Tiba-tiba ada terdengar suara tindakan di arah pintu, tidak tempo lagi, Sin Cie enjot tubuhnya, akan loncat naik ke penglari di mana ia lintangkan tubuhnya. Itulah Ho Kaucu, yang telah balik. Dia ini palang pintu, lantas dengan tindakan pelahan, dia dekati Ceng Ceng.
Sin Cie siapkan dua batang bor, asal kaucu itu turun tangan, ia hendak menyerang.
"Hee siangkong," katanya dengan pelahan, sambil ia awasi tubuh orang. "Aku hendak bicara sama kau..."
Ceng Ceng berpaling.
"Bibiku sangat menyintai ayahmu, coba bilang, adalah dia seorang rendah?" tanya Tiat Chiu.
Ditanya begitu, Ceng Ceng menjadi heran. Inilah pertanyaan yang ia tidak sangka. Maka ia tercengang.
"Itu berarti cinta yang sangat, bagaimana bisa dibilang rendah?" ia jawab. Lantas ia menambahkan dengan suara tinggi: "Siapa tidak berpribudi, dia Barulah rendah!"
Tiat Chiu heran. Tak tahu ia, kata yang belakangan ini ditujukan kepada Sin Cie. Tapi ia girang.
"Ayahmu itu tidak berjodo dengan bibiku, dia tak dapat dipersalahkan," kata kaucu ini. "Dia pun rela mati daripada menyebutkan tempat kediaman ibumu, dia tetap melindunginya, sebenarnya dia ada seorang yang menyinta sangat, dia setia."
"Sayang jarang ada orang semacam ayah!" bilang Ceng Ceng.
"Umpama ada seorang semacam dia, yang tidak hiraukan jiwa sendiri untuk lindungi kau bisakah kau ingat dia untuk selamanya?" Ho Tiat Chiu tanya pula.
"Aku tidak punyakan itu macam rejeki!"
"Dulu tak mengerti aku mengapa bibi demikian tergila- gila terhadap seorang lelaki," kata pula Tiat Chiu. "Aku....aku ya, sudahlah, aku tidak ingin kau bilang apa-
apa lagi.... Sukur jikalau kau ingat aku, tidak ingat juga tidak apa. "
Ia balik tubuhnya, untuk pergi keluar pula.
Ceng Ceng berbangkit, akan duduk dengan bengong.
Tidak mengerti ia sikapnya kaucu dari Ngo Tok Kau itu.
Sin Cie melayang turun.
"Nona tolol, dia menyintai kau!" katanya sambil tertawa. "Apa?" tanya Ceng Ceng dengan heran.
Sin Cie tertawa.
"Dia menyangka kau lelaki!" katanya.
Perkataan pemuda ini membikin sang pemudi insaf. Pantas selama tertawan, sikapnya Ho Tiat Chiu terhadapnya ada baik, malah manis-budi. Untuk sementara ia telah melupakan dandanan penyamarannya itu. Maka akhirnya, ia tertawa sendirinya. Itulah lucu!
"Bagaimana sekarang?" ia tanya.
"Kau menikah dengan Ngo Tok Hujin itu!" Sin Cie bergurau. ("Ngo Tok Hujin" berarti "Nyonya dari Ngo Tok Kau".)
Di saat Ceng Ceng hendak berkata pula, daun jendela terpentang dengan tiba-tiba dan Ciau Wan Jie lompat masuk, di belakangnya turut Lo Lip Jie, yang bertangan satu.
Melihat nona itu, kembali air mukanya Nona Hee guram, lenyap senyumannya yang manis.
"Wan Siangkong," berkata Wan Jie dengan sikapnya sungguh-sungguh tetapi tenang. "Aku bersukur sangat yang kau telah berikan bantuanmu yang besar hingga berhasil
1039 aku mencari balas, maka sekarang ingin aku memberitahukan bahwa besok pagi aku berniat pulang ke Kimleng. Di masa hidupnya ayah, ia ada sangat kagumi kau, sedang Lo Suko ini sangat berterima kasih kepadamu yang sudah ajarkan dia ilmu silat golok bertangan satu, hingga kau mirip dengan gurunya. "
Sin Cie awasi nona itu, kata-kata siapa membuat ia heran.
"Sekarang, siangkong," kata Wan Jie meneruskan, "kami berdua hendak memohon sesuatu kepadamu. "
"Jangan kesusu," berkata pemuda kita, walaupun ia belum mengerti maksud orang. "Mari kita berlalu dulu dari istana ini, Baru kita bicara."
"Tidak, Wan Siangkong," Nona Ciau mendesak. "Aku Cuma mau minta supaya kau menjadi wakil kami, supaya kau ijinkan perjodoanku dengan Lo Suko ini!"
Dua-dua Ceng Ceng dan Sin Cie terperanjat mendengar perkataan nona itu, bukan terperanjat karena kaget tetapi saking heran.
Malah Lo Lip Jie sendiri tidak menjadi kecuali. "Su. sumoay!" kata ini kakak seperguruan, "Apakah kau
bilang?"
"Apakah kau tidak suka aku?" Wan Jie tanya sambil ia awasi suheng itu.
Lip Jie kembali tercengang. "Aku....aku " katanya, tergandat.
Mendadak saja, Ceng Ceng menjadi sangat gembira. "Bagus!" seru dia. "Aku kasi selamat pada kamu berdua!" Sin Cie cerdik, segera ia insaf maksudnya Nona Ciau. Ialah Wan Jie hendak buktikan, dia tidak ada punya hubungan apa-apa sama ia, bahwa pergaulan dan persahabatan mereka berdua ada putih-bersih, maka itu tanpa likat lagi, nona ini kemukakan perjodoannya dengan Lo Lip Jie. Dengan cara ini, Wan Jie hendak singkirkan kecurigaan dan cemburunya Ceng Ceng, untuk sekalian juga membalas budinya. Maka itu, tak kepalang bersukurnya ia kepada nona yang cerdas ini.
Ceng Ceng juga cerdik, ia bisa menduga hatinya Nona Ciau, walaupun ia memberi selamat, ia jengah sendirinya. Tapi ia polos, ia jujur, malah lantas ia jabat tangan Wan Jie.
"Adik, aku berlaku tidak pantas terhadapmu," katanya, mengakui. "Aku minta kau tidak berkecil hati."
"Mana bisa aku berkecil hati terhadapmu, enci," Wan Jie kata.
Meski ia mengucapkan demikian, puteri almarhum Ciau Kong Lee toh melinangkan air mata. Ia bersedih karena orang telah curigai ia, hingga sebagai satu nona, ia bertindak di luar garis. Sebenarnya tidak tepat ia yang meminta perkenan dari Sin Cie untuk perjodoannya dengan Lip Jie. Tetapi keadaan memaksa, ia terpaksa tebali muka.
Ceng Ceng insaf kekeliruannya, ia turut berduka, hingga ia pun ikut menangis.
Ketenteraman mereka berempat segera terganggu oleh suara tindakannya tujuh atau delapan orang, yang lagi mendatangi ke arah mereka.
Sin Cie segera geraki tangannya, selaku tanda.
Sebat luar biasa, Lip Jie lompat ke jendela, untuk menolak daunnya. Berbareng dengan itu, di pintu terdengar suara membentak dari Ho Tiat Chiu: "Sebenarnya siapa menjadi kau-cu?"
Lalu terdengar suara Ho Ang Yo: "Kenapa kau tidak mau bertindak menuruti aturan kita? Baiklah kita bersembahyang kepada Cousu, untuk angkat satu kaucu baru!"
Segera terdengar suara seorang laki: "Binatang itu ada musuh besar dari Ngo Tok Kau, kenapa Kaucu terus- terusan hendak melindungi dia?"
Terdengarlah suara tertawa dari Ho Tiat Chiu, yang kata: "Aku larang kamu masuk ke dalam kamar ini! Siapa berani maju?"
Kaucu ini tertawa tetapi dia menantang, suaranya keren. "Mari kita bereskan dulu itu binatang!" kata seorang
lelaki lain.
"Urusan kita, kita boleh bereskan belakangan!"
Suara tindakan kaki berat dan sebat terdengar maju ke arah pintu, menyusul itu terdengarlah satu jeritan hebat, disusul sama suara terbantingnya satu tubuh ke lantai. Rupanya orang itu telah jadi korbannya Ho Tiat Chiu.
Sin Cie lantas beri tanda pula kepada tiga kawannya.
Lo Lip Jie lompati jendela, disusul oleh Wan Jie, di belakang siapa, Ceng Ceng pun menyusul.
Itu waktu, di muka pintu terdengar bentrokan pelbagai senjata. Teranglah, perang saudara telah terjadi di dalam Ngo Tok Kau - Ho Tiat Chiu telah tempur saudara- saudaranya separtai. Setelah sedikit lama, Sin Cie dengar dupakan pada pintu kamar, hingga daun pintu menjeblak, tubuh seorang nerobos masuk.
Sin Cie lantas saja lompat ke jendela, untuk angkat kaki.
Orang yang Baru masuk itu lihat satu bebokong berkelebat dan lenyap, hingga tak sempat ia untuk mengenalinya bebokong siapa.
"Lekas, lekas!" dia berteriak-teriak. "Binatang itu kabur!"
Ho Tiat Chiu terkejut, juga kawan-kawannya, hingga pertempuran berhenti seketika, semuanya lantas memburu ke dalam kamar, hingga mereka lihat kamar kosong dari manusia dan daun jendela menjeblak terpentang.
Tanpa ayal lagi, Ho Tiat Chiu lompat ke luar jendela, Ia bermata tajam, masih ia dapat lihat satu bajangan nyelusup masuk ke tempat banyak pepohonan, segera ia menyusul. Tapi menyusul dengan kandung maksud sendiri-diri. Dia kira bajangan itu ada dari Ceng Ceng, ingin dia lindungi "pemuda" itu, untuk cegah ia terjatuh ke dalam tangan kawan-kawannya.
Bajangan di depan itu berlari-lari teurs, dia putari beberapa pekarangan, akhirnya dia melenyapkan diri di tembok merah dari keraton.
Sin Cie sengaja menyingkir paling belakang, ia pun ambil jurusan lain daripada yang diambil Ceng Ceng bertiga. Ia lihat bagaimana Ho Tiat Chiu terus susul padanya, ia sengaja lari untuk segera lenyap dari pandangan mata kaucu itu. Adalah setelah menduga Ceng Ceng bertiga sudah keluar jauh dari istana, Baru ia lenyapkan diri di belakang tembok keraton tadi.
Selagi menghampirkan sebuah pintu, Sin Cie lantas mencium bau harum berkesiur-siur halus. Ia tolak daun
1043 pintu, untuk sembunyikan diri di lain sebelah dari pintu itu, sembari sembunyi ia mengawasi ke sekitarnya. Kapan ia telah melihat nyata, ia jadi jengah sendirinya, kupingnya ia rasai panas tak keruan-ruan....
Nyatalah ia berada di dalam sebuah kamar yang indah dan lengkap perabotannya. Kelambu ada kelambu sulam, permai sepre dan selimutnya. Permadani kuning telur juga ada tersulam bunga mawar merah yang besar. Di meja dekat jendela ada terdapat pelbagai rupa alat berhias dari seorang perempuan. Perabotan lainnya adalah barang- barang kuno.
"Mungkin ini kamarnya satu selir...." Pikir anak muda ini. "Tidak seharusnya aku berdiam di sini. "
Selagi ia hendak bertindak ke pintu, lantas kupingnya dengar pelbagai tindakan halus disusul sama orang-orang perempuan bicara sambil tertawa-tawa. Maka ia merandak.
"Jikalau aku paksa keluar, aku bakal bersomplokan dengan nona-nona keraton ini," ia pikir. "Satu kali aku kepergok, keraton bakal jadi kacau, mungkin aksinya Co Thaykam jadi terganggu dan tertunda. Maka lebih baik aku sembunyikan diri, untuk melihat selatan."
Karena ini ia lompat ke belakang sekosol yang bergambar seorang wanita cantik serta bunga bou-tan.
Sebentar saja, daun pintu telah ditolak terpentang, empat dayang bertindak masuk sambil iringi satu perempuan muda.
"Thianhee ingin beristirahat atau hendak membaca buku dulu?" tanya satu dayang.
Mendengar itu, Sin Cie terkejut. "Jadinya ini ada kamarnya puteri raja," pikirnya. "Ah, baiklah kau tidur saja, tak usah baca buku lagi " ia harap-