"Garagara urusanku, kalian turut terkurung didalam perut patung terkutuk ini." "Jangan kau mengucapkan kata-kata seperti itu." Berkata Sie An, "Sudah menjadi kewajibanku untuk menolong kawan, Apa lagi belum tentu kita mati ditempat ini, belum apa-apa mengapa putus harapan?" "Su-to Kongcu," si pedang Emas juga berkata, "Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan, Kau bukan seorang pemuda yang cepat menyerah kepada kenyataan.
Kami bersedia mendampingi dirimu, itu berarti tidak takut mati." Su-to Yan berterima kasih kepada kedua orang itu.
Sie An memperhatikan Su-to Yan dan Jie Ceng Peng, sikap dia agak aneh sekali, diam-diam mengiri kepada kebahagian Su-to Yan.
Bukan seperti dirinya yang mempunyai ukuran badan pendek dan gemuk, walau berkepandaian tinggi, belum ada satu gadispun yang menaruh simpati kepada dirinya.
Mereka masih berada didalam perut patung raksasa, itu berarti belum lepas dari bahaya, Jie Ceng Peng berkata: "Masih belum ada gerakan, tentunya ada sesuatu yang menyebabkan terjadi hal ini.
Besar kemungkinan lembah Cui-goatkok tidak menginginkan kematian kita." "Betul," berkata Sie An.
"Giliranku yang-maju didepan." Dengan susah payah, akhirnya ketiga orang itu berhasil tiba dileher patung raksasa.
Tidak ada rahasia-rahasia yang mengganggu di tempat itu.
"Apa maksud mereka, mengurung kita di dalam perut patung sialan ini?" Tiba-tiba Sie-An ngedumel.
"Dimana larinya Cu-kat Hong?" Su-to Yan turut mengeluarkan keluh kesah.
Jie Ceng Peng berkata.
"Tentunya telah mendapat hukuman!" "Mengapa?" Bertanya lagi Su-to Yan.
"Cu-kat Hong menantang dirimu masuk kedalam lembah Ciu goat kok, ini melanggar larangan." "Melanggar larangan?" Sie An juga tidak paham.
Jie Ceng Peng mengerti banyak tentang keadaan lembah Cui goat kok, dia memberi keterangan: "Kokcu Cui-goat kok bernama Kim-han Sia mo Ko cio, dia mempunyai seorang musuh lihay yang bernama Hauw thian Mo-kun Thiat Kiam Seng, selama sepuluh tahun terus menerus mereka mengadu silat, tanpa ada yang menang dan kalah.
Karena itulah semua anak murid dilarang mengajak orang luar memasuki lembah Cui-goat-kok.
Maksudnya agar tidak mengganggu pertandingan silat mereka, Cu-kat Hong melanggar peraturan ini, tentu saja wajib menerima hukuman." Kokcu berarti ketua lembah.
"Kudengar lembah Cui-goat-kok banyak mengandung racun, Sedari pertama kali aku masuk ke daerah ini, belum ada tandatanda dari racun-racun jahat itu, mengapa?" Lagi-lagi Jie Ceng Peng memberi keterangan: "Barisan racun Cui-goat-kok terkenal dengan nama Cian-tok Taytin atau berarti barisan Tin Juta Racun, sangat jahat sekali, bila bukan untuk menghadapi musuh kuat, mereka tidak sembarang melepas racun-racun ini, mengingat situasi tempat yang sudah cukup menguntungkan tidak ada orang luar yang dapat masuk kemari, apalagi Kiu-han Sin-mo Ko Cio sedang bertanding, siapakah yang berani bertanggung jawab atas terjadinya sesuatu keonaran didalam lembah ?" "Kau pernah menyaksikan barisan Cian-tok Tay-tin ?" Bertanya Su-to Yan.
"Belum." berkata Jie Ceng, "Karena itulah aku hendak menyaksikan dengan mata sendiri.
Sengaja aku menggabungkan diri denganmu, Terus terang kukatakan, bahwa Cin Bwee sudah tidak berada didalam lembah ini." "Apa ?" Su-to Yan terbelalak, "Cin Bwee sudah tidak berada didalam lembah Cui-goat-kok " Dimanakah dia disimpan ?" "Dengar aku," berkata Jie Ceng Peng, "Cin Bwee telah dibawa lari oleh Cu-kat Hong, Aku tahu akan kejadian itu.
Segera aku memberi perintah kepada anak buahku, mencegat mereka, Dan Cin Bwee telah berhasil kutolong." Su-to Yan memandang gadis itu, matanya memancarkan ketidak percayaan.
"Cin Bwee sudah tidak berada didalam lembah," Dia berkata, "Mengapa, kau turut masuk kemari ?" Dengan wajah tidak berubah, Jie Ceng Peng berkata: "Belum pernah aku bertemu dengan pemuda congkak seperti kau, apakah perbedaanku dengan Cin Bwee" Dimanakah letak kelebihannya ?" Sie An memandang sepasang muda-mudi itu, "didalam perut patung raksasa yang mengandung banyak pesawat rahasia, mereka masih mempunyai kelebihan waktu itu untuk merundingkan soal asmara dan kecantikan, sungguh kelewatan!" Su-to Yan tidak menjawab pertanyaan Jie Ceng Peng.
Dan si gadis berkata lagi: "Hayo jawab pertanyaanku !
Mengapa kau bungkam didalam seribu bahasa ?" Su-to Yan menarik napas, Matanya menatap wajah Jie Ceng Peng, Pikirnya, kalau tadi dia memberi tahu kepadaku bahwa Cin Bwee sudah tidak berada didalam lembah Cui-Goat-kok.
Tentu tidak sampai terjadi kejadian ini.
Melihat pemuda itu termenung-menung, Jie Ceng Peng berkata: "Marahkah kau kepadaku ?" "Tidak." Su-to Yan menggelengkan kepala.
"Mengapa kau tidak mau bicara ?" bertanya lagi Jie Ceng Peng.
"Dimana kau menyimpan Cin Bwee ?" bertanya Su-to Yan kepada "Legakan hatimu, dia berada disuatu tempat yang sangat aman," berkata si pedang Emas.
Su-to Yan tidak mendesak, seperti apa telah diduga, si Pedang Emas Jie Ceng Peng jatuh cinta padanya, terbukti dari pertolonganpertolongan gadis tersebut kepada dirinya, diatas Sungai Tiangkang, Jie Ceng Peng pernah menyelamatkan dia, di kota Hin-yang, gadis itu menyerahkan pedang In-liong, sehingga pedang dapat disampaikan kepada le Han Eng.
Tiba-tiba...
Lamunan Su-to Yan dibangunkan oleh datangnya satu suara Bannggg" yang keras.
Sie An berhasil menjebolkan suatu pertahanan.
Mengikuti jalan baru itu, mereka tiba dilain ruangan dari isi patung raksasa.
Su-to Yan, Jie Ceng Peng dan Sie An baik lagi, mereka sampai di bagian kepala dan patung batu raksasa, bagian ini agak kecil, lebih mudah untuk mencari jalan keluar.
Dari bagian tenggorokan mereka naik kebagian lidah, bagian telinga dan bagian mata.
Hawa dirasakan menjadi sangat besar, dari bagian-bagian yang terbuka itu, angin sejuk memasuki bagian tubuh patung raksasa.
Mereka berdiri dibagian lidah patung batu, Memandang kebawah, keadaan masih gelap, sebagai manusia-manusia yang berkepandaian tinggi, Su-to Yan bertiga merayap keluar, maksudnya hendak meninggalkan patung batu aneh itu.
Mereka berteriak girang, tingginya si patung raksasa tidak akan mengganggu sebagai tiga akhli pedang yang berkepandaian tinggi, mereka merayap keluar, melewati mulut sipatung, mereka hendak turun kebawah.
Tiba-tiba....
Aaaa...
Aaaa...
Aaa...
Su-to Yan, Jie Ceng Peng dan Sie An jatuh tergelincir batu hitam itu sangat licin, tidak dapat disamakan dengan batu-batu gunung biasa, tidak ada tempat untuk meletakkan tangan, karena itulah mereka jatuh.
Su-to Yan jatuh lebih cepat, tiba-tiba dia mendapat akal, diatas Suto Yan adalah Sie An dan Jie Ceng Peng.
memusatkan perhatiannya kepada kedua orang itu dia berteriak: "Awas, kalian lompat naik ke atas lagi." Dengan satu tangan satu, Su-to Yan memegang kaki Sie An dan Jie Peng Ceng, didorongnya keras, maka kedua tubuh kawan itu naik kembali, menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka Sie An dan Jie Ceng Peng berhasil tiba dimata kanan dan kiri patung dari raksasa batu itu.
Su-to Yan berhasil menolong kedua kawannya, tapi karena adanya benturan tenaga tadi, tubuh sipemuda menurun semakin cepat, dia jatuh kebawah.
Diatas mata patung batu, Sie An dan Jie Ceng Peng mendengarkan suara jeritan, mereka sedih atas nasib Su-to Yan.
Badan Su-to Yan jatuh ke bawah patung batu raksasa, semakin lama semakin cepat, dia telah berusaha untuk menolong diri sendiri, tapi tidak berhasil, batu-batu ditempat itu sangat licin, tidak terpegang sama sekali.
Dikala hampir mengenai dasar lembah ada dua tenaga yang menyanggah tubuh Su-to Yan, Dua tenaga itu datang dari arah yang berlainan yang satu mengandung hawa kekuatan panas dan lainnya mengandung hawa kekuatan dingin, menggencet sipemuda dan demikianlah, tubuh-Su-to Yan turun mengenai tanah.
Su-to Yan nyaris dari bahaya kematian.
Tapi tidak luput dari bahaya lain, dia jatuh dan tidak sadarkan diri.
Beberapa lama kemudian...
Kuping Su-to Yan dapat menangkap suara orang yang bicara: "Hei, bocah ini mempunyai tenaga dalam yang sangat tinggi Satu suara lain berkata: "Dia berani mengganggu pertandingan kita, hayo, gencet bikin mati saja." "Jangan." Suara yang menggunakan dirinya." pertama mencegah "Kita dapat "Maksudmu?" "Kita telah bertanding sepuluh tahun dengan tanpa hasil sama sekali, Kukira sudah waktunya untuk mendapat kepastian." Su-to Yan telah membuka mata, dia terlena diantara kedua orang yang bercakap-cakap itu, yang berada dikanannya adalah seorang tua, berbaju merah dan seorang lagi mengenakan pakaian putih juga.
Dua orang tua berbaju merah dan putih adalah ketua lembah Cui-goat-kok Kiu-han Sin kun Ko Cio, orang ini yang berada disebelah kiri Su-to Yan, orang tua yang mengenakan pakaian putih.
Dan orang tua berbaju merah adalah lawan tandingannya yang bernama Hauw-thian Mo-kun Thiat Kiam seng.
Kiu han Siu kun Ko Cio dan Hauw-thian Mo-kun Thiat Kiam Seng telah meletakkan kedua tangan mereka pada tubuh Su-to Yan, Memiringkannya, dan segera didudukan, Kiu-han Sin-kun Ko Cio berada didepan Su-to Yan, maka menempelkan kedua tangan pada dadanya, Hauw-thian Mo-kun Thiat Kiam Seng berada dibelakang Su-to Yan, dia menempelkan kedua tangan digeger sipemuda.
Mengikuti percakapan kedua tokoh silat tua itu, Su-to Yan menduga kepada ketua lembah Cui-goat kok, dia mengeluarkan keringat dingin digencet oleh dua tangan raksasa, mungkinkah dia tidak menjadi gepeng " Hauw-thian Mo kua Thiat Kiam Seng berkata: "Kukira, dia bukan anak muridmu." "Memang bukan." Berkata Kiu-han Sin kun Ko Cin.
"Tenaganya terlalu kuat, dimasa kecilku tatkala berumur sebaya dengan dirinya, belum pernah memiliki tenaga dalam setinggi ini." berkata lagi Hauw-thian Mo-kun Thiat Kiam Seng.
"Tidak dapat kuduga, siapakah yang mendidiknya?"!
Berkata Kiuhan Sin-kun Ko Cio.
Dia mulai menyalurkan tenaganya.
Sangat dingin.
Disaat yang sama, Hauw-thian Mo-kun Thiat Kiam Seng menggerakan tenaga pukulan yang bernama Hauw-thian-sin-hweeciang, sifatnya panas.
Hek....
Dada Su-to Yan hampir muntah , dada bagian depan yang ditempel sepasang telapak tangan ketua lembah Cui-goat-kok mengepul asap, bukan asap panas, inilah kabut dingin, semua peredaran darahnya dirasakan mau membeku.
Bukan siksaan dingin saja yang menekan kondisi badan si pemuda, di punggungnya menempel sepasang telapak tangan berapi panas sekali, lebih panas dari gunung berapi, menggolakkan peredaran darahnya, Dua macam siksaan yang tidak sama, dua macam akibat dari kejadian itu memaksa Su-to Yan untuk mengerahkan tenaga, membuat perlawanan.
Lapisan es membekukan bagian dada Su-to Yan.