"Silakan tuan-tuan menanti di sini," kata satu orang. "Co Kongkong akan segera keluar."
"Kau banyak cape!" terdengar satu suara wanita, satu suara yang merdu.
Dua-dua Sin Cie dan Wan Jie kenali suaranya Ho Tiat Chiu, pemimpin dari Ngo Tok Kau. Berdua mereka saling memegang tangan dengan keras, tandanya mereka sama- sama kenali orang she Ho itu.
Sebentar lagi datang pula beberapa orang, mereka ini lantas bicara sama pihak Ho Tiat Chiu.
Kembali Sin Cie terkejut.
"Kiranya empat jago tua Keluarga Un dari Cio Liang Pay dari Kieciu pun datang kemari...." pikirnya. "Rupanya merekalah itu empat orang tua yang tadi malam Wan Jie lihat membantu pihak Ho Tiat Chiu, pantas Tong Hian beramai tak sanggup lawan mereka. Apa perlunya mereka datang kemari?"
Baru habis mereka itu bicara, untuk belajar kenal juga, lantas terdengar datangnya Co Hoa Sun bersama beberapa orang lainnya lagi - orang-orang kangouw, sebagaimana Sin Cie ketahui ketika ia dengar Co Thaykam perkenalkan mereka dengan rombongannya Ho Tiat Chiu dan empat jago dari Cio Liang Pay, di antaranya ada Lu Jie Sianseng.
"Dengan anggauta keluarganya tidak lengkap," pikir Sin Cie, "Keluarga Un tidak lagi bisa berkelahi dengan gunai Ngo Heng Tin. Akan tetapi di sini ada rombongannya Ho Tiat Chiu, seorang diri tidaklah sanggup aku melayani mereka. "
"Eh, mana Tiang Pek Sam Eng?" tiba-tiba pertanyaan Co Hoa Sun.
"Tuan Su bertiga sudah datang," sahut satu thaykam, "entah mereka pergi kemana. "
"Coba cari," Co Thaykam menitah.
Sin Cie lantas totok tiga jago dari Tiang Pek San, maka umpama kata mereka sadar, tak dapat mereka buka mulut mereka. Beberapa thaykam, yang diperintah cari Tiang Pek Sam Eng, balik dengan sia-sia, katanya tak dapat mereka cari tiga orang itu.
"Sudahlah, tak usah kita tunggui mereka," kata Co Thaykam. "Mereka sendiri yang sia-siakan ketika baik ini, tak dapat mereka sesalkan kita."
Lantas terdengar suara berisik dari digesernya kursi- kursi, tandanya orang mulai duduk berkumpul.
Co Hoa Sun batuk-batuk dua kali, seperti ia hendak legakan tenggorokannya.
Sin Cie pasang kuping. Ia menduga orang hendak bicarakan urusan rahasia.
"Pemberontak Lie Giam sudah pukul pecah kota Tong- kwan, Peng-pou Siang-sie Sun Toan Teng telah binasa di medan perang," demikian Co Thaykam mulai bicara.
Beberapa suara terdengar sebagai gerutuan, rupanya ada orang-orang yang kaget mendengar berita perang itu.
"Maka itu," Co Thaykam melanjuti, "jikalau kita tidak lekas bertindak, nanti keburu pemberontak merangsak ke Pakkhia ini. Aku telah pikir, apabila tetap Sri Baginda tidak sudi pinjam bantuan tentara asing, guna tindas huru-hara, baiklah kita angkat satu raja lain untuk melindungi Kerajaan Beng..."
"Jikalau begitu, Seng ongya yang harus diangkat!" kata Ho Tiat Chiu sambil tertawa.
"Betul!" Co Thaykam membenarkan. "Maka itu aku hendak andali bantuan tuan-tuan untuk tunjang raja yang baru. Mengenai ini, aku yang akan bertanggung jawab, akan tetapi hasilnya, kita beramai yang icipi bersama- sama!" Nyata semua hadirin setuju sama pikirannya orang kebiri itu, maka tanpa ambil tempo lagi, mereka itu lantas rencanakan pembagian tugas.
"Lagi satu jam," kata kemudian Co Thaykam dengan titah-titahnya, "aku minta keempat losianseng dari Keluarga Un nanti bawa saudara-saudara yang boleh dipercaya untuk pergi ke keraton, akan sembunyi di sekitar kamar raja, untuk cegah orang luar memasuki keraton. Aku minta Hoo Kau-cu beramai sembunyi di luar kamar tulis. Nanti Seng Ong sendiri yang menghadap raja, untuk beri nasihatnya yang terakhir."
"Ciu Tayciangkun berkuasa atas tentara," tanya Lu Jie Sianseng; "dia setia kepada raja; perlu atau tidak untuk lebih dulu singkirkan dia?"
Co Hoa Sun tertawa.
"Ciu Tayciangkun itu bersama Hok Siangsie," katanya; "dengan sedikit tipu-dayaku, sudah aku singkirkan! Ho Kau-cu, cobalah kau berikan penuturanmu. "
Ho Tiat Chiu tertawa.
"Siang-siang telah diketahui baik-baik oleh Co Kongkong, apabila Seng Ong hendak ditunjang menaiki singgasana kerajaan, Ciu Tayciangkun dan Hok Siang-sie adalah rintangan-rintangan paling besar," berkata dia; "maka itu siau-moay telah diberi tugas untuk melumpuhkan mereka. Begitulah selama beberapa hari, siau-moay sudah perintah orang pergi curi uang negara yang menjadi tanggung-jawab mereka itu. Tentu saja itu adalah kejadian yang paling tidak disukai sri baginda. Kabarnya tadi sri baginda sudah keluarkan perintah memecat dan menangkap kedua menteri itu, untuk perkaranya diperiksa lebih jauh." Orang banyak itu tertawa riuh, luar biasa kegirangan mereka.
Untuk Sin Cie, Baru sekarang ia ketahui sepak- terjangnya si bocah-bocah serba merah, jadi mereka itu mencuri bukan karena kemaruk uang, pada itu ada rahasia di belakang layer. Itulah daya busuk untuk mencelakai Negara. Tidak heran kalau kaisar Cong Ceng kena dikelabui, sebab tindak-tanduk pengkhianat ada licin sekali.
"Nah, sekarang silakan tuan-tuan pergi beristirahat," kemudian kata Co Thaykam, "sebentar lagi aku nanti mengundang berkumpul pula."
Lu Jie Sianseng bersama empat jago Keluarga Un dan lainnya lantas berbangkit, untuk undurkan diri.
Ho Tiat Chiu jalan paling belakang.
"Heran, kenapa Tiang Pek Sam Eng tidak hadir!" kata dia sesampainya di pintu. "Mungkinkah mereka pergi ke istana untuk membocorkan rahasia?"
"Ho Kau-cu pandai berpikir," kata Co Thaykam. "Tapi mereka itu ada orang-orang kepercayaan Kiu Ungya, malah paling belakang ini mereka sudah mendirikan jasa besar sekali, untuk mereka berkhianat terhadap Kiu Ongya, rasanya tak mungkin. "
"Apakah jasa besarnya mereka itu?" Tiat Chiu Tanya. "Mereka telah berhasil mencuri pisau-pusaka dari
seorang she Bin dari Bu Tong Pay," sahut Co Hoa Sun,
"dengan gunai pisau-pusaka itu, mereka sudah pergi bunuh Ciau Kong Lee, ketua dari Kim Liong Pang. Karena ini pastilah kaum Rimba Persilatan di Kanglam bakal saling bunuh sendirinya, hingga kalau di belakang hari kita menyingkir ke Kanglam, keselamatan kita jadi terlebih terjamin. " Wan Jie telah percaya sembilan bahagian bahwa pembunuh ayahnya mesti ada Tiang Pek Sam Eng, maka sekarang, kepercayaannya itu jadi terpenuhi seluruhnya.
Sin Cie kuatir nona ini nanti tak dapat kendalikan diri, dengan lancang ia ulur tangannya, akan bekap mulutnya si nona. Pemuda ini kuatir beradanya mereka di dalam kamar itu nanti diketahui Ho Tiat Chiu, sebab ketua Ngo Tok Kau ini ada sangat liehay, asal orang berkerisik sedikit saja, mungkin dia curiga.
Terdengarlah tawanya Ho Tiat Chiu.
"Kongkong sangat cerdik," memuji pemimpin Ngo Tok Kau itu kepada thaykam. "Kongkong berdiam di dalam keraton tetapi mengenai sepak-terjang kaum kangouw, kongkong ketahuinya dengan jelas."
Co Hoa Sun tertawa puas.
"Tentang segala apa di dalam istana, aku ketahui banyak sekali," katanya. "Di dalam istana, tidak ada satu orang yang tidak kemaruk sama harta dan pangkat, maka siapakah yang bicara tentang pri-kemanusiaan dan kehormatan? Lain adalah sahabat-sahabat kaum kangouw! Mereka ini, satu dibilang satu, dua dibilang dua. Begitulah dalam usahaku yang besar ini, aku tidak berdamai sama menteri yang mana juga, aku hanya justru berurusan sama kamu semua, untuk mohon bantuan kamu. "
Begitulah mereka keluar sambil bicara.
Tegang sekali perasaannya Sin Cie. Urusan ada sangat penting. Ia tidak cuma menghadapi urusan golongan kangouw saja, sekarang ia menghadapi ancaman untuk Negara. Apa ia mesti perbuat? Dalam sesaat itu, tak dapat ia lantas memikir daya yang sempurna.
Wan Jie lihat orang sedang berpikir keras. "Apa mesti diperbuat terhadap tiga jahanam ini?" tanyanya. "Ingin aku segera membinasakan mereka!"
Nona ini bicara pelahan sekali.
"Baiklah," sahut Sin Cie. "Tapi jangan keja mereka keluarkan darah, nanti kita kepergok."
Ia angkat kepalanya Su Peng Kong, akan tunjuki kedua pilingannya.
"Apakah kau mengerti tipu-pukulan Ciong kou cee- beng?" tanyanya.
"Ciong kou cee beng" berarti "Lonceng dan tambur berbunyi dengan berbareng".
Ciau Wan Jie manggut.
Meski demikian, Sin Cie toh petakan cara menyerangnya.
"Ya, begitu," katanya pula, setelah si nona beraksi.
Wan Jie lakukan serangannya hingga ia perdengarkan juga sedikit suara, dengan begitu, tanpa bersuara lagi, binasalah orang she Su itu. Maka sehabis itu, dengan tipu- pukulan yang serupa, Wan Jie bikin tamat lelakon hidupnya Su Peng Bun dan Lie Kong.
Puas hatinya nona ini karena telah berhasil mencari balas dengan tangannya sendiri, dengan tiba-tiba saja ia terharu, sehingga tanpa likat lagi, ia mendekam di pundaknya Sin Cie untuk menangis dengan menahan suara.
"Sekarang mari kita lekas keluar," Sin Cie mengajak. "Mari kita lihat kemana perginya Ho Tiat Chiu."
Wan Jie angkat kepalanya, dan tangannya juga, dari pundaknya si pemuda, untuk susuti air matanya, lalu tanpa bilang suatu apa, ia ikut pemuda itu keluar dari kamar tulis itu. Masih mereka dapat lihat Co Thaykam dan ketua Ngo Tok Kau lagi menikung di sebuah pengkolan yang bercabang dua dimana keduanya berpisah, sedang dua thaykam muda, yang membawa lentera, jalan terus di muka Ho Tiat Chiu beramai, menuju ke barat.
Sin Cie berdua Wan Jie terus mengikuti dari kejauhan. Mereka masih tetap dandan sebagai orang kebiri, hati mereka tenang, sebab mereka tidak kuatir nanti ada yang pergoki, tak takut mereka ada yang kenali andaikata mereka berpapasan dengan lain-lain orang kebiri.
Ho Tiat Chiu jalan terus melewati beberapa pekarangan, sampai ia masuk dalam sebuah rumah.
Dengan berani Sin Cie ajak Wan Jie turut masuk ke dalam rumah itu. Begitu lekas mereka menindak di pintu, mereka segera dengar cacian nyaring dari Ceng Ceng, yang keluar dari sebuah kamar sebelah timur. Nona itu asyik mencuci-maki Ngo Tok Kau dan Ho Tiat Chiu.
Tanpa sangsi lagi, Sin Cie memburu ke kamar timur itu, langsung ia nerobos masuk, hingga ia tampak dua thaykam muda sedang layani Ceng Ceng masak obat, nona itu sendiri sedang rebah di pembaringan.
Dengan totokannya yang liehay, Sin Cie bikin kedua thaykam muda mati daya.
Segera Ceng Ceng kenali pemuda itu. "Engko!" dia memanggil.
Sin Cie menghampirkan ke pembaringan. "Bagaimana dengan lukamu?" ia tanya.
"Tidak seberapa," sahut si nona. "Oh, kau pun datang?" tanyanya, kapan ia lihat Wan Jie di belakang si anak muda.
Nona Ciau manggut.
1009 "Apakah lukamu tidak berbahaya, nona Hee?" ia Tanya.
"Hum!" bersuara Ceng Ceng, yang tidak menjawab. Tapi pada Sin Cie, ia bilang: "Engko, kalau sebentar Ho Tiat Chiu datang, kau hajar padanya!"
Sin Cie sendiri memikir lain.
"Mereka itu sedang bekerja, untuk sementara baik aku sembunyi dulu...." Maka ia lekas kata pada si nona: "Adik Ceng, sekarang tak dapat aku turun tangan terhadapnya. Baik kau pancing dia supaya dia jelaskan apa perlunya dia culik kau dan membawanya ke istana."
"Apa, istana?" Ceng Ceng tanya.
"Oh, jadinya kau masih belum tahu kau sekarang berada di dalam istana?" Sin Cie balik tanya.
Justru itu ada terdengar suara tindakan kaki di luar, karena di situ tidak ada tempat sembunyi, Sin Cie sambar kedua thaykam, untuk dibleseki ke dalam lemari, ia sendiri, dengan tarik tangannya Wan Jie, segera nyelusup masuk ke kolong pembaringan.