Keempat tukang gotong telah terluka dan rubuh saling susul saking hebatnya kepungan, walaupun pertempuran berjalan belum seberapa lama.
Wan Jie mengintai terus, hingga ia bisa saksikan cara berkelahinya orang-orang Bu Tong Pay itu. Ilmu silat pedang mereka benar-benar liehay. Ia tetap berdiam di kolong joli, tak mau ia lantas keluar. Kalau ia muncul, ia kuatir ia nanti disangka ada orangnya Ngo Tok Kau.
Berkilau-kilaulah kira-kira duapuluh batang pedang yang lagi kurung Ho Tiat Chiu, siapa benar-benar liehay. Dia benar tidak bisa lantas pecahkan kurungan, akan tetapi dia bisa berkelahi dengan baik.
Satu imam muda sangat bernapsu, dia lompat maju kepada si nona, untuk menyerang dengan hebat, tetapi pedangnya ditangkis dengan gaetan, gaetan mana terus mampir di pundaknya. Maka tidak ampun lagi, ia menjerit dan rubuh pingsan, hingga ia perlu digotong keluar kawan- kawannya.
Kembali lewat beberapa puluh jurus, setelah ini Barulah kelihatan Ho Tiat Chiu kena terdesak.
Bin Ciu Hoa merangsak hebat, sampai mendadak pedangnya menyambar batang lehernya ketua Ngo Tok Kau itu. Tiat Chiu berkelit, menyusul mana, dua pedang lain membarengi menikam dia. Maka sibuklah dia dengan tangkisannya.
Tiba-tiba Wan Jie dengar suara nyaring pelahan, lalu serupa barang jatuh menggelinding ke kolong joli, kearah dia. Dia jumput itu, ialah sebuah anting-anting.
Menampak ini, Wan Jie girang berbareng kuatir. Ia girang karena ia percaya, kali ini Ho Tiat Chiu tidak bakal lolos dari kebinasaan, apabila dia mati, itu artinya Sin Cie jadi bebas dari gangguan nona liehay ini. Tapi ia berkuatir andai-kata Tiat Chiu terbinasa, nanti nasibnya Ceng Ceng tak ketahuan. Ada kemungkinan sisa orang-orang Ngo Tok Kau tidak sudi menyerahkannya. Masih Ho Tiat Chiu melakukan perlawanan. Selang lagi dua-puluh jurus, Barulah ia lelah benar-benar, rambutnya terlepas dan kusut, nampaknya tidak lagi ia mampu membalas menyerang.
Tong Hian Toojin rupanya bisa lihat nyata keadaannya lawan, sampai di situ, ia perdengarkan seruannya, maka beberapa puluh pedang segera perkeras kurungan mereka.
"Dimana adanya guru kami?" Tong Hian tanya. "Dia masih hidup atau sudah meninggal dunia? Lekas bilang!"
Ho Tiat Chiu kempit gaetan emasnya, ia pakai tangannya untuk singkap rambutnya yang riap-riapan, setelah itu, mendadak ia tertawa, gaetannya berkelebat, maka di pihak lawan, satu imam telah terluka pula!
Hal ini membikin semua imam jadi gusar sekali, kembali mereka menyerang, secara hebat.
Dalam saat sangat terancam dari Ho Tiat Chiu itu, dari kejauhan terdengar suara suitan istimewa, mendengar mana, ketua Ngo Tok Kau itu tertawa pula.
"Dengar, itulah orang-orangku datang!" ia berseru. "Baik kamu lekas menyingkir, atau kamu nanti dapat susah!. "
Wan Jie dengar ancaman yang berupa nasihat itu. "Jikalau ini bukannya saat mati atau hidup," pikirnya
"mendengar suaranya ini, yang begini halus, orang pasti
mengira ia sedang pasang omong dengan kekasihnya. "
Ia kagumi suara orang yang merdu itu. Tong Hian tidak gubris nasihat itu.
"Baik bereskan dulu ini kacung hina!" katanya kepada kawan-kawannya. Serangan diperkeras dengan kesudahan Tiat Chiu mendapat dua luka enteng pada kakinya. Meski begitu, ia masih melawan dengan tampangnya bersenyum-senyum.
"Jangan kau tertawa saja!" seru satu imam muda, yang hatinya tak tega kalau nona begini cantik-manis mesti terbinasa di ujungnya puluhan pedang yang tajam. "Kau menyerah atau tidak?"
"Eh, tootiang, apa katamu?" tanja Tiat Chiu, menegasi.
Masih ia tertawa.
Ditanya begitu, imam muda itu tercengang, selagi ia hendak menjawab, mendadak ada sinar berkelebat.
"Awas!" seru Bin Cu Hoa. Sia-sia saja pemberian ingat ini, gaetan emas dari Ho Tiat Chiu telah mampir ditubuh si imam.
Selagi kepungan diperkeras, Tong Hian pecah delapan orangnya, akan sambut bala-bantuannya pemimpin Ngo Tok Kau itu. Maka tak jauh dari mereka, segera terdengar suara beradunya pelbagai alat-senjata, suatu tanda, pihak Bu Tong Pay sudah mulai bentrok sama bala-bantuannya Tiat Chiu.
Kembali Tong Hian memecah orangnya, guna bantu delapan kawannya itu.
Tiat Chiu dapat juga bernapas sedikit karena dipecahnya kekuatan yang mengepung dia, akan tetapi kendati demikian, ia tidak sanggup toblos kurungan, untuk persatukan diri dengan kawan-kawannya itu.
Selagi orang bertempur seru, mendadak terdengar suaranya satu imam: "Bagus, bagus! Tiang Pek Sam Eng, tiga dorna penjual negara, kamu juga datang?" "Habis bagaimana?" jawab satu suara kasar dan bengis. "Kau tahu kami liehay, lekas kamu pergi semua!"
Heran Ciau Wan Jie mendengar suara si imam, yang menyebut Tiang Pek Sam Eng, ialah tiga jago dari Tiang Pek San. Mereka bertiga adalah yang mengadu-biru dalam hal membikin celaka ayahnya, mereka sudah ditawan Sin Cie, oleh ayahnya mereka telah dikirim pada kantor negeri di Lamkhia, maka heran, kenapa mereka itu sekarang datang kemari.
"Apa mungkin mereka itu buron dari penjara? Atau apa mereka sudah sogok pembesar negeri, untuk kebebasan mereka?" pikir si nona, yang menduga-duga.
Selama itu, desakan Ngo Tok Kau menjadi hebat, segera ternyata, pihak Bu Tong Pay kena terdesak. Maka tidak ayal lagi, Tong Hian Toojin beri tanda untuk pihaknya mundur. Dalam hal ini, mereka ini bisa bekerja dengan sempurna, mereka dapat mundur dengan teratur.
Ho Tiat Chiu tampak orang mundur dengan rapih, ia cegah pihaknya mengejar, sembari tertawa, ia ejek musuh- musuhnya itu, katanya: "Jikalau ada waktu yang senggang, lain kali kamu boleh datang pula untuk main-main lagi! Siaumoay tak dapat antar padamu!..."
Ia menggunakan kata-kata "siaumoay," - adik yang rendah.
Pihak Bu Tong Pay tidak perdulikan ejekan itu. Mereka muncul dengan mendadak, mundurnya pun secara cepat sekali. Maka dilain saat, kesunyian datang kembali, tak lagi ada suara bentrokan senjata, cuma ada siurannya angin malam yang membawa datangnya sang salju.
Wan Jie mengintai pula, ia lihat beberapa puluh orang, yang berkumpul bergunduk-gundukan. Seorang perempuan tua, yang dandan sebagai pengemis, kata: "Pandai sekali mereka itu serep-serepi kabar! Mereka tahu orang-orang kita sedang terluka, mereka datang membokong!"
"Syukur bibi telah dapat lekas mengumpul bala- bantuan," berkata Ho Tiat Chiu. "Lebih syukur keempat lopeh Keluarga Un dan Tiang Pek Sam Eng pun kumpul bersama, coba tidak, rada sulit untuk memukul mundur mereka itu."
Seorang tua, yang kumis-jenggotnya putih, menanya: "Apakah pihak Bu Tong Pay itu berserikat sama Hoa San Pay?"
Seorang lain, yang suaranya kasar, menyahuti: "Kim Liong Pang berkonco sama si binatang she Wan! Kami bertiga saudara telah gunai akal merenggangkan, untuk membunuh orang sambil meminjam golok, maka orang she Wan itu pasti bakal hajar pihak Bu Tong Pay!"
Si orang tua lantas tertawa besar.
"Bagus! Biar mereka saling bunuh!" katanya.
Mendengar pembicaraan itu, Wan Jie di kolong joli mengeluarkan keringat dingin.
"Hm, jadi tiga jahanam inilah yang telah bunuh ayahku!" katanya di dalam hati.
Sampai di situ, terdengarlah suaranya Ho Tiat Chiu: "Sekarang mari kita pergi ke istana! Tak usah duduk joli lagi. "
Maka pergilah rombongan orang itu. Yang jalan di depan ada Ho Tiat Chiu bersama Tiang Pek Sam Eng dan empat orang tua. Ciau Wan Jie tunggu sampai orang sudah melalui beberapa puluh tindak, Baru ia keluar dari kolong joli, kapan ia telah melihat ke sekitarnya, ia terperanjat sendirinya. Nyata ia telah berada diluar Kota Terlarang. Ia pun bisa lihat rombongan Ho Tiat Chiu memasuki istana.
Tidak berani Nona Ciau berdiam lebih lama di tempat sunyi itu, dengan berlari-lari, ia berangkat pulang, langsung ke gang Ceng-tiau-cu. Ia segera ketemui Sin Cie, akan tuturkan pengalamannya barusan.
Sin Cie awasi nona ini sekian lama, akhirnya ia tunjuki jempolnya.
"Nona Ciau, besar nyalimu, dan kau cerdik sekali!" ia memuji.
Merah mukanya si nona, ia tidak bilang suatu apa, hanya ia beri hormatnya.
Tidak berani Sin Cie ulur kedua tangannya, akan angkat bangun si nona, ia malah bertindak ke pinggir, untuk tidak terima pemberian hormat itu. Tapi ia mengerti maksud Nona Ciau, maka ia kata: "Tentang sakit hati ayahmu, nona, kau letaki itu dibahuku, tetapi dengan menjalankan ini kehormatan besar, nona seperti tidak memandang mata kepadaku...." Kemudian setelah berpikir sedetik, ia tambahkan : "Tak dapat kita berayal lagi, sekarang juga aku mesti pergi ke istana!"
"Entah bagaimana duduknya, kawanan jahanam itu bisa masuk dalam istana kaisar." kata Wan Jie. "Istana ada terjaga kuat sekali, aku rasa kurang tepat untuk kau memasukinya, Wan Siangkong. "
"Jangan kuatir, tidak ada halangannya," Sin Cie bilang. "Aku mempunyai suatu barang berharga. Sebenarnya aku sudah mesti gunai itu sedari siang-siang, siapa tahu setibanya di kota raja ini, kejadian-kejadian saling-susul sampai aku tidak punya tempo senggang lagi..."
Ia rogo sakunya, akan tarik keluar sesampul surat.
Itulah suratnya To Jie Kun, pangeran Kiu Ong dari Boan-ciu, yang dialamatkan kepada Su-lee Thaykam Cio Hoa Sun didalam istana, yang tadinja dibawa oleh Ang Seng Hay tapi tak sempat Seng Hay menyerahkannya. Ia percaya, surat itu bakal ada faedahnya, maka Sin Cie simpan itu. Sekarang surat ini hendak digunakan.
"Bagus!" menyatakan si nona. "Aku akan turut kau, Wan Siangkong. Aku nanti menyamar sebagai kacungmu."
Sin Cie tahu orang hendak membalas sakit hati dengan tangan sendiri, itu artinya kebaktian, tak suka ia merintanginya.
"Baiklah," ia manggut.
Wan Jie lantas masuk ke dalam, untuk bersihkan tubuh dan tukar pakaiannya. Memangnya pakaiannya sudah kotor sebab tadi ia keluar-masuk di kolong joli. Ia dandan pantas sekali sebagai seorang kacung.
"Sekarang tak dapat aku panggil kau Nona Ciau!" kata Sin Cie sambil tertawa.
"Panggil saja aku Wan-jie," kata si nona, yang pun tertawa." Mungkin lain orang sangka aku pwee-jie atau wan-jie. "