuatan dingin Kiu-han Sin kun Ko Cio juga dikenal baik, itulah ilmu kepandaian musuh utama, telah berulang kali dia mengadu kekuatan dengan Kiu-han Sin-kun Ko Cio, sampai dimana keistimewaan ketua lembah Cui-goat kok itu, dia sangat paham.

Karena keragu-raguan itulah, Lam Kiong It tidak tahu, bagaimana hubungan Su-to Yan dengan dua tokoh silat hebat, Lebih baik menunggu kesempatan lain.

Menceritakan perjalanan Su to Yan dan Lee Pin.

mereka berhasil meloloskan diri dari kepungan golongan Thian-lam Lo-sat, membiarkan pasukan srigala memelihara keamanan pion belakang, Mereka meneruskan perjalanan.

Lee Pin tertawa, dia sangat bangga kepada pasukan srigala yang sangat banyak membantu itu.

"Mereka tidak berani membikin pengejaran." Demikian dia berkata, Yang diartikan dengan mereka adalah anak buah Thian lam-lo-sat.

"Dengan adanya kawan-kawan berkaki empat itu siapakah yang ingin mencari mati?" Su-to Yan juga tertawa.

"Mulai saat ini, tidak ada orang lagi yang berani menghadang perjalananmu." Berkata Lee Pin, "Akan kuhajar mereka akan kucarkacir." "Siapakah yang hendak menghadang perjalananku lagi?" Su-to Yan menganggap sudah berada ditempat yang aman, Lembah Huiin sudah tidak jauh.

Tiba-tiba...

Satu suara menyertai kata-kata Su-to Yan: "Aku yang hendak menghadang perjalananmu." Tidak ada orang yang menghadang perjalanan.

Su to Yan bermata dan bertelinga tajam, menangkap arah datangnya suara, dia mendongak keatas, disana, diatas sebuah tangkai pohon yang berdaun rindang, diatas cabang ranting pohon yang cukup besar, dia menggendong pacul.

Suatu pemandangan Hwesio itulah yang mengatakan hendak menghadang perjalanan Su-to Yan.

Mengetahui dirinya telah dapat dilihat orang, hwesio tinggi besar itu lompat turun dari atas pohon, gerakannya ringan sekali, dia masih membawa paculnya, itulah senjata yang paling khas bagi hwesio gemuk itu.

"Kau juga hendak mengadakan penghadangan?" Bertanya Su-to Yan dengan suara lantang.

Hwesio itu menganggukkan kepalanya.

"Hendak meminta kitab ilmu Pedang Maya Nada?" Bertanya lagi Su-to Yan.

"Guruku menghendaki catatan ilmu pedang itu, maka beliau mengutus aku menemuimu." berkata hwesio tinggi besar itu.

"Siapakah orang yang menjadi gurumu itu?" bertanya Lee Pin.

Hwesio itu melirik kearah si Anak Srigala.

"Aku bernama Bwee-goat." Dia memperkenalkan diri, "Dengan julukan Hwesio Tukang Pacul, Pernah dengar nama ini" Tentunya kau tahu, siapa orang yang menjadi guruku." Su-to Yan dan Lee Pin saling pandang.

Hwesio itu memikul paculnya, kemudian mementil cepat, ting, ting, ting, dan dia tersenyum-senyum kepada kedua anak muda dihadapannya.

"Kit-hian-cie." Su-to Yan berteriak kaget.

"ilmu jari Kit hian-cie." "Betul." Hwesio pembawa pacul itu berkata.

"Salah satu dari sepuluh macam ilmu silat dari jaman purbakala." "Ah," Su-to Yan berteriak, "Kau adalah murid dari Tokoh Silat Tiga jaman Bong Bong Cu" "Kau memang liehay." Hwesio Tukang Pacul Bwee-goat menganggukkan kepala, "Guru ku mengatakan bahwa kau telah berhasil meyakinkan Uap Hijau It-bok Cin-khie, cengkeraman Maut Thian tau nie hun ciauw dan ilmu Pie pa cap Sa san chiu.

Dengan adanya tiga macam ilmu silat peninggalan jaman purbakala itu, kau menjadi seorang yang sangat berbahaya.

Apalagi memiliki ilmu pedang Maya Nada, bahaya itu semakin besar." "Maksudmu?" "Guruku menghendaki ilmu pedang Maya Nada itu." berkata Hwesio Tukang Pacul Bwee goat.

Lagi-lagi ada orang yang mengincar catatan ilmu Pedang Maya Nada.

Lee Pin mengeluarkan jeritan2 panjang, jeritan mana disambung oleh lolongan pasukan srigalanya, susul-menyusul tiada hentihentinya.

Wajah hwesio Tukang Pacul berubah.

Segera dia sadar, suara lolongan-lolongan apa yang mendekati mereka.

"Hei." Dia berteriak "Kau yang membawa binatang-binatang liar itu?" "He, he..." Lee Pin sangat puas, "Kau takut?" "Huh !

Siapa yang takut kepadamu?" Mengincar beberapa srigala yang terdekat, Bwee goat mengayun paculnya, terlalu cepat untuk di ceritakan.

"Nah, Lihatlah." Kata-kata tadi disertai dengan ayunan cangkul.

Aingggggg...

Aaingggg..." Dua ekor srigala Lee Pin telah mati dengan otak kepala hancur berceceran, Kecepatan dan kekuatan si Hwesio Tukang Pacul Bweegoat memang luar biasa.

Wajah Lee Pin berobah, srigala-srigala yang dibawa memasuki daerah Tionggoan adalah srigala pilihan, mendapat didikan dirinya, mereka dapat menyingkirkan diri dari setiap serangan tokoh rimba persilatan.

Kini dua ekor diantaranya dibunuh mati dengan mudah, tanpa ada perlawanan sekali, itulah suatu kejadian yang belum pernah dialami.

Su-to Yan mengeluarkan suara pujian: "Tenaga dalam yang hebat." Belasan ekor srigala menerjang orang yang telah membunuh kawan mereka, gerakan itu gesit sekali.

Bwee-goat mengayun pacul, satu demi satu, dia membunuh atau melukai srigala-srigala itu.

tubuhnya tinggi besar, tapi mempunyai gerakan dan lincah, tenaganya besar, arah bidikannya tepat, belasan ekor srigala itu telah menjadi korban ketajaman cangkulnya.

Belasan ekor srigala lainnya menerkam Bwee-goat, jumlah pasukan binatang ganas itu kian membesar.

Bwee goat mengetahui akan datangnya gelagat yang kurang baik, untuk mengalahkan belasan ekor atau puluhan ekor tidak menjadi soal, tapi dilihat dari suasana seperti itu, jumlah srigala yang dibawa oleh Lee Pin berjumlah diatas ratusan, untuk meloloskan diri dari kepungan-kepungan binatang tersebut, tentu saja tidak mudah.

Si Hwesio Tukang pacul Bwee-goat menerjang kearah timur, membunuh dan melukai belasan ekor lagi, cepat sekali, tubuh orang itu telah lenyap.

Lee Pin membanting banting kaki, pasukan srigalanya dikucar kacirkan oleh orang tadi, Memeriksa luka-luka para srigala, dia menggeleng-geleng kepala.

Su-to Yan menghampiri kawan kita, Dengan sedih, Lee pin berkata: "Maksud hendak menemani kau masuk kedalam lembah Hui-in, kukira maksud ini tidak dapat kesampaian.

Aku harus mengadakan pertolongan kepada mereka, Waktu yang diperlukan terlalu lama, ada baiknya kau pergi dahulu, aku akan menyusul "Baiklah." Su-to Yan dapat menerima usul itu, Lembah Hui-in sudah berada diambang mata, tentang Lee Pin dan srigala-srigala itu diapun harus menempuh perjalanan.

Melewati dua puncak lagi, Su-to Yan segera dapat memasuki lembah Hui-in, tiba-tiba ada bayangan putih yang melayang datang, itulah bayangan seorang gadis, langsing yang mengenakan pakaian warna putih, menghampiri Su-to Yan.

Post a Comment