Halo!

Pedang Wucisian Chapter 35

Memuat...

Perjalanan Su-to Yan kedalam lembah Cui goat kok dengan maksud tujuan menolong Cin Bwee dari tangan Cu kat Hong, Ternyata Cin Bwee telah ditolong oleh orang-orang Jie Ceng Peng, setelah mengalami banyak gangguan akhirnya Su-to Yan tiba ditempat yang dituju, dia kembali dengan tangan kosong.

Dia meninggalkan lembah Cui-goat-kok.

Matahari telah menyingsing dari arah Timur, cahaya terang menyinari bumi, Disaat itu Su-to Yan telah berada disebuah desa, dia memilih rumah makan untuk mengisi perut.

Sambil menunggu pesanan makanan Su-to Yan melamun apa yang harus dilakukan oleh dirinya" Dia telah menyerahkan pedang In-liong dan mendapat pedang Lay Hong.

Ternyata diantara orang tuanya dan orang tua le Han Eng telah terjadi persepakatan untuk menjodohkan anak-anak mereka, le Han Eng adalah tunangan yang telah ditetepkan sedari kecil.

Bagaimana yang harus diperbuatnya pada Cin Bwee " Pikiran Su-to Yan sangat kalut sekali.

Disaat itu pelayan rumah makan telah membawa santapan yang dipesan olehnya, Suto Yan menyampingkan semua pikiran-pikiran yang memusingkan kepala, dia melahap makanan yang di meja.

Tengah makan, tiba-tiba dia dihampiri oleh seorang hweesio.

"Numpang tanya." Hweesio itu membuka suara, "Sicu inikah yang bernama Su-to Yan?" Hweesio itu mempunyai potongan tubuh tinggi besar, berdiri didepan Su-to Yan, dia seperti seorang raksasa yang sedang memandang kebawah.

Su-to Yan mendongakkan kepalanya, "Betul, Aku Su-to Yan." berkata sipemuda.

"Pinceng bernama U-hoat," berkata hwesio tinggi besar itu, "Mendapat tugas untuk mengundang sicu." "Taysu dari Siauw-lim-pay?" Bertanya Su-to Yan.

"Tidak salah." Berkata U-hoat Hweesio, "Pinceng menunggu sicu diluar untuk bicara lebih leluasa, Sicu boleh makan perlahan-lahan." U-hoat Hwesio meninggalkan Su-to Yan.

Su to Yan mengerti, kedatangan hwesio tinggi besar yang bernama U-hoat itu tentu mempunyai hubungan dengan kitab ilmu pedang Maya Nada.

Dia tidak mau memusingkan urusan itu.

Maka dengan tenang, setelah kenyang, baru dia memanggil pelayan, membayar dan berjalan keluar meninggalkan rumah makan.

Su-to Yan berjalan kejurusan Timur, disana telah berdiri belasan hwesio, mereka menantikan kedatangan pemuda kita.

Seorang hwesio yang beralis putih adalah pemimpin rombongan itu, segera ia menampilkan diri, menyambut kedatangan Su-to Yan.

"Pinceng bernama In-tie." Demikian hwesio beralis putih ini memperkenalkan diri, "Atas perintah ketua partai kami, berunding dengan sicu." Su-to Yan memandang kearah belasan hwesio itu, dia berkata: "Katakanlah urusan itu." In-tie hwesio berkata: "Pada hari Tiongyang, Siauw-lim-pay mengadakan pesta keramaian, mengundang semua tokoh-tokoh partay kenamaan berkumpul ditempat kami, Sudahkah Sicu dengar tentang berita ini?" "Aku tahu dari seseorang." Berkata Su-to Yan.

"Masih ada urusan lain," berkata In-tie Hwesio, "Tahukah sicu, bahwa ketua lembah Cui-goat-kok Kiu-han Sin-kun Ko Cio sedang mengajak anak buahnya membikin pengejaran" Dan tahukah sicu, bahwa sianak Srigala Lee Im sudah memasuki daerah Tionggoan, tentu saja beserta dengan pasukan srigalanya yang terkenal ganas dan telengas itu." "Aku belum tahu," berkata Su-to Yan In-tie Hwesio meneruskan keterangannya.

"Rombongan dari lembah Ciu-goat kok bertujuan untuk menuntaskan pertikaiannya dengan dirimu, Tapi belum jelas, apa tujuan dari pasukan srigala yang langsung berada dibawah pimpinan si Anak Srigala Lee Pin itu" Besar kemungkinan untuk mengadu gerakkan rimba persilatan didaerah Tionggoan." Su-to Yan berkata: "Banyak terima kasih kepada peringatan taysu, aku akan memperhatikan kejadian ini." In-cie Hwe-sio mengagumi nyali sianak muda yang sikapnya masih tenang-tenang saja.

Dengan menarik napas, Hwe-sio beralis panjang ini berkata: "Ya, dimisalkan kitab ilmu pedang Maya Nada jatuh kedalam tangan lembah Cui goat kok kami tidak begitu sedih, mengingat letak lembah Cui-goat kok berada dibawah kekuasaan Tionggoan, tapi bila sampai terjatuh kedalam tangan si Anak srigala Lee Pin, kejadian itu . . . " Lagi-lagi soal ilmu pedang Maya Nada, Su-to Yan diam.

"Kami bersedia untuk menjamin keselamatan ilmu pedang tersebut." Dan In-tie Hwesio mengakhiri kata-kata diplomatiknya.

Su-to Yan bersenyum.

"Maaf, taysu," Berkata pemuda itu.

"ilmu Pedang Maya Nada bukan menjadi milik Siauw lim-sie.

Aku tidak berhak menyerahkan catatan ilmu pedang ini kepada seorang yang bukan menjadi miliknya." Wajah In-tie Hwe-sio berubah, "Su-to Yan." Dia membentak.

"Catatan ilmu pedang Maya Nada adalah milik le Han Eng.

Dengan alasan apa kau mengangkangi hak milik orang ?" "Ha, ha . . . ." Si pemuda tertawa, "Betul, ilmu Pedang Maya Nada adalah hak milik le Han Eng.

Karena itulah, aku harus menyerah kepada orang yang bersangkutan, bukan kepada anak murid Siauwlim.-pay." "Demi menjaga keamanan dunia persilatan Siauw lim pay berhak untuk menyimpan catatan ilmu pedang tersebut." In-tie Hwesio "Aku kira, aku berhak untuk memulangkan kitab ilmu Pedang Maya Nada kepada orang yang bersangkutan," berkata Su-to Yan sengit.

"Kau hendak memaki kami menggunakan Pertengkaran mulut mencapai klimaksnya.

kekerasan?" "Ha, ha..." Su-to Yan tertawa tergelak-gelak, "Silahkan, Aku girang, bila mendapat pelajaran dari Siauw lim pay yang sangat istimewa." In-tie Hwesio sudah kehilangan sifat sabarnya, dia marah sekali karena kata-kata sombong Su-to Yan, maka dia berkata: "Baiklah...!" Perlahan-lahan In-tie Hwesio menghampiri Su-to Yan.

Dua belas hwesio mengikuti gerakan In tie Hwesio, mereka mengurung sipemuda.

Su-to Yan berada dalam kurungan ke tiga belas hwesio dari Siauw lim pay, Lingkaran para hwesio mulai mengecil.

Diluar mereka, lain rombongan bergerak cepat, mereka terdiri dari orang-orang yang mengenakan pakaian yang berwarna hitam, itulah anak buah lembah Cui goat kok.

Lingkaran dari anak buah Cui goat kok jauh lebih besar dari kekuatan Siauw lim Sie, mereka mengurung belasan orang di pusat.

Dikala In-tie Hwesio hendak mengeluarkan aba-aba penyerangan, dia juga merasakan adanya kurungan pihak ketiga, memandang kearah kelilingnya, dimana terdapat banyak pohon lebat.

Dari balik pohon-pohon itulah, bermunculan orang-orang berbaju hitam, mereka berada dibawah pimpinan seorang tua, orang yang pernah ditemui Su-to Yan didalam lembah Cui goat-kok, inilah anak murid tertua dari Kiu-han Sin-kun Ko Cio.

In-tie Hwesio dan dua belas hwesio lainnya telah berada didalam kurungan anak buah lembah Cui goat kok.

Su-to Yan berada didalam dua lapis kurungan itu.

Orang tua berbaju hitam itu membuka suaranya yang lantang: "Anak murid ketua lembah Cui-goat-kok Ciok Pan Tan mendapat tugas untuk menangkap Su-to Yan, diharapkan para hwesio Siauw lim pay mengundurkan diri dari pertikaian ini." In-tie Hwesio mengerutkan kedua alisnya yang putih.

sikap Ciok Pan Tan yang terlalu meremehkan kekuatan Siauw lim pay membawa akibat lain.

"Orang luar dilarang turut campur." Dia berkata lantang, "Siauw lim pay sedang ada urusan, dan untuk ini kami persilahkan golongan lain menyingkir." Ciok Pan Tan mengeluarkan suara dingin: "Sebelum Su-to Yan memberikan tanggung jawabnya kepada lembah Cui-goat-kok, tidak dibenarkan untuk partay lain mendahului gerakan kami." In-tie Hwesio tidak mau kalah suara, dengan keras dia mengeluarkan suara tantangan: "Siauw-lim"pay sedang ada urusan, golongan lain dilarang turut serta." Ciok Pan Tan berdengus: "Bagus, Mari kita menentukan dengan kekuatan, siapa yang harus bergerak lebih dahulu, Siauw-lim-pay atau lembah Cui goat kok?" Dia mengulapkan tangan, maka puluhan orang berbaju hitam mulai bergerak.

In-tie Hwesio memecah kekuatannya men jadi dua kelompok, atau untuk menghadapi Su-to Yan dan lain kekuatan untuk menandingi kekuatan lembah Cui-goat-kok.

In-tie Taysu sudah berhadapan dengan Ciok Pan Tan.

Tanpa suara, Ciok Pan Tan menggerakkan tangan, memukul hwesio itu.

Intie Hwesio adalah jago dari urutan In, tentu saja tidak mudah di "makan" seperti itu.

kakinya bergerak, dengan tangannya ditekuk kedalam, dia menangkis datangnya serangan.

Ciok Pan Tan adalah anak murid tertua dari ketua lembah Cuigoat-kok Kiu-han Sin-kun Ko Cio, dia mengegos kekiri, menjotos dua kali.

In-tie Hwesio menggunakan ilmu Tay-im Nu-chiu, sepasang tangannya direntangkan, hendak menyambar musuh.

Masingmasing menyerang dan bertahan, selanjutnya kedua orang ini menyerang dengan hebat, keduanya telah mengeluarkan ilmu kepandaian yang ada, demi dapat mengalahkan musuh mereka.

Su-to Yan yang menyaksikan pertandingan dari kedua jago itu, diam-diam dia menjadi kagum, banyak tipu-tipu silat yang belum di lihat, pertempuran itu mengandung pelajaran-pelajaran tertentu.

Tiga puluh jurus telah dilewatkan, belum ada tanda-tanda siapa yang akan memenangkan pertandingan itu.

Tujuh puluh jurus lagi dilewatkan, dan kini mulai tampak perbedaan dari kedua jago tersebut, menggunakan kelengahan Ciok Pan Tan, In-tie Hwesio meluruskan jari-jarinya, dan dia berhasil mengenai pundak lawan.

Ciok Pan Tan lompat mundur, dia merasakan sebelah tangannya kesemutan.

Disaat yang sama terdengar jeritan-jeritan dari orang-orang berbaju hitam, perhatian berpindah ke arah datangnya kegaduhan, Disana-terlihat seorang anak muda bermuka panjang, maksudnya hendak memasuki gelanggang keramaian.

Orang-orang Ciok Pan Tan menghadang maka pemuda tersebut menjadi marah, dengan satu tangan, dia mencengkeram orang-orang berbaju hitam itu, dilemparkannya kesamping, tidak seorangpun dari mereka yang dapat mengelakkan diri dari cengkeraman sianak muda, di dalam sekejap mata, terbukalah jalan.

In-tie Hwesio mengeluarkan seruan kaget.

"Anak Srigala Lee Pemuda yang datang adalah anak yang dibesarkan oleh Srigala, namanya Lee Pin, datang dari daerah luar Tionggoan, karena dia ada membawa pasukan srigala, semua orang menakutinya.

Didalam sekejap mata, si Anak Srigala Lee Pin telah memasuki gelanggang keramaian itu, tidak satupun dari anak buah lembah Cui-goat-kok yang dapat mengganggu usahanya menjebolkan kurungan itu.

"Saudara manakah yang ternama Su-to Yan?" Demikian Lee Pin berteriak ke arah banyak orang.

Su-to Yan menampilkan diri.

"Ada apa?" dia tidak kenal kepada pemuda yang dibesarkan oleh binatang srigala itu, juga belum dapat menduga akan maksud tujuannya.

Lee Pin hendak menghampiri Su-to Yan.

Disaat ini, Ciok Pan Tan telah menghadang di tengah jalan.

Post a Comment