Halo!

Pedang Wucisian Chapter 31

Memuat...

"Kurang ajar." Dan tangannya memukul kearah orang tua berbaju hitam itu, dia meneruskan pertandingan yang terlantar.

Su-mo Min Kho Siong melayaninya dengan senang hati, Mereka berkutet lagi.

Suata ketika, Seng-mo Leng Kho Tiok menyelak ditengah, dia berkata: "Kalian jangan melupakan kehadiranku." Su-mo Min Kho Siong tertawa semakin riang.

"Bagus, mari kita mengadakan pertandingan segi tiga." Dan dia menyerang kepada dua orang.

Jie Han Lui menerima saran ini, sehingga terjadi saling gebrakan, bilamana Seng-mo Min Kho Siong memukul Su-mo Leng Kho Tiok.

dia menyerang si kakek baju hitam Dan bila mana Su-mo Leng Kho Tiok yang menyerang Seng-mo Min Kho Siong, dia menerjang orang tua baju putih itu.

Sepasang Manusia Jibaku dan Jie Han Liu adalah tokoh-tokoh silat golongan tua, mereka telah gatal tangan, adanya kesempatan untuk melatih diri tidak akan dibuang percuma, hal itu sangat menggirangkan mereka.

Dan kejadian berikutnya ketiga orang itu saling serang.

Su-to Yan berada dalam keadaan kondisi badan terluka, angin angin pukulan dari ketiga jago tua bukan ditujukan kepada dirinya, tapi itupun cukup untuk menyesakkan peredaran jalan napas, dia tidak sanggup mengikuti jalannya pertandingan suatu saat, dia jatuh pingsan.

Pikiran Su-to Yan kosong melompong, apapun tidak teringat lagi.

Berapa lama Su-to Yan jatuh pingsan, dia sendiri tidak tahu, dikala sipemuda sadar dari ingatannya, suasana ditempat sekitar itu sudah menjadi sangat sunyi, sepi sekali, tidak terdengar deru angin dari pertempuran tiga jago yang mengadu tenaga.

Dia membelalakan sepasang mata.

Sebelum Su-to Yan dapat mengetahui apa yang telah terjadi, sebelum dia dapat memeriksa keadaan disekeliling dirinya, terdengar satu suara yang gagah menegur: "Kau sudah ingat orang?" Seorang laki laki setengah umur berdiri didepan pemuda itu, dia mengenakan pakaian warna hijau, dengan sikapnya yang tenang memperhatikan perubahan wajah Su-to Yan.

Su-to Yan melesetkan diri, dia mundur jauh, Haaa....

tenaganya telah pulih kembali.

Aneh, bukan" Siapa yang menyembuhkan dirinya dari luka-luka yang diderita karena pukulan Seng-mo Leng Kho Tiok" Dan kemana pula Su-mo Min Kho Siong" Dimana Jie Han Yiu" Dari mana munculnya laki laki berbaju hijau" Siapa yang menyembuhkan luka dalamnya" Pertanyaan ini mengejang alam pikiran Suto Yan.

Lelaki berbaju hijau itu membuka suara.

"Obat Tong-hay Sinkauw telah berhasil merapatkan semua luka-lukamu.

Kau bebas "Cianpwee yang memberi obat Tong-hay-Sin-kauw?" Su-to Yan bertanya.

Lelaki itu menganggukkan kepala.

Su-to Yan terkejut, obat Tong-hay Sin-kauw adalah obat pusaka dari daerah Tong-hay, sifatnya mujarab, dapat merapatkan segala luka-luka parah, mungkinkah sedang berhadapan dengan salah satu dari tiga tokoh silat dari daerah itu" Cepat-cepat dia mengucapkan terima-kasihnya.

Lelaki berbaju hijau membawakan sikapnya yang congkak, dia berkata: "Tahukah kau, mengapa aku menolong diri mu" itulah atas permintaan Ie Han Eng." "le Han Eng"!" Su-to Yan tidak mengerti, ada hubungan apa tokoh silat dari golongan Tong-hay datang kemari" Bagaimana Ie Han Eng dapat berkenalan dengan tokoh-tokoh silat seperti ini " Lelaki berbaju hijau memberi keterangan yang lebih jelas: "Sepuluh tahun yang lalu, aku pernah berjanji dihadapan Ie Ceng Hauw untuk menjaga keselamatannya, dan melarang semua orang memasuki Lembah Hui-in, kecuali orang yang bersangkutan langsung dengan dirinya, dan orang itu tidak mempunyai maksudmaksud jahat.

Dan hari ini, Ie Han Eng meminta pertolonganku untuk menarik dirimu dari kalangan orang." Ie Cang Bauw adalah nama dari ayah-Ie Han Eng.

Su-to Yan, mengerti mengapa tidak seorangpun yang berani mengganggu ketenangan Ie Han Eng, ternyata ada beberapa tokoh kuat yang melindungi keselamatan gadis itu.

Lelaki berbaju hijau seperti dapat menduga isi hati Su-to Yan, dia berkata lagi: "Jangan terlalu cepat gembira, tugasku bukan untuk mengawal Ie Han Eng seumur hidup, aku berjanji didepan ayahnya, Ie Han Eng hanya boleh mengajukan tiga permintaan.

Dan lewat dari permintaan-permintaan itu, aku wajib memperistrikan dirinya." Su to Yan meludah: "Cih, kau ingin mendapatkan Ie Han Eng?" Orang itu tidak marah.

sikapnya masih tenang, seolah-olah tidak ada sesuatu yang dapat mengganggu usaha kerjanya.

"Aku tahu," Dia berkata, "Kau telah ditunangkan kepadanya, Tapi aku tidak takut kepadamu." "Aku?" Su-to-Yan berteriak.

"Aku ditunangkan kepada Ie Han Eng?" Laki-laki berbaju hijau tidak menjawab pertanyaan Su-to Yan, tubuhnya melesat, meninggalkan tempat itu.

Su-to Yan telah memakan obat Tong-hay Sin-kauw, obat mujarab yang mempunyai khasiat melengketkan luka-luka yang meletak, tenaganya telah pulih, dia melejitkan diri dan menghadang didepan laki-laki berbaju hijau, "Jangan pergi." dia menahan orang.

"Eh, ingin mengadu silat ?" orang itu membalikkan tangan, maksudnya hendak menyingkirkan tubuh Su-to Yan.

Su-to Yan berusaha mengelakkan serangan tadi.

Tapi, lagi-lagi orang itu membalikkan tangannya, menelungkup kearah pergelangan tangan Su-to Yan.

"Kenalilah ilmu kepandaian khas dari daerah Tong-hay." berkata orang itu sangat sombong, "lnilah ilmu yang bernama Siauw-hithian-hoan-chin." Su-to Yan mendapat tandingan, dengan ilmu cengkeraman maut Thian-mo-nie-hun-cauw, dia melayani cengkraman-cengkraman lawannya, "Kenalilah ilmu kepandaian dari Tionggoan." Dia tidak mau kalah suara, "lnilah ilmu Thian-mo-nie-hun-cauw." Laki-laki berbaju hijau bergebrak sampai lima jurus, dan dia mengeluarkan suara pujian: "Hebat, ilmu peninggalan jaman purbakala memang luar biasa.

Aku lebih kenal dengan cengkraman maut Thian-mo-nie-hun cauw, sayangkan hanya pandai sebagian dari ilmu ini." Su-to Yan terdesak.

Laki-laki itu adalah jago ternama dari daerah Tong-hay, mendesak lagi beberapa gebrakan, dia menarik diri dari gelanggang pertempuran.

"Bagaimana " Masih tidak mau mengakui akan keunggulan pihak Tong-hay?" Tubuhnya mumbul, melesat tinggi dan meninggalkan Su-to Yan.

Sipemuda bengong kesima.

Dia menyesalkan diri sendiri yang kurang tekun mempelajari ilmu silat, sehingga tidak dapat menundukkan jago dari luar daerah itu.

Seorang gadis berjalan perlahan, mendekati Su-to Yan.

Cepat Su-to Yan berpaling kearah gadis itu.

hampir dia berteriak, itulah sang bidadari dari lembah Hui-in Ie Han Eng.

"Kau?" Su-to Yan mulai mengerti akan permainan pertukaran pedang In-liong, itulah suatu tanda dari pertunangannya dengan gadis le Han Eng, Dan dia sedang berhadapan dengan tunangan itu.

Ie Han Eng mendekati Su-to Yan, dekat sekali, setelah itu, dengan suara yang datar, suara yang tidak membawakan kesan hidup manusia, dia berkata: "Bagaimana dengan keadaan lukamu" Sudah sembuh?" "Terima kasih." berkata Su-to Yan.

"Obat Tong-hay Sin-ciauw sungguh mujijat, aku telah sembuh." Mereka saling pandang, lama sekali.

Ie Han Eng mendapat julukan bidadari dari lembah Hui-in, suatu bukti betapa cantik gadis ini.

Bila dibandingkan dengan Jie Ceng Peng atau Cin Bwee, tentu saja dia keluar sebagai juara.

Perbedaan dari ketiga gadis adalah ciri-ciri mereka yang berbedabeda, bila Ie Han Eng sangat halus dan lemah gemulai, Jie Ceng Peng gagah perkasa, Cin Bwee manja.

Tiga macam Tipe yang tidak sama.

Su to Yan sedang membandingkan ciri-ciri dari kecantikan ketiga gadis itu.

Ie Han Eng mengeluarkan sejilid kitab, diserahkan kepada Su-to yan dan berkata: "Aku datang untuk menyerahkan ini kepadamu." "Kitab?" Su-to Yan terkejut.

"Betul, Kitab ilmu pedang Maya Nada." "ilmu pedang Maya Nada?" Su-to Yan terkejut, Dia mendapat ilmu pedang yang sedang diidam-idamkan orang" Catatan yang sedang di dambakan oleh setiap tokoh rimba persilatan" itulah suatu kenyataan, le Han Eng menyerahkan kitab catatan ilmu pedang tersebut kepada pemuda yang bersangkutan, Su-to Yan menolak cepat: "Jangan." le Han Eng berkata: "Kitab catatan ilmu pedang maya nada adalah benda yang menjadi hak milikmu.

Berhubung adanya pertunangan kita yang telah di tetapkan oleh orang tua masing-masing, maka kitab catatan ilmu Pedang ini berada didalam tanganku.

Aku tidak tahu bahwa kau tidak setuju dengan janji-janji itu, maka tidak menyerahkan kitab pusaka milikmu.

Kini aku tahu, kau tidak membutuhkan aku, maka kitab ini harus kukembalikan kepadamu, Terimalah." Melempar kitab catatan ilmu pedang Maya Nada kedalam pangkuan Su-to Yan, le Han Eng membalikkan badan dan pergi lagi.

Su-to Yan berteriak: "Tunggu!

jangan kau pergi!" le Han Eng tidak menghentikan langkahnya, juga tidak menengok kebelakang, tanpa membalik, dia berkata: "Bila kau ada maksud untuk memperbaiki hubungan kita, bagaimana kau menempatkan kedudukan Cin Bwee?" "Aaa..." Su-to Yan terkejut, Dia melamun ditempat.

Lupa mengejar le Han Eng.

Suatu kejadian yang membingungkan dirinya, bagaimana le Han Eng tahu, bahwa dia mempunyai hubungan baik dengan seorang gadis yang bernama Cin Bwee" siapakah yang memberitahu kejadian itu kepada Ie Han Eng" Dan Ie Han Eng menyekap diri didalam lembah Hui-in, dengan alasan apa, sigadis tersebut menyusul dirinya" Mengapa mengembalikan kitab catatan ilmu pedang Maya Nada" Mengapa cepat-cepat naik darah, tanpa menunggu keterangannya" Dia bingung memikirkan hubungan mereka, mana diketahui, bahwa dia telah ditunangkan kepada Ie Han Eng" Hubungan baiknya dengan Cin Bwee telah berekor panjang, karena urusannyalah, gadis itu tersangkut didalam lembah Cui-goatkok, maka dia wajib menolongnya.

Teringat akan lembah Cui-goat-kok, Su-to Yan harus segera menolong Cin Bwee.

Adanya sigadis didalam tangan Cu-kat Hong adalah suatu kejadian yang tidak menguntungkan dirinya.

Segera Su-to Yan melanjutkan perjalanan.

Singkatnya cerita, dia sudah ada diperbatasan lembah cui-goatkok.

Menjelang malam hari, keadaan disekitar lembah cui goat kok sangat gelap, racun-racun bertebaran disekitar tempat itu, sungguh berbahaya bagi mereka yang tidak paham seluk beluk tempat tersebut.

Su-to Yan memperhatikan disekitar lembah itu, untuk menghindari racun-racun yang terpasang disepanjang jalan masuk, dia mengitar ke-lain bagian, tempat ini sangat tinggi, adalah tebing curam, Memandang tinggi tebing, Su-to Yan bergumam.

"Aku harus berusaha mendaki tebing ini." Dengan ilmu cek-khoe Leng in, dia merayap naik keatas tebing, Dari sana, memperhatikan letak yang tepat, Su-to Yan merayap turun kembali.

Post a Comment