Halo!

Pedang Wucisian Chapter 34

Memuat...

Dibagian belakang, keringat-keringat sebesar kacang kedele meluncur deras membasahi semua bagian punggungnya.

Hampirhampir dia terbakar.

Masih saja Su-to Yan bertahan dari dua macam kekuatan panas dan dingin, Dia berhasil mempertahankan diri dari gencetan dua kekuatan luar biasa, hawa dingin yang datang dari depan mengalir kearah kanan sedangkan kekuatan panas yang bersalur dari belakang bergeser kearah kiri.

Gulungan-gulungan dua kekuatan itu masing melanjutkan usahanya.

Dan suatu ketika, dua gumpalan tenaga itu berhenti.

Su-to Yan heran, dia membuka matanya.

Ketua lembah Cui-goat-kok, si Kiu han Sin kun Ko Cio mendelikkan matanya, seolah-olah hendak meletus keluar dari tempatnya yang ada.

Su-to Yan tidak tahu, bahwa dia telah memakan dua kekuatan dari dua tokoh terkemuka dari jaman yang sudah silam.

Seperti keadaan Kiu-han-sin kun Ko Cio, keadaan Hauw thian Mokun Thian-kiam Seng tidak lebih dari lawan tandingan itu.

Maksudnya hendak menyalurkan kekuatan panas, melalui Su-to Yan membawa kekuatan si pemuda, memukul ketua lembah Cui-goat kok.

Tapi dia tidak berhasil, kekuatan itu tersedot masuk ke-dalam tubuh Su-to Yan, tentu saja mengejutkan dirinya.

Dia hendak menarik kekuatan yang sudah dilepas, tidak berhasil.

Maka siasatnya berganti, bukan bersifat menyerang lagi, sedapat mungkin, dia menarik kembali kekuatan-kekuatan tenaga yang hampir ambles kedalam tubuh sipemuda.

Terdengar suara geraman yang maha dahsyat, disaat yang sama, Kiu-han Sin kun Ko Cio dan Hauw-thian Mo-kun Thian Kiam seng menarik diri, tubuh mereka terbang melesat, meninggalkan su-to Yan, meninggalkan sebagian tenaga-tenaga kekuatan mereka kedalam tubuh sipemuda.

Su-to Yan membuka mulut, maksudnya memanggil kedua orang tua itu, dia tidak berhasil, Kiu-han Sin Ko Cio dan Hauw-thian Yo kun Thiat kiam Seng telah melenyapkan diri, Su-to Yan menjadi heran.

Tenaga dingin dari ketua lembah Cui-giok kok dan kekuatan panas dari Hauw-ghian Mo kun Thiat kiam Seng masih tertinggal pada dirinya.

bagaimana dia tidak terluka" Su-to Yan berpikir beberapa saat untuk memecahkan persoalan ini, tiba-tiba teringat kepada obat Tong-hay Sin-ciauw yang merekatkan kekuatan dirinya, merekatkan kekuatan dingin Kiu ban Sin-kun Ko Cio dan juga mengambil alih kekuatan panas Hauw thian Mo kun Thiat Kiam Seng.

Su-to Yan duduk bersila mengatur peredaran jalan darah nya.

tidak berhasil, kekuatan pribadi tergencet diantara dua kekuatan raksasa panas dingin, sebagian kanan masih sangat dingin, seolaholah dapat membekukan, dan bagian kanan panas sekali, mungkin dapat menggolakkan air sehingga diatas seratus derajat.

Su-to Yan menggeleng-gelengkan kepalan dia bangun sendiri, masih untung baginya jika kekuatan-kekuatan itu tidak merangsang kekuatan kepribadiannya.

Seekor burung raksasa terbang diatas pemuda itu, menukik turun dengan pesat, dari atas burung, lompat satu bayangan seseorang berdiri didepan Su-to- Yan dan berkata kepada-pemuda itu: "Kau yang bernama Su-to Yan?" Su-to Yan sedang dirundung rasa heran, bagaimana seorang dapat menunggang burung" memperhatikan orang tersebut dan menganggukan kepalanya.

"Aku telah bertemu dengan kedua kawanmu," Berkata lagi orang yang lompat dari atas burung." Katakan oleh mereka, jangan kau khawatir atas keselamatan kedua kawan itu, mereka telah bebas dari bahaya." Su-to Yan menjadi heran, Bagaimana orang ini tahu, bahwa dia mempunyai dua orang kawan yang turut datang didalam lembah cui Goat-kok" Dan dengan alasan apa orang ini mengatakan bahwa Sie An dan Jie Ceng Peng telah berada di suatu tempat yang aman" Sebelum Su-to Yan mengajukan pertanyaan akan keraguraguannya, orang itu sudah berkata lagi: "Jangan kau tidak percaya kepada keteranganku, Aku bernama Sam kie Ju su datang dari kepulauan Tong-hay." "Oh . . . " Su-to Yan lebih kaget tadi.

Tentu saja dia tahu, bahwa seorang yang bernama Sam kie TuSu dari daerah Tong hay mempunyai ilmu kepandaian silat yang sangat tinggi, ternyata laki-laki yang pandai menaklukkan burung yang besar ini.

Menduga kepada jago silat yang menghendaki kitab catatan ilmu pedang Maya Nada, segera Su-to Yan bertanya: "Ternyata Sam kie Ju-su dari Tong-hay yang ternama, kau datang dengan kepentingan ilmu pedang Maya Nada?" "Ha, ha, ha, ha . . . .!!" Sam kie Ju su tertawa besar, "Kau keliru!

ilmu Pedang Maya Nada memang semacam pelajaran yang hebat dan dahsyat.

Tapi bagi aku, Sam kie Ju su tidak memandang dengan sebelah mata.

jangan kau meremehkan ilmu kepandaian dari daerah Tong-hay." "Apa maksud kedatangan Cian Pwee." Sam kie Ju su tidak menjawab pertanyaan Su-to Yan, sebaliknya dia mengajukan pertanyaan lain: "Aku ingin mengetahui jawabanmu, bersediakah kau menjadi muridku?" Mendapat pertanyaan yang seperti itu, Su-to Yan sangat tercengang.

Suatu kejadian yang berada diluar dugaannya.

"Aku sudah mempunyai guru." Dia memberi keterangan.

"Bagaimana dapat berguru lagi" Sangat menyesal, aku harus menolak tawaran jasa baik cianpwee." Sam kie Ju Su tertawa, "Aku pernah bertemu dengan gurumu dan menurut katanya, kepandaian masih banyak kekurangan, apa lagi kau bertanding dengan menggunakan senjata pedang, pasti kau mengalami kekalahan, mengingat kekuranganmu dibagian kepandaian pedang, orang tua itu minta agar aku menurunkan beberapa jurus ilmu pedang yang akan menambah keangkeran dirimu.

Terus terang kukatakan, jika bukan memandang wajah terang gurumu, mana mungkin aku mau menurunkan ilmu kepandaian?" Demikian dia memberi keterangan panjang.

Su-to Yan membisu, dia tidak mengira bahwa tokoh dari daerah Tong hay ini pernah menemui gurunya.

Dapatkah dia mempercayai keterangan tadi" "Aku tahu," Berkata lagi Sam kie Ju su, "Kau meragu-ragukan ilmu kepandaianku" Nah keluarkanlah pedangmu, mari kita bertanding jangan sungkan-sungkan, aku akan memberi kepuasan kepadamu, Ketahuilah, tidak sedikit dari anak-anak muda yang menghendaki ilmu pedangku, mengingat bakat-bakat mereka yang terbatas, tidak satupun yang kukabulkan." Su-to Yan mengeluarkan pedang Lay-hong.

Sam Kie Ju-su menggunakan sebatang seruling sebagai senjata, mengingat bentuk dan ukuran saling yang mempunyai banyak persamaan dengan pedang, dia dapat menggunakan seruling itu dengan tipu-tipu jurus permainan pedang.

Sebelum bergerak, Sim-kie Ju-su memberi isyarat kepada Su-to Yan, agar sipemuda tidak menyimpan ilmu kepandaian yang ada.

Dan betul-betul Su-to Yan menyerang secara ganas, gesit dan tangkas, itulah ilmu pedang Cian-San Kiam-hoat yang didapat dari ketua partay Cian San-pay Su In Seng.

"Nah!

Kau juga berguru kepada Su In Seng?" Bertanya Sam-kie Ju-su.

Su-to Yan diam.

Sam-kie Ju-su bersilat lambat seolah-olah sedang melakukan suatu demontrasi gerakan ilmu pedang, Maksudnya hendak menundukkan si pemuda itu dan menerimanya sebagai murid.

Su-to Yan mengirim satu tusukan, itulah sejurus Seng-liat Samcay yang tajam, salah satu dari permainan ilmu pedang Cian-San "Bagaimana kau menghindari tusukan pedang ini?" Demikian Suto Yan berteriak didalam hati.

Sam-kie Ju-su mengangkat sebelah kakinya, sangat tinggi, menunggu sampai ujung pedang hampir mengenai sasaran, baru dia memutarkan lain kaki, tidak bergerak dari tempat kedudukan yang semula hanya mengegoskan diri, dia berhasil menghindari serangan pedang Su-to Yan.

"Ternyata kau dapat memainkan ilmu pedang Cian-san-pay dengan baik." berkata sijago dari Tang-hay.

"Masih kurang matang, Kau telah mencampurkan ilmu pedang ini dengan tenaga kekuatanmu yang ada, Belum sempurna betul.

Suatu hari, bila kau dapat menggabungkan semua ilmu-ilmu dan kekuatan yang ada pada dirimu, tentu kau dapat menduduki urutan tertinggi didalam rimba persilatan, tidak seorang pun yang dapat mengalahkanmu." Su-to Yan memainkan semua tipu permainan pedang yang didapatnya, menyerang Sam-kie Ju-su.

Jago Tong-hay itu bergoyang kekanan dan kekiri, sangat indah sekali, setiap waktu, dia dapat meloloskan diri dari ancaman Su-to Yan, hanya menggunakan kegesitan tubuhnya, menggunakan kecepatan matanya.

Belum pernah dia menangkis atau menggunakan seruling mengadakan serangan balasan.

Hati Su-to Yan sangat terkejut seseorang yang dapat bermain silat seperti Sam-Kie Ju-su adalah jago silat tanpa tandingan, gerakannya begitu indah, begitu cepat, tidak mudah untuk mencari kekosongan lawan itu.

Sam-kie Ju-Su selesai mendemonstrasikan ilmu kepandaian kelincahan badan, dan kini dia mulai menggunakan seruling, menyerang setiap kekosongan lawan, perlahan sekali, sehingga memberi kesempatan agar Su-to Yan dapat menghindari diri dari serangan-serangan itu.

Semakin lama semakin cepat, dan akhirnya Su-to Yan mandi Suatu saat, Sam-kie Ju-su berkata: "Perhatikan betul-betul tiga jurus ini." Dia mengulang pelajarannya yang telah dimainkan tadi, Diikuti oleh Su-to Yan dengan penuh perhatian.

Suatu saat, Sam-kie Ju-su menarik diri.

Tamatlah pelajaran yang hendak diberikan kepada Su-to Yan.

Su-to Yan sangat berterima kasih, dia menjatuhkan dirinya, berlutut sehingga empat kali.

Sam-kie Ju-Su membangunkan pemuda itu.

"Aku tahu," dia berkata, "Kau masih berat untuk mengucapkan panggilan guru, Baiklah, Aku tidak mempunyai anak, mau kau menjadi anak angkatku?" "Ayah," Sekali lagi Su to Yan menunjukkan hormatnya.

Sam-kie Ju-su menerima penghormatan dari seorang yang telah diangkat menjadi putra pungut.

Dia menyerahkan serulingnya.

"Ambilah hadiah ini, seruling Han-khek-cek giok-tiok." Kemudian jago Tong-hay itu memekik panjang, seekor burung besar melayang turun, dengan melompatkan diri, dia telah berada diatas punggung burung.

"Aku masih ada urusan." katanya, "Baik-baik kau menjaga diri." Su-to Yan mengucapkan selamat jalan kepada sang ayah angkat.

Dia meninggalkan lembah Cui goat-kok.

Post a Comment