Halo!

Pedang Wucisian Chapter 24

Memuat...

Bukan saja orang tua itu yang kaget, Sie An turut terkejut, ternyata kawan yang didampingi olehnya selama beberapa hari itu adalah anak dari keluarga Su to Pek Eng, seorang tokoh akhli pedang yang pernah menguasai rimba persilatan pada 40 tahun Orang tua itu memandang tamunya untuk sekian lama, kemudian dia berkata : "tidak kusangka, hari ini dapat menjumpai keluarga dari turunan Su-to tayhiap, silahkan masuk, Nona Ie Han Eng berada diatas tebing Ciat-seng-gay." Su to Yan menganggukkan kepala, langkahnya diayun lagi, menuju ke dalam lembah.

Sie An tidak leluasa untuk mengikuti jejak kawan itu, ia berkata: "Saudara Su-to, aku menunggu ditempat ini." Su-to Yan memandang kawan itu, dia berpikir sebentar dan akhirnya menyetujui putusan kawan itu.

"Baiklah, Setelah menyerahkan pedang-In-liong, segera aku keluar lagi." Dan Su-to Yan meneruskan perjalanan seorang diri.

Untuk tiba diatas tebing Ciat-Seng-gay tidak terlalu sulit, memasuki daerah lembah Hui-in, terdapat papan-papan petunjuk jalan yang menyebut nama-nama tempat disekitar tempat itu, Su to Yan mengambil jalan yang menuju kearah tebing Ciat seng gay, bila ada persimpangan jalan, selalu terpasang papan yang bertulisan Ciat seng gay.

Seorang gadis berbaju hitam sedang membelakangi jalan naik kearah tempat ini, dia memandang belasan pohon Siong yang menjulang tinggi, dibawah pohon pohon itu terdapat beberapa meja dan bangku yang terbuat dari pada batu, tersorot sinar rembulan, pemandangan diatas tebing agak menjernihkan pikiran.

Dikala Su-to Yan tiba diatas tebing itu, sang gadis membalikkan badannya, mereka saling pandang.

Su-to Yan maklum bahwa dirinya berhadapan dengan Ie Han Eng, cepat-cepat ia memberi hormat.

"Su-to Yan menyampaikan salam kepada nona." Dia berkata.

Gadis berbaju hitam adalah Ie Han Eng, dia menatap pemuda di hadapannya.

"Saudara bernama Su-to Yan" Bermaksud apakah datang ke tempat ini?" "Su-to Yan datang untuk menempati janji pada 40 tahun yang lalu, menyerahkan pedang In-liong kepada nona." Berkata Su to Yan, dia melepaskan pedang In liong dan diserahkan kepada gadis yang berhak menerimanya.

Ie Han Eng tidak segera menyambut pedang itu, dia menatap pemuda dihadapannya, Dengan sinar matanya yang tajam, dibawah sinar rembulan semakin menonjolkan kecantikannya, wajahnya bercahaya, membuat Su-to Yan sangat kesima.

Betul-betul membuktikan bahwa Su-to Yan tidak mempunyai maksud jahat, dia berkata: "Bagaimana kau dapat membuktikan, bahwa pedang In-liong betul-betul menjadi hak milikmu?" Su-to Yan tertawa, tubuhnya mundur dua tapak, dengan tangan kiri, dia memegang sarung pedang, tangan kanannya yang merekam gagang menarik keluar pedang Pusaka, Cepat sekali dia memainkan dua gerakan tipu pedang, itulah jurus yang terdapat dari tipu Hauw-tong Pat-kiam atau berarti menyapu delapan penjuru, tipu lihay dari ilmu pedang kakeknya.

Su-to Yan terkenal sebagai raja pedang, dan jurus itu dapat membuktikan bahwa pedang bukan didapat dari lain orang, Dia telah mewarisi pedang, juga mewarisi ilmu pedang, Dia telah membuktikan bahwa dirinya ada turunan keluarga Su-to.

Memperhatikan permainan pedang sipemuda, Ie Han Eng mengasah otak, akhirnya dia menganggukkan kepala.

Su-to Yan sudah menyarungkan pedang In-liong, diserahkan le Han Eng menerima pedang itu.

Dengan suaranya yang sangat merdu, dia berkata : "Terima kasih." Su-to Yan telah selesai menunaikan tugasnya, dia sedang berhadapan dengan seorang gadis yang terlalu cantik, siapakah yang tidak kenal kepada bidadari dari lembah Hui-in" Kecantikan dan keluwesan le Han Eng telah menimbulkan rasa cemburu semua orang, termasuk Jie Ceng Peng dan Cin Bwee.

Terlalu lama di tempat itu berarti mempunyai kesempatan yang lebih banyak untuk memelihara benih kasih sayang, besar kemungkinan berakhir dengan suatu kisah cinta.

Segera Su-to Yan meminta diri.

"Pedang In-liong telah kuserahkan.

Mengingat banyak orang yang menghendaki pedang tersebut, kuanjurkan nona berhati-hati menjaganya." Berkata Su-to Yan, "sampai disini pertemuan kita, aku hendak kembali." Kata-kata Su-to Yan yang berada diluar dugaan le Han Eng, dia mengajukan pertanyaan: "Mengapa kau terburu-buru ?" Sinar mata le Han Eng memancakan cahaya bening, Su-to Yan tidak berani menantang sinar cahaya mata itu, dengan menundukkan kepala, sipemuda memberikan jawaban.

"Ada seorang kawan telah diculik oleh orang-orang lembah Cuigoat-kok, aku harus segera memberikan pertolongan kepadanya." Su-to Yan tidak menyebut nama Cin Bwee, le Han Eng berkata: "Ada sesuatu yang hendak kuberikan sebagai tanda mata, bersediakah kau turut untuk mengambilnya ?" Su-to Yan berkerut kening sebentar, dan tidak menolak tawaran seorang gadis cantik yang seperti le Han Eng, dia menganggukkan kepalanya.

Sang gurupun pernah meninggalkan pesan, dia diwajibkan menerima sesuatu yang akan diserahkan oleh gadis itu.

Mendapat kesedian sipemuda yang tidak keberatan untuk menerima hadiahnya, Ie Han Eng meninggalkan tebing Ciat-senggay.

Su-to Yan mengikuti dibelakang gadis itu.

Disepanjang jalan, mereka tidak mengadakan percakapan lagi.

Dibawah sinar bulan purnama, pemandangan lembah Hui-in ada sangat indah, pohon pohon siong yang tinggi berbaris dikedua sisi, cukup menarik dan menawan hati.

Langkah le Han Eng yang lemah gemulai menuruni tanggatangga batu, tubuhnya begitu langsing, cukup padat dan berisi, menambah keserasian pemandangan malam itu.

Pikiran Su-to Yan jauh terbang kemasa-masa yang akan mendatang, dia senang kepada keindahan ditempat itu, timbul suatu niatannya untuk mencari suatu tempat melewatkan hari tua, seperti keadaan Ie Han Eng, bila dia mendapatkan suatu tempat yang bagus, suatu tempat yang aman, alangkah senangnya hidup tanpa gangguan orang" Hidup tentram disuatu daerah pegunungan yang indah " Apa lagi didampingi oleh seorang gadis yang lemah gemulai seperti . . . .

Su-to Yan menutup lamunannya itu, dia tidak berani berpikir lebih jauh.

Mereka telah tiba dirumah kayu, le Han Eng menyilahkan si pemuda memasuki rumah itu.

Su-to Yan menduga rumah itu tempat kediaman sigadis, ternyata dugaannya salah, perabot didalam rumah sangat sederhana, hanya sebuah tempat tidur dan sebuah kursi meja kayu.

Ie Han Eng meletakkan pedang In-liong diatas meja, kemudian menuju ketempat pembaringan, dari balik kain penutup tempat tidur itu, dia mengeluarkan sebilah pedang, bentuk dan ukurannya sama dengan pedang In-liong, pedang ini diserahkan pada Su-to Yan dan "Ayahku memberi pesan untuk menyerahkan pedang ini kepada Su-to kongcu, terimalah sebagai hadiah." Su-to Yan tertegun sebentar, walaupun demikian, dia menerima juga hadiah pemberian itu.

"Terima kasih." Dan sipemuda memeriksa pedang yang dihadiahkan kepada dirinya.

Kecuali bentuk dan ukuran pedang yang sangat mirip dengan pedang In liong, ukiran kata di gagang pedang dengan huruf-huruf yang indah juga diciptakan oleh satu tangan, ukiran tersebut berbunyi Lay-Hong.

Ie Han Eng menghadiahkan pedang Lay-Hong kepada pemuda itu.

Su-to Yan sudah selesai memeriksa pedang, yang dihadiahkan kepada dirinya, itulah pedang kembar untuk pedang In-liong.

Pasangan pedang In-liong dan Lay-hong tercipta sebagai pedang kembar, tentunya ada sesuatu rahasia yang tersembunyi di balik kembaran sepasang pedang ini, apakah rahasia dari pedang tersebut" Su-to Yan menyorenkan pedang Lay-hong di pinggangnya, dia sedang berpikir: Dengan maksud dan tujuan apa Sang guru memberi tugas kepada dirinya untuk menyerahkan pedang In-liong kepada Ie Han Eng" Tugas telah selesai dan hadiah si gadis juga telah di terima, sekali lagi Su-to Yan mengucapkan selamat berpisah: "Aku meminta diri." Ie Han Eng menganggukkan kepala.

"Tentunya kau masih menguatirkan keselamatan kawanmu yang tertahan di dalam lembah Cui-go.it-kok bukan?" Dia berkata: Su-to Yan memberi keterangan: "Dia terseret ke dalam pertikaian ini karena urusanku, sudah menjadi suatu kewajiban untuk menolong kawan dari kesusahan, apalagi mengingat kawan tersebut menderita karena urusan kita, Patutlah rasanya untuk mendapat perhatian khusus." "Berhati-hatilah kepada racun jahat lembah Cui-goat-kok." le Han Eng berpesan, "Bila ada waktu luang, boleh sering-sering datang lagi kesini." Su-to Yan memberikan janjinya dan lalu berpisah.

tidak menceritakan le Han Eng di dalam lembah Hui-In, marilah kita menceritakan perjalanan Su-to Yan.

Pemuda itu telah berada di mulut lembah Hui-In, dimana masih menunggu orang tua penjaga lembah dan Sie An.

Mereka menyambut munculnya Su-to Yan.

"Su-to kongcu tidak hendak bermalam di tempat ini?" "Terima kasih, Aku hendak mengurus perkara lain." Su-to Yan mengerutkan alisnya, mana mungkin bermalam di tempat bersemayam nya seorang gadis.

"Bila Su-to kongcu kembali lagi?" Orang tua itu bertanya lagi.

Su-to Yan tertegun, Ucapan le Han Eng yang memperbolehkan dirinya datang ke lembah Hui-in di anggap sebagai ucapan biasa dan kini orang tua inipun mengucapkan kata-kata yang sama, entah apa yang diharapkan oleh mereka.

"Bila ada waktu, aku akan datang lagi." Berkata Suto Yan.

"Kami harapkan kongcu cepat kembali," berkata orang tua itu.

Su-to Yan mengajak Sie An meninggalkan lembah Hui-in, Di tengah jalan, Sie An menarik tangan pemuda itu dan berkata padanya: "tidak kusangka bahwa kau adalah akhli waris seorang raja pedang, pantas berkepandaian sangat tinggi, Kalian keluarga Su-to Yan dan keluarga le adalah turunan pendekar besar, mengapa tidak pernah bercerita?" Su-to Yan tidak menjawab pujian kawan tersebut.

"Hei," Sie An berkata lagi.

"Bagaimana kecantikan le Han Eng" siapakah yang lebih cantik, bila dibandingkan dengan Cin Bwei atau Jie Ceng Peng?" Su-to Yan berkata: "Belum pernah aku melihat ada gadis secantik le Han Eng." "Ha, ha, ha . . . ." Sie An tertawa, "Jangan-jangan kau terpikat oleh kecantikannya He,....

Bagaimana dengan Cin Bwee" Kau harus maklum kepada sifat tabiat kawan wanitamu itu, dia besar cemburu, bila tidak baik-baik mengenal dirinya, besar kemungkinan timbul perang piring mangkuk." "Jangan kau pikir yang bukan-bukan, kau kira aku Su-to Yan orang apa?" Mereka telah meninggalkan lembah Hui-in, mengarungi puncak puncak di pegunungan Bu-san.

Tiba-tiba terlihat pedang yang tergembol di pinggang Su-to Yan, dengan heran Sie An mengajukan pertanyaan: "Eh, kau bilang menyerahkan pedang In-liong?" Su-to Yan tertawa, dia memberi keterangan: "Jangan salah paham, yang ini bukan pedang In-liong." Mereka sedang melalui suatu jalan yang menanjak, sebelum Suto Yan memberi keterangan yang lebih jelas, tiba tiba delapan bilah kampak tipis telah beterbangan, mengancam Su-to Yan dan Sie An.

Kampak-kampak itu adalah ciri ciri dari 12 anak buah Auw-yang le yang paling diagulkan, adanya senjata kampak kampak tipis itu adalah hasil buah tangan dari para Setan Kampak.

Post a Comment