Orang-orang Ngo Tok Kau pun kaget, sampai mereka berseru, lantas mereka merangsak, akan tolongi pahlawan mereka, akan tetapi mereka disambut Sin Cie dengan si anak muda putarkan diri sambil tubuhnya Siu Tat diputarkan juga, dipakai sebagai alat untuk menangkis serangan!
Semua orang Ngo Tok Kau merandak, tidak ada satu juga yang berani maju akan serang si anak muda, sebab mereka kuatir nanti mereka melukai "hu-hoat" mereka atau pelindung agamanya.
Sin Cie lantas saja berseru: "Dimana adanya orang yang kau culik? Lekas bilang!"
Phoa Siu Tat meramkan mata, tak sudi ia memberikan jawaban.
Sin Cie gunai jeriji tangannya, akan menotok jalan darah di tulang bebokongnya orang tawanannya itu.
"Aduh, aduh!" Siu Tat menjerit-jerit. Tak tahan ia akan sakitnya totokan itu, hingga ia mencoba berontak-rontak. Sin Cie membarengi, akan lepaskan cekalannya, akan banting tubuhnya pahlawan musuh itu.
Siu Tat benar-benar seorang berani dan beradat keras, walaupun ia mesti rebah bergulingan berulang-ulang, tak mau ia memberi jawaban, hingga pemuda kita jadi kewalahan.
"Baik!" pikir Sin Cie. "Kau tidak sudi bicara, mustahil lain orang tidak?" Ia segera ingat kepada ilmu totokan jalan darahnya yang liehay, asal dia gunai itu, siapa juga tak akan dapat menyadarkan korbannya.
"Aku mau lihat, kalau mereka sudah ditotok semua, Ho Tiat Chiu masih berani ganggu Ceng Ceng atau tidak?" demikian pikirnya akhirnya.
Orang-orang Ngo Tok Kau segera maju pula begitu lekas mereka lihat pahlawannya sudah dilepaskan, tetapi justru mereka merangsak, musuh pun menerjang mereka. Tapi Sin Cie maju untuk perlihatkan kelincahannya, ia berlompat kesana-sini, untuk kelit sesuatu serangan, dilain pihak, saban ia menyerang, ia membuat sesuatu sasarannya rubuh tak berdaya.
Beberapa orang Ngo Tok Kau yang cukup liehay masih bisa berkelahi dua-tiga jurus, Baru mereka rubuh, tidak demikian dengan yang kebanyakan, maka dalam tempo yang cepat, sudah kira-kira tiga-puluh orang pada rebah bagaikan mayat.
Ho Ang Yo kaget tidak terkira, ia lantas berseru, ia terus lompat ke pintu, untuk menyingkirkan diri, perbuatannya ini dicontoh oleh sisa kawan-kawannya. Maka sekejab saja, ruangan yang lebar itu kosong dari anggauta-anggauta Ngo Tok Kau itu kecuali mereka yang bergeletakan dilantai, yang pada keluarkan rintihan, cuma mata mereka, dengan sorot membenci, mengawasi kearah musuh mereka. "Adik Ceng! Adik Ceng 1" Sin Cie memanggil-manggil. "Adik Ceng, kau dimana?"
Kecuali sambutan kumandang, tidak ada jawaban.
Dalam penasaran, Sin Cie ma-sesuatu kamar pula, akan mencari, hasilnya siasia saja. Ia coba desak tanya beberapa orang Ngo Tok Kau, mereka ini diam saja bagaikan gagu, mata mereka mereka rapatkan.
Ketika itu, gedung itu telah kosong dari orang-orang Ngo Tok Kau kecuali mereka ini yang rebah semua.
Saking kewalahan, Sin Cie keluar dari gedung, akan naik pula atas kudanya, buat kabur pulang. Ketika ia sampai dirumah di gang Ceng-tiau-cu, ia dapatkan Ciau Wan Jie sudah datang bersama beberapa murid kepala dari Kim Liong Pang, nona itu sudah tolongi See Thian Kong semua, malah lukanya mereka ini pun sudah dibalut rapi.
Sin Cie periksa sesuatu dari sahabatnya itu, apabila ia dapati mereka sudah bebas dari ancaman malaikat elmaut, Baru hatinya lega, sehingga sekarang ia pikirkan Ceng Ceng saja, juwitanya.
Wan Jie coba hiburkan ini anak muda, dilain pihak, ia kirim beberapa anggotanya untuk pergi keempat penjuru kota, guna menyerep-nyerepi kabar.
Selama itu, rumah menjadi sunyi. Tidak ada orang yang bicara. Berselang kira-kira setengah jam, mendadak ada suara menggabruk diatas genteng dibetulan cimchee, lantas satu bungkusan besar menggelinding jatuh.
Semua orang menjadi kaget, malah Sin Cie sangat bergelisah. Ia lompat pada bungkusan itu, dengan kedua tangannya, ia putuskan tambang ikatannya. Belum sampai ia buka bungkusan itu, hidungnya sudah diserang bau bacin, bau darah yang amis, hingga hatinya memukul keras, kedua tangannya mengeluarkan keringat dingin.
Begitu lekas bungkusan telah dibuka, disitu tertampak satu tubuh mayat seperti tercincang, karena telah menjadi delapan potong. Kepala mayat kelihatan hitam mukanya, tetapi rambutnya, kumis dan jenggotnya, tetap putih. Maka dengan mengawasi sedikit lama saja, Sin Cie segera kenali Tok-gan Sin-liong Sian Tiat Seng si Naga Sakti Mata Satu!
Bukan main kagetnya anak muda ini, berbareng pun ia jadi sangat gusar karena pemandangan yang menyayatkan itu, tanpa bilang suatu apa, ia loncat naik keatas genteng, kewuwungan, akan memandang kesekitarnya. Ia masih lihat satu tubuh bagaikan bajangan yang lagi berlari-lari diarah selatan-barat. Ia menduga pada orang Ngo Tok Kau yang barusan membawa mayatnya Sian Tiat Seng, tidak ayal lagi, ia lompat turun ketanah, untuk mengejar. Kali ini ia telah keluarkan kepandaiannya, untuk bisa menyandak orang yang telah lari jauh itu.
Pengejaran dilakukan sampai disuatu tempat dimana ada banyak pepohonan lebat, kedalam situ bajangan tadi lari masuk.
Ada pantangan didalam kalangan kaum kangou, apabila kita menemui rimba, kita dilarang memasukinya, akan tetapi Sin Cie langgar pantangan ini, karena keras sangat tekadnya untuk cari Ceng Ceng, untuk tolongi Nona Hee itu. Demikian ia lompat masuk ketempat lebat itu, akan susul orang yang dikejarnya itu. Tidak ada rintangan untuk anak muda ini, sampai setelah masuk sedikit jauh, ia lihat beberapa puluh orang asik berkumpul merubungi segundukan api tabunan, kelihatannya mereka sedang pasang omong dengan asik sekali, rupanya mereka tidak menyangka bahwa ada orang telah susul kawannya tadi dan sekarang lagi terus mencari mereka.
969 Seorang kebetulan menoleh ke belakang, kaget ia kapan ia lihat Sin Cie lagi mendatangi, dalam kagetnya itu, ia lantas berteriak, terus ia bangun berdiri, untuk lari. Perbuatan ini diturut oleh kawannya, yang pun kaget bukan main, semua lari serabutan.
Sin Cie menyerbu, ia hajar sesuatu orang yang dapat ia susul, ia menoyor, ia menendang, ia totok mereka, hingga siapa menjadi kurban sasaran, tentulah dia rubuh tak berdaya. Malah siapa lari sedikit jauh, ia rubuhkan dengan biji-biji caturnya. Ia bisa berkelahi dengan leluasa, karena hampir tidak ada perlawanan.
Semua musuh itu perdengarkan suara berisik, tapi sedetik saja rimba menjadi sirap, tidak ada lagi satu musuh jua disitu. Maka Sin Cie kebuti pakaiannya, ia bertindak keluar.
Diantara korban-korban itu kedapatan Thia Kie Su, Cee In Go dan beberapa lagi orang liehay dari Ngo Tok Kau, yang tidak ada adalah Ho Tiat Chiu dan Ho Ang Yo.
"Mungkin Ceng Ceng belum terganggu," pikir pemuda ini, yang hatinya mulai tenteraman. "Aku percaya selanjutnya dia tidak bakal diganggu..."
Lantas setelah itu, pemuda ini berjalan pulang.
Sampai magrib itu hari, orang-orangnya Wan Jie masih belum berhasil memperoleh endusan apa juga.
Atas permintaannya Sin Cie, Gou Peng dan Lo Lip Jie antar mayatnja Sian Tiat Seng ke kantor pembesar yang menjadi seatasannya Tok-gan Sin-liong. Di sini orang tidak berdaya kapan mereka saksikan keadaan mayat, karena bukti terang kepala opas ini telah menjadi korbannya Ngo- Tok Kau. Cuma orang tidak mengerti, bagaimana hebatnya pekerjaannya kawanan orang dari Inlam itu. Malam, itu Ciau Wan Jie tidak pulang, bersama beberapa anggauta Kim Liong Pang ia wajibkan diri untuk merawat dan menjagai orang-orang yang terluka, sebab benar diaorang ini sudah bebas dari ancaman kematian, tetapi diaorang masih lelah, perlu rawatan dan istirahat.
Sin Cie sangat masgul, sampai ia tak dapat tidur. Ia duduk di atas pembaringannya, memikirkan daya bagaimana untuk cari Ceng Ceng.
Sudah satu jam Sin Cie duduk diam, pikirannya masih terbenam dalam kepepatan, meski begitu, karena rumah dan sekitarnya sunyi-senyap, ia dapat dengar suara anjing menggonggong dua kali sedikit jauh di dalam gang. Ia juga dengar suara kentongan, yang suaranya datang semakin dekat, tandanya orang ronda lagi mendatangi.
"Benar-benar kali ini aku terpedaya," pikir ini anak muda. Ia ingat bagaimana ia telah makan pancingannya Ho Tiat Chiu. Ia anggap itu adalah kekalahannya yang pertama, yang paling besar.
Tiba-tiba saja, dalam kesunyian itu, ia dengar suara ketokan pelahan pada tembok.
"Inilah bukannya Gou Peng dan Lip Jie jang kembali," ia menduga-duga. "Ilmu entengkan tubuh dari mereka tidak begini sempurna. Mestinya telah datang musuh..."
Kendati juga ia telah menerka kepada musuh, Sin Cie tidak bergerak dari tempatnya bercokol, ia duduk terus dengan tenang, melainkan kali ini, ia memasang mata, ia waspada luar biasa.
Segera terdengar suara enteng di luar jendela, seperti suara jatuhnya daun rontok, suara mana disusul sama tertawa pelahan tetapi tedas sekali di malam yang sunyi itu. Itulah tertawa manis yang diikuti dengan kata-kata yang halus:
"Wan Siangkong, ada tetamu!..."
"Oh, Ho Kau-cu yang datang!" sahut Sin Cie. "Silakan masuk!"
Baru sekarang pemuda ini berbangkit, untuk nyalakan lilin, sesudah mana ia bertindak ke pintu, untuk membukai, akan sambut tetamunya itu yang cantik-manis, yang nyalinya besar.
Ho Tiat Chiu muncul tetap dengan dandanannya serba putih, ia pun bertindak masuk dengan tindakan tenang, air mukanya bersenyum-senyum. Sekelebatan saja ia telah lihat orang punya seluruh kamar di mana, kecuali pembaringan dan kursi-meja, tidak ada lainnya perabotan lagi.
"Sungguh, Wan Siangkong hidup sangat sederhana!" katanya sambil tertawa.
Sin Cie bersenyum, ia tidak menjawab.
"Kali ini aku datang ke mari, Wan Siangkong tentulah telah ketahui maksudnya," kata pula si nona, yang tak ketinggalan tertawanya yang manis.
"Dalam hal itu aku ingin Ho Kau-cu menjelaskannya," sahut pemuda kita.
"Kau kehendaki suatu apa dari aku, aku juga hendak memohon apa-apa dari kau," berkata kepala agama dari Ngo Tok Kau. "Dalam satu jurus ini, pertempuran kita menghasilkan tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah. "
Sin Cie tertawa. "Aku pikir tak usah kita lanjuti pertempuran kita ini," ia biang. "Ho Kau-cu sangat cerdik dan kosen, aku sangat mengaguminya."
Kepala agama itu tertawa.
"Ini adalah babak yang pertama," ia menetapinya. "Kecuali kau musnahkan semua anggauta Ngo Tok Kau kami, Wan Siangkong, maka di belakang hari masih ada saja kejadian-kejadian yang akan membuat kau sakit kepala "
Kaget juga Sin Cie. Ia anggap hebat benar kaucu ini. Dialah satu wanita yang tak dapat dipandang ringan. Berani dan bandel!
"Ho Kau-cu," katanya kemudian, "karena kau bermusuh dengan ayahnya sahabatku itu, baiklah kau cari saja ayahnya itu. Kenapa sih kau hendak bikin susah pada seorang anak muda yang belum tahu apa-apa? Laginya ada pri bahasa yang berkata, permusuhan itu lebih baik didamaikan tetapi jangan tambah diperhebat..."
Nona Ho itu tertawa geli hihi-hihi.
"Hal itu baiklah kita bicarakan belakangan," katanya. "Sekarang aku ingin minum arak!"
"Sungguh aneh orang ini," pikir Sin Cie yang toh teriaki kacungnya untuk lekas sediakan arak dan sayurannya.
Wan Jie berkuatir, untuk penjagaan, ia lekas dandan untuk menyamar sebagai kacung, kemudian ialah yang keluar membawa nenampan arak serta beberapa rupa sayurannya.
Ho Tiat Chiu tertawa apabila ia lihat kacung itu. "Benarlah, dibawah perintahnya satu jenderal jempolan tidak ada serdadu yang lemah!" katanya. "Kacung Wan Siangkong saja begini hebat tampangnya!"
Sin Cie tidak meladeni, ia hanya isikan dua cawan. "Silakan!" ia mengundang.
Ho Tiat Chiu angkat cawannya, ia tenggak isinya, lalu ia minum pula, hingga ia keringkan dua cawan beruntun.
"Wan Siangkong tidak memberi muka kepadaku dengan tak sudi minum arakku," kata dia sambil bersenyum, "siaumoay sendiri sebaliknya sangat lancang dan bernyali besar...".
"Arak kami tidak ada racunnya," kata Wan Jie, yang tak dapat mengendalikan diri untuk tidak turut bicara.
"Bagus, bagus!" Ho Kaucu tertawa pula. "Sungguh satu pengurus rumah muda yang cerdik! Mari keringi!"
Ia minum pula araknya.
Sin Cie minum, untuk menemani.
Diantara terangnya sinar lilin, pemuda kita lihat sepasang mata yang tajam dari kepala agama Ngo Tok Kau itu, satu wajah yang eilok, sepasang sujen yang manis sekali, hingga ia berpikir: "Diantara nona-nona yang aku kenal, mengenai kecantikan A Kiu adalah yang nomor satu, Siau Hui ada manis dan polos, Wan Jie terbuka dan cerdas. Ceng Ceng benar berandalan, akan tetapi terhadap aku, ia tulus dan lemah-lembut. Maka sungguh aku tidak sangka, disebelah mereka semua, masih ada ini satu kaucu yang eilok bagaikan bunga-bunga toh dan lie yang indah-permai tetapi yang hatinya berbisa bagaikan ular dan kala! Benar- benar, dikolong langit yang luas ini, orang aneh, orang luar biasa ada dimana-mana!" Ho Tiat Chiu lihat orang awasi dia, ia diam saja, ia melainkan bersenyum. Adalah selang sekian lama, Baru ia buka mulut pula.
"Wan Siangkong," katanya, "dengan sesungguhnya siaumoay takluk sekali untuk siangkong punya kepandaian ilmu silat. Turut apa yang aku dengar, gurumu itu, Kim Coa Long-kun, tidak punyakan ilmu menotok jalan darah tiam-hiat-hoat seliehay kau ini. Apa mungkin siangkong ada punya lain guru lagi?"
"Kau benar. Aku masih punyakan dua guru lainnya," Sin Cie jawab dengan jujur.
"Ehm! Siangkong telah gabung kepandaiannya tiga guru, pantas kau jadi liehay begini!" memuji nona itu. "Siangkong, malam ini aku datang mengunjungi kau, maksudku yang utama adalah untuk minta berguru kepadamu..."