Karena ingin sekali mengetahui keadaan mereka, Sheila mengintai lagi. Kereta mereka masih berjalan, akan tetapi tiba-tiba kereta terguncang- guncang dan akhirnya berhenti dan miring karena roda sebelah kiri terperosok ke dalam selokan! Alangkah kagetnya melihat bahwa kini yang mengawal mereka tinggal lima orang lagi yang masih sibuk menembakkan senapan ke kanan kiri, dan ia menahan jeritnya ketika melihat ayahnya terhuyung dan menghampiri kereta dengan dada tertancap anak panah. Ayahnya hampir roboh, bersandar kereta.
Sheila maklum akan bahaya yang mengancam mereka. Ibunya sudah hampir pingsan melihat suaminya berlumuran darah, maka Sheila lalu setengah menyeretnya keluar dari kereta.
Anak panah masih menyambar-nyambar ganas. Kiranya terjadi pertempuran antara pistol senapan melawan anak panah dari para penyerbu yang kini menyerang dengan anak panah sambil bersembunyi di balik pintu- pintu gerbang, pohon-pohon dan semak-semak. Lima orang pengawal itu melawan mati-matian setelah beberapa orang kawan mereka tadi roboh oleh anak panah. Dan kini karena kereta terperosok, mereka melawan sambil berlindung pada kereta.
“Dor-dor-dorrr...!”
Kembali Opsir Hellway menembak secara beruntun dan dua orang penyerbu terpekik dan terjungkal.
“Sheila, cepat...!” Teriaknya.
Ibu Sheila menjerit dan tidak mau meninggalkan suaminya, akan tetapi Sheila memaksa ibunya dan menarik tangan ibunya.
“Sheila... aughhh...!”
Opsir Hellway tidak dapat melanjutkan katakatanya karena dia sudah terpelanting roboh karena kehabisan banyak darah.
Nyonya Hellway menjerit dan berlari kembali menghampiri suaminya setelah berhasil melepaskan rangkulan puterinya. Ia menubruk suaminya dan pada saat itu, sebatang anak panah menyambar dan menembus leher nyonya itu. Ia mengeluarkan suara aneh dan terkulai di atas mayat suaminya.
“Mama...! Papa...!” Sheila menjerit. “Nona Sheila, larilah ke pantai...!”
Seorang pengawal berseru ketika melihat gadis itu hendak kembali ke kereta melihat ayah bundanya roboh. Mendengar ini, Sheila maklum bahwa kembali ke kereta berarti bunuh diri. Biarpun hatinya merasa berat sekali untuk meninggalkan orang tuanya yang tewas, namun ia tahu bahwa saat itu yang terpenting adalah melarikan diri sampai ke kapal dengan selamat, maka sambil menahan tangisnya yang mengguguk, ia lari meninggalkan tempat itu. Pantai tidak jauh lagi, dan banyak orang berbondong lari ke jurusan itu.
Akan tetapi, belum jauh ia lari meninggalkan kereta keluarganya yang rebah miring ditepi jalan, tiba-tiba saja muncul tiga orang laki-laki yang tinggi besar, tiga orang yang memegang golok dan yang memandangnya dengan menyeringai. Seorang di antara mereka, yang mukanya bopeng segera tertawa bergelak.
Dengan tubuh gemetar gadis itu berkata.
“Ahh... harap jangan ganggu aku. Biarkan aku pergi...”
Seorang di antara mereka yang matanya kemerahan mengelebatkan goloknya yang berkilauan saking tajamnya itu ke depan Sheila, sehingga gadis itu terbelalak dan mukanya pucat, melangkah mundur.
“Kita bunuh saja noni ini, biar kusayat-sayat kulitnya, kupotong sedikit demi sedikit!”
“Aih, sayang kalau dibunuh begitu saja. Lihat begitu montok kelinci ini!” kata orang ketiga.
“Benar, tidak boleh dibunuh begitu saja. Terlalu enak baginya. Kita permainkan dulu sepuasnya. Heh-heh, sejak kemarin kita kelelahan berkelahi, biar hari ini kita bersenang-senang dan mengaso,” kata si muka bopeng yang agaknya menjadi pemimpin mereka.
Tiba-tiba saja si muka bopeng menerjang ke depan dan tangan kirinya tahu-tahu sudah mencengkeram lengan tangan kanan Sheila. Gadis ini terkejut dan meronta, berusaha melepaskan tangannya, akan tetapi cengkeraman itu kuat sekali sehingga rontaannya hanya membikin pergelangan tangannya terasa nyeri.
“Lepaskan aku, ahh, lepaskan aku...!”
Gadis itu menjerit-jerit, akan tetapi sambil tertawa-tawa, tiga orang itu kini menangkap kedua tangannya dan si muka buruk menyeretnya ke dalam sebuah bekas rumah orang kulit putih yang sudah hancur dan sebagian sudah terbakar habis.
Setelah tiba di ruangan dalam yang penuh dengan bekas-bekas porak poranda, Sheila yang maklum bahwa dirinya terancam malapetaka hebat, meronta-ronta sekuat tenaga. Karena tidak menyangka-nyangka, Sheila dapat melepaskan diri dan lari. Akan tetapi, baru saja dara itu lari sampai di samping bekas gedung itu, si muka bopeng sudah berhasil menubruknya dari belakang sehingga gadis itupun terguling di atas rumput. Akan tetapi ia menyepak- nyepak dan meronta-ronta. Dalam pergulatan ini, gaunnya terobek sehingga nampak pahanya yang berkulit putih. Melihat ini, si muka bopeng menjadi semakin liar.
“Pegang tangan dan kakinya, biar aku dulu baru kalian nanti!”
Katanya terengah-engah, karena Sheila memang bertenaga besar dan gadis ini melawan sekuat tenaga dan mati-matian. Akan tetapi kini, dua orang pria memegangi kaki dan tangannya sehingga ia tidak mampu lagi meronta, hanya menggerak-gerakkan pinggul dan kepalanya saja sambil menjerit-jerit. Si muka bopeng terkekeh dan menubruk.
“Dessss...!”
Sebuah tendangan yang amat keras dari samping mengenai pangkal paha si muka bopeng dan tubuhnya terlempar dan terguling-guling. Dua orang kawannya terkejut dan marahlah mereka ketika melihat bahwa yang menendang kawan mereka itu adalah seorang laki-laki yang berpakaian sederhana dan memakai topi bambu sederhana dan lebar. Laki-laki ini tubuhnya sedang saja, akan tetapi nampak kokoh kuat. Bajunya terbuka di bagian dada, memperlihatkan dada bidang yang ditumbuhi bulu halus. Dari pakaian yang ketat dan ringkas itu, membayang otot-otot lengan dan kakinya. Seorang pria yang nampak kuat sekali, berwajah sederhana namun gagah dan sinar matanya tajam dan jernih penuh kejujuran dan keterbukaan, juga keberanian.
Si muka bopeng juga sudah bangkit berdiri, mukanya merah, matanya melotot dan dia menyambar goloknya yang tadi diletakkan di atas tanag ketika akan memperkosa Sheila.
“Jahanam keparat!” bentaknya marah sambil mengelebatkan goloknya. “Siapakah anjing yang tak tahu diri, berani sekali menentang kami Tung-
hai Sam-liong (Tiga Naga Laut Timur)?” Pemuda itu adalah Gan Seng Bu. Mendengar julukan yang amat muluk dan besar itu, dia menahan senyum. Sebagai seorang yang selama ini aktip dalam pergerakan menentang pemerintah penjajah, tentu saja dia mengenal tokoh- tokoh di sekitar Kanton. Dan tidak ada golongan pendekar atau tokoh sesat sekalipun di daerah ini yang memiliki julukan seperti itu. Hal ini hanya menunjukkan bahwa tiga orang ini hanyalah bajingan-bajingan kecil yang suka memakai nama-nama besar, akan tetapi tetap saja nama itu tidak terkenal karena tindakan-tindakan mereka hanyalah kejahatan-kejahatan kecil dan rendah saja, sehingga nama julukan itupun tidak dihiraukan orang.
Banyak sekali terdapat penjahat-penjahat kecil seperti ini, segala tukang copet, maling dan rampok kecil saja menggunakan nama-nama julukan yang setinggi langit. Akan tetapi kegelian hatinya melihat lagak mereka dan mendengar julukan mereka tidak mengusir rasa muak dan marah dari dalam lubuk hati Seng Bu. Dia memang murid seorang datuk sesat yang teramat jahat seperti Thia-tok itu, akan tetapi di dalam dadanya terkandung api kegagahan yang membuat dia muak melihat tiga orang pria yang kuat hendak memperkosa seorang gadis, walaupun gadis kulit putih sekalipun. Bagi orang-orang yang berjiwa gagah, tidak ada kejahatan yang lebih hina dan rendah dari pada kejahatan pria memperkosa atau menghina wanita dengan kekerasan.
“Kalian berjuluk naga akan tetapi perbuatan kalian lebih hina dari pada tiga ekor cacing busuk!” Seng Bu memaki.
Belum habis kata-katanya, si bopeng sudah menyerang dengan goloknya, menggerakkan golok itu yang menyambar dahsyat ke arah leher Seng Bu, disusul oleh dua orang kawannya yang juga sudah menggerakkan golok menyerang pemuda itu. Melihat ini, Sheila terkejut dan merasa ngeri. Gadis ini tadi cepat bangkit duduk setelah tiga orang yang hendak memperkosanya itu melepaskannya dan ia kini berdiri di sudut dengan wajah pucat. Melihat betapa tiga orang laki-laki jahat itu kini menggerakkan golok yang tajam menyerang pemuda gagah yang menolongnya, Sheila tak dapat menahan dirinya berseru nyaring.
“Jangan bunuh dia! Ah, jangan…!”
Akan tetapi teriakannya segera terhenti dan memandang terbelalak. Ia hampir tidak dapat percaya akan pandangannya sendiri. Pemuda yang menolongnya itu diserang oleh tiga orang lawannya, dengan golok tajam dan tiga batang golok itu menyambar-nyambar ganas. Agaknya sudah tidak mungkin lagi pemuda itu akan dapat menyelamatkan diri dari serangan tiga orang pengeroyoknya.
Akan tetapi, secara aneh sekali Sheila melihat betapa pemuda itu, kini topi bambunya terlepas dari kepala dan tergantung dengan tali ke punggungnya, berloncatan seperti seekor burung saja, menyelinap di antara sinar golok, dan begitu pemuda itu menggerakkan kaki tangannya, terdengar teriakan-teriakan keras dan tiga orang penjahat itu tahu-tahu sudah terlempar ke kanan kiri dan terbanting roboh tak mampu bangkit kembali! Entah mati entah hidup, akan tetapi jelas bahwa mereka bertiga itu diam tak bergerak-gerak walaupun tidak nampak ada luka di tubuh mereka. Pemuda gagah perkasa itu menyambar sebatang golok yang terlepas dari tangan pemiliknya.
Sheila tidak mengenal pemuda itu dan tidak tahu orang macam apa adanya pemuda itu. Melihat betapa pemuda itu merobohkan tiga orang pengeroyoknya dan kini memegang golok, hatinya menjadi ngeri dan tanpa banyak cakap lagi, ia lalu menggerakkan kakinya dan lari pontang-panting. Robeknya gaun bagian depan sebatas paha itu malah menguntungkan baginya, karena ia dapat berlari kencang dengan langkah lebar. Karena kebingungan dan ketakutan, Sheila malah lari kembali ke arah kereta. Melihat tubuh ayah ibunya yang masih menggeletak di dekat kereta, Sheila menjerit dan lupalah ia akan rasa takutnya. Ia lalu lari menghampiri mayat-mayat itu dan menubruk mayat ibunya, menangis mengguguk.
“Ibu... bawalah aku... bawalah aku...!” Tangisnya.
Tiba-tiba sebuah tangan yang amat kuat menangkap pergelangan lengan kanannya, dan Sheila seketika menghentikan tangisnya. Tubuhnya tiba-tiba ditarik ke atas dan ia terpaksa bangkit berdiri. Dengan air mata berlinang dan muka pucat sekali, ia menatap wajah orang yang menariknya. Tasa takutnya berkurang ketika ia melihat bahwa yang menariknya bangun dan kini memegang lengan kirinya itu bukan lain adalah pemuda yang tadi merobohkan tiga orang jahat itu.
Sheila terbelalak menatap wajah pria itu, wajah yang gagah sekali akan tetapi yang pada saat itu diliputi kekerasan, kejantanan yang mengagumkan akan tetapi juga mengerikan. Apalagi melihat tangan pria ini memegang sebatang golok yang demikian tajam dan runcing.
“Le... lepaskan aku...” kata Sheila lirih dan memelas.