Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 144

Memuat...

"Jikalau nanti kita sudah berhasil, bagaimana jikalau aku angkat kau menjadi congpeng dari Kwietang?" tanya dia.

"Kongkong ada baik sekali," kata Sin Cie, yang kembali haturkan terima kasihnya. "Terhadap kongkong, tak dapat

995 aku sembunyikan apa-apa. Pikirannya Kiu Ongya adalah..." Ia berhenti, akan celingukan kekanan-kiri, Baru ia melanjuti, dengan pelahan sekali: "Aku harap kongkong bisa pegang rahasia, jikalau tidak, jiwaku tidak bakal tertanggung pula..."

"Kau jangan takut, aku jamin padamu," kata thaykam itu.

Sin Cie unjuk roman berhati lega, tetapi ketika ia bicara lagi, ia tetap bicara dengan sangat pelahan. Ia kata: "Setelah angkatan perang Boan memasuki kota perbatasan, pasti sekali kaum pemberontak akan dapat ditindas. Syarat dari Kiu Ongya adalah supaya sri baginda kerajaan Beng hadiahkan dia semua daerah di Hoopak dan Shoatang kearah utaranya, tapal batas negara adalah sungai Hong Hoo, agar selanjutnya kedua negara jadi negara-negara persaudaraan."

Pemuda kita sudah karang cerita akan tetapi Co Hoa Sun percaya, tidak ia sangsi sedikit juga, sebab kesatu ia terima suratnya To Jie Kun, kedua ia telah dibekali banyak barang permata. Ia tahu, bangsa Boan memangnya liehay.

Sekian lama orang kebiri ini berpikir, lalu ia manggut- manggut.

"Sekarang ini keamanan sedang sangat terganggu," katanya kemudian. "Turut kabar pagi ini, kota Tong-kwan sudah dipukul pecah pemberontak Lie Giam dan Peng-pou Siangsie Sun Toan Teng telah binasa berkorban, dengan kebinasaannya menteri perang itu, kerajaan Beng mempunyai panglima perang siapa lagi? Memang, kalau tidak sekarang Kiu Ongya bergerak, kota Pakkhia ini tentulah bakal diserbu pemberontak."

Diam-diam Sin Cie bergirang mendengar Tongkwan sudah jatuh dan Sun Toan Teng, kepala perang kesohor itu,

996 telah terbinasa. Untuk sembunyikan wajahnya, yang bercahaya, ia lekas-lekas tunduk.

"Sebentar malam aku nanti majukan pula usulku kepada Sri Baginda," berkata Co Thaykam, "jikalau dia tetap berkukuh, maka untuk kebaikan negara aku nanti. "

Goncang hatinya Sin Cie mendengar perkataannya orang kebiri ini.

"Seharusnya kongkong menggunai segala daya dahulu Barulah kongkong turun tangan," ia kata, Tapi keraslah sudah pikirannya Co Thaykam.

"Hum! Jikalau Sri Baginda tetap tidak berdaya menindas pemberontakan, terpaksa mesti diangkat satu raja baru!" kata dia. "Kerajaan Beng boleh musna, negara boleh terjatuh ke tangan lain orang, tidak apa, tetapi mustahil kita mesti antari jiwa karenanya?"

"Sebenarnya kongkong mempunyai daya apa?" Sin Cie tanya. "Tetap hatiku apabila aku bisa dapat mengetahui. "

"Sungai Hong Hoo menjadi tapal batas negara ada terlebih baik daripada kerajaan terjatuh ke dalam tangan pemberontak," kata thaykam itu, "Apabila dia tetap berkeras, apa mungkin. "

Tilbaa saja orang kebiri ini merandak. Ia dapat ingat: "Meskipun orang ini ada orang kepercayaannya Kiu Ongya, aku toh Baru pertama kali ini bertemu padanya, apa boleh aku beber seluruh rahasia terhadapnya?"

Dengan tiba-tiba, ia tertawa.

"Ang Lautee," katanya, melanjuti, "dalam tempo tiga hari, aku nanti berikan kabar baik pada Kiu Ongya! Kau tunggu saja di sini. " Thaykam ini lantas menepuk tangan, lantas muncul empat thaykam muda, mereka benahkan barang-barang permata, setelah mana dengan iringi thaykam tua itu, mereka kembali kedalam.

Dilain pihak, empat thaykam kecil lainnya lantas pimpin Sin Cie serta dua kacungnya ke sebuah kamar disebelah kiri dimana mereka lantas disuguhkan barang-barang santapan sore yang terpilih, karena cuaca pun sudah lantas mulai gelap.

Kemudian lagi, setelah memberi selamat malam, keempat thaykam kecil itu undurkan, diri.

"Co Thaykam ini sedang mengatur suatu rencana besar," Sin Cie beritahu kedua kawannya. "Urusan hebat sekali, sebab ini mengenai keselamatan negara. Kamu berdua tunggu di sini, aku hendak mencari rahasia sekalian untuk cari tahu apa Nona Hee ditahan didalam istana atau bukan..."

" Aku turut kau, Wan Siangkong," Wan Jie meminta. "Jangan, kau tunggu disini bersama Lo Toako," Sin Cie

bilang. "Ada kemungkinan Co Thaykam kurang percaya

atau hatinya tak tenteram hingga ia bisa kirim orang akan melihat kita."

"Aku kira cukup aku berdiam sendiri di sini," menyatakan Lo Lip Jie. "Ada baiknya untuk siangkong dapat tambahan satu tenaga."

Sin Cie lihat Wan Jie sangat bernapsu, ia merasa berat untuk menampik lebih jauh, maka ia manggut.

Setelah itu keduanya pergi ke kamar sebelah dimana berdiam empat thaykam muda yang tadi. Sebelum mereka tahu apa-apa, Sin Cie sudah totok yang dua hingga mereka jadi seperti gagu. Dua yang lain kaget, sampai mereka

998 lompat turun dari pembaringan mereka, mereka mengawasi dengan buka mata lebar-lebar.

Wan Jie keluarkan tempuling ngo-bie-cie yang tajam- mengkilap, ia ancam itu di dada kedua thaykam ini.

"Asal kamu buka mulut, aku nanti kirim kamu menghadap Gui Tiong Hian." kata nona ini, suaranya pelahan tetapi berpengaruh. Ujung senjata itu mengenai baju sampai terus nempel dikulit dada.

Sin Cie bersenyum. Tak ia sangka, dalam keadaan seperti itu, si nona masih bisa guyon. Gui Tiong Hian adalah thaykam jahat di jaman Kaisar Hie Cong dan telah terbunuh mati.

Lantas Sin Cie buka bajunya kedua thaykam itu, untuk ia pakai berdua Wan Jie.

Untuk ia salin pakaian Wan Jie tiup lilin, hingga kamar jadi gelap.

Sin Cie totok thaykam yang satunya lagi, sedang yang keempat, ia cekal nadinya, lantas ia tuntun keluar.

"Jangan bicara!" ia ancam. "Kau bawa kami kepada Co Kongkong."

Thaykam itu tidak berdaya, ia rasai separuh tubuhnya kaku, terpaksa ia tutup mulut, akan antar orang ke kamar thaykam kepala.

Mereka jalan lama juga, beberapa kali mereka nikung, Baru mereka sampai di depan sebuah lauteng besar.

"Co Kong-kong tinggal disana," thaykam ini kasi tahu.

Sin Cie tidak tunggu orang bicara lebih jauh, segera ia menotok untuk bikin orang kebiri itu tak dapat berkutik, kemudian ia angkat tubuhnya thaykam itu, untuk diletaki di tempat lebat dengan pepohonan bunga. Kemudian bersama Wan Jie, dengan berindap-indap, ia maju ke lauteng sekali.

Di tingkat kedua kelihatan api terang-terang.

Selagi Sin Cie hendak tarik tangan Wan Jie, untuk diajak lompat naik ke atas lauteng, ia dengar suara tindakan kaki di belakang mereka, lantas ia dengar suara orang menanya: "Apakah Co Kong-kong ada di atas lauteng?"

"Aku pun Baru sampai. Mungkin kong-kong ada di atas," ia jawab, seraya menoleh ke belakang, akan lihat lima orang lagi mendatangi, seorang yang jalan di depan menenteng sebuah lentera merah. Lima orang itu dandan sebagai orang-orang kebiri. Orang yang tadi menanya sedang mendumal. Mereka jalan dengan pelahan.

Sin Cie dan Wan Jie tunduk, supaya orang tak lihat muka mereka.

Di waktu melewati pintu, mukanya lima orang itu terkena sinar api berbalik dari daun pintu yang dicat mengkilap. Sin Cie yang awas dapat lihat muka mereka, ia terkejut. Lekas ia tarik ujung bajunya Wan Jie, untuk ayalkan tindakan.

"Itulah Tiang Pek Sam Eng," kemudian Sin Cie bisiki kawannya setelah lima orang itu mendaki tangga lauteng.

Nona Ciau kaget.

"Orang-orang jahat yang membunuh ayahku?" Tanya dia. "Jadi mereka sudah jadi thaykam?"

"Sama sebagai kita, melainkan lagi menyamar," Sin Cie bilang. "Mari kita naik!"

Wan Jie ikuti kawannya ini. Di lauteng pertama ada thaykam yang menjaga tetapi mereka tidak merintangi, hingga Sin Cie berdua pun dapat lewat dengan merdeka.

Di lauteng kedua, dua thaykam pengantar ajak Tiang Pek Sam Eng masuk dalam sebuah kamar.

Sin Cie ajak Wan Jie berhenti di luar sebuah pintu kamar itu, hingga mereka dengar orang kebiri yang bawa lentera kata: "Silakan tunggu di sini, Co Kong-kong akan lantas. "

Selanjutnya, suara mereka tidak terdengar nyata. Habis itu, kedua thaykam itu turun dari lauteng.

Lantas Sin Cie tarik tangan Nona Ciau, untuk diajak masuk ke dalam kamar itu, ialah sebuah kamar tulis, karena disitu, sekitar tembok ada digantungi gambar-gambar dan pigura-pigura tulisan. Tiang Pek Sam Eng duduk di tengah ruangan. Diaorang ini lihat masuknya dua thaykam tetapi diaorang tidak menaruh perhatian.

Sin Cie dan Wan Jie sengaja jalan kedepan tiga jago dari Tiang Pek San itu, Baru sekarang mereka angkat kepala, akan awasi kedua orang kebiri ini.

Wan Jie, sambil tertawa dingin, lantas menegur: "Su Siok-hu, Lie Siok-hu, ayahku undang kamu bertiga bersantap!. "

Tiga orang itu kaget apabila mereka kenali nona Ciau, malah Lie Kong mencelat berjingkrak.

"Bukan...bukankah ayahmu telah meninggal dunia?" tanyanya.

"Benar! Makanya ayah undang siok-hu bertiga bersantap!" sahut Wan Jie.

Su Peng Bun kerutkan alis, dengan mendadak saja ia cabut goloknya hingga menerbitkan suara "Sret!" Tetapi Sin Cie berlaku sangat gesit, begitu ia lompat, kedua tangannya telah cekuk masing-masing batang lehernya Peng Bun serta saudaranya, sedang kakinya mendupak bebokong dari Lie Kong, di betulan jalan darah hong-bwee-hiat.

Su Peng Kong mencoba memutar tubuh, ia jotos dadanya pemuda kita.

Sin Cie tidak perdulikan jotosan, ia hanya lebih perlukan rangkap kedua tangannya dengan kaget, hingga kepalanya dua saudara Su saling bentur dengan keras, hingga sekejab saja, keduanya tak sadar akan dirinya. Tubuhnya Lie Kong pun rubuh.

Wan Jie sangat kagum. Sebelum ia melihat tegas, Tiang Pek Sam Eng sudah kena dibikin tidak berdaya. Ia lantas keluarkan senjatanya, untuk tikam dadanya Su Peng Kong.

Sin Cie lekas tahan tangan orang.

"Lekas sembunyi, ada orang!" katanya berbisik. Benar-benar di tangga terdengar tindakan kaki.

Dengan sebat Sin Cie tengteng dua-dua Peng Bun dan Peng Kong, untuk letaki tubuhnya di belakang para-para buku, kemudian ia pondong tubuhnya Lie Kong, untuk bersama Wan Jie pun sembunyi di belakang para-para itu.

Segera setelah itu, muncullah beberapa orang.

Post a Comment