Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 135

Memuat...

"Tong Hian Sutee," katanya, "ketika suhu hadiahkan kau pisau belati, apakah pesannya?"

Tong Hian unjuk sikapnya sungguh-sungguh.

"Itulah," sahutnya, "aku dilarang keras membunuh karena urusan pribadi, pisau mesti dirawat dan disimpan hati-hati, apabila kita tak berdaya dalam satu pertempuran, dengan pisau itu kita mesti bunuh diri!"

Suheng itu manggut, lantas ia panggil balik pada Bin Cu Hoa.

Setelah adik seperguruan itu sudah datang dekat, Cui In pandang Sin Cie dan Wan Jie.

"Sekarang tentu jiewie percaya bahwa Bu Tong Pay mempunyai pesan terakhir itu," katanya.." Maka juga orang-orang anggauta kita, tidak perduli bagaimana tersesatnya, tidak nanti mereka gunai kay-sat-too untuk bunuh orang."

"Jadi pisau belati itu dinamakan kay-sat-too?" Sin Cie tegaskan.

"Kay-sat-too" berarti "pisau yang dilarang dipakai membunuh orang lain." "Benar," Cui In Toojin manggut. "Pisau belati adalah alat tajam untuk membunuh manusia, akan tetapi sejak contoh dari Hie Hian Su-cou itu, mulai sucou tingkat ke- limabelas, kami telah mengadakan aturan keras ini. Semenjak itu, apabila ada murid yang hendak menyingkirkan orang jahat, dia Baru boleh lakukan itu setelah peroleh ijin dari ketua, kecuali apabila dia kena dikepung dan terpaksa mesti membela diri. Apabila ada murid yang lancang membunuh, tidak perduli si kurban bagaimana besar kejahatannya, jikalau itu dilakukan tanpa perkenan atau setahu ketua, maka perkaranya itu mesti ditangguhi sampai rapat besar di Bu Tong San yang biasa diadakan setiap dua tahun sekali, diwaktu itu perkara bakal diperiksa dan diputuskan, siapa bersalah, dia mesti bunuh dirinya dengan kay-sat-too itu. Ketika dahulu Bin Sutee hendak bunuh Ciau Suhu, untuk pembalasan sakit hati bagi kakaknya, ia telah peroleh perkenanku, akan tetapi belakangan, setelah ketahuan dia telah dipermainkan oleh orang jahat, apabila setelah itu dia masih membunuh juga Ciau Suhu, maka dia telah langgar aturan kami!"

Imam ini menghela napas.

"Kay-sat-too adalah alat untuk membunuh diri sendiri," ia menambahkan, menjelaskan, "Umpama ada murid Bu Tong Pay yang menghadapi musuh tangguh, hingga tak sanggup dia melawannya, dan musuh itu masih terus mendesak dia, sampai dia tak bisa loloskan diri lagi, maka dia mesti gunai pisau belati ini, untuk membunuh diri, supaya dengan begitu bisa dicegah rubuhnya nama baik dari Bu Tong Pay. Mengenai Bin Sutee ini, diumpamakan benar dia sudah langgar pesan, akan tetapi dikolong langit ini ada banyak macam senjata lain, mengapa dia demikian tolol hingga dia sudah menggunakan kay-sat-too? Dan kenapa, sesudah dia melakukan pembunuhan, dia masih tidak bawa kabur pisau belatinya itu?"

Mendengar ini, Sin. Cie dan Wan Jie manggut-manggut. "Nona Ciau, aku akan kasikan kau sepucuk surat," kata

Cui In Toojin.

Dari dalam peti, imam ini angkat satu bungkusan, yang ia terus buka, disitu ada sesusun surat-surat tapi ia hanya ambil satu di antaranya, yang ia terus angsurkan kepada si nona.

Wan Jie berpaling kepada Sin Cie. Anak muda kita manggut, maka ia lantas sambuti surat itu dari tangan si imam. Diantara cahaya rembulan, ia baca alamat dan alamat si pengirim. Itulah surat dari Bin Cu Hoa untuk Cui In Toojin, sang suheng. Ia lantas tarik keluar suratnya, yang kertasnya ada kertas-tulis dari hotel "Thong Siang" di Pang- pou, ia beber itu, untuk dibaca.

Huruf-huruf tidak keruan, tata-bahasanya pun kalut. Ia terus baca:

"Cui In Toasuheng yth.,

Dalam perkara dengan Ciau Kong Lee, Baru sekarang siautee ketahui bahwa siautee telah dipermainkan orang. Sudah begitu, apa celaka tadi malam pun siautee punya kay-sat-too telah dicuri orang jahat. Siautee merasa malu sekali karena kecurian ini. Maka, kalau tak berhasil siautee mencari pulang pisau itu, tidak ada muka siautee akan menemui pula Toasuheng.

Harap Toasuheng mengetahui adanya. Hormat dari siautee, Bin Cu Hoa." Bergemetar kedua tangannya Wan Jie setelah ia membaca habis, lantas saja ia berbalik untuk menghadapi Bin Cu Hoa, buat memberi hormat sambil menjura.

"Bin Siok-hu," katanya, "aku telah keliru menyangka kepada kau, aku telah berbuat kurang ajar terhadapmu..."

Lantas ia pun memberi hormat pada Tong Hian Toojin. Suheng dan sutee itu lekas-lekas balas kehormatan itu. "Entah bangsat anjing yang mana sudah curi pisauku ini

yang ia pakai membunuh Ciau Suhu," kata Cu Hoa

kemudian. "Dia telah tinggalkan pisau ini, terang maksudnya supaya ia bisa timpahkan kedosaan atas diriku."

"Ya, aku semberono sekali, tak sampai aku memikir kesitu," Wan Jie akui. "Aku tadinya kira, setelah Bin Siok- hu bunuh ayahku, kau sengaja tinggalkan pisau itu, untuk banggakan bahwa kau adalah satu laki-laki sejati."

"Sebenarnya bersama-sama Tong Hian Suheng, aku telah cari pisau itu kemana-mana," menerangkan Bin Cu Hoa, "sampai sebegitu jauh belum pernah kami peroleh endusan. Belakangan kami terima surat dari Toasuheng, yang memanggil kami datang ke kota raja, maka itu, kami lantas berangkat menuju kemari; adalah diluar sangkaanku, di sepanjang jalan, kami dipegat dan dirintangi oleh rombongan kau, Nona Ciau, sampai tadi kamu telah kepung aku. Syukur ada Wan Siangkong, maka sekarang urusan telah menjadi terang."

Sin Cie merendahkan diri, tak mau ia menerima pujian. "Sekarang tunggulah sampai aku sudah sembuh dan

urusanku telah dapat dibereskan," kata Cui In Toojin kemudian, "selama itu, asal ada untung hingga jiwaku masih ada, aku nanti bantu kau, Nona Ciau, untuk cari si pencuri kay-sat-too, yang telah bunuh ayahmu itu."

Kembali Wan Jie memberi hormat seraya haturkan terima kasih pada imam ketua dari Bu Tong Pay itu, kemudian ia pulangkan kay-sat-too pada Bin Cu Hoa.

Sin Cie bisa duga, suheng dan sutee itu bertiga tentu bakal berempuk, untuk mendamaikan urusan mereka; yang mestinya ada satu rahasia untuk pihak luar, hingga tak dapat ia mencampurinya, dari itu ia ajak Wan Jie untuk memberi hormat kepada mereka itu.

0o-d.w-o0

"Ijinkan kami undurkan diri!" kata pemuda kita, yang terus memutar tubuh, untuk berjalan pergi.

"Jiewie, tunggu dulu!" tiba-tiba berseru Tong Hian Toojin, selagi dua orang itu Baru jalani beberapa ratus tindak.

Sin Cie dan Wan Jie lantas merandak.

Tong Hian berlari-lari, untuk menghampirkan.

"Wan Siangkong, Nona Ciau," kata imam ini, "ada satu hal untuk mana aku hendak memohon, tapi lebih dahulu aku harap kamu tidak buat kecil hati..."

"Bicaralah, tootiang," Sin Cie jawab.

"Aku ingin bicara hal kami disini," kata Tong Hian. "Kami mohon supaya siangkong berdua tidak sampai membocorkannya. Tidak selayaknya aku banyak omong, akan tetapi urusan mengenai keselamatan jiwa suhengku, terpaksa aku majukan juga permohonan ini kepada jiewie..." Tentu saja Sin Cie mengerti kebiasaan kaum kangouw, untuk tidak banyak omong mengenai rahasia dari masing- masing partai, dan ia pun mengerti, urusan mesti sangat penting maka Tong Hian sampai berikan pesannya itu. Urusan mereka itu tidak mengenai urusannya sendiri, Sin Cie tidak berkeberatan untuk berikan janjinya. Tapi barusan ia saksikan ketangguhan tangan dari Cui In Toojin, ia jadi ketarik. Ia bersimpati kepada imam itu.

Post a Comment