“Papa, aku sungguh merasa tidak rela melihat papa menjadi seorang pejabat yang mewakili English East India Company yang memperdagangkan candu, yang memasukkan madat beracun itu ke negeri ini, meracuni rakyat jelata dan...”
“Cukup!” Opsir Hellway membentak marah, mukanya menjadi merah sekali. “Sadarkah kau akan omonganmu tadi? Segala yang kau makan dan pakai
sampai kau dewasa ini, semua kebutuhan kita sekeluarga, dicukupi karena perdagangan madat, dan engkau berani berkata demikian? Sheila, mengertilah bahwa salah mereka sendiri yang suka menghisap madat kalau keadaan mereka menjadi demikian. Kita hanya melayani saja sebagai pedagang, melayani kebutuhan mereka dan mendapatkan keuntungan. Itu sudah wajar, bukan?”
“Tidak, papa! Kalau rakyat tidak dikenalkan dengan madat, mereka takkan menjadi pecandu! Madat itu datang dari India, dan kalau kita tidak mendatangkannya dari India, tentu rakyat tidak pernah mengenalnya.”
“Belum tentu! Kaukira orang-orang India sendiri tidak akan membawanya ke sini? Dan orang-orang sini sendiri yang membutuhkannya dapat pula mencari ke India.”
“Bagaimanapun juga, aku tidak senang melihat papa menjadi opsir yang mengurus perdagangan madat yang terkutuk itu...”
Sheila lalu menangis.
“Hemm, engkau harus kami kirim ke Inggeris. Kalau dibiarkan tinggal terus di sini, engkau akan menjadi rusak, pikiranmu akan diracuni oleh pikiran- pikiran pribumi. Engkaupun perlu melanjutkan pelajaran ke sana.”
Akhirnya Opsir Hellway berkata dan dia bertukar pandang dengan isterinya yang merasa setuju dengan pendapatnya.
“Biar berada dimanapun juga, hatiku akan merana kalau mengingat betapa di sini papa melakukan pekerjaan yang amat tidak baik itu...”
“Kau tahu apa tentang baik dan tidak baik dalam suatu pekerjaan?” bentak ayahnya, dan melihat suaminya marah-marah, nyonya Hellway cepat mendekati suaminya dan menyabarkannya.
“Sheila, masuklah ke kamarmu, jangan membikin marah papamu,” kata nyonya itu, dan Sheila dengan mata masih merah karena tangisnya tadi, lalu lari memasuki kamarnya. Ia merasa berduka sekali melihat kenyataan bahwa ayahnya mempunyai pekerjaan yang demikian kejam dan jahatnya.
Ketika Opsir Hellway yang masih marah karena ulah puterinya itu hendak berangkat ke kantor, tiba-tiba datang seorang utusan dari atasannya yang menyerahkan surat dari Kapten Charles Elliot. Opsir Hellway membaca surat itu dan seketika wajahnya menjadi pucat.
“Baik, aku akan segera pergi menghadap Kapten Elliot!” katanya kepada utusan itu yang segera memberi hormat dan pergi.
“Ada urusan apakah?” tanya isterinya yang merasa tidak enak melihat suaminya nampak terkejut dan gugup itu.
“Celaka! Kaisar laknat itu telah melakukan tindakan kekerasan! Kota Kanton ini telah dikepung oleh pasukan yang besar dari kota raja, dan semua madat yang berada di kota ini harus diserahkan dengan ancaman hukuman mati! Ini perang! Perang...!”
Sheila agaknya mendengar pula ribut-ribut itu dan ia datang berlari ke ruangan itu.
“Papa! Mama! Aku mendengar bahwa kota ini dikepung tentara kerajaan.” Opsir Hellway teringat akan sikap puterinya tadi.
“Nah, puaslah sekarang hatimu. Kita semua akan celaka. Berkemaslah kau dan ibumu, siapkan pakaian dan barang berharga, siapa tahu kita harus pergi mengungsi. Aku mau ke kantor. Sheila, jangan kau keluar dari rumah, keadaan gawat dan berbahaya.”
Gubernur Lin Ce Shu bersama pasukannya yang besar telah tiba dan mengurung kota Kanton, menguasai empat pintu gerbang dan memerintahkan kepada pasukan keamanan di kota Kanton untuk mengumumkan bahwa siapapun yang keluar masuk kota itu akan digeledah, bahkan semua gudang milik para pedagang, termasuk pula milik orang-orang kulit putih, akan diperiksa dan siapapun yang memiliki simpanan madat harus diserahkan!
Tentu saja peristiwa ini menimbulkan kegemparan hebat. Dan seperti lumrahnya setiap peristiwa kekerasan, tentu ada yang menyambut dengan gembira, akan tetapi ada pula yang menyambut dengan duka. Yang merasa gembira adalah rakyat yang merasa tercekik oleh beredarnya candu, juga para pendekar yang membenci keadaan itu namun mereka tidak berdaya. Sebaliknya, yang gelisah adalah para pedagang candu, para pembesar yang melindungi mereka, dan tentu saja para pemadatan yang khawatir akan kehilangan benda yang amat disayang itu.
Inilah kesempatan yang dinanti-nantikan oleh Wang Taijin, Lai Taijin, dan Maciangkun untuk dapat membalas dendam hati mereka kepada keluarga Ciu Wangwe! Mereka ini adalah penguasa-penguasa di Kanton yang tadinya merupakan orang-orang paling rajin mendukung orang-orang kulit putih dan para pedagang candu, karena mereka itu menerima suapan dan sogokan yang luar biasa banyaknya. Merekalah yang tadinya seperti melindungi perdagangan candu itu.
Akan tetapi, begitu pasukan kota raja datang mengepung kota Kanton dengan maksud menyita semua madat dan menentang perdagangan itu, para penguasa ini seketika merobah warna muka mereka, seketika mereka itu nampak gigih dan rajin sekali melaksanakan kebijaksanaan pemerintah ini! Dan di dunia ini memang penuh dengan penguasa macam mereka ini, bisa didapatkan dimana-mana. Pejabat-pejabat seperti ini seperti ular-ular kepala dua yang dapat menggigit ke depan dan ke belakang, sikap mereka dapat berobah seperti angin, semua dilakukan demi kesejahteraan dan kesenangan mereka sendiri.
Demikianlah, dengan dalih melakukan kegiatan merampas madat yang berada di luar kota Kanton, Ma Cek Lung membawa pasukannya pergi ke Tung- kang dan pasukan yang sudah menerima perintahnya itu, langsung saja menyerbu gedung keluarga Ciu Lok Tai! Tentu saja keluarga itu terkejut sekali dan keadaan menjadi geger ketika para penyerbu itu bertindak kejam, membunuhi pelayan-pelayan yang sama sekali tidak mampu melakukan perlawanan.
Melihat ini, Ciu Lok Tai lalu mengerahkan pasukan pengawalnya dan terpaksa mereka itu melawan karena tidak melawanpun akan dibunuh. Ciu Lok Tai sendiri melawan dengan menggunakan pistolnya, dan tigapuluh orang lebih pasukan pengawalnya ikut melawan mati-matian. Tentu saja yang mengamuk paling hebat adalah Kui Eng. Gadis ini marah bukan main melihat pasukan keamanan yang bertindak seperti perampok itu.