Tiga penyerangnya orang she See itu pun telah mendapatkan luka-luka tak berarti, masih mereka mengepung terus. Sin Cie lantas serang mereka itu, tapi ia tidak ingin mencelakai terlalu banyak orang, iapun segar bentur tangan-tangan Tok-see-ciang, maka ia berkelahi dengan ilmu silatnya "Hun-kin Co-kut-chiu", saban-saban ia bikin orang rubuh pingsan atau tak mampu bergerak lagi.
Sebentar saja, See Thian Kong telah dapat dibebaskan dari kepungan, maka itu, pemuda ini lantas hampirkan A Pa, si empeh gagu. Dia ini dikepung bertiga, tidak bisa dia kalahkan musuh-musuhnya tetapi ia sendiri masih cukup gagah, leluasa ia melayaninya, sebab ia telah wariskan cukup baik ilmu silat Hoa San Pay.
Ho Tiat Chiu tampak keadaan merugikan pihaknya, ia perdengarkan pula suitannya, maka sekarang orang-orang Ngo Tok Kau meluruk pada Sin Cie dan si empeh gagu. Melihat demikian, Sin Cie unjuk kegesitannya, dengan cepat ia rubuhkan satu lawan dan lukai lengannya yang lain, sedang A Pa dapat kesempatan toyor musuhnya yang ketiga selagi dia ini terkesiap mendapatkan dua kawannya kena dikalahkan.
A Pa telah jadi sangat sengit, ingin ia susuli musuhnya yang telah mengeluarkan kecap dari hidungnya, akan tetapi Sin Cie tarik ia kekaki tembok dimana kawan-kawan mereka sudah berkumpul menjadi satu, sedang dilain pihak, orang-orang Ngo Tok Kau pun sudah berkumpul, untuk taati titah kepala agamanya, akan serbu musuh. Rombongan Ngo Tok Kau ini menjagoi diwilayah Inlam, sesuatu orang kangouw, atau Sungai Telaga, mendengar nama mereka saja sudah kerutkan alis dan menggeleng kepala, semua jeri, karena tidak saja mereka liehay ilmu silatnya, yang sangat dimalui adalah kuku-kuku mereka yang berbisa, siapa terkena kuku itu, asal lecet saja, tentu bakal terbinasa. Akan tetapi, siapa nyana, di Utara ini, Baru mereka datang, mereka telah menghadapi musuh yang liehay, maka disebelahnya kaget dan heran, mereka pun mendongkol dan gusar sekali. Begitu Ho Tiat Chiu, dengan suitannya, ia telah beri tanda untuk orang-orangnya meluruk kepada musuh mereka.
"Kamu semua lekas menyingkir, aku nanti pegat mereka!" seru Sin Cie pada kawannya.
Ou Kui Lam, yang kepandaiannya entengi tubuh cukup liehay, taati seruannya pemuda itu, yang berbareng jadi beng-cu, ketua ikatan, dari tujuh propinsi. Dengan kepandaiannya "Pek-hou yu chong kong," atau "Cecak memain ditembok," dia merayap ditembok, untuk naik keatasnya, lalu dengan dibantu A Pa dan Thian Kong, ia sambut kawannya yang terluka. Si empeh gagu dan Thian Kong adalah yang naik paling belakang.
Sin Cie sementara itu sudah tangkis serbuan musuh- musuhnya, dengan cepat ia telah rubuhkan belasan orang, sesudah mana, dengan angkat kedua tangannya, ia beri hormat pada kaucu dari Ngo Tok Kau.
"Nona Kau-cu, sampai ketemu pula, sampai ketemu pula!" katanya, kemudian dengan bebokongnya ditempel pada tembok, hingga dilain saat, ia sudah nyerosot naik ditembok itu. Sebentar saja, ia pasti akan sudah sampai diatas. Ho Ang Yo si wanita tua menjerit melihat orang hendak kabur, ia enjot kedua kakinya, untuk apungi diri, akan sambar musuh itu, sedang lima jari tangannya mendahului, menyerang ke jurusan tubuh sang lawan. Ia percaya, selagi nyerosot naik, musuh itu tidak bakal sanggup menangkis atau mengelakkan serangannya itu.
Sin Cie memang berada dalam keadaan keponggok, tak bisa ia berkelit, akan tetapi kedua tangannya ada merdeka, begitu diserang, ia kibaskan tangan kirinya, yang ujung bajunya panjang, hingga tangannya si uwah jelek jadi kena tersampok, sampai tangan dengan kuku-kuku yang liehay itu berbalik menyerang ke arah dirinya sendiri.
Kaget sekali wanita tua-bangkotan ini.
"Apakah kau ada muridnya Kim Coa Long-kun?" tegur dia.
Heran Sin Cie mendengar ini. "Mesti ada hubungannya di antara dia dan Kim Coa Long-kun," pikirnya. Karena uwah ini kenali diapunya ilmu pukulan menghalau serangan kuku yang berbahaya itu.
Walaupun ia heran, Sin Cie toh tidak berhentikan gerakan tubuhnya, malah belum sempat dia menjawab, dia sudah sampai di atas tembok, akan terus lompat kesebelah luar, untuk susul kawan-kawannya.
A Pa beramai telah lindungi Ceng Ceng sampai ditembok yang keempat, justru itu, mereka dengar satu suara berkeresek yang nyaring menyusul mana pada tembok terbukalah satu lowongan beberapa kaki lebarnya.
Sin Cie tahu, itulah pintu rahasia, maka untuk lindungi A Pa semua, ia lompat melesat kearah pintu rahasia itu, tanpa berayal lagi ia menyerang dengan kedua tangannya dengan tipu-silatnya "Pay san to hay" atau "Mendorong gunung untuk menguruk lautan."
Berbareng sama terpentangnya pintu rahasia, serombongan orang Ngo Tok Kau tertampak meluruk datang, untuk keluar dari situ, tetapi dua yang maju paling depan telah jadi kurban serangannya anak muda kita, tanpa ampun mereka rubuh jumpalitan beberapa kali, kembali kesebelah dalam, karena mana kawan-kawannya jadi merandak, tak berani mereka lancang maju.
Phoa Siu Tat licik, dia lantas berikan tanda titahnya, atas mana empat anggauta Ngo Tok Kau segera angkat bumbung mereka, yang merupakan sumpitan, untuk menyemburkan barang cair kearah Sin Cie. Itu adalah air racun mereka.
Sin Cie kaget sekali, belum ia sampai kena tersemprot, hawa busuk telah bikin kepalanya rada pusing, syukur ia dapat berlompat mundur dengan cepat, ia jadi lolos dari bahaya. Dengan menyingkir jauh-jauh, semprotan air racun tidak sampai kepadanya, air racun itu jadi menyiram melulahan disebelah depan dia. Air racun itu bersemu hitam dan baunya keras.
Tembok di belakang Sin Cie ada tembok kuning, yang jauh lebih kate daripada tembok-tembok lainnya disebelah dalam, maka itu di sini ia tidak gunai ilmu merayapnya "Cecak main ditembok," ia hanya enjot tubuhnya, untuk berlompat, hingga dilain saat, ia sudah sampai kebahagian atas tembok. Dari sini ia lompat keluar dengan tidak memutar tubuh lagi, hanya sambil lompat jumpalitan, secara begini ia jadi tidak mensiasiakan tempo.
Ho Tiat Chiu dapat lihat cara berlompat itu. "Bagus!" serunya tanpa dia merasa. Sin Cie susul kawannya terus sampai ditembok terakhir, yang warnanya hitam. Ia tidak lihat orang mengejar akan tetapi tak mau ia membuang-buang tempo. Malah untuk bisa lari lebih cepat lagi, ia sambar Ceng Ceng, untuk dipanggul dibelakangnya, bersama semua kawannya itu, ia kabur terus.
Benar disaat mereka mendatangi dekat rumah mereka, Sin Cie merasakan gatal-gatal pada pundaknya, ada hawa panas yang menghembusnya, apabila ia menoleh ke belakang, Ceng Ceng tertawai ia, si nona cekikikan pelahan. Maka legalah hatinya, sebab itu ada suatu tanda kawan ini tidak terluka parah.
Segera setelah sampai didalam rumah, Sin Cie lantas keluarkan mustikanya, untuk tolongi Thie Lo Han dan Sian Tiat Seng, kemudian Baru ia periksa lukanya Ceng Ceng, yang menjadi kurban senjata rahasia yang berupa gelang dari kepala agama Ngo Tok Kau.
Kakinya si nona, yang terkena gelang, yang tadinya putih-bersih, sekarang telah menjadi berwarna hitam dan bengkak juga, suatu tanda liehaynya serangan dari Ho Tiat Chiu. Sin Cie lantas mengobatinya.
Adalah kemudian, selagi semua orang beristirahat, Sin Cie minta keterangan pada Sian Tiat Seng tentang Ngo Tok Kau, itu pengemis yang memuja ular berbisa.
"Ngo Tok Kau itu biasanya tidak pernah melintas keluar dari wilayah mereka, keempat propinsi Inlam, Kwiecioo, Kwiesay dan Kwietang, sama sekali belum pernah mereka datang ke Utara," sahut Tokgan Sin-Liong dengan keterangannya, "meskipun demikian, umum ketahui baik keliehayan mereka. Sekalipun dalam kalangan Rimba Persilatan, asal orang omong tentang Ngo Tok Kau, wajah muka orang pasti berubah karena gelisah sendirinya. Sebegitu jauh yang aku ketahui, tak pernah ada orang yang berani main gila terhadap rombongan pengemis itu."
Thia Ceng Tiok diam saja sedari tadi, ia telah kerutkan alis ketika ia dengar hal pertempuran di gedung Pangeran Seng Ong itu, akan tetapi, seperti orang yang ingat suatu apa, sehabis katanya Sian Tiat Seng, ia campur bicara.
"Wan Siangkong," katanya, "orang bilang Uy Bok Toojin dari Bu Tong Pay telah terbinasa ditangannya kawanan Ngo Tok Kau itu..."
"Bagaimana cara kematiannya itu? Siapakah yang telah menyaksikannja?" Sin Cie tanya.
"Jikalau ada yang telah menyaksikan, mestinya saksi itu sendiri tidak akan luput dari tangannya orang-orang Ngo Tok Kau," sahut Ceng Tiok. "Menurut kalangan orang kangouw, kebinasaannya Uy Bok Toojin itu ada dalam cara sangat hebat dan menyedihkan. Pernah orang-orang Bu Tong Pay meluruk ke Inlam, untuk mencari balas, akan tetapi tidak ada hasilnya. Ngo Tok Kau itu adalah satu rahasia untuk umum..."
Tiba-tiba See Thian Kong perdengarkan suara tak nyata, kemudian dia tegasi Ceng Tiok: "Saudara, Thia, apa benar- benar kau tidak kenal pengemis wanita tua itu?"
Ditanya begitu, Thia Ceng Tiok perlihatkan roman duka.
"Aku percaya saudara-saudara merasa heran, sebenarnya aku mempunyai kesulitan, yang sukar untuk aku menjelaskannya," kata dia kemudian.
See Thian Kong tertawa.
"Aku pernah tempur kau, aku tahu, makin tua kau makin gagah!" katanya. "Siapa juga tidak nanti bilang bahwa kau takut mati!"_ "Aku telah terima pesan orang, untuk itu aku telah beri kata-kataku dengan sumpah berat," kata pula Thia Ceng Tiok, "maka itu, tak dapat aku bicara. Itu juga sebabnya kenapa aku tak ingin datang kebalai istirahat dari Pangeran Seng Ong itu."
Orang tahu, sebagai ketua dari Ceng Tiok Pay, Ceng Tiok tidak nanti bicara dusta, karenanya, orang tidak desak dia untuk menjelaskan kesulitannya itu. Tapi karena itu, untuk sesaat, semua orang berdiam, mereka pada tunduk kepala, hingga gedung menjadi sunyi-senyap.
Dalam suasana terbenam itu, mendadak satu bujang datang masuk.
"Ada satu Nona Ciau mohon ketemu sama Wan Siangkong l" katanya.
Ceng Ceng kerutkan alis dengan tiba-tiba. "Dia datang, apakah dia mau?" katanya.
"Undang dia masuk !" Sin Cie perintah bujangnja.
Bujang itu menyahuti, lantas ia keluar. Tidak lama ia sudah kembali bersama Ciau Wan Jie.
Begitu lekas ia berhadapan sama Sin Cie, Nona Ciau segera berlutut, ia memberi hormat sambil menangis menggerung-serung.
Sin Cie lihat orang pakai pakaian berkabung, hatinya sudah bercekat, tetapi karena si nona berlutut, ia lekas-lekas berlutut juga untuk membalas hormat.
"Silahkan bangun, Nona Ciau," katanya kemudian, mempersilahkan.
"Apakah ayahmu baik?" Masih nona itu menangis. "Ayah, ayah telah dibunuh si orang she Bin..." katanya dengan tak lancar.
Sin Cie terperanjat, sampai ia berjingkrak. "Bagainianakah duduknya hal?" tanya dia dengan
bernapsu.
Wan Jie sudah berbangkit, ia lolosi satu bungkusannya, untuk diletaki diatas meja, terus ia buka. Isinya itu sebatang pisau belati yang tajam mengkilap dimana antaranya ada sisa tanda-tanda darah terotolan.
Sin Cie jumput senjata itu, untuk diperiksa. Maka melihatlah ia ukiran huruf-huruf pada gagangnya, yang dikelam dengan emas, bunyinya "Bin Cu Hoa, murid Bu Tong Pay golongan huruf Cu".
Itu adalah senjata warisan atau tanda mata kepada setiap murid Bu Tong Pay, yang biasa diberikan kepada setiap murid yang telah rampungkan pelajarannja dan diijinkan turun gunung, keluar dari rumah perguruan.
"Ketika itu hari ayah pulang habis menghadirkan rapat besar di gunung Tay San," Ciau Wan Jie segera menerangkan, "kami telah mampir di Cieciu untuk bermalam didalam sebuah rumah penginapan. Dihari besoknya, sampai siang ayah masih belum keluar dari kamar, maka aku pergi kekamarnya, untuk mengasi bangun. Akan tetapi ayah kedapatan sedang rebah dengan sudah tidak bernapas, didadanya tertancap sebatang pisau belati ini... Wan Siangkong, aku mohon sukalah kau pikirkan jalan untuk aku..."
Kembali Wan Jie menangis menggerung-gerung.
Mulanya Ceng Ceng heran atas kedatangan Nona Ciau itu, timbullah kecurigaannya, akan tetapi sekarang, melihat kesulitan orang itu dan menyaksikan keadaannya yang
911 menyedihkan, timbullah rasa simpati dan kasihannya, lantas saja ia menghampirinya, untuk pegang tangannya Nona Ciau, akan susuti air matanya nona yang bernasib malang itu.
"Toako," kata Ceng Ceng dilain pihak kepada Sin Cie, "orang she Bin itu sudah berjanji untuk bikin habis persengketaan, kenapa sekarang dia lakukan perbuatan hina-dina ini, membunuh secara menggelap? Tak dapat kita sudahi perkaranya ini!"