Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 132

Memuat...

Sin Cie tidak lantas menyahuti, hanya dia berdiam. Dia berpikir.

"Nona Ciau," tanyanja kemudian, "apakah setelah itu kau pernah bertemu sama orang she Bin ini?"

"Dua kali aku pernah bertemu padanya," sahut Wan Jie dengan masih menangis sesenggukan, "maka kami telah susul dia. Baru kemarin kami sampai di sini..."

"Bagus!" seru Ceng Ceng. "Dia ada di Pakkhia, mari kita cari padanya! Adikku, kau sabar, kau tenangkan diri, pasti aku nanti membalas dendam untukmu!"

Thia Ceng Tiok, See Thian Kong dan yang lain-lain berdiam saja. Ceng Ceng tahu, itulah tentu disebabkan mereka tak ketahui duduknya hal. Maka nona Hee lantas ceritakan pengalamannya Sin Cie di Kim-leng dimana pemuda itu telah pecahkan ilmu silat "Liang Gie Kiam- hoat" untuk mengakurkan perselisihan diantara Ciau Kong Lee dan Bin Cu Hoa.

Mendengar ini, Ceng Tiok semua menjadi tidak puas. Teranglah Bin Cu Hoa sudah langgar kehormatan kaum kangouw, perbuatannya itu ada sangat busuk. "Mahluk apa Bin Cu Hoa itu?" tanya See Thian Kong dalam sengitnya. "Ingin aku si tua-bangka she See mencoba menempur dia!"

Ciau Wan Jie lantas menjura kepada Thian Kong beramai.

"Aku mohon semua paman untuk membelakan pri- keadilan," minta dia.

Thia Ceng Tiok pun sengit sekali, hingga dia keprak meja.

"Dimana adanya Bin Cu Hoa sekarang?" dia tanya. "Tidak perduli Bu Tong Pay banyak anggautanya dan berpengaruh, aku si orang she Thia tak gentar terhadap mereka!"

"Setelah kebinasaan ayah," kemudian Ciau Wan Jie menerangkan lebih jauh, "bersama beberapa suko aku rawat jenasahnya, tetapi sekarang ini jenasah itu masih dititipkan dirumahnja In Piausu dari Kong Bu Piau Kiok di Cieciu. Segera setelah itu, aku mencoba mengundang sejumlah sesama orang kangouw, untuk mereka tolong cari tahu dimana beradanya Bin Cu Hoa. Aku bersyukur kepada roh ayahku, selang beberapa hari telah datang kabar dari sahabat-sahabat di Hoolam, ada diantara mereka yang dapat lihat orang she Bin itu sedang dalam perjalanan dari Hoolam ke Pakkhia. Atas warta itu, pihak kami sudah lantas bekerja. Pelbagai hiocu dalam dan luar dari Kim Liong Pang bersama semua tocu dari semua pelabuhan darat dan air telah berpencar diri, untuk mencari dan memegat, dua kali telah dilakukan pertempuran, saban- saban dia bisa loloskan dirinya. Tidak beruntung adalah aku, karena aku tidak punya guna, pernah satu kali,aku kena dilukai dia..." Sin Cie lihat, pundak kiri dari si nona masih dibalut. Ia merasa kasihan berbareng kagum. Pasti nona ini, meskipun kalah tangguh dari Bin Cu Hoa, untuk membalas sakit hati ayahnya, sudah berlaku nekat, dia tempur mati-matian musuh besarnya itu. Tentu sekali dia ini bukannya tandingan Bin Cu Hoa.

"Sampai kemarin kami terus kuntit orang she Bin itu," Wan Jie melanjuti keterangannya. "Sekarang kami telah ketahui dimana dia telah pernahkan diri."

"Dimana?" tanya Ceng Ceng dengan bernapsu. "Mari lekas kita satroni dia, supaya dia jangan keburu mabur lagi!"

"Dia bertempat di gang Hu Kee Hootong di dalam sebuah rumah," sahut Wan Jie. "Seratus lebih orangku sudah memasang mata disekitar rumah itu."

Diam-diam Sin Cie manggut-manggut.

"Meskipun nona ini masih muda tapi ia cerdik dan pandai bekerja," memuji ia dalam hatinya. "Kaum Kim Liong Pang telah keluar dalam rombongan seluruhnya, pasti sekali sebelum mereka dapat binasakan Bin Cu Hoa, belum mereka mau sudah..."

"Barusan saja ditengah jalan aku telah bertemu sama satu sahabat yang juga Baru kembali dari rapat di Tay San," menambahkan Nona Ciau itu, "dari dia itu aku dapat tahu bahwa kau justru berada di sini, Wan Siangkong..."

See Thian Kong tunjuki jempolnja, dia bersenyum puas. "Nona Ciau, sempurna sekali tindakan kau ini!" dia

memuji. "Menurut kau, sudah terang Bin Cu Hoa itu telah

berada didalam genggamanmu, tetapi kau toh masih datang kemari untuk minta keadilan dari bengcu kita, supaja kaum kangouw nanti mengutuk Bin Cu Hoa yang harus dibikin binasa itu! Bagus, bagus!" "Kapan kamu hendak turun tangan?" kemudian Sin Cie tanya.

"Sebentar malam jam dua," jawab Wan Jie, yang terus bungkus rapi pula pisau belati yang meminta jiwa ayahnja itu.

"Ya, simpan senjata ini, adik," kata Ceng Ceng. "Sebentar kau gunakan ini untuk tikam mampus musuhmu itu !"

Nona Hee pun sengit seperti yang lain-lainnya, hingga lenyap kecurigaan atau cemburuannya.....

Wan Jie manggut terhadap nona ini.

Diam-diam Sin Cie menghela napas. Ia berkasihan terhadap Ciau Kong Lee, ia sayangi ketua Kim Liong Pang itu. Ia tahu jago ini berbudi, siapa sangka dia mesti binasa ditangan jahat. Di sebelah itu, ia menyesal sekali, iapun berkuatir. Permusuhan ini akan menghebat dendaman diantara Bu Tong Pay dan Kim Liong Pang. Apabila orang saling dendam tak putusnya, sampai kapan itu dihabiskannya? Untuk selanjutnja, pasti bahaya akan saling menimpa satu pada lain...

Pemuda kita lantas tahan Wan Jie bersama, untuk si nona beristirahat, untuk diajak bersantap sama-sama kapan sang sore telah sampai, sesudah mana, ia bersiap. Ceng Ceng dan Thie Lo Han tak dapat turut karena mereka sedang terluka. Juga Sian Tiat Seng tidak ikut, karena kepala opas itu telah diantar pulang ke rumahnya. Maka itu cuma Thia Ceng Tiok, See Thian Kong, A Pa, Ou Kui Lam dan Ang Seng Hay yang bisa memberikan bantuannya.

Begitu sang malam sampai, berenam mereka berangkat dengan Ciau Wan Jie jalan di muka untuk jadi petunjuk jalan ke gang Hu Kee Hootong. Ceng Ceng menyesal yang ia tidak dapat turut, saking masgul dan mendongkol, ia lantas kutuki Ho Tiat Chiu yang telah lukai padanya.

Kapan Sin Cie beramai sampai didekat gang, beberapa muridnya Kong Lee, yang sedang memasang mata, papak mereka. Lantas saja mereka kisiki bahwa Bin Cu Hoa masih ada di dalam rumah bersama Tong Hian Toojin, suhengnya dia itu. Mereka pun girang sekali menampak Sin Cie telah dapat diundang. Semua orang telah ketahui baik keliehayannya anak muda ini.

"Wan Siangkong, apa boleh kita turun tangan sekarang juga?" Wan Jie tanya pemuda kita.

Nona ini cerdik dan bisa memikir panjang, tak mau ia mendahului beng-cu itu.

"Sabar dulu," Sin Cie bilang. ..Sekarang minta semua orang berjaga-jaga seperti biasa, mari kita sendiri pergi mengintai dulu."

"Baik," jawab nona itu, yang terus kisiki kawan- kawannya. Maka mereka itu lantas undurkan diri.

Sin Cie ajak semua kawannya mendekati rumah, lantas mereka saling susul lompati tembok, untuk masuk kedalam.

Seng Hay masih belum sempurna ilmunya entengkan tubuh, diwaktu ia lompat turun ketanah, ia menerbitkan suara, benar suaranya enteng sekali, akan tetapi didalam rumah, didalam kamar, api padam seketika.

Sampai waktu itu Ciau Wan Jie tak dapat kendalikan lagi hatinya. Ia pun rupanja kuatir musuh nanti lolos pula. Maka ia lantas perdengarkan suara suitannya. Suara itu pelahan, akan tetapi menyambut itu, di empat penjuru rumah, di pojok tembok, segera muncul pelbagai kepala orang - ialah orangnya yang mengurung rumah itu. Habis itu, Wan Jie perdengarkan suaranya yang keren: "Orang she Bin, lekas kau keluar! Kau lihat, siapa telah datang kemaril" Sunyi rumah itu, tidak ada suara jawaban.

"Nyalakan api!" Wan Jie berseru. "Semua nyerbu kedalam!"

Orang-orang Kim Liong Pang, dan sahabat-sahabat mereka, yang datang membantu, taati seruan itu. Mereka memang telah siapkan obor. Maka sebentar saja, teranglah cahaya api.

Empat anggauta, yang memegang obor, maju di depan, golok mereka dipakai melindungi diri.

Dengan tiba-tiba saja terdengar beberapa kali suara beruntun, menyusul itu, tiga batang obor padam apinya, hingga tinggal yang satu, kemudian menyusul itu, dua bajangan kelihatan lompat mencelat lari arah rumah itu.

Dengan serentak, orang-orang Kim Liong Pang lompat menerjang, hingga selanjutnja, riuhlah suara pelbagai senjata beradu satu pada lain.

Kembali terdengar suara suitan, kali ini itu disusul sama merangsaknya orang-orang di empat penjuru, sedang api obor pun jadi bertambah, sehingga pekarangan disitu jadi terang sekali, bagaikan siang saja.

Tong Hian Toojin dan Bin Cu Hoa telah lakukan perlawanan dengan membaliki belakang satu sama lain, dengan jalan ini mereka hendak cegah mereka nanti terbokong. Mereka perlihatkan ilmu pedang mereka, sebab rupanya mereka insyaf, saat ini adalah saat mati atau hidup mereka. Tidak heran, karena cara berkelahi mereka, sebentar saja sudah ada tujuh atau delapan orang Kim Liong Pang yang kena dilukai. Akan tetapi, delapan orang mundur, serombongan yang lain maju menggantikannya, sebab diaorang ini sangat gusar, mereka setia kepada kawan, sehingga mereka tak takut mati.

Repot juga Bin Cu Hoa dan suhengnya itu menghadapi demikian banyak musuh, yang nekat semua. Benar mereka bisa lukai beberapa orang lagi, tetapi mereka sendiri pun tak bebas dari serangan-serangan musuh-musuh yang seperti kalap itu. Begitulah Tong Hian terluka pada bahu kirinya, sehingga ia mesti geser pedangnya ke tangan kanan.

Kedua orang Bu Tong Pay ini berkelahi menurut ilmu silat Liang Gie Kiam-hoat, Tong Hian mencekal pedang ditangan kiri, Bin Cu Hoa ditangan kanan, dengan itu, mereka bisa bergerak dengan leluasa. Sekarang dua-dua pedang berada ditangan kanan, perlawanan mereka menjadi kipa, gerakan mereka jadi kendor sendirinya.

Lagi beberapa saat, Tong Hian terluka pula dan Cu Hoa pun tak terluput, dalam keadaan seperti itu, mereka juga tidak sempat menyingkirkan diri, saking hebat dan rapatnya kepungan. Tidak semua musuh liehay tapi mereka nekat, mereka tak dapat dipandang ringan.

Sin Cie lihat kedua orang sudah dapat beberapa luka, ia anggap tak boleh ia menonton lebih lama pula. Ia juga beranggapan, satu jiwa mesti diganti dengan satu jiwa, cukuplah kalau Bin Cu Hoa sendiri yang dibikin binasa, tak usah Tong Hian Toojin kawani suteenya itu pergi menghadap Raja Akherat. Maka itu, disaat dua jago Bu Tong itu tinggal rubuh binasa, mendadak ia loncat keantara mereka, pedang Kim Coa Kiam ia babatkan ditengah- tengah.

Sekejab saja, kedua pedangnya Tong Hian Toojin dan Bin Cu Hoa sapat terkutung, begitu juga beberapa ujung pedangnya orang-orang Kim Liong Pang yang sedang mengepung hebat. "Tahan!" Sin Cie berseru.

Gerakan ini membuat kedua pihak tercengang, tapi ia sendiri pun melengak sesaat, saking kagum sendirinya. Ini adalah untuk pertama kali ia gunai pedang Ular Emas itu, diluar dugaannya, pedang itu sangat tajam. Sebenarnja dia hendak halau semua senjata tidak tahunya, semua senjata yang bentur Kim Coa Kiam telah kutung sendirinya.

Bin Cu Hoa telah mandi darah, kaget ia menampak Sin Cie. Dalam saat itu juga, habislah pengharapannya. Melayani musuh-musuh Kim Liong Pang saja sudah berat, bagaimana dapat ia tempur jago muda itu, yang sekarang malah bersenjatakan pedang mustika?

Tong Hian Toojin juga putus asa, sehingga ia lantas lemparkan pedangnya yang sudah buntung Tapi ia tertawa menyengir.

"Tak tahu aku, dalam hal apa kami dua saudara, telah berbuat salah terhadap kau, tuan, maka kau telah desak kami begini rupa?" tanya imam itu.

Dimulutnya, Tong Hian mengucap demikian, diam-diam ia rogo keluar pisau belati dipinggangnya, pisau mana ia terus pakai menikam dadanya. Rupanya dalam berputus asa, ia jadi berpikiran pendek juga.

Sin Cie lihat kenekatan itu, ia ulur kedua tangannya, secara sangat sebat. Dengan tangan kiri ia menolak dada orang itu, dengan tangan kanan ia menyambar ke lengan si imam, maka dilain saat, ia telah dapat rampas pisau belati itu yang tajam berkilauan.

Malah dalam sekelebatan itu, Sin Cie bisa lihat huruf- huruf ukiran pada gagangnya belati yang berbunyi: "Tong Hian Toojin murid Bu Tong Pay golongan huruf Cu," Dan pisau belati itu mirip benar macamnya dengan pisau belati Bin Cu Hoa yang dipakai membunuh Ciau Kong Lee.

Mukanya Tong Hian Toojin jadi merah-padam, lalu pucat-pias.

"Satu laki-laki boleh dibunuh tetapi tak dapat diperhina!" dia berseru. "Aku tahu ilmu silatku belum sempurna, aku bukannya tandingan kau. Maka biarlah aku binasa dengan kau tonton! Lekas kembalikan pisauku itu kepadaku!"

Imam ini nyata bernyali besar, keras hatinya.

Post a Comment