Sin Cie benar-benar heran.
"Aku tidak mengerti, kaucu," sahutnya. "Aku mohon kaucu memberi penjelasan kepadaku."
Ho Tiat Chiu tertawa.
"Wan Siangkong," katanya, "apabila kau tidak cela siaumoay punya bakat tolol, aku minta sukalah kau terima aku sebagai muridmu."
Sin Cie tertawa bergelak-gelak.
"Ho Kaucu ada ketua dari satu perkumpulan besar, kepandaian kaucu sudah sangat liehay, cara bagaimana kau boleh berguyon denganku?" tanyanya.
"Jikalau kau tidak ajarkan aku ilmu menotok jalan darah," kata kepala agama itu, "habis apa itu beberapa puluh orangku yang sekarang sedang rebah tidak berdaya mesti diantapkan saja jiwa mereka melayang?"
Baru sekarang kaucu ini omong dengan jelas.
"Asal kau antarkan pulang sahabatku itu dan kau suka berjanji untuk selama-lamanya tidak mengganggu pula pada pihakku, tentu sekali aku suka menolong mereka," sahut Sin Cie, yang pun omong terus-terang.
"Ini jadinya berarti, kau tak sudi terima semacam murid sebagai aku ini?" tegaskan Ho Tiat Chiu.
"Pelajaranku masih belum sempurna," jawab Sin Cie dengan merendah. "Sebenarnya aku masih hendak mencari guru pula, maka bagaimana aku berani menerima murid? Kaucu, mari kita omong dengan terbuka, mari kita menghabiskan urusan kita dengan baik, kita lupakan yang sudah lewat. Kau akur bukan?"
Kaucu itu tertawa.
"Aku nanti antarkan sahabatmu itu, kau nanti tolongi orang-orangku!" katanya. "Urusan di belakang hari, kita nanti lihat saja!"
Menampak orang tetap tak sudi berdamai, Sin Cie mendongkol juga.
"Kamu dari Ngo Tok Kau boleh malang-melintang di Selatan, tetapi aku orang-orang gagah dari tujuh propinsi, mustahil kami jeri terhadapmu!" demikian pikir ia.
Karena memikir demikian, pemuda ini cuma angkat kedua tangannya, ia tidak bilang suatu apa.
Ho Tiat Chiu berbangkit sambil tertawa manis.
"Aha, Wan Toa-bengcu kami gusar!" katanya. Lantas ia pun angkat kedua tangannya, untuk liam-jim, memberi hormat. Masih ia tertawa hihi-hihi ketika ia menambahkan: "Baik, baik, di sini aku menghaturkan maafku."
Sin Cie membalas hormat, tapi hatinya tetap tak senang.
Ia sangat tak setuju tindak-tanduk lawan itu.
"Besok aku nanti antarkan sahabatmu she Hee itu," kata Tiat Chiu kemudian, "setelah itu aku nanti undang kau, tuan, untuk kau tolongi orang-orangku."
"Aku beri janjiku," Sin Cie bilang.
Tiat Chiu menjura, lalu ia membaliki tubuh. Ia tidak mau loncat naik keatas genteng, ia menindak ke pintu depan, maka Sin Cie mesti antar dia, untuk mana ia perintah kacungnya nyalakan lilin dan membukai pintu.
Wan Jie mengikuti di belakang mereka itu.
"Wanita ini sangat licin," pikirnya, "mungkin dia sembunyikan orang-orangnya diluar rumah, ia pancing Wan Siangkong untuk kemudian dibokong, Nanti aku periksa dulu!"
Karena memikir begini, ia antap orang jalan terus, ia kasi dirinya ketinggalan, lantas ia sembat tempuling Ngo-biecie, dengan bawa itu ia loncat naik keatas genteng, akan hampirkan tembok diujung mana ia sembunyikan diri, untuk memasang mata keluar.
Dimuka pintu ada sebuah joli, tukang gotongnya empat orang, mereka ini sedang berdiri menantikan di muka joli. Kecuali mereka itu, tidak ada orang lain pula.
Dengan kelincahannya, dengan ati-ati, Wan Jie keluar dari tempat sembunyinya, akan dengan diam-diam hampirkan joli dari arah belakang, setelah datang dekat, ia pegang ujung gotongan, untuk angkat dengan pelahan- lahan. Ia merasai angkatan yang enteng sekali, itu artinya tidak ada orang lain di dalam joli, maka hatinya menjadi lega. Benar ketika ia hendak undurkan diri, pintu depan telah dipentang, kacung membawa obor yang terang sekaili. Sin Cie bertindak mengantar tetamunya yang istimewa itu.
Mendadak saja nona Ciau mendapat satu pikiran.
"Dia tidak sudi berdamai, ini berarti, di belakang hari, kesulitan masih banyak sekali," demikian pikirnya. "Kenapa aku tidak mau kuntit dia, untuk ketahui di mana dia bersarang? Dengan ketahui tempat sembunyinya, apabila kemudian dia datang mengganggu pula, Wan Siangkong bisa satroni dia, untuk serbu padanya."
Setelah berpikir begini, tanpa bersangsi pula, Wan Jie batalkan niatnya undurkan diri, sebaliknja, ia nyelusup ke kolong joli, dengan berpegang kedua tangan dan kedua kaki dicantel, ia bergelayutan di kolong joli itu. Secara begini ia bertindak, untuk balas budinya Sin Cie.
Joli memakai tenda yang tebal, malam itu pun gelap, tidak ada orang yang lihat sepak-terjangnya nona Ciau ini. Keempat tukang joli pun sedang mengawasi pemimpinnya, untuk disambut.
Sambil tertawa manis, Ho Tiat Chiu masuk kedalam jolinya, atas mana empat tukang gotongnya segera panggul joli itu, buat dibawa pergi. Yang luar biasa adalah mereka ini menggotong sambil berlari-lari, umpama kata laksana terbang.
0o-d.w-o0
Heran Wan Jie karena orang gotong joli secara demikian rupa, dari heran, hatinya lantas kebat-kebit, ia berkuatir juga sedikit. Ia tidak menduga bahwa keempat tukang gotong itu adalah orang yang bertenaga besar dan berkepandaian silat. Pun dengan menangkel di kolong joli, ia merasakan hawa yang sangat dingin. Itu waktu ada di musim dingin, ada salju yang nempel di joli, sekarang salju itu jatuh ke mukanya, disebabkan hawa panas pada mukanya itu, salju lumer menjadi air. Tidaik berani ia susut mukanya, ia kuatir dengan geraki tangannya, ia akan menerbitkan goncangan hingga orang bisa timbul kecurigaannya.
Perjalanan Baru dilakukan kira setengah jam, mendadak Wan Jie dengar suara bentakan keras, menyusul mana, joli dihentikan dengan tiba-tiba. Tentu saja keempat tukang joli dan nona di dalamnya dengar bentakan itu.
Segera menyusul bentakan lain, suaranya seorang lelaki: "Kacung she Ho yang hina-dina, lekas kau keluar untuk terima binasa!"
"Aneh!" pikir Wan Jie. "Aku rasa kenali suara ini. Siapa
dia?"
Habis itu, menyusul bentakan lain lagi: "Kamu kaum Ngo Tok Kau malang-melintang di dunia, siapa tahu kamu toh ketemu harimu ini!"
" Itulah Bin Cu Hoa!" ingat si nona Ciau. "Ya, suara yang pertama ada suara suhengnya, Tong Hian Toojin. "
Segera terdengar tindakan kaki berisik disekitar joli, rupanya ada sejumlah orang yang datang mengurung.
Joli segera dikasi turun, keempat tukang gotongnya lantas hunus senjata.
Wan Jie singkap ujung tenda, untuk mengintai, Di arah timur terlihat lima orang, semua memakai jubah suci, tangan mereka menyekal pedang. Yang berada di depan nampaknya ada Tong Hian Toojin.
"Di arah barat, utara dan selatan, tentu ada kawan- kawan mereka..." pikir pula nona Ciau. "Rombongan Bu Tong Pay ini rupanya berniat mencari balas untuk guru mereka."
Selagi ia memikir demikian, Wan Jie rasai joli bergoyang.
Itulah gerakan disebabkan Ho Tiat Chiu telah berloncat keluar dari jolinya itu.
"Bukankah Cui In si imam telah mampus?" demikian bentakannya pemimpin Ngo Tok Kau ini. "Sungguh besar nyali kamu semua? Apakah kamu mau?"
"Kasi tahu kami, sebenarnya dimana adanya guru kami, Uy Bok Too-tiang?" Tong Hian tanya "Lekas bicara, supaya kau bisa bebas dari siksaan!"
Ho Tiat Chiu tertawa terbahak-bahak.
"Guru kamu bukannya bocah cilik umur tiga tahun," katanya, "Gurumu hilang, kenapa kamu menanyakannya kepadaku? Apa memangnya gurumu itu diserahkan dibawah penilikanku? Baiklah, kita sama-sama kaum Rimba Persilatan, aku nanti bantu kamu mencari dia! Kasihan kalau sampai dia terlantar diluaran, tidak ada yang urus!..."
"Hai, suaranya orang ini benar-benar halus dan merdu..." pikir Wan Jie. "Dia omong keras tetapi manis didengarnya... Tadinya aku sangka dia bicara sama Wan Siangkong dengan lagu-suara dibikin-bikin, untuk menarik hati orang..." Lalu terdengar suara penuh kemurkaan dari Tong Hian Toojin.
"Kamu kaum Ngo Tok Kau telah malang-melintang dimana-mana!" demikian suaranya imam ini. "Sekarang kami hendak bikin kamu insyaf, perbuatan jahat mesti terima pembalasan jahat juga!"
Tong Hian geraki pedangnya, tubuhnya juga, agaknya ia hendak lantas menyerang.
Masih Ho Tiat Chiu tertawa manis.
"Bu Tong Pay kesohor sebagai partai jantan," katanya, "tapi buktinya kamu tidak pernah secara terang-terangan mencari aku! Begitulah sekarang, selagi orang aku banyak yang terluka, diam-diam bagaikan hantu-hantu, kamu sembunyi di sini untuk memegat aku!. Ha-ha-ha-ha!"
Beraneka warna suara tertawanya ketua Ngo Tok Kau ini, lalu sebelum berhenti suara tertawanya itu, diarah barat utara terdengar satu suara jeritan hebat: "Aduh!"
Nyatalah nona ini sudah lantas mendahului turun- tangan, karena mana, ia menambah membangkitkan hawa- amarah musuh-musuhnya, maka tidak ampun lagi, orang lantas maju, untuk terjang padanya.
Pertempuran sudah lantas terjadi, Ho Tiat Chiu berlima segera kena dikurung. Sebab kali ini orang-orang Bu Tong Pay telah kumpul dalam jumlah besar, berikut semua anggautanya yang liehay.