"Bret!" demikian satu suara nyaring.
Gaetannya si nona menyambar baju si anak muda, baju itu robek!
"Ayo!" berseru Ho Kau-cu." Celaka betul! Bajumu pecah, Wan Siangkong! Mari buka bajumu itu, nanti aku bawa pulang untuk dijahiti!. " Mendongkol juga Sin Cie menampak orang demikian licik, karena ini, sedang si nona goda ia, dengan cepat ia menyerang dengan tangan kanannya, ujung bajunya dipakai menyampok, tatkala si nona berkelit, ia merangsek, ia ulangi serangannya secara beruntun.
Dalam keadaan terdesak itu, Ho Tiat Chiu lompat mundur, lalu ia menyabet dengan talinya, tapi Sin Cie papaki dengan tangan bajunya yang robek tadi, yang sekarang bergeliwiran, hingga ujung baju itu terlibat tali, setelah itu, ia membetot dengan kaget.
Ho Kau-cu tarik pulang talinya, ia terlambat, malah cekalannya terlepas, talinya jatuh ke tanah, berbareng sama ujung baju, yang pun robek lebih jauh, terputus dari bajunya.
"Bagaimana sekarang?" tanya Sin Cie.
Nona itu tidak menjawab, hanya tangan kanannya dipakai meraba ke bebokongnya hingga dilain saat, ia sudah tarik keluar sebatang Kim-kau ialah gaetan terbuat atau tercampur emas, hingga kelihatannya bercahaya berkilau- kilau.
Heran juga Sin Cie menyaksikan alat-senjata orang yang seperti tak habis-habisnya, banyak macamnya. Ia juga tak mengerti maksud si nona.
"Aku telah rampas talimu. kau tak boleh ganggu aku lebih lama!" katanya, untuk memperingati janji.
"Kau bicara sendiri! Kapan aku telah berjanji?" balik tanya si nona.
Sin Cie bungkam. Memang juga, si nona belum pernah terima baik perjanjian yang ia kemukakan tadi, hanya si nona malah menantang ia untuk coba rampas senjatanya dia itu. Ia jadi masgul. Kalau terus-terusan ia melayani, sampai kapan gangguan ini bisa dibikin tamat.
"Hm!" akhirnya ia bersuara. "Aku mau lihat, berapa banyak macamnya gegamanmu!"
Ia memikir untuk rampas sesuatu senjatanya si nona, supaya dia tahu rasa dan akan mundur sendirinya.
"Ini dia jang dinamakan Kim-gia-kau!" kata Ho Kau-cu. "Kim-gia-kau" berarti "gaetan kelabang emas." Lantas ia tonjolkan tangan kirinya, yang merupakan gaetan hitam. "Dan ini Tiat-gia-kau!" ia menambahkan. "Tiat-gia-kau" berarti "gaetan kelabang besi." Dan ia menambahkan terlebih jauh: "Untuk meyakinkan ini macam gaetan, ayahku telah kutungi tanganku yang kiri ini. Ayah bilang, daripada memegang senjata, lebih baik senjata dipasang tetap ditangan. Aku telah yakinkan gaetan ini untuk tigabelas tahun, masih juga belum sempurna. Wan Siangkong, gaetan ini ada racunnya, awas, jangan kau merampasnya dengan tanganmu!"
Sin Cie lihat orang bicara sambil tertawa, sambil bersenyum berseri-seri. Tabah sekali nona ini.
Lalu si nona maju menghampirkan, dengan tindakannya pelahan-lahan.
Kuatir orang nanti menggunai tipudaya, Sin Cie memasang mata, ia berlaku waspada.
Mendadak saja di kejauhan terdengar suara suitan, suara yang sayup-sayup. Mendadak Sin Cie, ingat suatu apa, hingga ia berseru dalam hatinya: "Celaka! Apa mungkin dia ini sengaja tahan aku di sini sedang konco-konconya dia perintah pergi serbu Ceng Ceng!"
Tidak ayal lagi, pemuda kita putar tubuhnya, untuk lari pulang. Ho Tiat Chiu tertawa berkakakan.
"Baru sekarang kau pulang, kau terlambat!" katanya.
Walaupun dia mengucap demikian, nona ini pun berlompat, untuk sambar si anak muda, bebokong siapa ia hajar dengan gaetan besinya.
Masih Sin Cie lihat gerakan si nona, ia berlompat, berkelit kesamping, sembari membaliki tubuh, sebelah kakinya menyapu.
Ho Kau-cu lompat, akan hindarkan diri dari sapuan itu, tetapi hampir berbareng dengan itu, ia barengi menyerang dengan dua-dua gaetannya.
Itu waktu ada diwaktu fajar, sinar matahari pertama Baru saja mulai muncul, maka diantara sorotannya sinar sang Batara Surya itu, kedua gaetan berkilauan hitam dan kuning emas, memain di depan mukanya si anak muda.
Bercekat hatinya Sin Cie. Segera ia dapat kenyataan, ilmu silat dari kepala agama Ngo Tok Kau ini tidak saja berada di atas dari Tong Hian Toojin dan Bin Cu Hoa. malah masih di atasannya Ngo-cou dari Cio Liang Pay. Maka itu, melayani si nona, ia sibuk juga, sebab pikirannya terpecah dua. Di sana ada Ceng Ceng yang keselamatannya ia kuatirkan, meskipun masih belum tentu Nona Hee berada dalam bahaya. Beberapa kali pemuda ini berniat rampas Kim-gia kau, senantiasa ia gagal, sebab sambil menarik pulang gaetannya itu, Ho Tiat Chiu berbareng melindungi dengan Tiat-gia-kau, gaetannya yang lain yang dipasang di tangan. Yang lebih menyulitkan dia, dia kuatirkan racun di kedua ujungnya gaetan yang liehay itu.
Sampai di jurus yang ketiga-puluh, masih Sin Cie belum berhasil dengan pelbagai dayanya untuk merampas gaetan orang itu, untuk memunahkan Tiat-gia-kau. Itu berarti ia mensiasiakan ketika. Itu pun mungkin membahayakan Ceng Ceng andai-kata benar puterinya Kim Coa Long-kun diserbu orang-orang Ngo Tok Kau
Akhir-akhirnya, dalam sibuknya itu, pemuda ini menjadi putus asa, maka terpaksa ia lantas raba Kim Coa Kiam, untuk hunus itu pedang mustika, yang sejak turun gunung, belum pernah ia pakai secara sungguh-sungguh. Baru saja tadi ia pakai itu untuk memapas senjatanya Tong Hian Toojin dan Bin Cu Hoa serta beberapa anggauta Kim Liong Pang.
Kapan Ho Tiat Chiu tampak senjata ular-ularan itu, dia kaget hingga mukanya pias.
"Bagus!" serunya. "Kiranja Kim Coa Kiam terjatuh dalam tanganmu!"
"Ya, habis apakah kau mau?" menantang si pemuda, yang terus saja maju menyerang, beberapa kali ia menabas pulang-pergi.
Ho Tiat Chiu sibuk dalam sekejab. Terpaksa ia main mundur saja, tak sempat ia membalas menggaet, sedang tadi, ia ada leluasa merangsak lawannya ini.
Sin Cie tidak mau mengasi ketika, maka akhirnya datanglah saatnya ia tabas kutung ujungnya Kim gia-kau, hingga si nona kaget tak terkira.
Lantas si anak muda mengancam:
"Jikalau tetap kau ganggu aku, aku nanti tabas juga Tiat- gia kau!" demikian serunya.
Benar-benar Ho Tiat Chiu tidak berani maju pula, ia cuma bisa mengawasi dengan mendelong.
Sin Cie masuki pedangnya ke dalam sarung, ia putar tubuhnya, terus ia lari pulang. Ia lari dengan keras sekali, hingga sebentar kemudian, ia telah sampai di mulut gang. Justru ia sampai di situ, lantas ia saksikan hal yang mengejutkan dia.
Di situ Ang Seng Hay rebah di antara kobakan darah! Lekas-lekas ia mengangkat bangun. Syukur sekali, pengiring itu masih bernapas, tapi karena dia terluka pada lehernya, dia tidak dapat bicara, sebagai gantinya omongan, dia lantas menunjuk berulang-ulang ke dalam rumah.
Sin Cie pondong tubuh orangnya itu, untuk dibawa masuk. Kapan ia sampai di dalam, rumahnya menjadi kacau tidak keruan-macam. Kursi dan meja terbalik-balik, rusak, rusak juga daun-daun pintu dan jendela, begitupun perabotan lainnya. Itulah bukti dari bekas pertempuran hebat, bekas serbuan membabi-buta.
Dengan hati berkuatir, Sin Cie robek tangan bajunya, untuk balut lukanya Seng Hay, untuk mencegah darah keluar terus, habis itu ia lari kesebelah dalam. Pemandangan di sini tak kurang hebatnya, kerusakan terdapat pada segala bagian. Paling hebat adalah ketika ia tampak Ou Kui Lam dan Thia Ceng Tiok pun rebah dilantai dengan masing-masing sedang merintih.
"Apakah sudah terjadi?" tanya Sin Cie.
"Nona Ceng Ceng, Nona Ceng Ceng..." kata Kui Lam dengan susah. "Dia dibawah lari orang-orang Ngo Tok- Kau!..."
Inilah puncaknya kehebatan.
"Mana See Thian Kong dan yang lain-lain?"
Masih pemuda itu dapat tetapkan hati, untuk menanyakan lain-lain kawannya itu. Ou Kui Lam tidak menyahut, dia cuma menunjuk keatas, ke wuwungan rumah.
Sin Cie tidak menanya lagi, ia lari ke cimchee, untuk lompat naik ke atas genteng, maka di sana, yang paling pertama, ia tampak Tay Wie dan Siau Koay sedang peluki A Pa, si empeh gagu, kedua binatang itu memekik-mekik tak hentinya, terang mereka lagi tidak berdaya. Akan tetapi, kapan mereka lihat majikannya, mereka lompat untuk menubruk, suaranya dibuka lebih besar, agaknya mereka hendak mengadu. Sayang mereka tidak mampu bicara.
See Thiah Kong juga berada diatas genteng, mukanya bersemu hitam, suatu tanda dia pun telah terluka, malah terluka hebat. A Pa sendiri terluka pada tubuhnya.
Menampak semua itu, Sin Cie kertak gigi. Meluaplah hawa-amarahnya.
"Kenapa aku jadi tolol sekali!" dia sesalkan diri sendiri. "Kenapa aku kasi diriku dicantel oleh itu perempuan hina?"
Ketika itu, sang pagi sudah datang, maka semua bujang, yang tadinya lari kalang-kabutan, akan singkirkan diri, mulai pada pulang.