Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 151

Memuat...

harap.

Si nona, atau kiongcu, puteri raja, tidak menyahuti tegas, ia hanya jatuhkan diri di atas pembaringan.

"Apakah perlu membakar dupa?" satu dayang tanya pula.

Kembali puteri itu perdengarkan jawaban tak nyata. "Ehm. " Terdengarnya.

Selang tidak lama, Sin Cie dapat cium bau dupa yang wangi-halus, hingga tanpa merasa, ia jadi lesu dan ingin tidur....

"Bawa kemari akupunya pit dan gambar, habis kamu semua pergi keluar," kemudian berkata si puteri raja. (Pit adalah alat menulis.)

Sin Cie terperanjat.

"Satu suara yang aku kenal baik...." pikirnya. Berbareng ia pun sibuk. Kalau puteri ini melukis gambar, pasti dia akan ambil banyak tempo. Bagaimana dapat ia berdiam lama-lama di dalam kamar ini?

Dayang-dayang telah lantas siapkan perabot-tulis dan alat melukis lainnya, setelah itu, semuanya segera undurkan diri.

Kamar menjadi sunyi pula, cuma kadang-kadang saja terdengar suara meretak di dalam pendupaan, dari kayu cendana yang terbakar.

Tidak berani Sin Cie berkutik.

Tidak lama terdengarlah elahan napas dari si puteri, yang terus menyanyikan sebuah syair dengan pelahan: "Musim semi dari berlaksa lie membawa tetamu datang Bunga dari sepuluh tahun membuat si cantik menjadi tua

Tahun yang lampau di masa bunga mekar, aku jatuh sakit

Tapi tahun ini, menghadapi sang bunga, masih terlalu pagi."

Itulah suara halus dan merdu akan tetapi sifatnya sedih.

Sin Cie heran. Kenapa satu puteri raja mesti berduka? Ia pun heran, mengapa suara itu seperti ia kenal baik. Sementara itu, ia merasa lucu untuk kedudukannya ini.

"Aku ada seorang kangouw, kecuali kali ini, belum pernah aku datang ke kota raja, maka dimana pernah aku bertemu sama puteri raja seperti dia ini? Tidak, aku tidak kenal dia..... Dia mungkin mirip dengan salah satu kenalanku. "

Si puteri telah bertindak ke dekat meja, lantas terdengar suara ia menggerak-geraki alat tulisnya, rupanya ia sudah mulai melukis.

Sin Cie menantikan dengan pikiran terbenam. Itu waktu, pintu telah ditutup dan daun jendela pun sudah dirapatkan. Tanpa menggunai kekerasan, tak dapat ia keluar dari kamar ini....

Sang puteri masih terus melukis, sampai terdengar ia lempangkan pinggangnya, mungkin ia merasa letih.

"Lagi dua-tiga hari, gambar ini akan selesai," kata dia seorang diri. "Setiap hari aku memikirkanmu, apakah kau juga setiap saat mengingat-ingat aku?" Ia berbangkit, ia pindahkan gambarnya ke kursi, lalu kursi itu dipindahkan ke depan pembaringan.

"Kau diam di sini, untuk temani aku. " katanya pula.

Kemudian ia buka baju luarnya, untuk naik ke pembaringan.

Keheranan Sin Cie bertambah-tambah. Siapa itu yang dilukis puteri ini, yang dibuat ingat-ingatan?

Tak dapat pemuda ini menguasai dirinya, ia geraki kepalanya, untuk memandang ke depan pembaringan, ke arah kursi, guna lihat gambar buatannya si puteri. Apabila ia telah lihat gambar itu, keheranannya memuncak, hingga ia terperanjat.

Itulah gambarnya Wan Sin Cie! Gambar itu sudah berpeta jelas walaupun katanya belum sempurna. Di situ ia terlukiskan sedang bersenyum riang-gembira.

Inilah tidak disangka si anak muda, tanpa merasa, ia perdengarkan suara herannya: "Ah!. "

Kuping si puteri terang luar biasa, ia dapat dengar suara sangat pelahan, tangannya mencabut tusuk konde, tanpa memutar tubuh lagi, tangannya itu dikasi melayang!

Sin Cie terkejut, menyusul suara angin menyambar, ia angkat tangannya, akan tanggapi tusuk konde itu.

Menyusul serangannya itu, si puteri telah putar tubuhnya, maka sekarang kedua orang jadi saling mengawasi, dengan kesudahannya dua-duanya tergugu melongo! Sebab segera mereka saling mengenali.

Sin Cie kenali A Kiu, muridnya Thia Ceng Tiok. Memangnya ia curigai nona itu, yang dilindungi oleh siewie, ia menduga kepada seorang tak sembarangan, ia hanya tidak sangka, si nona adalah satu puteri raja. Muka A Kiu pucat, lalu bersemu merah.

"Wan Siangkong, mengapa kau ada di sini?" akhirnya dia tanya. Dengan cepat ia dapat tenteramkan diri.

Sin Cie lantas memberi hormat.

"Siaujin bersalah," ia mengakui. "Dengan lancang aku telah menerobos masuk ke dalam kamar kiongcu ini. "

Mukanya A Kiu bersemu merah. "Silakan duduk," ia mengundang.

Puteri ini sadar yang baju luarnya telah dilolosi, dengan sebat ia sambar itu, untuk dipakai.

Di pintu lantas terdengar ketokan pintu yang pelahan. "Thian-hee memanggil?" tanya satu dayang.

"Tidak, aku lagi baca buku!" sahut sang puteri dengan cepat. "Pergilah kamu tidur, tidak usah kamu menunggui di sini."

"Baik, thianhee. Silakan thianhee beristirahat siang- siang."

A Kiu tidak jawab dayangnya itu, ia goyangi tangan kepada Sin Cie, lantas ia tertawa dengan pelahan. Tapi, kapan ia menoleh ke arah gambar lukisan, mukanya menjadi merah, ia jengah sendirinya. Lekas-lekas ia geser kursi itu ke pinggir.

Kemudian, keduanya kembali berdiri berhadapan dengan diam saja.

"Apakah kau kenal orang-orang Ngo Tok Kau?" akhirnya Sin Cie tanya.

A Kiu manggut. "Co King-kong bilang Lie Giam telah kirim banyak pembunuh ke kota raja, untuk mengacau," jawabnya, "maka itu Co Kong-kong undang serombongan orang gagah masuk ke keraton, untuk melindungi Sri Baginda. Katanya kaucu Ho Tiat Chiu dari Ngo Tok Kau liehay sekali."

"Gurumu, Thia Lo-hoocu, telah dilukai mereka, apakah thianhee ketahui?" tanya Sin Cie.

A Kiu kaget, hingga air mukanya berubah.

"Apa?" tanyanya. "Kenapa mereka lukai suhu? Apakah suhu terluka parah?"

"Tidak, tidak seberapa," sahut Sin Cie, yang terus berbangkit. "Sekarang sudah jauh malam, baik kita tidak bicara terlalu banyak. Kami tinggal di gang Ceng-tiau-cu. Apa bisa besok thianhee datang melongok gurumu itu?"

"Baik!" A Kiu jawab. "Dengan menerjang bahaya kau telah datang menyambangi aku, aku berterima kasih. " Ia

bicara dengan pelahan sekali ketika ia menambahi: "Kau telah lihat bagaimana aku sudah lukiskan gambarmu, maka tentang hatiku, kau sudah ketahui jelas. "

"Inilah hebat," pikir Sin Cie. "Rupanya dia telah menyintai aku, kedatanganku sekarang membuat ia dapat kesan yang keliru. Ini perlu penjelasan. "

Tapi ia belum sempat bicara, atau A Kiu sudah kata pula: "Sejak pertemuan kita di Shoa-tang-too, dimana kau rintangi Tie Hong Liu melukai aku, aku senantiasa ingat saja budi-kebaikanmu..... Coba lihat lukisan ini mirip atau tidak?"

Sin Cie manggut.

"Thianhee," katanya, "aku datang kemari karena. "

Tapi A Kiu segera memotong. "Jangan panggil aku thianhee," katanya. "Aku pun tidak akan panggil siangkong lagi kepadamu. Pada mula kalinya kita bertemu, kau kenal aku sebagai A Kiu, maka itu untuk selamanya, aku tetap ada A Kiu. Aku dengar enci Ceng panggil kau toako, aku pikir, umpama itu hari aku pun bisa panggil toako padamu, itu Barulah tepat. Di saat aku dilahirkan, menteri tukang tenung telah ramalkan aku bahwa apabila aku hidup tetap di dalam keraton, aku tidak bakal panjang usia, karena itu, Sri Baginda Ayah perkenankan aku pergi berkelana."

"Pantas kau belajar silat pada Thia Lo-hucu dan ikut dia berkelana," kata Sin Cie.

"selama berada di luar, pengetahuan dan pengalamanku jadi tambah banyak," A Kiu bilang. "Aku tahu yang rakyat sangat menderita. Umpama kata aku pakai uang di istana akan tolong rakyat, masih tidak seberapa jumlahnya yang bisa ditolong."

Sin Cie kagum mendengar puteri ini bersimpati kepada rakyat.

"Karena itu wajiblah kau nasihati Sri Baginda dan minta Sri Baginda menjalankan pemerintahan secara bijaksana," ia kata. "Asal rakyat dapat makan dan pakai cukup, tidak kelaparan dan kedinginan, pasti negara aman-sentausa."

Puteri itu menghela napas.

"Jikalau Sri Baginda Ayah sudi dengar perkataan orang, itulah bagus," katanya. "Sekarang Sri Baginda Ayah dikitari segala dorna, yang kata-katanya sangat dipercayai benar."

"Kau berpengetahuan luas melebihi Sri Baginda," Sin Cie puji. Tadinya pemuda ini pikir, baik atau tidak ia beber rahasia Thaykam Co Hoa Sun, akan tetapi sebelum ia ambil putusan, A Kiu sudah tanya dia: "Apakah Thia Lo-hucu pernah omong tentang diriku?"

"Tidak. Dia bilang dia pernah bersumpah, dari itu tak dapat dia omong tentang kau. Tadinya aku menyangka kau mempunyai dendaman yang hebat, yang mengenai kaum kangouw, tidak tahunya kau ada puteri raja."

A Kiu bersenyum.

"Thia Suhu ada pahlawan Sri Baginda Ayah, dia sangat setia kepada junjungannya," ia beritahu.

"Oh, jadinya dia pun ada satu sie-wie?" kata Sin Cie dengan heran.

A Kiu manggut.

"Ketika dahulu Sri Baginda Ayah masih tinggal di istana pangeran Sin Ong-hu, Thia Suhu menjadi kepala sie-wie," ia menerangkan lebih jauh. "Kemudian setelah Sri Baginda marhum wafat, Sri Baginda Ayah adalah yang menggantikan naik di tahta. Pada masa itu, semua orang di dalam istana ada orang-orang kepercayaan Gui Tiong Hian. Maka juga Thia Suhu bilang, waktu itu, keadaan ada sangat berbahaya, sampai Sri Baginda Ayah dan sekalian pahlawannya, siang dan malam tak bisa tidur dengan tenang. Semua barang makanan diantar dari istana Sin Ong-hu. Beberapa kali Gui Tiong Hian si dorna niat celakai Sri Baginda Ayah, saban-saban Thia Suhu serta Co Kong- kong dan lainnya yang menggagalkannya, hingga bahaya dapat dihindarkan. Itulah sebabnya kenapa sampai sekarang ini Sri Baginda Ayah tetap percaya Co Kong- kong."

"Meski begitu, tak dapat dia dipercayai sepenuhnya!" Sin Cie bilang. "Itu benar. Di antara Thia Suhu dan Co Kong-kong tidak terdapat kecocokan."

"Jadi itulah sebabnya kenapa Thia Suhu jadi keluar dari istana?" Sin Cie tegaskan.

Post a Comment