Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 60

Memuat...

“Sudahlah, nona. Orang tua kita sudah tiada, tak perlu dibicarakan lagi. Sekarang, setelah engkau kehilangan keluargamu, apa yang akan kaulakukan selanjutnya?”

Ci Kong bertanya dengan suara penuh iba, lupa bahwa dia sendiripun hidup sebatangkara.

“Engkau sudah tidak mempunyai tempat tinggal, hidup seorang diri...” “Keluarga ayah berada di Kanton. Aku adalah anak tunggal, ibuku isteri ke

tiga. Aku masih mempunyai ibu-ibu tiri di Kanton... akan tetapi... aku tidak akan tinggal diam sebelum dapat kubunuh jahanam Ma Cek Lung itu. Setelah itu, mungkin aku akan mengabungkan diri dengan orang-orang Thian-te-pang. Dan engkau sendiri, saudara Ci Kong? Apakah engkau juga akan bergabung dengan mereka?”

Ci Kong menggeleng kepala.

“Aku tidak akan melibatkan diri dalam pemberontakan, nona… walaupun aku mengerti betapa mulia cita-cita mereka yang hendak membebaskan tanah air dari cengkeraman penjajah. Aku lebih suka menyendiri.”

“Baiklah, kalau begitu kita berpisah di sini. Aku akan menyelundup ke Kanton. Sekali lagi terima kasih dan mudah-mudahan kita akan dapat bertemu kembali!”

Kui Eng berkata dan gadis ini lalu membalikkan tubuhnya dan berlari cepat menuju ke Kanton. “Mudah-mudahan...”

Ci Kong mengguman sambil mengikuti bayangan gadis itu dengan pandang matanya. Ada keharuan aneh menyelinap di dalam hatinya. Gadis itu manis sekali, amat menarik dan juga amat gagah perkasa. Kasihan sekali gadis itu bernasib demikian malang. Biarpun ayah gadis itu bukan seorang yang baik, akan tetapi agaknya gadis itu tidak memiliki sifat ayahnya, bahkan memiliki kegagahan. Ah, kenapa dia tidak menanyakan siapa guru gadis itu? Ilmu silatnya demikian tinggi, apalagi ilmu tongkatnya. Hebat! Tentu gurunya seorang yang sakti.

Setelah bayangan Kui Eng tidak nampak lagi, Ci Kong menarik napas panjang dan melanjutkan perjalanannya. Tanpa disengaja, kakinya juga bergerak menuju ke Kanton dimana dia mendengar terjadi hal-hal penting, yaitu pengepungan kota oleh pasukan pemerintah yang hendak menentang dan menghentikan perdagangan madat yang bersumber di Kanton.

Memang terjadi hal-hal penting di Kanton. Panglima Lin Ce Shu mengepung dan menahan kota Kanton selama enam minggu, dan setiap hari dilakukan penggeledahan dan penyitaan madat di seluruh kota. Kapten Charles Elliot yang memimpin perkumpulan English East India Company dan mengepalai semua pedagang, bahkan menjadi wakil pemerintahnya, menghadapi pukulan besar sekali. Segala usaha telah dilakukannya, dengan jalan melakukan bujukan dan penyogokan. Namun, Panglima Lin Ce Shu tidak bergeming dalam tugasnya, tidak dapat dibujuk sama sekali! Dan akhirnya, secara terpaksa sekali kapten itu menyerahkan semua madat yang dimiliki para pedagang kulit putih. Lebih dari duapuluh ribu peti madat murni disita dari orang-orang kulit putih ini, dan seluruh madat yang disita oleh pasukan Lin Ce Shu berjumlah mendekati satu juta kilogram!

Tumpukan-tumpukan peti madat yang amat besar jumlahnya ini oleh Panglima Lin Ce Shu lalu dibakar di depan umum, sehingga menimbulkan api besar bernyala-nyala dan bau yang menyengat hidung seluruh penduduk Kanton! Bahkan dalam kesempatan ini, Lin Ce Shu mengundang para pemuka orang kulit putih seperti Kapten Charles Elliot, Opsir Hellway dan lain-lain untuk datang menyaksikan ‘kembang api’ luar biasa itu.

Mula-mula para pemuka orang kulit putih itu tidak tahu mengapa Panglima Lin yang mengadakan penyitaan madat itu mengundang mereka untuk makan malam dan berpesta. Mereka mengira bahwa tentu panglima itu merasa tidak enak hati dan kini menebus peristiwa itu dengan sikap lunak dan penghormatan dalam pesta. Walaupun hati mereka merasa mendongkol sekali karena peristiwa penyitaan madat itu mendatangkan kerugian yang tak terhitung besarnya, namun mereka datang pula dengan pakaian indah gemerlapan. Opsir Hellway datang bersama isterinya, dan Sheila juga ikut. Gadis ini nampak cantik jelita dengan gaun berwarna kuning emas itu berkilauan tertimpa sinar lampu warna-warni yang menerangi ruangan di atas benteng itu.

Ternyata para pembesar sipil dan militer berkumpul di situ. Wajah-wajah tegang meliputi tempat itu karena bagaimanapun juga, peristiwa penyitaan madat itu mendatangkan kerugian yang bukan sedikit pula bagi beberapa orang pembesar yang tadinya menjadi pelindung para pedagang asing itu. Kini, para pembesar yang tadinya menjadi sahabat-sahabat baik kapten Charles Elliot dan anak buahnya, kini hanya dapat saling bertukar pandang dengan orang-orang kulit putih itu dengan muka yang suram dan pandang mata layu dicekam ketegangan.

Akan tetapi, Panglima Lin Ce Shu melalui wakil dan juru bahasanya menyambut para tamu asing itu dengan ramah, dan mereka semua dipersilahkan duduk dan dijamu dengan meriah. Setelah mereka kenyang makan minum, Lin Ce Shu bangkit dari kursinya dan melalui seorang penterjemah dia berkata.

“Malam yang baik ini akan kami isi dengan pertunjukan indah bagi para tamu, terutama sekali para tamu bangsa asing yang malam ini berkumpul di sini memenuhi undangan kami. Kami persilahkan untuk menikmati keindahan kembang api istimewa!”

Panglima itu memberi isyarat dan tirai-tirai kain yang tadinya tertutup di depan jendela-jendela itupun dibuka. Nampak oleh orang-orang berkulit putih itu, jauh di luar terdapat tumpukan peti-peti candu dan perajurit-perajurit yang sudah siap dengan obor di tangan. Panglima Lin Ci Shu memberi isyarat dengan tangan dan mulailah para perajurit membakar tumpukan candu yang puluhan ribu peti jumlahnya itu!

Wajah orang-orang berkulit putih itu menjadi pucat ketika sinar api yang amat terang menimpa mereka. Mereka terbelalak. Sheila menahan pekik karena merasa ngeri ketika mencium bau candu dibakar, napasnya menjadi sesak dan cepat ia berlindung di belakang ayahnya yang merangkulnya. Opsir Hellway mengepal tinju.

“Terkutuk...!” Dia menyumpah perlahan. Tak disangkanya bahwa mereka semua akan disuguhi tontonan yang menusuk perasaan itu.

Setelah para tamu dipersilahkan duduk kembali, dengan resmi Lin Ce Shu mengumumkan bahwa mulai hari itu, dilarang keras memasukkan candu ke Kanton. Semua kapal akan diperiksa dan siapa yang melanggar akan dijatuhi hukuman. Orang-orang asing, kalau kedapatan menyelundupkan candu, akan diusir dan semua harta bendanya disita, juga kapal yang membawa candu akan disita.

Setelah mendengar peringatan keras ini, orang-orang kulit putih itu tentu saja merasa tidak enak untuk duduk di situ lebih lama lagi. Kapten Charles Elliot lalu pamit dan para tamu asing itu meninggalkan tempat itu dengan wajah muram. Mereka semua merasa seperti menerima tanparan keras, selain dirugikan, juga mendapatkan malu dan ancaman. Masa depan mereka menjadi suram. Kalau tidak boleh memasukkan madat, berarti mereka kehilangan mata pencarian yang amat menguntungkan!

Sepulang mereka dari pesta itu, para pedagang lalu berkumpul di rumah Kapten Elliot dan mereka berunding. Dengan nada kesal dan marah sekali, para pedagang itu menyatakan protes mereka dan menuntut agar Kapten Elliot tidak mendiamkan saja penghinaan dari pemerintah Ceng itu. Akhirnya Kapten Elliot, setelah melalui perdebatan dan perundingan yang panas, menyanggupi. “Demi kehormatan bangsa dan pemerintah kita, demi kelangsungan kehidupan dan perdagangan kita, demi keamanan kita di negeri ini, aku akan membuat pelaporan kepada pemerintah kita dan minta bantuan pasukan agar

kita dapat membuat pembalasan,” demikian katanya.

Kemudian Kapten Charles Elliot menganjurkan agar mereka semua bersiap- siap untuk meninggalkan Kanton dengan kapal-kapal yang disediakan. Sebelum datang bala bantuan, mereka dianjurkan tenang-tenang dan diam- diam saja dulu. Kalau pasukan bala bantuan sudah datang, sebelum pasukan itu bertindak, mereka akan diberitahu untuk meninggalkan Kanton dan mengungsi ke kapal yang akan menyelamatkan mereka.

Akan tetapi, di antara orang-orang kulit putih ada yang pemabokan, dan beberapa hari kemudian, dalam keadaan mabok diapun mengoceh dan membual di luaran bahwa pasukan Inggeris akan datang dan menyerbu kota Kanton untuk memberi hukuman atas perlakuan yang diberikan pemerintah terhadap orang-orang Inggeris pada malam hari itu. Ada yang mendengar obrolan ini dan tentu saja berita itu didesas-desuskan orang.

Pada waktu itu, terdapat banyak perkumpulan pendekar yang anti orang kulit putih yang menyebarkan madat itu. Ada pula perkumpulan pendekar yang hanya anti pemerintah Ceng sebagai pemerintah penjajah Mancu. Di antara golongan kedua ini adalah perkumpulan Thian-te-pang. Perkumpulan ini hanya anti pemerintah Mancu. Walaupun mereka juga tidak suka melihat orang kulit putih menyebar madat, namun mendengar desas-desus bahwa pasukan Inggeris akan menyerbu Kanton dan memusuhi pemerintah Ceng, diam-diam mereka merasa senang. Penyerbuan pasukan asing itu akan mereka terima dengan baik, karena membuka kesempatan bagi mereka untuk melemahkan kekuatan pemerintah penjajah Mancu.

Akan tetapi, para pendekar yang tergolong anti kulit putih, mendengar desas-desus itu, menjadi marah sekali kepada orang-orang asing. Dan beberapa hari sebelum pasukan Inggeris tiba, meledaklah ketegangan yang terasa makin panas di Kanton. Dimulai dari pertengkaran antara seorang kulit putih setengah mabok dengan seorang pecandu yang ketagihan dan dalam keadaan setengah sadar pecandu ini mendatangi orang kulit putih itu dan nekat minta diberi madat. Orang kulit putih setengah mabok itu marah-marah dan memaki-maki, lalu terjadi perkelahian yang menjalar menjadi kerusuhan ketika golongan anti kulit putih menyerbu dan mengeroyok si pemabok dan beberapa orang kawannya.

Pasukan penjaga keamanan cepat bertindak karena para pembesar tidak menghendaki terjadinya kerusuhan itu. Orang-orang kulit putih menjadi panik, apalagi ketika mendengar bahwa pemerintah mereka telah mengirim armada yang kuat untuk menyelamatkan mereka dan menggempur Kanton! Mulailah terjadi pengungsian besar-besaran menuju ke pelabuhan dimana terdapat kapal-kapal mereka.

Karena gerakan pengungsian ini, maka golongan anti kulit putih mulai bergerak menyerang mereka yang berusaha melarikan diri. Tentu saja orang- orang kulit putih ini melakukan perlawanan dan mereka itu rata-rata memiliki senjata api, sehingga terjatuh pula korban di antara para pendekar yang membenci mereka. Hal ini membuat perkelahian menjadi-jadi. Pasukan keamanan yang repot! Karena orang-orang kulit putih itu tidak melawan pemerintah, maka kewajiban pemerintah untuk melindungi mereka selama mereka masih berada di daratan. Lebih menggegerkan lagi ketika golongan pendekar yang menentang pemerintah Mancu, mempergunakan kesempatan selagi terjadi keributan itu untuk mengacau dan menyerang pasukan keamanan pemerintah sendiri! Golongan ini bahkan ada yang melindungi orang-orang kulit putih karena mereka ini sengaja hendak mengadu domba antara pemerintah penjajah dan orang-orang kulit putih dalam usaha mereka menumbangkan kekuasaan penjajah dari tanah air.

Pertempuran kecil-kecilan yang kacau balau terjadi, dan penduduk yang tidak mau ikut-ikut dalam perkelahian-perkelahian itulah yang menjadi panik dan banyak pula yang lari mengungsi meninggalkan Kanton. Hal ini membuat suasana menjadi semakin gaduh dan kacau balau. Dan sudah biasa bahwa setiap kali sebuah kota mengalami kekacauan dan penjaga keamanan tidak mampu mengatasi keadaan, maka para penjahatpun keluar semua, merajalela mempergunakan kesempatan ini untuk mencari keuntungan seenaknya dan semudahnya. Perampokan terjadi dimana-mana terhadap para pengungsi atau pencurian terhadap rumah-rumah yang ditinggalkan.

Opsir Hellway tentu saja tidak mau tinggal diam melihat keadaan yang gawat itu. Pagi-pagi sekali dia bersama isteri dan puterinya, berkendaraan kereta meninggalkan rumah mereka untuk melarikan diri ke kapal, dikawal oleh belasan orang pengawal kulit putih dan Bangsa India yang membawa senapan. Sheila dan ibunya duduk di dalam kereta itu, sedangkan opsir Hellway dan para pengawal berjaga di luar kereta. Barang-barang berharga beberapa buah peti penuh berada dalam kereta itu pula.

Dari dalam kereta, Sheila mengintai melalui jendela kereta dan wajah gadis ini agak pucat. Peristiwa berdarah yang terjadi di kota Kanton itu sungguh mengguncang batinnya dan menusuk perasaannya yang lembut. Ia tidak suka akan kekerasan dan kini terjadi kekerasan dimana-mana. Ia mendengar tentang perkelahian-perkelahian, dimana banyak orang kulit putih menjadi korban pembantaian, akan tetapi lebih banyak lagi penyerbu-penyerbu yang tewas disambar peluru senjata-senjata api orang kulit putih.

Permusuhan yang terjadi tiba-tiba ini, kebencian yang memancar dari pandang mata para penduduk, membuat ia terkejut dan ketakutan. Tak disangkanya akan menjadi begini buruk hubungan antara bangsanya dan pribumi. Dan di lubuk hatinya ia menyalahkan semua ini kepada bangsanya sendiri. Pembakaran madat yang amat banyak itu, yang menjadi awal kekacauan ini, keributan dan perkelahian, semua ini menjadi akibat dari pada sebab, dan sebabnya terletak pada bangsanya sendiri. Kalau bangsanya tidak memperdagangkan madat, kalau bangsanya tidak hanya memikirkan keuntungan, dan berhubungan dengan bangsa pribumi sebagai sahabat- sahabat sejati yang bekerja sama atas dasar saling menguntungkan, pasti tidak akan terjadi kekacauan dan pembunuhan-pembunuhan itu.

Dari balik tirai jendela kereta, Sheila melihat asap dimana-mana, tanda bahwa ada rumah-rumah yang terbakar. Dan banyak orang lalu lalang, pengungsi-pengungsi yang membawa buntalan, menggendong atau menggandeng anak, wajah-wajah yang ketakutan, kebingungan.

Tiba-tiba terdengar letusan-letusan senjata api dan Sheila melihat banyak pria membawa senjata tombak, pedang atau golok, bergerak cepat berkelebatan di luar kereta!

“Cepp...!”

Sebatang anak panah menancap di dekat jendela kereta. Sheila cepat menarik dirinya ke dalam kereta.

“Sheila, cepat tutup jendela itu dan berlindung. Jaga ibumu! Kereta kita diserang penjahat!” Terdengar bentakan ayahnya.

“Ohhh... Tuhan, lindungi kami...!” Ibunya menjerit lirih dan menangis. “Ibu, tenanglah...!” Sheila merangkul ibunya.

Akan tetapi ia sendiri kehilangan ketenangannya ketika suara tembakan semakin gencardan teriakan-teriakan para pengepung, mereka yang kena tembak atau terkena anak panah.

Post a Comment