Dan tak tunggu jawaban lagi, nona ini meraba kepinggangnya, begitu lekas ia menarik kembali tangannya, bersama itu tertarik keluar sebatang joan-pian, ruyung lemas seperti tungkat panjang, yang sebagian batangnya mempunyai gaetan-gaetan halus, maka siapa tak beruntung terkena ruyung itu, mesti - sedikitnya - dagingnya bakal terbetot sepotong demi sepotong.
"Wan Siangkong, inilah yang disebut Kat bwee-pian," kata si nona, yang perkenalkan ruyungnya sebagai ruyung Ekor Kala. "Diujung semua duri ini ada racunnya, maka itu, harus siangkong berlaku waspada sekali. Sudah siapkah?"
Mau atau tidak, dalam hatinya, Sin Cie bergidik.
Begitu merdu suara si nona, begitu manis lagunya, demikian cantik-molek orangnya, siapa sangka, sikapnya sebaliknya sangat ganas. Itulah suatu hal yang sangat bertentangan satu dengan lain!
Tentu saja tak sudi Sin Cie melayani ular cantik Ini. Maka ia segera rangkap kedua tangannya, untuk memberi hormat. "Maaf!" katanya seraya ia hendak memutar tubuh, untuk undurkan diri.
Ho Tiat Chiu tidak tunggu orang pergi, dengan sebat ia menyabet dengan joanpian istimewanya itu, berbareng mana, sambaran anginnya sampai terdengar nyata.
Rupanja Sin Cie telah bisa menduga, maka atas datangnya serangan, kepada dadanya, ia segera mengelak sambil bersenyum, hingga serangan melewati sasarannya, menyusul mana, ia berlompat mundur, untuk lompat terus, hingga sekejab saja, ia sudah jauhkan diri beberapa tumbak.
Ho Tiat Chiu pasti merasa ia tidak bakal sanggup susul si anak muda, dari itu ia perdengarkan suaranya yang nyaring: "Begini saja muridnya Kim Coa Long-kun? Sungguh dia membikin merosot derajat gurunya, yang namanya sangat kesohor! Ha-ha-ha!"
Diperhina secara demikian, Sin Cie melengak "Senantiasa aku mengalah saja, dia rupanya jadi kepala
besar?" demikian ia pikir. "Kaum Ngo Tok Kau ini jumawa
sekali! Apakah mungkin aku jeri terhadapnya?"
Karena memikir demikian, Sin Cie berdiri diam, ketika ini digunai si nona, untuk berlompatan menyusul dia, malah segera, berbareng sama berkelebatnya cahaya putih, nona itu menyambar dengan ruyungnya.
Sin Cie kerutkan alis.
"Kenapa dia menggunai senjata terkutuk ini?" pikir dia. "Dia begini eilok, kenapa dia tersesat?"
Ia lantas saja berkelit, untuk menyingkir dari serangan itu.
Oleh karena lawan menggunai senjata yang banyak durinya dan beracun juga, Sin Cie tidak berani melayani sebagaimana biasanya ia melawan musuh bersenjata dengan tangan kosong, tapi juga ia tidak mau lekas-lekas gunai senjatanya, dari itu, ia berkelahi dengan kedua kepalannya dikasi masuk dalam ujung tangan bajunya. Ia berkelahi dengan senantiasa berkelit dari sesuatu serangan, untuk ini ia andalkan kelincahannya.
Ho Tiat Chiu gesit sekali, cepat sesuatu serangannya, akan tetapi kemplangannya, sabetannya, ataupun sodokannya, tidak pernah mengenai sasarannya, malah melanggar ujung baju pun tidak bisa.
Dua-puluh jurus telah dikasi lewat dengan cepat, tidak pernah Ho Tiat Chiu peroleh hasil, akhirnya ia jadi sengit nampaknya, hingga ia menegur: "Kau main berkelit saja, apakah kau masih terhitung satu hoohan?"
Sin Cie tertawa.
"Bukankah kau hendak bikin panas hatiku, supaya aku rampas senjatamu?" ia tegaskan. "Itulah tak sukar!"
Pemuda ini segera jumput dua potong genteng, yang ia pegang dengan masing-masing sebelah tangannya. Ia masih berkelit saja, tapi kali ini ia memasang mata kepada joanpian orang itu.
"Lepas ruyungmu!" tiba-tiba ia berseru membarengi iapunya dua potong genteng yang dipakai menyambut ujung ruyung yang dipakai menyerang kepadanya, sambil terus ia membetot, sementara kaki kanannya diangkat, untuk dupak kakinya si nona.
Kaget Ho Tiat Chiu. Tidak ia sangka, musuhnya demikian liehay.
Tentu saja ia menjadi repot. Mana ia hendak tarik pulang ruyungnya, mana ia hendak lindungi kakinya. Ia lantas lepaskan ruyungnya sambil mundur. Tapi ia telah berdiri di
949 pinggiran genteng, inilah ia tidak ketahui, tidak ampun lagi ia kejeblos, tubuhnya turut melayang jatuh kebawah!
Sin Cie cekal ruyung orang, ia tertawa,
"Bagaimana kau lihat muridnya Kim Coa Long-kun?" tanyanya.
"Bagus!" seru si nona selagi tubuhnya jatuh. Benar-benar dia gesit luar biasa, sebab begitu mengenai tanah - ia tidak rubuh, hanya dapat menaruh kaki - tubuhnya sudah mencelat pula naik keatas genteng!
Menampak ini, meski juga ia sendiri sangat liehay, Sin Cie kagum tidak kepalang.
"Sekarang aku hendak belajar kenal sama senjata rahasiamu, Wan Siangkong," kata pula si nona, yang sangat bandel. "Kami dari kaum Ngo Tok Kau ada punya pasir Tok-siam-see. "
Itulah "pasir kodok beracun"...
Sin Cie dengar suara orang yang nyaring tetapi empuk, ia tidak dapat lihat orang mengayun tangan, tapi tahu-tahu di hadapannya ada berkelebat sinar-sinar kuning emas, hingga ia jadi sangat kaget. Ia insyaf, itulah senjata rahasia si nona. Dalam keadaan terhimpit seperti itu, ia lantas apungi tubuhnya, akan berlompat tinggi!
Segeralah terdengar suara merotok pelahan diatas genteng, itulah senjata rahasianya Ho Tiat Chiu, diapunya "pasir pasir" yang beracun, sedikitnya belasan biji. Sebenarnya itu bukannya pasir tulen, itu adalah jarum baja halus, yang digunainya bukan dengan disambitkan. Jarum- jarum itu termuat dalam satu pipa atau bungbung, yang dia cantel di dadanya. Untuk kasi kerja itu, cukup asal dengan tangan kanannya dia tepuk pinggangnya dimana ada dipasang alat rahasianya. Untuk melepaskan jarum ini,
950 iapun tak usah main mengincar lagi, cukup asal dia berdiri menghadapi sasarannya. Jadi senjata ini beda dengan senjata rahasia lainnya yang memerlukan ayunan tangan. Maka tidak heran kalau Sin Cie terkejut. Memangnya hampir tak ada orang yang ketahui, kaucu dari Ngo Tok Kau ini mempunyai semacam senjata rahasia.
Akan tetapi pemuda kita juga tidak diam saja, selagi dia berlompat, belum sampai tubuhnya turun pula, tangannya telah diayun, tiga biji caturnya dikasi menyambar kearah jalan darah yang lemah dari si nona. Dan ia pun sambil membentak: "Aku tidak bermusuh denganmu, kenapa kau berlaku begini telengas?"
Ho Tiat Chiu berkelit untuk dua biji catur, sedang yang ketiga ia sambut dengan tangannya.
"Ayo, sungguh liehay!" dia menjerit. "Sakit tanganku!. "
Lalu, dengan melihat turunnya tubuh, ia balas menyerang dengan biji catur itu.
Sin Cie lihat serangan itu, tangannya si nona toh diayun. Ia bisa duga, serangan pasti tak kena. Tadinya ia niat sambuti biji caturnya itu, tetapi sekicapan mata ia ingat, mungkin tangannya si nona ada racunnya, maka ia lantas gunai tangan bajunya, untuk menyampok, hingga biji catur terlempar kesamping.
Habis menyerang dengan biji catur itu, Ho Tiat Chiu tidak berhenti untuk beristirahat, dia hanya masuki sebelah tangannya kedalam sakunya. Ketika ia sudah tarik itu keluar, ia terus ayun itu. Maka lantas, belasan tali yang bukan tali sutera atau tali air emas, menyambar kearah kepalanya si anak muda, yang hendak ditungkrap!
"Hebat!" pikir Sin Cie, yang terus waspada untuk orang punya pelbagai alat yang ada racunnya. Karena ia tidak mau menyingkir, ia ajun joanpian lawannya, untuk dipakai menangkis serangan tali-tali istimewa itu.
Sebat luar biasa, Ho Tiat Chiu tarik pulang tali-talinya itu. Iapun tertawa.
"Kat-bwee-pian itu ada kepunyaanku!" katanya. "Kau pakai senjataku itu, kau malu atau tidak?"
Teranglah nona ini mengejek. Pun terang juga iapunya lagu-suara orang Inlam asli.
Sin Cie lemparkan joanpian keatas wuwungan.
"Jikalau aku bisa rampas beberapa lembar talimu itu, maukah kau berjanji yang kau bersama semua orang Ngo Tok Kau tidak akan grembengi aku pula?" tanya dia.
"Inilah bukannya tali," sahut si nona. "Inilah tali yang terlalai dari galagasi si kawa-kawa. Jikalau kau menghendaki untuk merampas, silakan, kau boleh coba!"
Nona itu menantang, dengan talinja itu ia segera menyambar, kearah pinggang si anak muda.
Sin Cie segera berkelit, ia niat menyambar benang itu tapi ia batalkan niatnya dengan tiba-tiba. Sebab tiba-tiba saja ia ingat pada racun!
Ho Tiat Ciu melanjuti serangannya, berulang-ulang, atas mana, si anak muda melayani terus dengan unjuk kegesitannya, yaitu ia senantiasa main berkelit, ke samping atau mundur, secara begini ia bisa berbareng perhatikan gerak-gerik orang. Nona itu hebat menyerangnya, pandai juga pembelaannya.
Selang sepuluh jurus, Sin Cie berpikir: "Ngo Tok Kau gemar memelihara binatang-binatang beracun, antaranya kawa-kawa, sekarang permainan silat tali si nona ini mirip dengan terkaman-terkamannya sang kawa-kawa itu. Bisa sekali ia menelad kawa-kawa, untuk menciptakan ilmu silat ini."
Lantas pemuda ini menunggu ketika lowongan, untuk turun tangan.
Segera datang saatnya Ho Kaucu menyerang secara hebat, apabila si anak muda berkelit ke samping, serangannya gagal, tangannya terlonjor kedepan. Inilah ketikanya Sin Cie, sebelum orang sempat perbaiki diri, ia maju, untuk merangsak, guna totok iga si nona. Ho Tiat Chiu tampak ia terancam bahaya, tidak sempat ia menarik pulang senjatanya, maka untuk tolong diri, ia egos tubuhnya kesamping.
Dengan tiba-tiba saja muka Sin Cie merah sendirinya, ia tidak sangka serangannya ini bakal memberikan hasil, hingga ia pikir, bagaimana ia dapat meletaki tangannya ditubuh satu wanita. Kesangsiannya ini membuat gerakannya menjadi ayal.
Ho Tiat Chiu mendapat ketika karena kesangsiannya lawan, yang ia tak tahu disebabkan apa, ia lantas gunai ketika ini, akan memutar tubuh, akan terus menyambar dengan tangan kirinya, dengan gaetannya.
Sin Cie terperanjat, lekas-lekas ia tarik pulang tangannya.
Ia batal menyerang terus.