Halo!

Pedang Wucisian Chapter 25

Memuat...

kampak kampak tipis, dan Sie An menjatuhkan dua dari sisanya.

Serangan-serangan kampak terbang digagalkan!

Didepan Su-to Yan telah muncul beberapa orang, dikanan KongSun Giok dan dikiri Auw-yang le, di belakang mereka berbaris beberapa orang anak buahnya.

Untuk menghadapi Su-to Yan, kedua akhli pedang itu menggabung kan diri.

Kehadiran mereka sudah berada di dalam perhitungan Su-to Yan dan Sie An, mereka telah siap-siap untuk menghadapi musuh, tentu saja tidak begitu kaget.

Pendekar pedang Utara Auw-yang le mengeluarkan suaranya yang tidak sedap: "Ha, ha, semua akhli pedang telah berkumpul menjadi satu." Kong-sun Giok mempunyai perangai yang lebih tajam dari Auwyang le, dia berhadapan dengan Su-to Yan.

"Bagaimana saudara Su-to, kau sudah berhasil menjumpai le Han Eng?" Demikian ia mengajukan pertanyaan.

Matanya masih berkilat-kilat memandang pedang Lay-hong yang tergantung dipinggang Su-to Yan.

Bentuk dan ukuran pedang sepasang pedang kembar In-liong dan Lay-hong tidak mempunyai perbedaan, Kong-sun Giok menyangka bahwa itu adalah pedang Inliong, maka dia telah mengajukan pertanyaan seperti tersebut.

Su-to Yan meninggalkan kerlingan matanya, dia berkata: "Pentingkah kejadian itu bagimu" Ada hubungan apa dengan saudara Kong-sun ?" "Penting sekali." Berkata Kong-sun Giok "Sebagai bengcu untuk daerah Kang-lam, aku wajib mengetahui semua kejadian yang terjadi didaerah kekuasaanku, bukan ?" "Suatu hal yang mungkin menjengkelkan kalian." Berkata Su-to Yan.

"Pedang In-liong telah kuserahkan kepada yang berkepentingan." "Pedang itu?" tunjuk Kong-sun Giok pada pedang Su-to Yan.

"Ini yang nona Ie Han Eng hadiahkan kepadaku." "He, betul-betul telah kau serahkan pedang In-liong kepada Ie Han Eng?" Auw-yang le turut berteriak.

"tidak salah." "Bagus." Berkata Kong-sun Giok, "Ie Siauw Hu pernah berjanji, tidak akan mengajarkan pada siapapun ilmu pedang Maya Nada, juga tidak menurunkan ilmu pedang tersebut kepada semua anak turunannya.

Tentunya, ilmu pedang tersebut telah jatuh kedalam tanganmu, bukan ?" "Aku tidak tahu menahu dengan ilmu pedang Maya Nada," berkata Su-to Yan.

"Jangan memutar balikkan takta." Berkata Kong-sun Giok, "Apa tugasmu menjelajahi lembah Hui-in, bila bukan untuk mendapatkan ilmu pedang Maya Nada?" "Aku mendapat tugas dari guruku untuk menyerahkan pedang In-liong kepada nona le Han Eng didalam lembah Hui-in, kecuali itu, tidak ada pesan lain.

Belum pernah guruku menyebut nama ilmu pedang Maya Nada, jangan kau memaksakan orang." "Ha, ha...

Kau takut kami mengeroyokmu?" Su-to Yan mendelikkan mata.

"Siapa yang takut kepada kalian?" Dia membentak.

Kong-sun Giok berkata lagi: "Takut kehilangan ilmu pedang itu" Berani kau menyangkal ?" Su-to Yan menepuk dada, dia berkata: "Aku Su-to Yan bersedia menerima tantangan setiap orang yang hendak mencari gara-gara, termasuk juga kalian berdua, jangan membuat cerita burung.

Siapa yang lebih dahulu hendak memberi pelajaran kepadaku ?" Kong-sun Giok tertawa berkakakan, "Su-to Yan," Dia menudingkan tangan.

"Lupakah akan kejadian disungai Tiang-kang" masih berani menantang !" Su-to Yan tidak menjadi marah, dengan tenang dia berkata: "Kejadian itu telah berlangsung lebih dari satu bulan, mungkinkah tidak ada perubahan?" Kongsun Giok sangat marah.

"Bagus." Dia menggeram, "Tentunya kau telah mendapat kemajuan, hendak mengulangi tantangan?" "Mengapa tidak boleh?" "Bagus, Hari ini kau boleh mengulang ketajaman pedangku, kau, Su-to Yan, tidak akan keluar dari daerah Bu-san." Pendekar pedang Bayangan Sie An mendenguskan suaranya yang sangat memandang rendah, dengan suara dingin dia berkata: "Kau mempunyai kepandaian itu?" "Ha, ha, kau kira Kong-sun Giok tidak dapat membunuhnya?" si Pedang Selatan sudah sesumbar.

Su-to Yan masih berada dalam situasi tenang, tidak marah atas cemoohan itu.

Sie An telah menyaksikan ilmu kepandaian sang kawan, bila Kong-sun Giok berani mengulangi pertandingan, jago pedang itu akan menderita kerugian dibawah tangan Su-to Yan, penyakit yang dicari sendiri, seolah-olah ular yang mengikuti penggebuk, mana mungkin Kong-sun Giok dapat menandingi Su-to Yan yang gagah perkasa " "Boleh dicoba dahulu, bukan?" Kemarahan Kongsun Giok tidak tertahan.

"Sreeet..." dia mengeluarkan pedangnya.

Pendekar Pedang Selatan Kong Sun Giok jarang menemukan tandingan, apalagi tandingan yang dapat mengalahkan dirinya.

Kong sun Giok berkata: "Su to Yan cabut keluar pedangmu." Su-to Yan mengeluarkan suara dari hidung: "Kong-sun Giok, jangan terkebur, Kau kira harus mempergunakan pedang, baru dapat mengalahkan dirimu?" "Bagus." Berkata Kong-sun Giok, "Terimalah seranganku." Kata tadi disertai dengan serangannya, dia menusuk kearah pundak kanan Su-to Yan.

Sangat cepat dan tajam.

Su-to Yan harus segera tiba dilembah Cui goat-kok, tidak mau terlalu lama melibatkan diri didalam pertempuran itu, tangannya terangkat naik, dengan kelima jarinya, dia mementil pergi datangnya ujung pedang lawan.

Melihat keberanian musuh itu, Kong-sun Giok semakin marah, pedang dimainkan demikian rupa sehingga sekaligus mengancam semua jari-jari yang hendak menyentil pedang itu.

Su to Yan menarik diri, tentu saja, dia mundur tanpa membelakangi musuhnya.

Kong-sun Giok Menyusul larinya musuh itu, pedang masih digerakkan, dengan tipu Ceng hong Kwa-cay atau Biang lalat hijau melintang dilangit, membuntuti setiap gerakan Su-to Yan, Tujuan utama adalah memapas belah pundak lawannya.

Su-to Yan tertawa, yang ditakuti adalah ujung pedang tajam, kini Kong-sun Giok menyerang cepat, Menekuk sedikit perutnya, Su-to Yan melepaskan diri dari ancaman pedang itu, kemudian dia berjungkir balik, dan tubuhnya sudah berada diatas udara, bebas dari kekuasaan pedang lawannya, bagai seekor alap-alap yang menerkam mangsanya, dia menukik kebawah.

Pundak Kong-sun Giok terluka, baju di bagian itu pecah beterbangan.

Dikala Su-to Yan melepaskan diri dari kurungan pedang KongSun Giok, Auw-yang Ie mengeluarkan pedang, maksudnya hendak menolong Kong-Sun Giok, pedang itu ditusukkan ke arah Su-to Yan.

Su-to Yan dapat membunuh mati Kong Sun Giok, tapi dia tak mau, hanya melukai pundaknya, dan berjumpalitan sekali lagi, dia menghindari diri dari serangannya Auw-yang Ie.

Sie An turut maju, memukul Auwyang Ie.

Hanya dua gebrakan, merekapun terpisah kembali.

Su-to Yan menyapu kearah semua orang, sinar mata itu sangat tajam.

Kong-sun Giok harus menerima kekalahan, dia dikalahkan oleh Su-to Yan, dengan wajah muram dia berkata: "Selama belasan tahun aku berkelana di dalam rimba persilatan,belum pernah menderita kekalahan seperti apa yang hari ini kuderita, Dan mungkin, bila aku kalah dibawah tangan jago ternama, kau tidak akan menyesal, Yang disayangkan aku jatuh dibawah tanganmu." "Pletak..." Dengan mematahkan pedang.

menggunakan tenaga dalamnya, dia Memandang Su-to Yan yang sangat dibenci, dia berkata lagi: "Su-to Yan, walau kau melupakan kejadian ini, Aku Kong-sun Giok tidak akan melupakannya, pada suatu hari, aku akan datang kembali menuntut balas atas kekalahan yang telah kuderita." Demikian Kong-sun Giok menutup perkataannya, kemudian dia memutar badan dan pergi meninggalkan tempat itu, tanpa mengucapkan selamat berpisah dengan Auw-yang Ie.

Su-to Yan tidak melarang kepergian orang, mengingat dia ada maksud untuk meredakan situasi panas dengan segala golongan, termasuk anak buah si Pedang Selatan Kong-sun Giok.

Bukan maksud Su-to Yan untuk menanam bibit permusuhan, dia menempur orang untuk memberi bukti kepada orang bersangkutan tidak boleh menghina setiap insan hidup, walau tidak mempunyai Auw-yang te tidak mempunyai ilmu silat yang lebih tinggi dari Kong-sun Giok, setelah Kong-Sun Giok kalah, dia harus mengikuti jejak akhli pedang itu, memberi hormat kepada Su-to Yan seraya berkata.

"Kulihat ilmu kepandaianmu terlalu tinggi, akupun bukan tandinganmu.

Selamat tinggal sampai berjumpa dilain hari." Mengajak orang-orangnya, Auw-yang Ie-melenyapkan diri.

Su-to Yan bengong menyaksikan kepergian orang-orang itu.

"Hei," Sie An menegur kawannya.

"Apa yang sedang kau pikiranku" Mengapa melamun seperti seorang yang kehilangan sukma?" "Aku sedang memikirkan mereka." berkata Su-to Yan memberi jawaban.

"Biar saja mereka pergi, Mari kita meneruskan perjalanan!" berkata Sie An.

Mereka meninggalkan lembah Hui-in, keluar dari daerah Bu san.

Suatu ketika, mata Sie An terbelalak, dia mengawasi puncak gunung ketiga, dibawah cahaya sinar bulan purnama, disana terlihat asap mengepul tinggi, entah apa yang telah terjadi ditempat itu.

"Saudara Su-to," Dia memberi tahu kejadian itu kepada kawannya, "Lihat, kenalkah kepada asap itu ?" Su-to Yan berpaling kearah yang ditunjuk oleh kawannya.

"Entahlah." Dia menggelengkan kepala, "Pernah dengar nama Debu Merah Cian-cang-ang-tin ?" Sie An memberi keterangan.

"Kukira inilah yang diartikan dengan debu merah itu." Debu Merah Thian-cang-ang-tin adalah tanda-tanda dari partay Thian-san-pay.

Kepada musuh mereka diberi keputusan untuk menyingkirkan diri, sebelum bergebrak, bila musuh dapat menjauhkan diri sampai sepuluh lie, maka semua dendam Su-to Yan sedang berpikir-pikir, apa maksud kunjungan partay Thian-san-pay" Mungkinkah berjuang merebut kitab ilmu pedang Maya Nada " Suatu kejadian yang sangat lucu, dia tak tahu menahu akan adanya ilmu pedang itu, tapi semua orang mengatakan bahwa ilmu pedang tersebut berada pada dirinya, mereka ingin merebut ilmu pedang yang maha dahsyat tersebut.

Yang pasti, ilmu pedang Maya Nada berada didalam tangan si Bidadari dari lembah Hui-in Ie Han Eng.

Dan ilmu pedang itu tidak diberikan kepada dirinya.

Dia tidak mempunyai hak untuk meminta ilmu tersebut, juga tidak ada niatan untuk mengangkanginya.

Mengikuti datangnya gumpalan asap merah, disana telah berlari datang dua bayangan, mereka terdiri dari lelaki yang mempunyai ukuran badan sangat tegap dan kekar, berpakaian serba merah, memandang Su-to Yan dan Sie An, mereka berkata: "Yang mana bernama Su-to Yan ?" Pemuda kita melambungkan dadanya.

"Ada apa?" Dia tidak menyangkal dari kenyataan.

"Saudara Su-to Yan?" Bertanya lagi kedua orang berbaju merah meminta kepastian.

"Betul." Berkata Su-to Yan menganggukkan kepalanya.

"Ketua partay kami mengundang saudara ketempat kami." Berkata kedua orang itu.

"Dimanakah ketua partay kalian ?" "Mari ikut kami." Kedua orang berbaju merah membalikkan badan mereka meninggalkan tamu yang diundang begitu saja.

Su-to Yan dan Sie An saling pandang, Sie An menganggukkan kepala, suatu tanda bersedia untuk menerima undangan itu, dan "Mereka mengundang aku, kukira ada baiknya kau menunggu disini." "Boleh juga." Sie An tidak keberatan.

Post a Comment