Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 149

Memuat...

"Walaupun aku tidak bisa menangi dia, aku toh bisa libat padanya!" katanya dengan sengit. "Aku ganggu dia hingga dia tak punyakan kesempatan akan keluarkan obatnya. Aku tunggu sampai dia rubuhkan aku yang ketiga kali, lantas bisa ular bekerja, tanpa ampun, dia rubuh dengan pingsan. Selagi aku hampirkan dia, tiba-tiba aku merasa tak tega, aku anggap sayang sekali kalau dia, dalam usianya begitu muda, binasa secara demikian kecewa. Ia pun ada punya ilmu silat yang bagus sekali. "

"Maka itu bibi lantas tolongi dia!" kata Ho Tiat Chiu. "Bibi bawa dia pulang secara diam-diam, disembunyikan, dia diobati, setelah dia sembuh, lantas bibi menyintai dia. "

Ho Ang Yo menghela napas. "Tidak tunggu sampai ia sembuh, aku sudah menyintai dia," bibi ini aku. "Tatkala itu aku maish berusia muda, semua suheng dan sutee perlakukan aku baik sekali, entah kenapa, tidak ada satu di antara mereka yang memperoleh perhatianku, dan dia itu, di luar kekuasaanku, dia bikin aku jatuh hati. Selang tiga hari, dia telah mulai sembuh dari lukanya, Barulah itu waktu aku tanya dia, apa perlunya dia datang ke wilayah kami. Dia jwab, karena aku telah tolong jiwanya, apa juga dia suka kasi tahu aku. Dia bilang dia orang she Hee, dia ada punya dendaman yang hebat, benar ilmu silatnya sudah sempurna, akan tetapi musuhnya tangguh dan besar jumlahnya, ia jadi sangsi akan berhasil dengan pembalasannya. Maka itu, ketika ia dengar kabar Ngo Tok Kau ada utamakan bisa ular, ia sengaja datang ke Inlam untuk mendapatkan bisa itu. "

Mendengar sampai di sini, Sin Cie dan Ceng Ceng Barulah mengerti apa hubungannya Kim Coa Long-kun dengan Ngo Tok Kau.

Ho Ang Yo lanjuti penuturannya: "Setelah berselang sekian lama bekerja dengan diam-diam dia bilang, dia mulai mengerti dalam hal mengerjakan bisa, maka itu dia lantas datangi guha ular kita, untuk mencuri bisa. Dia kata dia hendak bikin semacam senjata rahasia guna nanti dipakai menghadapi musuh-musuhnya. Lewat lagi dua hari, sesudah merasa segar, dia menghaturkan terima kasih padaku, dia pamitan, untuk pulang. Berat bagiku untuk membiarkan dia pergi. Begitulah aku berikan dia dua botol bisa ular. Untuk balas budiku, dia lantas bikin ini gambarku, sebagai tanda peringatan. Aku telah tanya dia, apa lagi kesukarannya dalam hal mencari balasnya itu, apa dia membutuhkan aku, untuk membantu. Sambil tertawa dia bilang, ilmu kepandaianku masih jauh dari sempurna, bahwa aku tak dapat membantu dia. Aku lantas minta supaya dia kembali sehabisnya dia mencari balas. Dia manggut, dia berikan janjinya. Aku tanya dia, kapan kiranya dia bakal kembali, dia menjawab bahwa dia tak dapat menentukannya. Dia bilang juga, untuk mewujudkan pembalasannya itu, dia masih membutuhkan serupa senjata tajam. Katanya di Ngo Bie San ada sebuah pedang pusaka, maka lebih dahulu dia mau pergi ke gunung itu, akan coba curi pedang itu. Dia sangsi apa benar-benar ada pedang yang dimaksudkan itu. Umpama ada, dia bilang, masih belum bisa dipastikan ia bakal dapat curi itu atau tidak."

Mendengar sampai di situ, Sin Cie kata dalam hatinya: "Kim Coa Long-kun sungguh norek! Untuk mencari balas, dia tidak perdulikan apa juga, tanpa pikir panjang, dia lakukan apa jua!. "

Kembali Ho Ang Yo menghela napas ketika ia melanjuti pula: "Pada waktu itu, aku benar-benar telah sangat tersesat, disebabkan aku amat tergila-gila terhadapnya. Keinginanku satu-satunya adalah supaya ia suka tinggal lebih lama pula sama aku, Aku ada bagaikan gila, sampai apa juga, aku tak takuti, sampaipun hal yang aku tahu tak dapat aku lakukan, aku berani melakukannya. Aku merasa, untuk dia, semakin berbahayanya urusan, semakin itu menyenangkan hatiku. Hingga pun aku berpikir, rela aku mati, asal untuk dia. Ya, benar-benar waktu itu, aku seperti dipengaruhi iblis. Begitulah aku beritahukan dia bahwa aku tahu hal sebatang pedang mustika, yang tajam luar biasa, yang bisa dipakai membabat kutung senjata lainnya macam apa juga. Dia girang tidak kepalang mendengar hal pedang itu, sampai dia berjingkrakan. Lantas saja dia tanya aku, dimana adanya pedang itu. Tanpa pikir lagi, aku kasi dia tahu bahwa pedang itu adalah pedang Pek-hiat Kim-coa-kiam kepunyaan Ngo Tok Kau!" Terkejut Sin Cie akan dengar kata-kata terakhir ini, hingga tanpa merasa ia raba pedangnya.

"Jadi inilah pedang mustika Ngo Tok Kau itu?" tanyanya pada dirinya sendiri.

Masih Ho Ang Yo meneruskan penuturannya: "Aku telah beritahu dia, pedang itu ada satu di antara tiga mustika Ngo Tok Kau, bahwa disimpannya di dalam Tok- liong-tong, guha Naga Beracun di Leng Coa San, gunung Ular Sakti, di distrik Tay-lie, bahwa guha itu dijaga oleh delapan-belas murid Ngo Tok Kau. Dia lantas saja desak aku, dia minta aku antar padanya, untuk dia curi pedang itu. Dia bilang, dia hendak pakai pedang itu untuk satu kali saja, sehabis dia berhasil menuntut balas, dia nanti kasi kembali. Ia sangat mendesak aku, sampai hatiku jadi lemah. Begitulah telah terjadi, aku curi leng-pay dari koko. Dengan bawa itu, aku ajak dia pergi ke Leng Coa San. Karena adanya lengpay dan yang antar pun aku sendiri, penjaga- penjaga guha ijinkan kita masuk ke dalam guha."

"Bibi," tanya Tiat Chiu, "apa mungkin kau berani memasuki guha itu dengan berpakai pakaian?"

"Meski juga nyaliku besar, aturan kita itu tak berani aku langgar," jawab Ho Ang Yo. "Aku telah buka semua pakaianku, dengan telanjang bulat, sambil separuh merayap, aku masuk ke dalam guha. Dia turut masuk dengan menelad contohku. Pedang dan dua mustika lainnya ditaruh di atas naga-nagaan batu. Dia pandai berlompat tinggi, dengan gampang dia bisa naik ke atas naga-nagaan. Begitulah dia ambil pedang mustika itu. Aku tidak sangka, dia kandung hati yang kurang lurus, kecuali pedang Pek-hiat Kim Coa Kiam, sekalian dia ambil dua mustika lainnya, ialah dua-puluh empat batang bor ular emas Kim-coa-cui serta peta bumi kita." 0o-d.w-o0

Si uwah jelek berhenti sebentar, untuk menghela napas, guna entengi hatinya.

"Begitu aku dapat tahu dia ambil tiga-tiganya mustika, segera aku merasakan firasat jelek," dia melanjuti selang sesaat. "Maka aku lantas desak dia supaya dia tinggalkan Kim-coa-cui dan peta bumi itu. "

"Peta apakah itu?" Ceng Ceng memotong. "Ayahku cuma berniat keras mencari balas, mustahil dia kehendaki juga peta bumi kamu?"

"Aku sendiri tidak tahu, peta itu ada peta apa," sahut Ho Ang Yo. "Apa yang kami tahu itu adalah mustika yang telah diwariskan sejak beberapa puluh turunan. Hm! Dia benar-benar kandung maksud tidak baik! Dia tidak perdulikan permintaanku, dia cuma awasi aku sambil tertawa. Sudah disebutkan, adalah aturan Ngo Tok Kau kita, siapa memasuki guha Tok-liong-tong, kita dilarang mengenakan pakaian meski cuma selembar, maka bisalah dimengerti keadaan kita berdua pada waktu itu. Demikian aku, tanpa aku sadar, aku telah lantas serahkan diri kepada dia. Sejak itu, aku tidak tanyakan suatu apa lagi terhadapnya.

Secara demikian, kita telah curi ketiga mustika. Dia sudah bilang padaku, setelah selesai mencari balas, dia bakal kembali, untuk kembalikan tiga mustika itu. Setelah dia pergi, setiap hari aku harap-harap kembalinya, tetapi, sampai dua tahun, dari dia tidak ada kabar-ceritanya. Baru belakangan aku dengar cerita antara kaum kangouw bahwa di Kanglam telah muncul satu pendekar luar biasa yang bersenjatakan sebatang pedang aneh serta bor emas, karena mana, dia dijuluki Kim Coa Long-kun, Pendekar Ular Emas. Aku percaya betul, pendekar itu mesti dianya. Aku terus pikiri dia, aku menduga-duga, sudahkah dia menuntut balas atau belum. Lewat lagi sekian lama, kaucu bercuriga, dia lantas periksa guha Tok-liong-tong, dengan kesudahannya pecahlah rahasia pencurian ketiga mustika. Atas itu, kaucu wajibkan aku menghukum diriku sendiri. Dan sebagai kesudahan beginilah jadinya rupaku. "

"Kenapa kau jadi begini?" Ceng Ceng tegasi.

Ho Ang Yo ada sangat murka, tak sudi ia menjawabnya.

Tapi Ho Tiat Chiu, dengan pelahan dia kata kepada ahliwarisnya Kim Coa Long-kun: "Ketika itu yang menjadi kau-cu ada ayahku, Ayah sangat berduka yang adiknya sendiri melakukan pelanggaran hebat itu, saking malu dan berduka, ia dapat sakit, terus dia menutup mata. Bibi telah jalankan aturan agama kita, ia hukum diri dengan masuk ke dalam guha ular, hingga ribuan ular gigiti dia. Begitulah, rusaknya muka bibi."

Ceng Ceng menggigil, dia jeri sendirinya, akan tetapi berbareng, terhadap si uwah dia tidak lagi membenci seperti tadinya.

"Setelah bibi obati diri dan sembuh," Ho Tiat Chiu terangkan lebih jauh, "ia lantas bikin perjalanan sebagai pengemis. Adalah aturan perkumpulan kita, siapa lakukan pelanggaran hebat, dia mesti hidup sebagai pengemis lamanya tiga-puluh tahun, selama mana dia dilarang mencuri uang baik satu bun atau mencuri nasi satu butir, malah dia dilarang juga menerima tunjangan dari sesama kaum Rimba Persilatan."

Ho Ang Yo perdengarkan suara di hidung. "Mulanya masih saja aku ingat dia, maka itu sembari mengemis di sepanjang jalan, aku susul dia di Kanglam," cerita terus uwah ini. "Begitu lekas aku memasuki wilayah Ciatkang, aku lantas dengar kabar hal dia sudah bunuh orang di Kie-ciu, untuk pembalasannya. Ingin aku menemui dia, maka aku cari padanya. Tapi ia tidak punyakan tempat kediaman yang tentu maka adalah sulit untuk cari ketemu padanya. Ketika akhirnya aku bertemu juga dengannya di Kim-hoa, waktu itu dia telah kena ditawan orang. Beberapa kali aku mencoba menolongi dia, selalu aku tidak berhasil. Musuh-musuhnya telah jaga dia kuat sekali hingga tak bisa aku turun tangan. Dia telah dibawa ke Utara. Aku merasa sangat heran, aku tidak tahu, kenapa dia ditangkap dan dibawa pergi. Baru kemudian aku dengar kabar, orang hendak paksa dia supaya dia serahkan peta yang dicurinya. Nyata peta itu ada peta lukisan dari suatu tempat simpan harta besar. Pada satu wkatu, bisa juga aku dapatkan ketika akan bicara sama dia. Dia kasi tahu aku bahwa orang telah bikin putus semua urat-uratnya, hingga ia jadi seorang yang bercacat. Menurut dia, semua pengantarnya ada orang- orang liehay, maka sendirian saja, tidak nanti aku bisa tolongi dia. Dia bilang, dia punya cuma satu harapan untuk bisa hidup terus. Ialah kapan ia bisa pancing musuh- musuhnya pergi ke puncak gunung Hoa San. Dan itu waktu, dia sedang memancingnya."

"Bibi," tanya Ho Tiat Chiu, "kejadian selanjutnya lebih- lebih aku tidak tahu. Apa maksud sebenarnya memancing musuh ke gunung Hoa San itu?"

"Dia bilang di kolong langit ini cuma satu orang yang bisa tolong dia," sahut Ho Ang Yo. "Orang itu ada Pat-chiu Sian Wan Bok Jin Ceng si Lutung Sakti Tangan Delapan dari Hoa San Pay." Gegetun Sin Cie akan dengari penuturan orang itu, sampai ia tak tahu, berhubung sama sepak-terjangnya Kim Coa Long-kun itu, ia mesti membencinya atau mengasihaninya. Di lain sebelah, ia jadi sangat ketarik akan dengar disebut-sebutnya nama gurunya.

Juga Ceng Ceng sangat ketarik mendengar namanya Bok Jin Ceng, gurunya pemuda pujaannya itu.

Demikian semua orang pasang kuping mendengari Ho Ang Yo mulai pula dengan perlanjutan penuturannya: "Aku tanya dia, siapa itu Bok Jin Ceng. Dia bilang, orang she Bok itu ada ahli pedang yang di kolong langit ini tidak ada tandingannya. Menurut dia, sebenarnya dia tidak kenal Bok Jin Ceng, dia belum pernah menemuinya juga, dia melainkan dengar, orang she Bok itu ada satu orang jujur dan pembela keadilan, Dia percaya, asal Bok Jin Ceng dapat tahu bagaimana dia telah dipersakiti, pendekar itu pasti akan suka tolongi dia. Katanya Ngo Heng Tin dari lima persaudaraan Un ada sangat liehay, sudah begitu, mereka dibantu oleh imam-imam dari Ngo Bie Pay, maka kecuali Bok Jin Ceng, lain orang tak dapat mengalahkan mereka. Maka itu dia suruh aku lekas-lekas pergi ke Hoa San, akan cari Bok Tayhiap, untuk minta bantuan. Ia anjurkan aku untuk memohon sambil menangis, supaya Bok Tayhiap suka menolong. Aku telah terima baik permintaannya itu, aku malah sudah lantas ambil putusan, umpama kata Bok Tayhiap tidak sudi meluluskan, akan membantu, aku hendak bunuh diri di depannya. Aku telah berkeputusan akan tolongi dia. Karena penjagaan kuat sekali, tidak berani aku bicara lama dengannya. Ketika aku hendak berlalu, aku rangkul dia. Dengan tiba-tiba aku dapat cium bau harum pada dadanya, bau dari wewangian orang perempuan, maka aku merogo ke dalam sakunya, hingga aku tarik keluar satu kantong sulam hiang-ho-pau dalam mana ada termuat segumpal rambut wanita serta sebuah tusuk konde emas yang mungil. Tubuhku sampai menggigil saking ku gusar. Aku tanya, siapa yang berikan itu kepadanya, dia tidak mau memberitahukan. Aku telah ancam dia, apabila dia tetap tidak mau beritahu, aku tidak mau cari Bok Tay-hiap, tapi dia tetap tutup mulutnya. Dia telah perlihatkan sikapnya yang angkuh. Dan, lihat, lihat! Sikapnya bocah ini juga sama angkuhnya dengan dia!"

Dan si uwah jelek ini tuding Ceng Ceng. Ia bicara dengan suara keras, akan tetapi pada itu ada tercampur irama kedukaan hebat. Habis itu, ia melanjuti: "Tadinya aku hendak desak dia, untuk paksa dia memberitahukannya, apamau orang Cio Liang Pay yang menjaga dia telah keburu balik, dengan terpaksa, aku tinggalkan dia. Bukan main masgulnya hatiku. Aku telah menderita untuk dia, siapa tahu, dia justru siasiakan aku dan punyakan lain kekasih. Ketika kemudian dia telah sampai di Hoa San, aku tidak pergi cari Bok Tayhiap. Dengan bisaku sendiri, aku telah racuni dua imam yang jagai dia. Rupanya pihak Un tidak menyangka bahwa diam- diam ada orang mencoba tolongi orang tawanannya itu. Begitulah, selagi mereka beralpa, aku bawa dia lari, aku sembunyikan dia di dalam sebuah guha. Ketika keluarga Un mendapat tahu dia terhilang, mereka jadi heran dan sibuk, mereka mencari ubak-ubakan tanpa hasil, hingga kesudahannya mereka saling curigai orang sendiri, sampai mereka berselisih. Di akhirnya, mereka memencar diri, untuk geledah seluruh gunung Hoa San. Kesudahannya, mereka membangkitkan amarahnya Bok Tay-hiap, hingga Tay-hiap telah gunai akal, membikin mereka ketakutan sendiri dan lantas lari kabur. Pada malam itu, aku desak dia untuk beritahu aku she dan namanya kekasihnya itu. Dia tetap menolak, mungkin dia insaf, satu kali aku mendapat tahu, aku bisa pergi cari kekasihnya itu, untuk dibunuh. Dia

1031 sendiri sudah tidak punya guna, tidak nanti bisa susul aku, dia kuatir nanti tak dapat dia melindungi kekasihnya itu. Karena dia terus tutup mulut, aku jadi sangat murka, beruntun selama tiga hari, setiap pagi aku rangket dia dengan rotan, begitupun setiap tengah-hari dan sore. "

"Hai, perempuan jahat!" teriak Ceng Ceng. "Bagaimana kau tega menyiksa ayahku!. "

"Dia yang berbuat, dia mesti terima bagiannya!" kata Ho Ang Yo dengan sengit. "Makin lama aku hajar dia, makin aku sengit, akan tetapi dia, dia tertawai aku, dia tertawa makin besar. Dia bilang, sejak mulanya dia tidak menyukai aku, bahwa kekasihnya ada cantik sekali, manis dan lemah- lembut, orangnya jelita, lebih memang seratus kali daripada aku! Setiap patah kata dia ucapkan, setiap rotan aku berikan, tetapi setiap kali aku rangket dia, setiap kali juga dia banggai kekasihnya itu, si perempuan hina! Aku telah hajar dia sampai akhirnya tidak ada tubuhnya yang utuh, akan tetapi terus-terusan ia tertawa, terus saja ia masih puji dan banggai kekasihnya itu.... Sampai di hari ketiga, selagi dia jadi sangat lemah, aku sendiri pun jadi sangat lelah, lelah karena terlalu mendongkol, sebab habis tenaga. Kemudian aku pergi keluar, untuk cari bebuahan. Ketika aku pulang, dia tunggu aku di mulut guha, dia larang aku masuk. Dia mengancam, satu tindak berani aku melangkah, dia akan tikam aku. Aku tidak berani sembarang masuk. Aku kasi tahu padanya, asal dia beritahukan aku she, nama dan alamat kekasihnya, aku suka maafkan dia untuk tak berbudinya, tetapi dia tertawai aku, dia tertawa terbahak- bahak. Dia bilang, dia cintai kekasihnya melebihi jiwanya sendiri! Secara demikian, kami bentrok. Aku ada punya bebuahan untuk dimakan, dia sendiri, dia mesti menahan lapar. Aku dapat tahu, Bok Tay-hiap telah pergi turun gunung, mungkin dalam satu-dua tahun, dia tidak akan kembali, maka itu, tidak nanti ada orang yang tolongi dia. "

"Secara demikian, bibi, kau bikin dia mati kelaparan?" tanya Ho Tiat Chiu.

"Hm, tidak secara demikian gampang aku membikin dia mati!" sahut sang bibi. "Lagi beberapa hari, setelah dia habis tenaganya, aku masuk ke dalam guha, aku bikin patah kedua kakinya. "

Ceng Ceng menjerit, dalam sakitnya, dia berlompat untuk bangun, akan serang uwah itu.

Ho Tiat Chiu tekan pundak orang, akan bikin anaknya Kim Coa Long-kun tak dapat bangun.

"Kau dengari sampai bibi berceritera habis," katanya. "Puncak Hoa San ada sangat tinggi dan berbahaya,

dengan kedua kakinya patah, tidak nanti dia bisa turun

gunung lagi," demikian Ho Ang Yo meneruskan ceritanya. "Begitulah aku pergi turun gunung, akan cari kekasihnya itu. Adalah keputusanku, apabila aku berhasil mendapatkan kekasih itu, aku bakal bikin rusak mukanya hingga jadi jauh terlebih jelek daripada mukaku, setelah itu, aku nanti gusur dia ke Hoa San, untuk dipertemukan dengannya, aku ingin lihat, dia masih memuji-muji dan membanggai atau tidak! Setengah tahun sudah aku mencari, tidak pernah aku peroleh endusan. Aku niat kembali ke Hoa San, untuk tengok dia, aku kuatir, mungkin Bok Jin Ceng sudah pulang ke gunungnya, mungkin Bok Tay-hiap dapat menemukan dia dan menolongnya. Aku telah saksikan sendiri liehaynya Bok Tay-hiap ketika ia usir keluarga Un, maka apabila Bok Tay-hiap nanti bantu dia, bisa celaka aku. Maka aku segera balik ke gua gunung. Di luar sangkaanku, aku tidak dapat ketemukan dia di dalam guha, aku cari dia di puncak, tidak juga aku menemukannya. Entah dia telah ditolongi Bok

1033 Tay-hiap atau oleh orang lain. Seterusnya, selama dua- puluh tahun, tidak pernah aku dengar pula tentang dia, percuma saja aku cari dia di segala penjuru, hingga tak tahu aku manusia tidak punya liangsim itu sudah mati atau masih hidup. "

Mendengar sampai di sini, tahulah sekarang Sin Cie sebabnya kenapa Kim Coa Long-kun keram diri di dalam guhanya yang istimewa itu, terang dia menyingkir dari orang Ngo Tok Kau ini yang dia tidak sanggup lawan karena dia sudah tidak berdaya lagi, dia lebih suka terbinasa daripada mesti minta bantuannya lain orang.

Selagi pemuda ini berpikir, tiba-tiba ia dengar bentakannya Ho Ang Yo.

"Aku tidak sangka dia justru tinggalkan kau sebagai keturunan celaka!" demikian uwah itu, yang tuding Ceng Ceng, suaranya sangat bengis. "Mana ibumu? Aku tahu shenya she Un tapi aku tidak tahu dia tinggal di mana! Hayo bilang, dimana adanya ibumu sekarang. Jika tidak, aku nanti korek biji matamu!"

Diancam begitu, Ceng Ceng justru tertawa besar.

"Kau jahat! Jahat!" jawabnya. "Benar apa yang ayahku bilang, ibuku ada jauh terlebih baik daripada kau, bukan cuma seratus kali, hanya seribu kali, selaksa kali!"

Tak kepalang murkanya Ho Ang Yo hingga ia ulur kedua tangannya, untuk dengan sepuluh jarinya cakar muka orang!

Ceng Ceng tarik kepalanya, sedang Ho Tiat Chiu tahan tangan bibinya itu.

"Kau mesti bikin dia kasi tahu tempat kediaman ibunya, Baru aku suka kasi ampun padanya!" dia menjerit terhadap pemimpin dari Ngo Tok Kau. "Sabar, bibi," kata ketua itu. "Bukankah kamis edang punya urusan besar? Kenapa untuk urusan pribadi kau ingin ciptakanonar? Bukankah urusan dengan Bu Tong Pay juga disebabkan gara-garamu?"

"Hm, itu disebabkan Uy Bok Toojin ngaco-belo sendiri!" kata si uwah jelek. "Kenapa dia sebut-sebut bahwa dia kenal Kim Coa Long-kun? Kenapa dia bikin aku dapat dengar ocehannya itu? Tentu saja karena ocehannya itu aku paksa dia mesti sebutkan tempat sembunyinya itu manusia tak berbudi!"

"Kau telah kurung dia begitu lama, dia tetap tidak hendak memberitahukannya," kata pula Ho Tiat Chiu, "Mungkin dengan sebenar-benarnya dia tidak tahu orang punya alamat. Sama sekali tidak ada faedahnya untuk kau menambah musuh. "

Diam-diam Sin Cie manggut-manggut.

"Jadi inilah sebabnya bentrokan Ngo Tok Kau dengan Bu Tong Pay," pikir dia. "Menurut dia ini, jadinya Uy Bok Toojin masih belum terbinasa, dia cuma masih ditahan."

Ho Ang Yo sengit ditegur kaucunya itu. Maka dia kata pada pemimpinnya ini: "Binatang she Wan itu sudah kangkangi pedang Kim Coa Kiam kita, dengan Kim-coa-cui dia binasakan anjing kita, dia pun masih simpan peta kita - tiga-tiga pusaka kita berada di dalam tangannya! Kau sebagai kaucu, kenapa kau tidak hendak berdaya untuk dapat pulang itu semua?"

Ho Tiat Chiu tertawa.

"Cukup, bibi!" kata dia. "Aku ketahui semua itu!

Sekarang silakan kau keluar dulu, untuk beristirahat. "

Masih si bibi penasaran. "Aku telah bilang semua!" katanya. "Kau suka turut rencanaku atau tidak, kau suka tolong lampiaskan kemendongkolanku atau tidak, semua terserah pada kau!"

Kaucu dari Ngo Tok Kau lawan tertawa pada bibinya itu, ia tidak mengiakan atau menampik.

"Mari keluar, aku hendak bicara denganmu!" kata Ho Ang Yo.

"Bukankah di sini sama saja?" tanya si nona kaucu. "Tidak! Mari kita keluar!" Ang Yo desak.

Kalah juga Tiat Chiu, ia suka keluar.

Sin Cie lihat dua orang itu berlalu, ia tunggu sampai rasanya orang sudah pergi jauh, lantas ia merayap keluar dari kolong pembaringan.

"Adik Ceng, mari kita pergi!" katanya.

Ceng Ceng tidak lantas menjawab, hanya dengan muka perongosan ia awasi Wan Jie, rambut siapa kusut, muka siapa berlepotan debu.

"Hm!" katanya. "Untuk apa kamu berdua bersembunyi?"

Wan Jie tercengang, mukanya merah, sampai ia diam saja.

"Lekas bangun," Sin Cie bilang, tanpa menjawab pertanyaan itu. "Mereka itu kandung maksud tidak baik, mereka sedang memikir daya untuk celakai kau. "

"Lebih baik lagi jikalau mereka bikin aku mati! Aku tidak mau pergi!"

"Apa juga adanya urusan, di rumah nanti kita damaikan," Sin Cie membujuk. "Di waktu begini apa kau masih hendak mensiasiakan ketika? Kau hendak mengacau?"

1036 "Aku justru hendak mengacau!"

Sibuk juga Sin Cie. Ia ingat orang punya adat berandalan. Ia tahu, asal mereka berayalan, sulit untuk mereka keluar dari istana itu. Di lain pihak urusan raja ada penting sekali.

"Adik Ceng, kau kenapa?" ia tanya. Ia ulur tangannya, dengan niat tarik pemudi itu.

Ceng Ceng sedang sengit, ia sambuti tangan orang, untuk dibawa ke mulutnya, untuk digigit!

Sin Cie tidak menyangka, hampir saja tangannya itu kena tergigit, baiknya ia dapat kesempatan untuk tarik pulang. Ia tapinya heran.

"Kau angot?" tanya dia. "Habis?"

Ceng Ceng singkap selimut, untuk tungkrap kepalanya.

Sin Cie mendongkol berbareng bingung, hingga ia banting-banting kaki.

"Wan Siangkong," kata Wan Jie, "kau tunggu bersama Nona Hee, aku hendak keluar sebentar."

"Kau hendak pergi kemana?"

Wan Jie tidak menjawab, ia tolak daun jendela, untuk loncat keluar.

Sin Cie duduk di tepi pembaringan, ia masgul. Ceng Ceng membalik tubuh, akan madap kedalam.

Pemuda kita kuatir sekali Ho Tiat Chiu nanti kembali.

Post a Comment