"Mestinya dua orang ini ada punya rahasia, baik kami ikut mereka, untuk mengetahui duduknya hal yang sebenarnya. Apa mungkin mereka hendak gunai tipu-daya? Bisakah mereka nanti loloskan diri dari tanganku?"
Lalu ia menjawab: "Mari kita pergi, untuk memperoleh penjelasan!"
Ciau Wan Jie segera menoleh kepada semua kawannya, untuk kata: "Aku beserta Wan Siangkong, aku percaya mereka tidak nanti berani main gila!"
Sejak meninggalnya Ciau Kong Lee, semua orang Kim Liong Pang telah pandang Nona Ciau sebagai gantinya ketua mereka. Mereka percaya nona ini, yang mereka pun hormati, karena Wan Jie pintar dan bisa bawa diri. Mereka telah saksikan sendiri bagaimana pandai si nona pimpin mereka untuk kepung-kepung musuh ini. Mereka juga percaya Sin Cie, yang kegagahannya dan kemuliaan hatinya mereka sudah buktikan sendiri. Maka itu, mereka tidak bersangsi pula. "Baiklah," kata mereka.
"Mari kita pergi sekarang!" kata Tong Hian kemudian.
Dengan bertangan kosong, imam ini ajak suteenya jalan di sebelah depan, di belakang mereka, Sin Cie mengikuti bersama Ciau Wan Jie. Mereka keluar dengan melompati tembok.
Lebih dahulu daripada itu, Sin Cie minta See Thiam Komg berempat pulang lebih dahulu kehotel mereka, sedang orangnya Kim Liong Pang undurkan diri di bawah pim-pinannya Gou Peng, murid kepala dari Ciau Kong Lee.
Sin Cie dan Wan Jie ikuti Tong Hian dan Cu Hoa menuju kearah utara, mereka jalan sambil berlari-lari, menghampirkan tembok kota. Di sini imam itu keluarkan bandringan gaetan, untuk membangkol tembok kota, dengan itu Wan Jie merayap naik paling dulu, Baru Cu Hoa dan Sin Cie. Paling akhir adalah si imam sendiri. Dari atas tembok, mereka lompat turun kelain sebelah, untuk melanjutkan perjalanan mereka ke utara.
Ketika itu sudah tengah malam, rembulan bersinar sedang terangnya, cahayanya putih-bersih dan permai.
Perjalanan disini, makin jauh makin sukar. Setelah melalui empat-lima lie, Tong Hian dan Cu Hoa mulai menindak naik ke sebuah tanjakan.
Heran juga Sin Cie dan Wan Jie. Entah kemana mereka hendak diajak pergi. Mereka pun pikir-pikir, sebenarnya mereka hendak diperlihatkan apa. Tapi mereka tak jeri, mereka mengikuti terus. Mereka mendaki tanjakan untuk dua-tiga lie. Di sini tidak ada jalanan, dan tanahnya penuh batu. Maka itu untuk bisa maju, mereka berlari-lari dengan ilmu entengi tubuh. Saban-saban mereka injak batu besar, untuk dari situ lompat kelain batu besar lagi, demikian seterusnya.
Belum sampai dipuncak tanjakan, Wan Jie sudah, bernapas sengal-sengal. Inilah pengalaman hebat untuknya. Maka itu Sin Cie cekal lengan orang. "Mari aku bantu padamu!" kata pemuda ini.
Wan Jie tidak malu-malu palsu, ia kasi dirinya dibantui. Seperti tanpa merasa, ia lantas bisa maju terlebih jauh. Kalau tadi mereka telah ketinggalan Tong Hian dan Cu Hoa, sebentar saja mereka mendahului sampai dipuncak bukit.
Di sini keadaan tempat ada lebih berbahaya daripada ditengah jalan tadi dan suasana pun menyeramkan, sebab di sana-sini kelihatan batu-batu besar yang berdiri bagaikan hantu atau binatang buas, ada yang kecil-kurus mirip pedang atau tumbak...
Sebentar kemudian, Tong Hian Toojin dan Bin Cu Hoa dapat menyusul mereka sampai dipuncak, Tong Hian mendahului menuju kebelakang setumpukan batu besar. Di sini dia menjumput sepotong batu, yang ia ketoki ke sebuah batu besar sampai tiga kali. Ia berhenti sedetik, lalu ia menyambungi, dua kali. Habis ini, ia mengulang mengetok lagi tiga kali.
Setelah mengetok-ngetok tumpukan batu secara demikian, Tong Hian lantas bekerja, ialah dengan kedua tangannya, ia angkat sesuatu batu yang menjadikan tumpukan itu, ketika ia sudah singkirkan enam-tujuh potong, dibawah tumpukan itu tertampak sebuah peti mati yang besar.
Wan Jie terkejut akan menampak peti mati itu, inilah tidak pernah ia sangka-sangka. Suasana disitu memang sudah sangat menyeramkan.
Tong Hian bekerja lebih jauh, tanpa bantuan Bin Cu Hoa, yang berdiri diam saja mengawasi dia. Dengan kedua tangannya, ia pegang tutup peti, lalu ia kerahkan tenaganya, untuk angkat itu, hingga terdengarlah satu suara menjeblak yang keras. Begitu lekas tutup peti terangkat ke belakang, menyusul suara menjeblak itu, didalam peti bergerak satu tubuh, yang bangun untuk berduduk!
Wan Jie keluarkan seruan saking kagetnya.
"Hai, kamu ajak orang luar?" tiba-tiba si "mayat hidup" bertanya.
"Inilah dua sahabat baik," sahut Tong Hian dengan tenang. "Ini ada Wan Siangkong, muridnya Kim Coa Long- kun, dan ini ada Nona Ciau, puterinja Suhu Ciau Kong Lee."
"Mayat hidup" itu lantas awasi kedua orang yang diperkenalkan itu.
"Maaf, jiewie," katanya. "Pintoo sedang terluka, tak dapat aku berbangkit. " Ia memberi hormat.
Belum Sin Cie bilang suatu apa, Tong Hian sudah mendahului.
"Inilah Toasuheng kami Cui In Toojin, yang mewariskan kedudukan ketua Bu Tong Pay," demikian katanya. "Untuk menyingkir dari musuh, buat sekalian memelihara diri toasuheng sengaja berdiam di sini. "
Mengetahui orang bukannya "mayat hidup," Sin Cie dan Wan Jie membalas hormat. Imam itu manggut, untuk membalas.
Sin Cie dan Wan Jie dapatkan wajah Cui In Toojin pucat sekali, bagaikan kertas putih saja, tanda luka kedapatan dari batas jidatnya sampai kebatang hidungnya. Luka itu adalah luka belum terlalu lama. Tapak luka itu membuat romannya si imam jadi jelek dan menyeramkan. Sambil mengawasi, dua anak muda ini pun pikiri, kenapa untuk merawat diri dan menyingkir dari musuh, imam ini sampai sembunyikan diri secara demikian macam.
Sekarang nampaknya imam itu berhati lega, bisa ia bersenyum.
"Dimasa hidupnya guruku, Uy Bok Toojin," katanya, "dia bersahabat dengan Kim Coa Long-kun, gurumu itu, Wan Siangkong. Ketika Hee Locianpwee datang ke Bu Tong San, untuk merundingkan ilmu silat pedang, aku dapat kesempatan untuk melayani dia. Apakah ada banyak baik locianpwee itu?"
Sin Cie anggap tak usah ia sembunyikan apa-apa lagi. "Guruku itu telah menutup mata," ia jawab.
Cui In Toojin lantas saja menghela napas, ia terus berdiam, air mukanya menjadi suram pula, tandanya ia berduka. Karena ini, semua orang turut berdiam.
"Ketika barusan Tong Hian Sutee menyebutkan siangkong adalah murid dari Kim Coa Long-kun, aku girang bukan kepalang," kata pula si imam "mayat hidup" itu sesaat kemudian. "Aku telah memikir, asal Hee Locianpwee suka turun tangan untuk membantu, pastilah sakit hatinya guruku akan dapat terbalas. Ah, siapa sangka, Hee Locianpwee telah meninggal dunia... Benar-benar aku kuatir orang jahat itu nanti malang-melintang didunia ini tanpa ada orang yang sanggup mencegahnya!"
Didalam hatinya, Wan Jie kata : "Aku datang untuk urusan pembalasan sakit hati ayahku, siapa tahu di sini muncul urusan sakit hati guru..."
Sin Cie sebaliknya berpikir: "Siapa sih musuh mereka ini, yang agaknya demikian liehay, hingga sampai, tanpa Kim Coa Long-kun, tidak ada orang lainnya lagi yang sanggup mengendalikannya?"
Sampai disitu, Tong Hian Toojin lantas bicara sama suhengnya, kakak seperguruan itu. Dia tuturkan urusan pihak Kim Liong Pang menyeterukan Bin Cu Hoa.
"Aku minta suheng suka menjelaskannya kepada Nona Ciau ini," katanya kemudian.
"Hai!" mendadak Cui In Toojin berseru. Memangnya, selama memasang kuping, ia sudah panas hatinya, makin mendengar, ia jadi makin gusar. Diakhirnya, tiba-tiba saja ia ayun tangannya, ia hajar pinggiran peti mati.
"Prak!" demikian satu suara nyaring, dan peti itu sempal! Sin Cie terkejut dalam hatinya.
"Teranglah kepandaiannya imam ini jauh lebih tinggi daripada kedua suteenya ini," pikirnya. "Dia berkepandaian begini liehay, kenapa dia sebaliknya sangat jeri terhadap musuhnya, hingga ia rela sembunyikan diri di dalam peti ini bagaikan mayat saja?"
"Nona Ciau," Cui In kemudian kata kepada Wan Jie, "sukalah kau dengar keteranganku. Adalah aturan di dalam kalangan Bu Tong Pay kami, sesuatu murid yang telah lulus pelajarannya, hingga ia boleh turun gunung, ia selalu mesti dibekali sebilah pisau belati oleh guru kami. Pintoo telah diangkat sebagai ketua Bu Tong Pay, untuk menggantikan guru kami itu, benar kepandaianku tidak berharga, sampai pintoo mesti menelan malu, merawat diri dengan sembunyi didalam peti mati secara begini, tetapi terhadap sahabat- sahabat tak dapat pintoo omong dusta. Nona, tahukah kau, apa keperluannya pisau belati kami itu?"
"Aku tidak tahu," Wan Jie menggeleng kepala. Cui In Toojin dongak, akan memandang si Puteri Malam, lalu ia menghela napas.
"Cousu kami dari tingkat ke-empatbelas ada Hie Hian Tootiang," berkata dia, melanjuti, "kepandaian ilmu silat pedangnya tidak ada tandingannya di kolong langit ini, maka sayang sekali, dia bertabeat keras dan jumawa juga, karenanya, tak sedikit sudah ia membunuh orang, hingga tak sedikit musuh-musuhnya. Maka kejadianlah dia diundang dalam satu rapat besar di atas gunung Heng San, di sini dia tempur jago-jago dari pelbagai kaum, yang lawan ia secara bergiliran, maka walaupun dia berhasil merubuhkan delapan-belas musuh, akhirnja ia sendiri kehabisan tenaga, dengan kesudahan ia mendapat luka-luka parah. Setelah itu, dia gunai pisau belati, untuk membunuh diri, karena tak sudi dia terbinasa di tangan musuh. Sejak kejadian itu, maka mulai Cousu kami yang ke-limabelas, Bu Tong Pay telah mengadakan aturan setiap lulusan murid dihadiahkan sebilah pisau belati. Tong Hian Sutee, pergi kau kesana!"
Cui In menunjuk.
Tong Hian bingung, tetapi ia toh bertindak, sampai beberapa ratus tindak, diwaktu mana:
"Cukup!" sang suheng bilang. Sutee itu hentikan tindakannya
Cui In lantas memandang kepada Bin Cu Hoa.
"Bin Sutee," katanya dengan pelahan, "ketika suhu hadiahkan pisau belati kepadamu, apakah pesanannya?"
"Pesan suhu adalah pantangan keras untuk membunuh karena urusan pribadi, bahwa pisau belati itu mesti dirawat dan disimpan hati-hati," sahut Bin Cu Hoa. "Suhu pesan, apabila didalam satu pertempuran kita terang sudah tak
932 dapat melawan lebih jauh, kita mesti bunuh diri dengan pisau itu."
Cui In Toojin manggut-manggut.
"Nah, pergilah kau kesana," menitah dia seraya menunjuk ke lain jurusan dari Tong Hian Toojin.
Bin Cu Hoa menurut.
Ketua Bu Tong Pay itu kemudian panggil balik pada Tong Hian Toojin.